Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Penekanan dan Ancaman


__ADS_3

Sesuai perintah Evan, Arfan pun menuju kamar mandi dan mengambilkan handuk untuk Puspita.


Sementara itu, Rusman yang telah berhasil mengumpulkan nyawanya dari alam mimpi. Segera bangkit dari tidurnya sambil memungut pakaian yang berserakan di atas ranjang king size dan lantai kamar itu. Dengan terburu-buru mengenakan pada tubuhnya. Lalu berniat meninggalkan kamar tersebut untuk menghindari pertikaian antar suami istri itu. Yang hampir sepenuhnya disebabkan olehnya juga.


Setelah selesai mengenakan pakaiannya. Rusman menyempatkan membisikkan sesuatu ke telinga Puspita.


"Aku duluan. Kau selesaikan saja urusanmu dulu." bisik Rusman. Sambil mulai akan melangkahkan kakinya untuk pergi dari kamar itu.


Namun, bukan Evan namanya jika hanya membiarkan seseorang yang telah membuat masalah dengannya itu. Pergi begitu saja darinya tanpa menyelesaikan masalah yang disebabkan tersebut. Dibalik matanya yang menatap serius tulisan pada koran yang ada ditangannya saat ini. Ekor matanya menangkap gerakan Rusman yang akan beranjak pergi. Segera saja Evan menahannya.


"Mau kemana kau? Tetap di sana dan jangan coba-coba keluar dari ruangan ini. Jika kau masih ingin hidup" ucap Evan dengan suara lantang dan penuh ketegasan serta ancaman itu.


Mendengar itu, seketika saja Rusman menghentikan gerakannya. Sedang Puspita yang mendengar kalau Evan menahan Rusman untuk tidak keluar dan meninggalkannya di sana. Sedikit tersenyum tipis dan ber-segera mengenakan handuk kimono yang diberikan Arfan padanya. Dan masuk kedalam kamar mandi.


"Sudah cukup selama ini aku berpura-pura tidak mengetahui perselingkuhan kalian di belakangku. Aku sudah cukup muak, bosan dan lelah melihat perbuatan kalian. Kau teman lamaku yang cukup akrab sejak kita masih sekolah dulu, 'Man. Jadi, kau tentu sangat tahu, bagaimana diriku bukan?


Dahulu, aku hanya membiarkanmu seperti itu padaku. Karena wanita-wanita yang coba kau rebut perhatiannya dariku itu. Masihlah berstatus pacar yang belum mutlak kumiliki selamanya. Jadi, aku bersikap cuek dan membiarkanmu saja. Hanya sesekali memperingatkan-mu untuk jangan terus mempermainkan hati wanita. Dan kau tidak mengindahkan ku sama sekali. Tapi kini, wanita yang tidur denganmu itu telah berstatus istri bagiku.


Dan kau tahu 'kan, apa konsekuensi untuk orang yang telah berani mengganggu sesuatu hal yang telah menjadi milikku itu?"

__ADS_1


Ucap Evan panjang kali lebar pada Rusman. Menuturkan segala yang ada di hati dan pikirannya saat itu.


Mendengar penuturan panjang Evan yang penuh peringatan itu. Rusman dengan susah payah menelan saliva-nya. Dia memang benar termasuk dalam salah satu teman Genk Evan saat masih mengenakan seragam putih abu-abu. Bahkan, hingga mereka sampai berkuliah. Jadi, dia cukup tahu bagaimana seorang Evan Dimas Atmadja saat sedang marah.


Kenapa aku terlalu ceroboh kali ini? Padahal, tinggal sedikit lagi. Semua yang aku inginkan segera akan tercapai. Yaitu menikmati harta keluarga Evan yang takkan pernah habis meski tujuh turunannya yang menikmatinya nanti. Tetapi, semuanya gagal. Dan ini semua gara-gara perempuan s*nd*l ini. Dasar wanita b***h!!!


Dalam hati, Rusman sedikit merutuki dirinya sendiri. Yang saat ini terlalu ceroboh menjalankan rencananya. Hanya karena terbuai besarnya h*sr*t b*rcintanya dengan Puspita selama ini. Dia menatap tajam kearah Puspita yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Wah... cepat juga mandi-mu, sayang!!! Kau memang sangat mengerti aku yang tidak suka menunggu. Karena, kau sudah selesai mandi dan berpakaian. Ayo, cepat duduk sini!!! Biar semua urusan kita cepat selesai hari ini." ucap dan perintah Evan pada Puspita. Masih dengan nada suara yang begitu lembut. Dan menghampiri serta merangkul pundak Puspita untuk diajak duduk di samping Rusman yang duduk di sofa panjang. Yang terdapat dalam kamar hotel tersebut.


Wanita yang hingga saat ini masih resmi berstatus istrinya. Tapi, entahlah beberapa menit kedepannya, nanti. Tidak ada yang tahu, apa yang sedang direncanakan seorang Evan Dimas Atmadja saat ini. Untuk kedua orang yang terciduk melakukan hubungan terlarang itu.


"Arfan, keluarkan semua berkasnya dan letakkan dihadapan mereka. Biar mereka mempelajari berkas-berkas itu dengan cepat dan kemudian menandatangi-nya segera." ucap Evan memberi perintah pada asistennya itu.


Tanpa banyak berkata, Arfan kembali mengerjakan segala perintah atasannya itu. Mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam koper yang telah dibawanya. Dan meletakan dokumen-dokumen itu di atas meja. Tepat dihadapan Puspita dan Rusman.


Dan tanpa menunggu perintah lagi dari Evan. Puspita dan Rusman langsung saja menyambar dokumen-dokumen itu, serta membacanya dengan seksama.


Menunggu kedua orang yang sedang membaca dokumen-dokumen darinya itu. Evan hanya menyandarkan badan tegapnya ke sandaran kursi sofa yang didudukinya itu. Sambil melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap intens perubahan wajah dari Puspita serta Rusman. Yang duduk tepat didepannya itu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Puspita dengan gerakan tiba-tiba langsung bersujud dan memegang kaki Evan.


"Jangan ceraikan aku, Evan??! Aku janji tidak akan melakukan ini lagi. Aku sangat mencintaimu, Evan! Sungguh!!! Tolong, maafkan aku, aku mohon...?!!!" mohon Puspita dengan mulai berderai air mata.


Sedang Rusman hanya diam seribu bahasa sambil menundukkan wajahnya. Tak berani menatap wajah Evan saat ini.


"Apa???! Kau sangat mencintaiku?" tanya Evan dengan tidak percaya.


"Hah...!!! Sungguh, wanita seperti kau ini?!! Dengan begitu mudahnya kau mengatakan sangat mencintaiku. Tetapi, dengan mudahnya pula kau memberikan tubuhmu itu untuk dinikmati pria selain suamimu. Sangat menjijikkan!!!" imbuh Evan, mengumpat.


"Memaafkan-mu, tidak akan pernah ada untungnya bagiku. Justru, kerugian besarlah yang akan aku alami. Bahkan kerugian itu akan lebih besar imbasnya terhadap keluargaku. Dan aku tidak mau itu sampai terjadi. Aku sudah sangat muak dengan segala perbuatan kalian selama ini padaku dan juga keluargaku. Untuk itu, sebelum kesabaran-ku habis. Cepat tanda tangani surat perceraian itu!" imbuh Evan lagi. Sudah dengan nada suara mulai meninggi karena terlalu muak dan geram.


"Dan kau!" ucap Evan beralih pada Rusman


"Setelah masa Iddah bagi Puspita selesai. Kau harus menikahinya. Aku akan terus mengawasi kalian. Demi memastikan, kalau kalian benar menikah nantinya. Dan aku harap, kalian bisa saling mengintrospeksi diri masing-masing, mulai dari sekarang. Aku melakukan ini, karena aku masih manusia yang memiliki hati nurani. Untuk itu, aku masih menghargai kalian sebagai teman dan juga mantan istriku. Jadi, apa kau mengerti?" imbuh Evan pada Rusman.


Dan Rusman segera menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.


"B-b-baik, Evan. Saya mengerti." jawab Rusman, gagu. Karena mulai didera perasaan takut pada kemarahan Evan nantinya.

__ADS_1


"Baik. Kau tentu tahu akibanya, jika kau membangkang dan melawan perintahku. Jadi, jangan sesekali walaupun hanya niat untuk melawan kehendak-ku." ucap Evan penuh penekanan dan ancaman.


__ADS_2