
"Kau!!! Tunggu apa lagi, cepat tanda tangani itu!!!" ucap Evan mulai kasar, membentak dan memerintah Puspita. Untuk menanda tangani surat perceraian mereka.
"Tapi, Evan---!"
"Sudah tidak ada tapi-tapian. Cepat tanda tangan! Jika tidak, jangan salahkan aku kalau mulai berlaku kasar padamu." potong Evan semakin tegas dan kasar.
Puspita yang baru kali itu melihat kemarahan Evan. Sungguh merasa ketakutan sekali. Meski hatinya sangat tidak rela untuk bercerai dari Evan. Sang pewaris perusahaan properti ternama di kota itu. Dengan sangat-sangat terpaksa, dia menandatangani surat perceraiannya itu. Tangannya bergetar dan air matanya mulai menumpuk di pelupuk matanya. Hingga membuat pandangannya buram seketika. Jika sedikit saja kelopak matanya itu bergerak. Maka, air mata itu akan langsung jatuh membasahi pipi putih mulusnya dan terawat itu.
Begitu coretan tinta yang dibubuhkan oleh Puspita ke atas kertas itu selesai. Evan langsung saja menarik kertasnya. Kemudian menyerahkannya pada Arfan untuk diamankan kedalam koper.
"Terimakasih. Silahkan lanjutkan acara kalian! Jika masih ingin berlanjut. Maaf jika aku sempat mengganggu. Kami permisi!" ucap Evan kembali lembut
Kemudian, Evan pun keluar dari kamar hotel itu dan diikuti Arfan dibelakangnya. Meninggalkan Puspita dan Rusman di kamar itu.
Setelah Bayangan Evan dan Arfan sudah menghilang dibalik pintu. Rusman menatap tajam kearah Puspita.
"Ini semua gara-gara kamu!!! Semua rencana ku menjadi gagal total karena menurutimu. Sekarang, apa yang akan kau lakukan, hah...!!!" bentak Rusman.
"Jangan cuma menyalahkan-ku?! Ini adalah salah kita bersama. Jadi, mari kita pikirkan bersama juga!" ucap Puspita tak ingin dipersalahkan sendiri. Dan mulai memperlihatkan wajah mengiba namun penuh frustasi.
"Heh! Ini semua murni kesalahanmu sendiri. Karena terlalu menuruti n*fs* b*r*h* dan cerobohan mu itu. Yang selalu bertindak tanpa memikirkan dengan baik dan matang-matang sebelum melakukan sesuatu. Jadi, inilah akibatnya. Kau pikirkan saja jalan ke luarnya, sendiri. Aku mau pergi! Kabari aku jika sudah menemukan jalan keluarnya." ucap Rusman dengan santainya. Namun terus menyalahkan Puspita.
"Kamu nggak bisa gitu 'Man! Kita harus memikirkannya berdua." ucap Puspita sambil menahan lengan Rusman untuk mencegahnya pergi dari sana.
"Aku akan pulang dan menemui mertuaku. Untuk mengadu padanya atas perbuatan Evan padaku ini. Mereka sangat menyayangi ku dan selalu menuruti segala permintaanku, seperti sebelum-sebelumnya. Jadi, mereka pasti akan berusaha membatalkan perceraian ku itu." imbuh Puspita dengan keyakinan penuh.
__ADS_1
"Baiklah. Pergi dan berusahalah merayu mertua b*d*h-mu itu! Semoga dia masih tetap t*l*l seperti sebelum-sebelumnya. Dan mau mendengarkan dan menuruti segala bujuk rayu darimu itu. Pergilah! Aku akan melanjutkan tidurku sedikit lagi. Sungguh!!! Suamimu itu sangat menggangguku." ucap Rusman dengan nada malas. Dan mengusir halus Puspita untuk pergi dari sana. Sedangkan dia akan melanjutkan tidurnya yang telah terganggu tadi akibat kedatangan Evan yang tiba-tiba.
"Iya-iya, terserah kau saja. Aku memang akan pergi, sekarang. Agar masalah ini segera tertangani sebelum menjadi semakin kacau nantinya." jawab Puspita.
Kemudian segera memungut dan mengenakan pakaiannya yang sejak semalam telah berserakan di lantai akibat pergumulan mereka. Setelah selesai berpakaian, dia pun langsung keluar dari kamar hotel itu. Dan meninggalkan Rusman sudah kembali terlelap dalam tidurnya.
...----------------...
Di sisi lain, Ellia tampak sedang menikmati sarapannya bersama dengan Neneng.
"Hari ini, aku akan sibuk membuat laporan bulanan hasil penjualan, di counter. Dan mungkin bisa sampai lembur serta menginap di sana. Jadi, nggak usah masak banyak ya...! Aku akan order makanan dari luar saja, biar hemat waktu. Aku malas kalau harus pulang pergi disaat sedang banyak pekerjaan." jelas Ellia pada Neneng. Disela-sela makan paginya.
"Baik, Mba'. Nanti, tetap kasih kabar. Kalau memang harus nginap. Biar Neneng nggak nunggu Mba' pulang!" jawab Neneng.
"Iya. In syaa Allah, aku pasti kasih kabar. Ya sudah, aku sudah selesai makannya. Aku siap-siap dulu." ucap Ellia berpamitan untuk bersiap-siap ke Counter pulsa milik Tante Erna. Yang selama ini dipercayakan padanya untuk mengelolanya.
Tiba di counter, Ellia langsung disambut oleh Ritna. Karena jam sudah menunjukan pukul 8 pagi. Tentu saja, Ritna yang menginap di sana itu sudah membuka counter-nya.
"Assalamu'alaikum, De!" sapa Ellia pada Ritna sambil tersenyum lebar.
"Wa'alaikumsalam, Kak! Apa kabar?" balas Ritna menyapa.
"Alhamdulillah. Kakak sehat dan bahkan sangat sehat. Karena harus menyelesaikan urusan laporan keuangan counter kita ini. Dan mengirimkannya secepat mungkin pada Tante Erna, sebelum waktu tutup buku tiba. Kau sendiri, apa kabar? Selama dua hari kakak tak datang, counter tidak ada masalah 'kan?" jawab Ellia penuh semangat dan dilanjut dengan bertanya sebaliknya serta counter yang saat ini mereka jaga bersama itu.
"Alhamdulillah. Aku juga sangat... sehat, seperti kakak. Dan counter pun, masih aman terkendali." jawab Ritna tak kalah semangat.
__ADS_1
"Syukurlah. Kalau begitu, kakak masuk dulu ya; Mau langsung kerja." ucap Ellia berpamitan.
"Baik, kak. Silahkan!" jawab Ritna.
Baru saja kaki Ellia akan melangkah pergi. Dia teringat akan sesuatu hal dan kembali menoleh.
"Oh iya, hari ini kau membawa bekal makan siang-mu, tidak?" tanya Ellia lagi.
"Em... kebetulan tidak kakak. Emang kenapa, kakak?" jawab dan tanya Ritna balik.
"Tidak apa-apa. Baguslah, kalau kau tidak berbekal. Nanti siang, kita makan bersama disini saja ya! 15 menit lagi sebelum waktu makan siang tiba, kau order makanan dari warungnya Ibu Hajja Almeira. Kakak pesankan menu seperti biasa. Setelah kurirnya datang, minta saja uang ke kakak. oke!!!" jelas Ellia memerintah.
"Oke, kakak. Siap!!!" ucap Ritna sambil memberi hormat dua jari pada Ellia. Membuat Ellia tersenyum geli melihat tingkahnya itu. "Alhamdulillah... Makan enak lagi nih...!" sambungnya tersenyum bahagia.
"Iya, Alhamdulillah. Kakak baru dapat bonus dari pekerjaan sampingan. Tapi, karena pekerjaan hari ini akan padat merayap. Jadi, kakak nggak bisa ajak kamu ke restoran mahal. Untuk sementara, kita makan disini saja dulu ya...?!" ucap Ellia lagi.
"Ahh... kakak, tidak apa-apa. Begitu saja, aku sudah sangat senang sekali kakak. Sebagai Bos, kau sudah sangat baik padaku. Terimakasih banyak, Kak. Aku sangat bersyukur telah dipertemukan denganmu. Karena setelah aku mengenalmu dan mendapat pekerjaan disini. Kebutuhan sehari-hari keluargaku sekarang lebih baik. Tidak seperti dulu, untuk makan saja kami mesti ngutang dulu. Dan setelahnya, harus bekerja cukup keras untuk membayar hutang itu. Jadi, Kakak jangan merasa bersalah begitu padaku. Aku tak suka!" ucap Ritna panjang lebar. Karena tak senang mendengar ucapan Ellia padanya barusan.
Ya, Ritna adalah anak remaja yang putus sekolah. Sejak masih mengenyam pendidikan di bangku SMP. Ia putus sekolah karena Ibunya yang seorang janda dan hanya bekerja sebagai buruh tani saja waktu itu. Tidak lagi mampu membiayai kedua anaknya yang bersekolah karena kondisi fisiknya yang sudah sakit-sakitan. Merasa kasihan pada ibunya. Ritna pun memutuskan untuk berhenti sekolah dan mencari pekerjaan. Demi meringankan beban ekonomi keluarganya yang ditanggung oleh ibunya seorang.
Beruntunglah, beberapa tahun lalu dia dipertemukan dengan Ellia. Yang saat itu sedang kesulitan di jalan. Karena ban motornya pecah saat akan pergi ke kampung sebelah untuk menemui pamannya di sana. Dan ditolong oleh Ritna untuk membantunya mendorong motornya ke bengkel yang terdekat di sana.
"Baiklah. Kakak minta maaf?! Ya sudah, kakak masuk dulu. Lanjutkan saja pekerjaanmu." ucap Ellia. Dan berlalu pergi sambil menepuk pundak Ritna pelan saat melewatinya.
__ADS_1
"Em." jawab Ritna seraya menganggukkan kepalanya.
Dan mereka pun mulai mengerjakan tugasnya masing-masing hingga siang hari tiba. Dengan Ellia yang sibuk membuat laporan bulanan tentang keuangan counter itu, diruang kerjanya. Sedang Ritna, duduk santai menunggu pelanggan-pelanggan counter itu dibelakang lemari etalase.