Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Ditembak? Mati Dong...!


__ADS_3

Dan benar saja, keesokan harinya. Saat sedang serius bekerja didepan laptopnya. Didalam ruang kerjanya di counter. Ellia mendapat kiriman sebuah paket dengan ukuran cukup besar.


   "Assalamu'alaikum...! Permisi, Mba'! Apa benar disini ada Nona yang bernama Elliana zhafira Myesha? Saya mengantar paket ini untuknya." ucap Sang kurir pada Ritna yang standby menjaga di counter itu.


"Wa'alaikumsalam. Em... iya, benar itu nama kakak saya. Sebentar, aku panggilkan dulu orangnya ya, Mas!" jawab Ritna. Kemudian sedikit melipir dengan kursi beroda ya mendekati pintu ruangan Ellia.



*Tok...tok...tok* bunyi ketukan tangan Ritna pada daun pintu ruangan kerja Ellia itu.


"Mba'! Ada kiriman paket nih untuk Mba'. Mohon diterima Mba?!" ucap Ritna


Tak lama, Ellia pun keluar dan menemui sang kurir itu. Dengan raut wajah sedikit bingung, karena merasa tak pernah memesan apa-apa via online. Tapi, kenapa ada paket untuknya yang datang.


"Paket? Pengirimnya atas nama siapa ya, Mas? Dan kira-kira, paketnya itu isinya apa?" tanya Ellia, memastikan.



"Em... pengirimnya atas nama Tuan Arfan Mahesa, Nona. Dan isinya... nih, Mba'! Kelihatan dari luar. Sepertinya pakaian pesta dan segala perlengkapannya, Mba'." jawab Sang kurir


Dengan sedikit mengintip tulisan yang tertera pada kertas di atas kotak paket tersebut. Dan kemudian menunjukkan isi dari kotak yang tertutup dan terikat pita berwarna emas itu pada Ellia. Melalui penutup atas kotaknya yang transparan itu.


"Oh, astaga!!! Iya, aku hampir lupa. Ya sudah, sini paketnya, Mas. Itu dari rekan saya." jawab Ellia sambil menepuk jidatnya pelan. Dan mengambil paket tersebut dari tangan sang kurir.

__ADS_1



"Ini, Mba'. Mohon ditanda tangan disini ya, Mba'. Sebagai bukti barangnya sudah nona terima." ucap sang kurir lagi. Sambil menyodorkan sebuah note kecil yang harus ditanda tangani oleh Ellia itu.


Setelah meletakkan sementara kotak paket itu ke atas meja etalase di sana. Ellia pun membubuhkan tanda tangannya pada note kecil milik sang kurir itu. Kemudian mengucapkan terimakasihnya pada sang kurir tersebut. Dan setelahnya, sang kurir pun pamit undur diri.


Saat sang kurir telah pergi dan meninggalkan Ellia dan Ritna di sana. Ritna yang begitu penasaran dengan isi paket itu. Saat tadi sempat melihat sedikit isinya waktu sang kurir itu menunjukkannya kearah Ellia. Dia pun berdiri dan mengikuti langkah Ellia yang ingin kembali ke ruangannya lagi.



"Wah... Siapa tuh si Tuan Arfan-Arfan, Mba'? Pacar Mba' ya? Kok Ritna baru tahu kalau Mba' Ellia punya pacar. Pacar baru ya, Mba'? Ganteng nggak, orangnya, Mba'? Romantis banget sih... pakai kirim pakaian pesta segala seperti itu. Oh iya, apa kalian akan pergi ke pesta bersama? jawab dong Mba', jangan bikin aku pinisirin nih...!" cerca Ritna tanpa jeda. Dan diakhir kalimatnya sedikit mendesak Ellia untuk menjawab semua pertanyaannya itu.


Membuat Ellia menghentikan langkahnya dan menatapnya aneh bawahan sekaligus orang yang sudah dianggapnya adik itu.


Kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Menuju sofa yang terdapat dalam ruang kerjanya itu. Dia meletakkan kotak paketnya itu keatas meja didepan kursi sofa itu. Dan dia mendudukkan tubuhnya di sofa itu. Bersiap membuka dan memeriksa isi paketnya itu. Sementara Ritna, juga ikut mendudukkan dirinya di samping Ellia.


"Hehe...maaf, Mba'! Aku terlalu penasaran dan juga bahagia sekaligus. Bahwa ternyata, sekarang Mba'ku ini udah nggak jomblo lagi. Jadi, aku kebablasan nanyanya, hehe..." ucap Ritna sambil nyengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


"Ya udah, aku ulang lagi deh pertanyaan ku tadi. Si tuan-tuan Arfan itu, pacarnya mba'?" ucap Ritna mengulang pertanyaannya tadi, satu persatu.


"Si Tuan Arfan itu bukan pacar mba'. Dia hanya rekan bisnis saja. Semalam, dia nelfon mba' dan minta tolong. Buat menemaninya ke acara reunian di bekas kampus dulu. Karena undangannya mengharuskan semua yang datang membawa pasangan masing-masing." jawab Ellia, jujur. Dan sedikit menjelaskan.


"Kok, romantis gitu... pakai kirim baju pestanya lengkap dengan pelengkapnya segala gitu. Ini pasti gaun baru dari tokonya langsung Mba'. Mewah begini! Jangan-jangan... maksudnya ini ada udang dibalik batu, Mba'!" ucap Ritna mencurigai si pengirim paket untuk Ellia tersebut.

__ADS_1


"Maksud kamu apa De'?!" tanya Ellia tak mengerti maksud Ritna itu.


"Maksud aku, jangan-jangan si Tuan Arfan itu suka kali sama Mba' Eliia. Makanya, bela-belain belikan pakaian ini untuk Mba'." ungkap Ritna, menjelaskan.


"Em... Mba' nggak tahu. Mba' kan bukan dukun atau cenayang yang bisa menebak dan tahu isi hati orang. Kalaupun dia suka, Mba' nggak perduli. Mba' masih nyaman hidup sendiri seperti ini. Toh Mba' belum tampak tua-tua amat bukan! Dan selama beberapa bulan kemari, saat kami sering bertemu dalam urusan bisnis. Tuan Arfan nggak pernah bilang apa-apa tuh. Jadi, Mba mana tahu isi hatinya." jawab Ellia santai dan tak perduli.


Sambil tangannya mulai melepaskan pita yang mengikat dan menahan penutup kotaknya itu. Agar ia bisa melihat apa saja isi dari kotak kiriman dari Arfan tersebut. Setelah kotaknya sudah terbuka dengan sempurna. Ellia mulai mengeluarkan satu persatu isi dari kotak itu. Dan mencoba mengenakannya. Terutama sepatu high heels yang tinggi haknya kurang lebih 10 cm itu. Sedangkan gaunnya, hanya ia coba tempelkan saja pada tubuh bagian depannya.


"Iya. Mba' memang bukan cenayang. Tapi, coba deh Mba' telaah. Cowok kalau ada maunya sama kita. Dia pasti rela berkorban dalam hal apapun demi mendapatkan kita. Ya contohnya ini! Membelikan barang-barang mahal ini. Dan Mba' memang belum tua. Dan malah masih seperti gadis seumuran denganku. Tapi Mba', masa Mba' nggak bisa lihat gerak-gerik atau bahasa tubuhnya selama bersama, mba'?!" ujar Ritna.


"Nggak tahu dan Mba' nggak ngerti." jawab Ellia jujur, singkat namun padat.


"Ya ampun, Mba'. Nggak peka banget sih. Mba' ini sudah dewasa apa belum sih? Kok gitu aja nggak tahu. Atau... perasaannya Mba' aja gitu. Ada ngerasa kayak gimana sikapnya saat bertemu dengan mba' kemarin-kemarin." ucap Ritna lagi. Seperti ingin Mba'nya itu mengungkap kepekaannya selama ini.


"Ih... nggak tahu, De'. Mba' itu malas buat mikir dan mengurusi hal semacam itu. Prinsip Mba', kalau memang cowok itu suka sama Mba' dan mengungkapkan perasaannya langsung. Tanpa harus mba' yang pusing-pusing menerjemahkan sikapnya sama mba' seperti itu. Dan jika dia sudah jujur, suka. Baru deh Mba' berpusing-pusing untuk memikirkan untuk menerimanya atau nggak. Dan pegang ya, kata-kata Mba ini. Mba' itu nggak ingin menjalani yang namanya pacaran-pacaran sebelum menikah itu. Mba' ngeri aja dengar-dengar anak-anak sekarang. Gara-gara pacaran, walau masih usia sekolah terpaksa harus menikah. Dan harus putus sekolah karena malu ke sekolah bawa perut buncit gitu. Nauzubillah!" jawab Ellia menjelaskan panjang kali lebar.


"Mba' itu akan langsung nikah aja. Kalau sudah ada pria yang cocok menurut Mba'. Dan juga langsung datang melamar Mba'. Maka, Mba' akan menerima dan menikah dengannya. Setelah menikah, baru deh... kita pacaran. Jadi, mau ngapain aja nggak apa-apa. Kan udah halal juga." sambung Ellia lagi.


"Ya sudah, terserah Mba'. Tapi, kalau si Tuan Arfan itu malam ini nembak Mba'. Gimana?" ujar Ritna lagi.



"Kalau dia nembak Mba', ya mba'.... mati dong. Haha..." jawab Ellia santai, kemudian tertawa diakhir kalimatnya. Karena merasa geli sendiri mendengar jawabannya itu.

__ADS_1


__ADS_2