
Sesampainya di rumah, Ellia segera membersihkan dirinya. Dan sedikit berendam di bathtub untuk melepas penat yang ia rasakan.
Sementara di counter milik Tante Erna. Ada seorang gadis remaja yang sudah dipercayakan oleh Ellia. Untuk menggantikan dirinya sementara menjaga counter tersebut.
"Neng...! Malam ini, mau makan di rumah atau di luar?" panggil dan tanya Mba' Nenang dari balik pintu kamar mandi.
"Mau makan di rumah, Mba'. Dan mungkin, dua hari ke depan saya akan tetap ada di rumah, Mba'." sahut Ellia sedikit berteriak dari arah kamar mandi.
"Oh... oke, Neng. Mba' kembali ke dapur dulu ya... mau masak." imbuh Mba' Nenang berpamitan.
"Oke, Mba'." sahut Ellia lagi.
Setelah beberapa saat, akhirnya Ellia keluar dari kamar mandinya. Dengan tubuh yang terbungkus handuk kimono berwarna mustard. Dan tangan yang sibuk mengeringkan rambut panjangnya yang basah dengan handuk kecil ditangannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering yang menandakan ada sebuah panggilan di sana. Dengan segera ia mengambil benda pipih yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya. Setelah melihat dan menggeser tombol hijau yang tertera dilayar benda pipih itu. Ia mendekatkan benda tersebut pada sisi telinga kanannya.
"Iya, Ritna. Ada apa?" tanya Ellia lembut.
"Mba', disini ada Ibu Erna. Beliau meminta data laporan keuangan bulan kemarin." ucap Ritna dari sebrang telefonnya.
"Astaga, aku lupa!!! Katakan pada Beliau mohon untuk menunggu sebentar ya?! Aku baru selesai mandi. Selesai berpakaian, aku akan langsung kesitu." jawab Ellia dan langsung memutus panggilannya.
Kemudian bergegas sebentar mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Dan mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa. Beruntung, sebelum mandi ia telah menyiapkan pakaian gantinya seperti biasa.
Ya, Ellia memang terbiasa menyiapkan pakaian dan juga semua perlengkapan yang akan ia gunakan sebelum mandi. Meskipun hanya di rumah dan tidak berencana kemana-mana.
Dan disinilah Ellia berada, di counter pulsa milik Tante Erna. Dengan penampilan santainya, hanya mengenakan kaos oblong ketat yang berpadu dengan rok mini jeans. Serta rambut yang diikat Cepol dan tanpa polesan makeup ataupun sedikit bedak.
Setelah memarkir asal mobil mini Coopernya. Ellia keluar mobilnya tersebut dan langsung melangkah masuk kedalam counter dengan terburu-buru. Tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya. Bahkan, ia terlihat sedikit berlari. Sambil membawa laptopnya dan juga tas jinjingnya.
__ADS_1
Para pengunjung counter yang sebagian besar adalah anak remaja pria yang mencari jaringan WiFi untuk bermain game itu. Seketika menatap takjub kearah Ellia dengan mulut sedikit terbuka. Dan bahkan, ada yang sampai ileran karenanya.
"Bro-bro!!! Ada bidadari Bro." ucap anak remaja 1 yang melihat Ellia keluar dari mobilnya.
"Iya, Bro. Wow... Putih, mulus Bro..." ucap remaja 2 sambil menelan Salivanya dengan susah payah.
"I...ya." ucap remaja 3 ikut menatap takjub. Namun, setelah menelisik wajah bidadari yang dikatakan temannya itu. Ia seketika tersadar. "Ekh, bukannya itu Mba' Ellia ya...?!!" ucapnya kemudian.
Ya, Ellia memang hampir setiap hari ada di counter itu. Tetapi, tidak pernah tampil dengan tampilan seseksi itu. Dia selalu tampil rapi dengan kemeja panjang dan juga celana panjangnya. Karena itulah, para pengunjung tersebut pangling dan hampir tak mengenalnya. Dengan tampil seperti itu, kecantikan alami Ellia bukannya berkurang malah semakin meningkat.
"Selamat Sore, Ritna!" sapa Ellia datar dan singkat saat melewati pegawai penggantinya itu.
"Sore juga, Mba' El'!" balas Ritna sambil tersenyum.
Didalam sebuah ruangan transparan khusus tamu penting di counter tersebut. Tante Erna telah menunggu kedatangan Ellia sambil tersenyum simpul.
"Selamat sore juga, Nak. Tidak apa-apa. Kau hanya membuatku menunggu tidak lebih dari 10 menit kok." ucap Tante Erna sambil tersenyum ramah. "Kenapa kau terlalu takut, untuk membuatku menunggu hem...?" tanyanya.
Kemudian, sambil mengambil posisi untuk duduk disalah satu kursi di ruangan itu. Tante Erna melirik sebentar penampilan Ellia dengan ekor mata dan kembali berucap: "Sampai-sampai kau lupa menutupi tubuh seksi dan proporsional mu itu. Lihatlah para anak remaja diluar itu! Hampir saja, mereka membuat banjir halaman counter ini." Sambil menunjuk anak remaja yang ada diluar, dari dinding kaca ruangan tempat mereka saat itu.
"Maksud Tante??!" tanya Ellia bingung. Dan menghentikan sejenak kegiatannya mengutak-atik laptopnya.
"Ya iya. Saking terpesonanya mereka melihatmu. Mereka lupa menutup mulut dan hampir saja meneteskan air liurnya kemana-mana." ucap Tante Erna mendramatisir keadaan.
"Heh?! Mereka saja yang terlalu alay, Tante. Aku sudah biasa berpenampilan seperti ini." elak Ellia
"Iya. Tapi, saat didalam rumah saja 'kan. Nggak sampai keluar seperti ini." ucap Tante Erna lagi. "Sejenak, Kau membuat kepala generasi menunduk itu, jadi terangkat." lanjutnya.
"Hehehe... biarin aja, Tante. Aku nggak perduli tuh." ucap Ellia cuek. "Ini laporannya, Tante. Silahkan diperiksa dulu!" lanjutnya sambil memutar posisi laptopnya menghadap ke Tante Erna.
__ADS_1
Dan Tante Erna mulai sibuk memeriksa laporan keuangan counter dalam laptop Ellia itu. Dan sesekali bertanya tentang hal yang ia tidak mengerti pada Ellia.
Di sisi lain, didalam sebuah ruangan di suatu perusahaan. Seorang pria sedang menatap serius sebuah data diri dan foto seseorang yang ditampilkan dilayar komputer kerjanya.
Ya, pria itu adalah Evan Dimas Atmaja. Dia sedang membaca data diri lengkap tentang seorang Ellia. Sejak pertemuan mereka tadi siang. Rasa penasaran akan wajah cantik Ellia yang terasa sangat tak asing baginya. Membuatnya ingin menyelidiki siapa sebenarnya wanita bernama lengkap Ellia Zhafira Meysha itu.
"Bos, apa sebenarnya maksud dan tujuanmu mencari tahu tentang Nona Ellia itu? Mengenai kalian pernah bertemu atau tidak, kau 'kan sudah bertanya padanya. Dan Nona itu juga telah menjawab dengan sangat yakin. Kalau kalian sama sekali tidak pernah bertemu sebelumnya. Jadi, untuk apa lagi Hem?" terang Arfan.
Dia sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa? Seorang Evan yang terkenal sangat dingin dan tidak perduli dengan wanita. Kini dikuasai rasa penasaran tentang wanita yang saat ini menjadi rekan kerja mereka.
"Ck!!! Kau bisa diam tidak?!! Aku sangat yakin, kalau perasaanku ini tidak pernah salah. Sebab, wajahnya seperti tercetak jelas di benakku. Karena itu, aku ingin tahu siapa dia?!" ucap Evan sedikit kesal akan asisten pribadinya itu.
"Hem... apa mungkin dia teman masa kecilmu? Atau... dia teman dari Puspita dan pernah di kenalkan padamu?" tanya Arfan kembali bersuara dan tak perduli dengan peringatan atasannya itu. Dia terus mengutarakan pertanyaan-pertanyaan yang melintas di kepalanya.
Evan tak menyela segala pertanyaan yang dilontarkan Arfan. Dia justru terlihat ikut berpikir mempertimbangkan segala pertanyaan-pertanyaan dari sahabat sekaligus asistennya itu.
Menit berikutnya, tiba-tiba Evan menatap tajam kearah Arfan. Yang langsung membuat asistennya itu balas menatapnya bingung.
"Ada apa? Apa kau mengingat sesuatu?" cerocos Arfan.
"Kalau tak salah, wanita itu pernah menjadi penjaga counter pulsa milik Tante Erna, Ar'. Dan aku pernah bertemu sekali bahkan berkenalan dengannya saat akan bertemu pertama kali dengan Puspita waktu itu, di desa." terang Evan pada Arfan. Setelah ingatannya tentang Ellia terlintas di otaknya.
"Benarkah??!" tanya Arfan tak yakin. "Apa saat itu kau sempat menyukainya? Sampai-sampai, wajahnya tercetak di benakmu, begitu!" imbuh Arfan mencibir.
"Entahlah?!! Saat itu, aku pikir dia gadis yang akan dijodohkan Bunda denganku. Jadi, diam-diam aku memujinya saat berkenalan. Setelah itu, Aku baru mengetahui, kalau sebenarnya gadis yang akan dikenalkan denganku itu. Masih dalam perjalanan dan bukan Si Ellia itu." terang Evan jujur.
"Wah... kalau begitu, ini ceritanya... cinta pandangan pertama yang tertunda dong...!" ucap Arfan menebak asal sambil tersenyum geli. "Sekarang, apa kau akan melanjutkan dan mewujudkan cerita cintamu yang tertunda itu... Bro?" tanya Arfan kemudian.
"Em... tergantung. Kita lihat nanti." jawab Evan tersenyum penuh arti
__ADS_1