Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Tersedak


__ADS_3

Tepat saat jam telah menunjukan pukul 12.30 WITA. Kurir pengantar makanan pesanan dari Ritna. Seperti yang telah diperintahkan oleh Ellia tadi pagi. Kini telah sampai didepan counter itu.


Saat itu, Ritna tiba-tiba merasa perutnya mules sekali. Sementara sang kurir masih sibuk membuka box bawaannya dan memilih makanan pesanan costumernya itu. Karena sudah kebelet, Ritna meminta pada Ellia untuk menyambut makanan tersebut.


"Kak, aku tiba-tiba kebelet pengen ke belakang. Kakak, tolong sambut makanannya dulu ya?! Kurirnya udah didepan. Aku sudah tak tahan, Kak!" ucap Ritna sambil tangannya memegangi bagian perut bawahnya dengan wajah tampak seperti tersiksa. Karena menahan desakan sesuatu dibawah sana.


"Astaga! Ya sudah, cepat sana! Biar Kakak menemuinya." jawab Ellia sambil beranjak dari duduknya. Dan keluar dari ruangannya itu, berniat menemui kurir yang dimaksud Ritna itu.


"Terimakasih, Kak!!!" ucap Ritna lagi dengan berteriak karena dia sudah berlari agak jauh ke belakang. Masuk lebih dalam kedalam counter itu.


Dan Ellia pun telah menunggu dibelakang lemari etalase. Untuk menyambut kurir makanan tersebut yang tampaknya seorang pria.


"Selamat siang, permisi Mba'! Apa benar ini dengan Mba' Ritna? Saya pengantar makanan dari warung Ibu Hajja Almeira, Mba'." ucap Kurir itu bertanya sopan dan ramah. Serta menyodorkan sebuah bungkusan plastik berwarna putih dengan dua kotak makanan didalamnya kearah Ellia.


"Oh iya, itu adik saya. Dia sedang ke belakang. Berapa semuanya, Mas?" jawab Ellia, kemudian balik bertanya. Dengan menyambut bungkus kantong plastik yang disodorkan kearahnya itu.


"Em... semuanya hanya 69 ribu saja Mba'." jawab Kurir.


"Ooh...ini!" ucap Ellia seraya memberikan uang satu lembar seratus ribuan kearah kurir itu. "Kembaliannya, ambil aja Mas! Terimakasih ya." sambung Ellia kemudian.


"Tapi, Mba'! Ini kebanyakan. Saya akan kembalikan. Tunggu sebentar!" ucap sang kurir segera merogoh kantong tas selempang kecilnya yang berada tepat didepan dadanya.


"Tidak apa-apa, Mas. Ambil saja! Saya ikhlas kok." ucap Ellia lagi seraya berbalik untuk kembali masuk ke ruangannya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Mba'!" ucap sang kurir menahan langkah Ellia.


"Hem??! Ada apa?" tanya Ellia dengan menghentikan langkahnya dan menengok kan kepalanya saja. Kemudian menatap bingung wajah sang kurir yang hanya matanya saja yang terlihat. Sedang setengah bagian wajah bawahnya tertutup dengan masker.


"Em... bolehkah kita kenalan? Sepertinya... ini sudah dua kalinya kita bertemu disini. Jika aku tidak salah, kau gadis yang pernah menjadi penerima makanan dari warung ibuku ini. Dan pengirim makanan saat itu merahasiakan identitasnya. Sehingga kau mengira, kalau makanan itu berisi racun. Apa kau masih ingat?" ucap sang kurir bertanya sekaligus memberi penjelasan atas maksudnya itu.


Kemudian, kurir itu berusaha menurunkan maskernya. Agar, Ellia bisa melihat wajahnya dan mengenalinya.


"Benarkah?! Em..." ucap Ellia dengan menatap selidik ke wajah sang kurir tersebut. "Maafkan Aku...?! Aku sungguh tidak ingat, Mas. Kapan hal itu terjadi? Mungkin, aku sudah terlalu sering bertemu dengan orang asing. Sehingga membuatku lupa akan hal itu. Tapi, tidak apa-apa. Perkenalkan, namaku Ellia, E-L-L-I-A." sambung Ellia, jujur. Dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Mas kurir itu. Serta mengeja setiap huruf pada namanya itu sendiri.


"Wah, kau sudah melupakannya ya?! Kupikir kau masih mengingatnya. Baiklah. Tidak apa-apa, lupakan saja! Tidak perlu meminta maaf. Namaku, Adzriel." ucap sang kurir yang ternyata namanya Adzriel. Sambil tersenyum manis hingga menampilkan satu lesung pipinya.


"Oke, terimakasih Mas Adzriel. Karena tak mempermasalahkan tentang pertemuan pertama kita yang aku lupakan. Sekarang, kau sudah tahu namaku dan aku pun sudah tahu namamu. Jadi, apa masih ada yang ingin kau tanyakan?" ucap Ellia begitu datar dan cuek.


"Masih ada satu, Mba'. Tapi, aku minta maaf sebelumnya karena bertanya tentang ini. Aku tahu pertanyaanku ini mungkin sedikit pribadi. Tetapi aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak bertanya. Tidak apa-apa, jika memang kau tidak ingin menjawabnya. Aku hanya sekedar bertanya saja kok." ucap Adzriel berbasa-basi terlebih dahulu sebelum ke inti pertanyaannya. Yang mungkin akan ditanggapi oleh Ellia dengan tidak baik nantinya.


"Hmmm... Kok sepertinya, aku punya firasat buruk tentang itu ya...???! Cepat tanyakan, tentang hal apa itu?!" perintah Ellia tak sabar dan juga sudah berfirasat buruk dalam pikirannya.


"Em... maaf??! Saat pertemuan pertama kita, kau menggunakan kerudung di kepalamu, Mba'. Tapi sekarang, tidak lagi. Kemana perginya kerudung itu Mba'? Maaf, jika aku lancang bertanya seperti ini! Apa terjadi sesuatu beberapa tahun lalu setelah pertemuan kita dulu?" ungkap Adzriel pelan, takut menyinggung perasaan Ellia.


"Aku tahu ini terlalu pribadi bagimu. Dan kau juga baru berkenalan dengan beberapa detik yang lalu. Kau pasti tidak nyaman untuk membicarakan itu denganku saat ini. Tapi sungguh, kebetulan sekali aku bisa dipertemukan lagi denganmu. Banyak yang ingin aku katakan padamu. Tapi, waktu sangat sempit untuk itu. Bolehkah aku minta nomor ponsel pribadimu, Mba'?" imbuh Adzriel lagi, sekaligus meminta nomor ponsel Ellia akhirnya. Sambil menyodorkan dengan sedikit ragu ponselnya kearah Ellia.


"Em...jujur, aku tidak suka memberikan nomor pribadiku pada orang asing. Tapi tak apa, akan aku berikan untukmu. Mari!" ucap Ellia meminta ponsel Adzriel itu.

__ADS_1


Dan Adzriel pun memberikan ponselnya itu pada Ellia dengan senang hati. Setelahnya, Ellia pun mulai mengetikkan nomor ponselnya ke ponsel Adzriel itu.


"Ini...!" ucap Ellia dengan memberikan kembali ponsel itu pada pemiliknya.


"Terimakasih, Mba'! Kalau begitu, selamat menikmati makanannya. Saya permisi, Assalamu'alaikum!" ucap Adzriel, berpamitan.


"Iya, terimakasih. Wa'alaikumsalam." jawab Ellia.


Tanpa Ellia dan Adzriel sadari. Sejak obrolan mereka mulai membahas masalah pribadi Ellia. Ritna telah selesai dengan urusannya di belakang. Dan saat akan kembali ke depan, tak sengaja dia mendengar obrolan dua orang dewasa itu. Dengan terpaksa, dia mengurungkan niatnya dan menunggu di sana hingga sang kurir itu pergi dari sana.


"Mba', mana makanannya?" tanya Ritna.


"Nih, mari kita makan!" jawab Ellia sambil memperlihatkan lantang plastik ditangannya.


Dan mereka berdua pun langsung duduk di atas karpet bulu yang memang tersedia dibelakang salah satu sudut lemari etalase pajangan pernak-pernik counter itu. Untuk menyantap makanan mereka masing-masing di sana. Sambil makan mereka mengobrol santai.


"Menurutku, Mas kurir tadi... menyukai Mba' Ellia deh?!" ucap Ritna mencoba menebak.


"Hem... uhuk... uhuk...!" ucap Ellia terbatuk-batuk mendengar ucapan Ritna itu.


"Astaga, Mba'! Maafkan saya?! Ini minum dulu Mba'." ucap Ritna merasa bersalah. Sambil memberikan air minum kearah Ellia segera. Untuk meredakan batuk Ellia itu, akibat tersedak makanannya sendiri.


"Pelan-pelan!" imbuh Ritna lagi melihat Ellia yang buru-buru menelan air minumnya.

__ADS_1


__ADS_2