
Pagi hari, cahaya mentari yang begitu cerah hari itu. Mulai masuk menelusup kedalam gorden jendela kaca di depannya. Dan jatuh tepat kearah seorang gadis yang sedang sibuk didepan meja kerjanya itu. Membuatnya bagaikan lukisan hidup dan nyata.
Kulit putihnya, seakan bersinar saat terkena terpaan cahaya mentari dari balik dinding kaca ruangan itu. Dan gadis itu adalah Elliana Myesha.
Usai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Yaitu sholat subuh diruang kerjanya itu. Ellia hanya melepas mukenanya saja. Dan mulai bekerja dengan hanya menggunakan kaos oblong putih yang tampak kebesaran di tubuhnya itu. Serta celana hotpant di atas lutut berwarna coklat susu. Dia tampak begitu nyaman dengan pakaiannya itu. Jika hanya didalam rumah atau berada didalam ruang pribadinya itu.
Namun berbeda jika berada diluar ruangan. Ellia akan lebih nyaman dengan pakaian yang cukup tertutup dan sopan. Meski belum bisa berhijab kembali berhijab. Seperti saat ia bersekolah dulu. Tetapi setidaknya, ia masih menutupi aurat terbesarnya dari sebagai seorang wanita muslim.
Ellia sudah bangun sejak subuh tadi. Dan memulai kembali pekerjaannya yang masih tersisa sedikit lagi. Akibat semalam, tepat jam 12.10 WITA, malam. Dia sudah tidak mampu lagi menahan kantuknya. Sehingga, ia putuskan untuk tidur dan mengistirahatkan tubuh lelahnya itu dulu. Dan kemudian akan melanjutkan pekerjaannya itu, di esok hari saja.
Beberapa saat, Ellia masih berkutat dengan laptop dihadapannya itu. Hingga tiba-tiba, Ritna masuk ke ruangannya itu. Sambil membawa sebuah nampan berisi segelas jus alpukat. Dan dua lembar roti tawar dengan selai coklat crunchy didalamnya.
"Mba', sarapan dulu! Nih, aku udah buatkan jus alpukat dan roti tawar isi selai coklat kesukaan Mba'. Biar kerjanya makin semangat dan perutnya nggak keroncongan, nantinya." ucap Ritna. Sambil meletakkan nampannya itu ke atas salah satu sisi meja kerja Naziah.
"Wah... terimakasih, Dek! Kamu tahu aja jika Mba' butuh asupan gizi. Untuk membangkitkan semangat kerja, Mba' yang sebentar lagi sepertinya akan down." ucap Ellia dengan raut senang.
Dan mulai meneguk jus alpukat nya itu, sedikit. Demi membasahi tenggorokannya yang sudah terasa kering sejak tadi. Karena terlalu tanggung untuk meninggalkan pekerjaannya itu demi mengambil air minum dan membasahi tenggorokannya itu. Tetapi, Ritna dengan pengertiannya membawakan sarapan itu untuknya.
"Iya, sama-sama, Mba'. Ya sudah, Selamat menikmati...! Aku balik dulu dan mau siap-siap buka counter nya." balas Ritna dan pamit undur diri. Untuk mengerjakan juga tugasnya saat itu.
Dan Ellia kembali melanjutkan pekerjaan nya. Sambil menghabiskan juga sarapannya itu.
__ADS_1
Tepat jam 09.46 WITA, sebuah mobil mini Cooper berwarna biru muda nampak memasuki halaman counter pulsa dan handphone itu. Yang tentunya, Ellia sudah tahu siapa pemilik mobil tersebut. Dialah Tante Ernawati, pemilik counter pulsa yang saat ini mempercayakan kepengurusan usaha kecilnya pada Ellia, sang keponakan.
"Assalamu'alaikum, El', Rit'! Apa kabar kalian? Semoga pada sehat dan baik-baik saja, ya!" ucap Tante Erna, sangat ramah.
"Wa'alaikumsalam, Tante." balas Ellia dan Ritna berbarengan. "Alhamdulillah, kami sangat sehat dan baik juga. Tante sendiri, sehat juga 'kan?" lanjut Ellia menjawab dan bertanya mewakili Ritna.
Sambil mereka menyalami dan mencium santun punggung tangan wanita setengah baya dihadapan mereka itu.
"Alhamdulillah, Tante juga masih sehat. Meski terkadang, sesekali lutut Tante terasa kaku dan ngilu. Jika terlalu lama berdiri dan jalan. Maklum, udah mau masuk usia tua. Hehe..." jawab Tante Erna dengan sedikit tertawa.
"Waduh!!! Tante sudah harus rutin minum susu A***ne. Aku aja udah minum. Biar tulang-tulangnya kita nggak cepat keropos nantinya. Masa', wajah masih awet muda gini, tapi tulang kakinya udah engkel sih. Itu akan kelihatan lucu, Tante, haha...!" rekomendasi Ellia pada bosnya itu sekaligus bergurau. Agar selalu menjaga kesehatan tulangnya, disaat masuk usia tua seperti itu.
"Untuk itu, ayo kita langsung kedalam aja, Tante. Alhamdulillah, tetap ada peningkatan di setiap bulannya seperti biasa. Meskipun peningkatannya nggak begitu signifikan sih, Tante." jawab Ellia. Sambil mengajak bosnya itu masuk kedalam ruang kerjanya. Dan akan lanjut berbicara di ruang kerjanya itu.
"Iya, tak apa. Begitu saja, Tante sudah sangat bersyukur, El'. Ayo!" jawab Tante Erna. Dan mengikuti langkah kaki Ellia untuk masuk ke ruang kerjanya.
Dan Ellia serta Tante Erna pun mulai membicarakan tentang bisnis mereka itu. Dengan lebih intens didalam ruangan itu. Sedang Ritna, sibuk melayani pelanggan yang datang ke counter pulsa dan handphone mereka itu.
🍃🍃🍃🍃🌼
Di tempat lain,
__ADS_1
Evan sedang sibuk mengurusi berkas-berkas yang akan dibawa ke pengadilan agama. Sebagai kelengkapan untuk pengajuan perceraian dengan sang istri, Puspita.
Dibantu salah seorang teman sekolahnya. Yang saat ini berprofesi sebagai seorang pengacara dan cukup berprestasi di bidang tersebut.
Karena, Evan ingin perceraiannya dengan Puspita itu segera dikabulkan oleh kepala hakim. Dan segera pula tercatat oleh negara dan agama. Sebab, semakin hari semakin lama. Evan semakin muak dengan tingkah laku Puspita. Yang tetap kekeh tidak ingin bercerai darinya.
Hari-hari berlalu, mulai dari hari sidang mediasi. Hingga sidang tahan 1 dan 2 perceraian mereka. Evan tak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya atau datang menghadiri undangannya. Agar dengan begitu, pengajuan proposal perceraiannya itu segera diterima.
Dan hari terakhir yang ditunggu-tunggu oleh Evan pun tiba. Yaitu, sidang pembacaan putusan hakim atas proposal perceraiannya itu. Barulah Evan datang memenuhi undangan panggilannya itu. Karena menurutnya, jika sudah hari itu. Maka, tidak akan ada lagi izin untuk berbicara dan mempengaruhi keputusan kepala hakim, nanti. Dari kedua belah pihak yang akan bercerai.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatu!" ucap Ketua hakim, membuka acara sidangnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barakatu." balas semua yang hadir di sana.
Termaksud Nyonya Listiani dan sang suami, Tuan Erik Atmaja, juga ada di sana. Mereka duduk di kursi tepat dibelakang kursi Evan. Mereka datang, tentunya sebagai saksi dari pihak Evan Dimas Atmaja.
Sedang dibarisan kursi dari pihak tergugat, yaitu Puspita. Dia hanya didampingi pengacara dan Tante Erna bersama sang suami saja. Sebagai saksi dari pihak Puspita sendiri.
"Baiklah. Hari ini saya akan membacakan putusan atas perkara perceraian yang diajukan oleh saudara Evan Dimas Atmaja. Kepada sang istri, bernama Puspita. Dan setelah melewati beberapa tahap prosedur yang sudah ketetapan hukum di negara kita ini. ****Bahwa, saudara Evan Dimas Atmaja dan saudari Puspita. Mulai hari ini dan seterusnya, resmi bercerai****. **Tok... tok...tok**..." ucap Ketua hakim
Dengan suara yang sedikit menekan kata serta berucap lantang diakhir-akhir kalimatnya. Kemudian menutup ucapannya itu dengan sebuah kutukan palu sebanyak tiga kali. Sebagai tanda bahwa perceraian dua insan itu resmi dimata negara dan agama mereka, saat ini.
__ADS_1