
Setelah batuknya mereda, Ellia menatap tajam Mas kurir tersebut. Kemudian terlihat menghirup udara segar sebanyak mungkin melalui hidungnya.
"Astagfirullahal'adzim!" ucap Ellia sambil menghembuskan nafasnya pelan. "Kenapa Mas kurir nggak menahan tanganku tadi? Dan hanya membiarkan aku menggunakan sendok bekasmu itu. Setelahnya, kau bisa menjelaskan semuanya padaku. Jadi, aku bisa mengerti tadi. Dan pastinya, aku akan mengganti sendok itu dengan sendok yang lain." omel Ellia setelahnya.
Mendengar Omelan tiba-tiba dari Ellia seperti itu. Mas kurir itu tidak bisa berkata-kata dan hanya menatap lucu wajah Ellia.
"Sudahlah. Itu sudah terjadi. Toh cuma bekas mulut saja kan?! Tidak lebih. Anggap saja tidak pernah terjadi. Atau... anggap saja aku kucing yang menjilati bekas makanmu. Aku tidak masalah." ucap Ellia lagi.
Kemudian, dia sedikit mendekatkan kepala kearah Mas kurir itu dan sedikit berbisik.
"Tapi... tolong rahasiakan ini ya pada semua orang. Jujur saja, aku akan sangat malu nantinya. Dan teman-teman ku akan mengejekku pastinya. Tolong ya Mas...?!!" bisik Ellia.
Mendengar pernyataan Ellia seperti itu. Mas kurir itu merasa perutnya seperti di gelitik. Hingga membuatnya tertawa lucu.
"Hahaha... kau lucu sekali Nona." ucapnya sambil tertawa. "Tapi baiklah, aku akan merahasiakannya dari orang lain. Demi kucing cantik dan imut sepertimu. Bukan begitu...?" jawabnya lagi dan bertanya memastikan. Sambil tampak menahan senyumnya.
Mendengar Mas kurir itu menyebutnya kucing cantik dan imut. Ellia terlihat merajuk sambil memanyunkan bibir mungilnya.
"Auh ah!!! Terserah." jawab pasrah Ellia sambil membuang pandangannya ke lain arah.
"Baiklah. Karena kau sudah habis memakan makanan itu. Dan aku yang menjadi kucing percobaanmu, juga tidak apa-apa. Sekarang, apakah aku sudah bisa pergi? Karena masih banyak tugas hantaran yang menantiku." tutur lembut Mas kurir itu memohon pamit.
"Iya. Kau sudah boleh pergi. Terimakasih sudah bersedia menjadi kelinci percobaan ku, bukan kucing percobaan...!" jawab Ellia membenarkan perumpamaan yang dikatakan oleh Mas kurir itu.
__ADS_1
"Karena kau menyebutmu kucing, jadi aku ingin berbuat adil. Dengan menyebutku kucing juga, bukan kelinci. Baiklah, Assalamu'alaikum! Semoga kita bisa bertemu lagi." jawab telak Mas kurir itu sebelum benar-benar beranjak dari duduknya.
"Ya ya ya... terserah. Wa'alaikum salam. Aku berharap, semoga kita tidak bertemu lagi." ucap Ellia menolak secara terang-terangan. Harapan Mas kurir itu untuk bertemu dengannya lagi.
Namun, bukannya marah atas penolakan harapannya itu. Mas kurir itu malah tampak tersenyum senang sambil melangkah pergi menuju motornya. Setelah dia menaiki motornya. Dia sedikit berdehem sambil memasangkan helm di kepalanya.
Setelah semua alat pengaman berkendaranya terpasang rapi. Mas kurir mulai menghidupkan mesin motornya. Namun, karena merasa Ellia masih melihat dan memperhatikan dirinya.
Tiba-tiba terbersit ide jahil di kepalanya. Sebelum dia benar-benar pergi dari sana. Dia kembali menengok kearah Ellia. Dan mengedipkan sebelah matanya kearah Ellia.
Melihat itu, Ellia sedikit terkejut dan refleks matanya melotot. Kemudian, memutar malas bola matanya itu. Lalu berpura-pura membuang pandangannya ke lain arah setelahnya.
Setelah melihat sejenak reaksi Ellia seperti itu. Sambil mulai menarik pedal gas motornya untuk meninggalkan tempat Ellia itu. Mas kurir itu tersenyum bahagia karena merasa lucu dengan tingkah Ellia itu.
"Kau sangat bodoh Ellia!!!" umpat Ellia pada dirinya sendiri. "Dan kau juga berhasil menciptakan rekor baru. Dengan mempermalukan dirimu sendiri didepan seorang kurir tampan seperti tadi. CK ck ck benar-benar aku ini!!!." sambungnya.
"Tunggu dulu!!! Tampan...???" ucap dan tanya Ellia dan meyakinkan sendiri ucapannya itu. "Iya, benar. Mas kurir itu memang tampan. Eh... lumayan tampan." lanjutnya tersenyum sendiri membayangkan wajah Mas kurir tadi.
"Dasar bodoh!!! Berhenti meracau. Kau sudah seperti orang gila Ellia. Karena berbicara sendiri." umpat Ellia lagi pada dirinya.
Dan mengingatkan atas kegilaannya dalam berbicara sendiri seperti itu. Lalu melirik ke sana kemari untuk memastikan. Kalau saat ini tidak ada orang yang melihat dan mendengarnya berbicara sendiri.
"Alhamdulillah tidak ada orang." ucapnya lagi sambil mengelus-elus dadanya. "Oh iya, daripada aku seperti orang gila. Lebih baik aku mengecek laporan bulanan counter saja" ucapnya mulai menyibukkan dirinya.
__ADS_1
Setelah berhasil menyibukkan dirinya. Tak terasa dari ufuk barat, cahaya matahari mulai meredup. Pertanda hari menunjukkan telah petang. Ellia memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sebab ia akan menutup counter tersebut sementara.
Karena dia akan mandi dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Nanti setelah pukul 7 malam, barulah dia akan membuka kembali counternya. Hingga pukul 10 malam nanti.
Sementara dibelahan lain dunia itu. Evan terlihat turun dari mobil Puspita yang sudah terparkir sempurna didepan kediamannya.
"Terimakasih sudah mengantarku ya. Sampai jumpa lagi. Dan berhati-hatilah di jalan pulang!!" ucap Evan pada Puspita.
"Iya, Terimakasih kembali dan sampai jumpa. Salam sama Ibunda kamu ya?! Aku pergi, bye." balas dan pesan Puspita.
"Iya, nanti aku sampaikan. Bye juga. Hati-hati!!" jawab Evan dan ulang memperingati Puspita lagi.
Dan Puspita pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Keluar dari pekarangan rumah mewah milik Keluarga Evan itu.
Setelah mobil Puspita sudah tak terlihat lagi. Evan pun baru melangkahkan kakinya. Untuk masuk kedalam rumahnya. Dan langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Dia ingin segera membersihkan dirinya. Sebab sejak tadi dia sudah merasa sangat gerah sekali. Usai menemani Puspita berbelanja.
Didalam mobil yang terus melaju dengan kecepatan normal. Puspita tampak tersenyum licik. Sesaat setelah memandangi kaca spion didalam mobilnya itu. Menampakkan barisan paper bag barang belanjaannya tadi. Yang hampir semuanya terdiri dari barang-barang branded. Dan yang membuat senyumnya itu semakin merekah. Karena barang-barang itu, semua dibayar menggunakan uang Evan.
"Baru pertama kali bertemu dan berkenalan saja. Kau sudah sangat baik dan rela menghabiskan uangmu, untukku. Bagaimana kalau sudah menjadi suami ya? Wah... Aku pasti akan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Untuk itu, bagaimanapun caranya? Aku harus mendapatkan mu dan menjadikanmu milikku seutuhnya, Evan." monolog Puspita begitu ambisi untuk memiliki seorang Evan.
Di counter, tepat pukul 8 malam. Ellia mulai sibuk melayani pelanggan yang datang dengan berbagai keperluan dan kebutuhannya ke counter itu. Hingga sampai ketika counter itu hampir tutup pun. Para pelanggan pemburu pulsa data dan jaringan WiFi di tempat itu masih terus berdatangan.
__ADS_1
Beruntung, meski Ellia hanya seorang wanita dan tinggal sendiri di sana. Anak muda di sana sangatlah baik dan menghargainya. Serta tidak pernah sekalipun berniat buruk ataupun berbuat jahat padanya. Bahkan mereka menawarkan akan membantu Ellia jika ia membutuhkan bantuan mereka.