Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Menjemput


__ADS_3

       "Maksud aku... bukan ditembak yang kayak gitu... kali, Mba' Ell'! Tapi, ditembak dengan kata-kata manis penuh cita untuk Mba' Ellia. Apa mba' akan menerimanya?" jelas Ritna dengan menahan geram dan kesal dengan sikap cuek serta terlalu santai dari mba' nya itu.


    "Oh... begitu...! AU ah... mba' malas mikir. Udah ah, sana kembali kerja lagi. Mba' juga mau lanjut kerja lagi. Biar pekerjaannya cepat selesai. Dan kita harus cepat pulang. Karena mba' harus siap-siap untuk menemani Tuan Arfan itu. Ke acara yang ingin dia hadiri malam nanti itu." ucap Ellia malas membahas panjang lebar masalah itu.


Sebab selama ini, ia sudah terlalu nyaman dengan kesendiriannya itu. Dan bergerak kemana saja sesuka hatinya. Tanpa ada orang yang berstatus pacar atau apa, yang melarang dan menghalangi langkahnya. Menurutnya, jodoh itu adalah rahasia Tuhan. Dan tentunya, dia percaya akan ungkapan. Yang menyatakan, kalau setiap mahluk Tuhan yang diberi nama manusia itu. Semuanya diciptakan berpasang-pasangan. Bahkan, hewan dan tumbuhan pun juga memiliki pasangan. Jadi, dia yakin jika sudah waktunya jodoh untuknya itu pasti akan datang dengan sendirinya. Tanpa harus dia mencari ke sana kemari.


Benar saja, tepat pukul setengah 4 sore hari. Ellia memerintahkan Ritna untuk menutup saja counter itu. Sebab, ia tak ingin anak buahnya itu pulang sendiri tengah malam nanti dengan jalan kaki kerumah. Jika, adiknya tak datang menjemput. Jadi, setelah counter itu ditutup Ellia akan langsung mengantarkan anak buahnya itu kerumahnya di desa sebelah. Dan setelahnya, ia akan pulang dan harus segera bersiap-siap. Sebelum Tuan Arfan datang menjemputnya langsung di rumahnya.


Dan tepat pukul enam lebih beberapa menit. Saat Ellia sedang sibuk berdandan. Sebuah bunyi nada dering panggilan dari ponsel pintarnya menghentikan aktivitasnya. Yang sedang mengoleskan lipstik tipis ke bibirnya. Ellia segera mengambil benda pipih itu dan melihat siapa penelfon di sana.



"Tuan Arfan." gumam Ellia. Saat melihat nama Tuan Arfan yang tampil pada layar utama ponselnya itu. Setelah menggeser icon hijaunya segera Ellia menempelkan benda pipih itu ke sisi telinganya. "Assalamu'alaikum, Tuan Arfan! Bagaimana, apa anda jadi mengajak saya ke acara reunian anda itu, Tuan?" sapa dan tanya Ellia.


Berharap Arfan memberi kabar padanya. Bahwa, ia batal diajak untuk pergi. Sebab, jika bisa jujur Ellia sangat tidak suka suasana pesta, terlalu ramai. Sementara, dia adalah penyuka suasana yang sedikit sunyi dan tenang.

__ADS_1


"Jadi, dong... Nona Ellia. Ini aku menelfon anda buat minta share lokasi kediaman anda, Nona. Sebab, aku sudah keluar dari rumahku dan sedang meluncur untuk menjemput anda, Nona." jawab Arfan, lugas. Sambil fokus menyetir mobilnya.


Dia berbicara bersama Ellia melalui telfonnya dengan bantuan Earphone lepas yang melekat pada telinganya.


"Oh... kirain dibatalin, Tuan. Hehehe... Ya udah, aku hidupkan GPS ku dulu, Tuan." jawab Ellia sambil terkekeh kecil. Kemudian mulai mengutak-atik sebentar ponsel pintarnya itu. "Sudah, Tuan." ucap Ellia lagi setelah kembali menempelkan ponsel itu ke sisi telinganya.


"Em.... Iya, udah muncul." jawab Arfan. Setelah sedikit mencolek layar ponselnya yang ia letakan pada tepat khusus ponsel di dashboard mobilnya itu. Dan menampilkan sebuah gambar zona GPS ponsel Ellia yang terhubung dengannya. "Hem... ngomong-ngomong, kenapa Nona berharap saya akan membatalkan untuk mengajak Anda?" tanya Arfan. Teringat ungkapan kalimat praduga Ellia, tadi.



"Eh... tak apa-apa, Tuan. Ya sudah, hati-hati dijalan. Aku lanjut bersiap dulu sambil menunggu Anda sampai." jawab Ellia, mengalihkan pembicaraan. Agar, ia bisa segera mengakhiri acara siap-siapnya itu.


Dan setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 50 menit. Akhirnya, Arfan menghentikan laju mobilnya. Setelah posisinya sudah sampai dititik ujung GPS yang ditujunya. Arfan memarkirkan mobilnya ditepi jalan di sisi kiri. Kemudian kembali menghubungi nomor ponsel Ellia. Untuk meminta Ellia keluar dari rumahnya. Agar, ia bisa tahu dimana tata letak pasti rumah Ellia itu. Diantara beberapa rumah yang berjejer di sana dan tampak cukup padat.


"Halo, Nona! Aku sudah sampai nih. Rumah anda yang mana ya?" ucap tanya Arfan to the poin. Saat panggilannya sudah tersambung.

__ADS_1


"Oh, udah sampai ya. Tunggu saja di mobil, Tuan. Biar aku saja yang keluar menghampiri anda. Bentar?!" jawab Ellia. Sambil beranjak dari duduknya di ruang tamu rumahnya itu. Sejak beberapa menit lalu, ia sudah menunggu kedatangan Arfan. Sambil ditemani oleh Neneng mengobrol di sana.


Tak lupa, Ellia berpamitan terlebih dahulu pada Neneng. Sebelum ia benar-benar keluar dari rumahnya itu. Sedang Arfan, sengaja turun dan keluar dari mobilnya itu. Dan bersandar pada badan mobilnya itu. Agar, Ellia cepat menemukan dan melihat posisinya saat itu. Dan benar saja, saat Ellia keluar dari pekarangan rumah itu. Yang diikuti oleh Neneng dibelakangnya. Demi untuk melihat dan memastikan dengan siapa majikannya itu akan pergi malam hari seperti ini.


Ellia melangkahkan kakinya menuju ke tepian jalanan. Sambil kembali berpamitan pada asisten rumah tangganya itu.


"Aku pergi dulu ya, Neng! Jaga rumah baik-baik dan jangan lupa kunci saja pintu rumahnya. Nanti saat aku kembali, aku akan masuk sendiri. Karena aku udah bawa kunci cadangannya. Kau langsung istirahat saja ya!" pamit dan pesan Ellia pada Neneng.


Saat Ellia sedang sibuk berpamitan dengan asisten nya itu. Arfan yang sudah sangat hafal akan suaranya. Langsung mengalihkan pandangannya kearah asal suara Ellia itu. Setelah memastikan, bahwa wanita yang ada diseberang jalan didepannya itu adalah Ellia. Arfan segera memutus begitu saja panggilan telfonnya yang sejak tadi masih tersambung.


Dan Ellia yang tadinya sedang menunduk, sibuk merapikan tas jinjing kecil yang dibawanya. Belum melihat posisi Arfan yang sudah berada tepat diseberang jalan depan rumahnya itu. Hingga suara Arfan yang menyapanya, terdengar. Barulah dia mengangkat wajahnya mengalihkan kearah sumber suara orang yang menyapanya itu.


"Nona Ellia!" sapa Arfan dengan senyuman manisnya yang terukir di bibirnya.


Dalam hati, begitu mengagumi penampilan Ellia malam itu. Apalagi dengan mengenakan pakaian serta perlengkapan yang ia kirimkan tadi siang. Sungguh membuat Arfan bangga pada dirinya. Karena telah mampu memilihkan gaun indah berserta aksesorisnya itu. Dengan sangat pas ditubuh dan juga pemilihan warnanya. Yang sangat kontras dengan warna kulit milik gadis cantik didepannya saat itu.

__ADS_1


"Eh, Tuan. Tepat sekali anda memarkirkan mobil anda. Aku pikir anda akan memarkir di sana atau di bagian jalan sana." jawab Ellia dengan senyuman manis yang tersungging di bibirnya itu. Dengan sikap yang tampak sedikit malu-malu. Sambil menunjuk kearah kanan kiri jalanan dari posisinya berdiri saat itu. Sebab, tatapan Arfan yang tertuju padanya itu, bagai tatapan penuh arti.


Ya ternyata, Arfan memarkirkan mobilnya tepat berada di sisi kiri jalan didepan rumah Ellia itu. Dan dia berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke badan mobilnya. Dengan posisi menghadap ke sisi kanan jalan. Tepat menghadap posisi rumah sederhana bercat coklat muda dan putih milik Ellia itu.


__ADS_2