
"Itu tidak akan terjadi padaku, Nona. Karena, aku termasuk seseorang yang ahli dalam membaca posisi sebuah kode di ponsel, Nona." ujar Arfan, tampak datar dan serius.
Setelah mengatakan itu, Arfan pun sedikit berlari menuju sisi kiri mobilnya. Dan membukakan pintu bagian depan mobilnya itu untuk Ellia.
"Silahkan masuk, Nona!" ucap Arfan mempersilahkan Ellia. Sambil sedikit membungkukkan badannya, tanda hormat.
"Terimakasih..." ucap Ellia.
Sambil memasukan dan mendudukkan tubuhnya didalam mobil Arfan itu dengan nyaman. Dan tak lupa mengenakan sabuk pengaman yang ada di sana pada tubuhnya itu.
Sementara itu, Arfan pun ikut masuk kedalam mobilnya itu. Dengan duduk di kursi dibelakang kemudi, tentunya.
"Tidak usah putar arah mobilnya, Tuan. Cukup ikuti jalur kanan di perempatan depan itu saja, Tuan." ucap Ellia mengarahkan Arfan dalam mengemudikan mobilnya. Untuk keluar dari desa itu menuju jalanan besar atau bisa dibilang jalan trans.
"Oh, baiklah, Nona." ucap Arfan, patuh. Dan mulai mengarahkan mobilnya untuk mengikuti jalur kanan di perempatan jalanan itu.
__ADS_1
"Em... Ngomong-ngomong. Apa omongan Tuan tadi itu bisa diartikan anda adalah seorang ahli IT? Begitu!" tanya Ellia, masih memikirkan ucapan Arfan sebelum mereka memasuki mobil itu, tadi. Sambil memiringkan wajahnya untuk bisa melihat kearah wajah Arfan itu.
"Hahaha... aku hanya bercanda kali, Nona. Itu tidak benar. Yang tadi itu hanya kebetulan saja. Aku berhenti dan memarkirkan mobil ini, tepat didepan rumah anda. Jangan dianggap serius! Aku memang suka bercanda, kalau tidak sedang bekerja. Berusaha untuk profesional saja dalam bekerja." akui Arfan dengan sedikit tertawa, geli.
Sambil mulai menghidupkan mesin mobilnya. Dan melajukan kendaraannya itu dengan kecepatan normal menyusuri jalanan yang ditunjukkan oleh Ellia tadi itu.
"Hem... Tuan! Aku pikir beneran ucapan anda tadi, itu. Ternyata cuma candaan semata." ucap Ellia sedikit memanyunkan bibirnya, kesal. Karena sempat percaya dan termakan pada candaan pria di sampingnya itu.
"Astaga! Menggemaskan sekali bibir itu. Jika saja, belum ada yang membidik anda dari jauh. Sudah saya pastikan, saya juga akan maju mendaftarkan diri saya. Hahaha... Lupakan saja!" ucap Arfan, lirih tapi masih bisa terdengar dan kata-katanya tertangkap baik oleh indera pendengaran milik Ellia itu. "Maafkan saya, Nona?! Sudah membuat anda termakan kata-kata candaan konyol ku itu." ucap Arfan setelahnya. Segera mengembalikan topik pembicaraan mereka itu. Yang dia sendiri sempat mengalihkan topiknya tanpa sadar.
"Maksud anda apa, Tuan? Saya tak mengerti!" ucap tanya Ellia. Terfokus pada ucapan lirih rekannya itu.
"Maksud saya, bukan kata-kata anda yang itu, Tuan. Tapi, maksud saya, kata-kata anda yang mengatakan kalau saya ini sudah menjadi bidikan orang lain dari jauh. Siapa, Tuan? Maaf...! Bukan berarti saya mengatakan ini, karena saya juga menginginkan anda. Tapi, jujur... saya merasa dan memastikan diri saya sendiri. Kalau saya itu masih jomblo alias tak mempunyai pasangan. Seperti pacar atau apalah namanya itu. Apalagi tunangan. Jadi, bagaimana anda bisa mengatakan kalau saya itu sudah menjadi bidikan orang. Memang siapa orang yang anda maksud, Tuan?" tanya Ellia dan menjelaskan singkat bagaimana dirinya saat itu. Dengan rasa sedikit sewot dan penasaran, bercampur menjadi satu.
"Hem... Lupakan saja, Nona Ellia. Belum saatnya anda mengetahuinya. Nanti kalau sudah saatnya tiba, anda pasti akan mengetahuinya sendiri." jawab Arfan, mengelak. "Oh iya, sebenarnya sejak tadi saya ingin mengatakan: Kalau saat ini, anda tampak semakin cantik dengan gaun itu. Dan saya sungguh tak menyangka, jika gaun pilihannya itu. Sangat pas dan terlihat semakin indah saat anda yang mengenakannya." ucap Arfan mengganti topik pembicaraan.
__ADS_1
Namun naas, sudah dengan susah payah Arfan mengganti dengan topik pembicaraan yang lain. Tetapi, dasar memang lidah Arfan yang susah untuk berbohong. Setiap kali hatinya dan otaknya ingin berucap yang salah. Bibirnya malah bergerak dan berucap kalimat yang sebaliknya. Seakan sarafnya pada bibirnya itu sedang mengalami korslet saja. Sehingga menolak apa yang diinginkan oleh hati dan otaknya. Mengakibatkan mereka tak sejalan akhirnya.
"Apa gaun dan.... semua pelengkapnya ini adalah pilihannya? Pilihan siapa yang anda maksud, Tuan? Cepat katakan yang sejujurnya Tuan!"
"Jika tidak, maka aku minta hentikan mobilnya. Dan biarkan aku turun disini saja. Aku putuskan untuk tidak jadi ikut bersama anda ke acara itu. Sebab menurutku, acara yang Tuan katakan acara reunian ini. Pasti hanya alibi anda saja 'kan! Supaya saya mau datang bersama anda. Padahal sesampainya di sana, anda akan meninggalkan saya. Setelah selesai menyerahkan saya padanya. Bukan begitu, Tuan Arfan?! cerca Ellia dan berprasangka buruk. Serta memaksa dan mendesak. Sekaligus mengancam rekannya itu untuk mengiyakan prasangka nya itu.
"Astagfirullahal'adzim, nggak begitu juga, Nona...! Nih bibir... menyebalkan sekali! Kenapa sih selalu nggak bisa bohong sedikit. Dasar Pinokio!!! Ya Allah... ampunilah hamba mu yang tak mensyukuri anugerah Mu ini." ucap dan umpat Arfan kesal pada bibirnya sendiri itu. Sambil mencubit sendiri bibirnya itu dengan tangan kanannya. Kemudian meminta maaf pada Tuhannya karena dosa yang baru saja ia lakukan terhadap dirinya sendiri.
"Ya, jangan gitu dong, Nona. Baiklah. Aku akan jujur, sekarang." sambung Arfan. Tanpa mengindahkan permintaan rekanya itu untuk menghentikan laju mobilnya itu. Dan langsung mengiyakan untuk menjawab rasa penasaran Ellia, rekan bisnis sekaligus gebetan atasannya saat itu.
Namun sebelum menjawab, Arfan terlihat beberapa kali menghirup nafasnya panjang. Dan kemudian membuangnya perlahan melalui mulutnya.
"Itu semua pilihan dari.... Evan, Tuan Evan Dimas Atmaja. Dan saat ini, dia memang sedang menunggumu di sana. Tapi, mengenai acara itu, benar adanya Nona. Acara reunian kampus. Tetapi sebenarnya, saya sudah punya pasangan untuk acara malam ini. Dan pasanganku itu sedang menunggu kita berbarengan dengan Evan juga di sana. Maafkan saya, Nona...!" jelas Arfan, jujur.
"Anda tidak perlu takut, Nona. Karena sebelumnya, Evan sudah berjanji pada saya. Kalau niat awalnya ingin menjadikan Nona pasangannya di acara nanti itu. Hanya ingin untuk lebih dekat dan mengenal Nona. Tapi, kalau sampai Tuan Evan sekaligus sahabat saya itu. Akan berbuat yang aneh-aneh dan kurang ajar terhadap Nona. Saya berjanji saat ini juga, pada diri saya dan juga Anda, Nona. Kalau nanti di sana bahkan hingga anda pulang diantar olehnya nanti ke rumah Nona. Saya sendiri pula akan menjaga dan mengawasi Nona dan dia dari kejauhan. Jadi, Nona tidak perlu merasa takut atau cemas seperti itu ya?!" ucap Arfan menenangkan hati Ellia itu.
__ADS_1
Yang sudah bisa dipastikan saat mendengar hal yang sebenarnya itu. Hati Ellia merasa seperti dipermainkan oleh kedua pria itu. Hingga, ia kesal bukan main dan kesalnya itu bercampur dengan marah yang rasanya mulai membludak. Beruntunglah, Arfan cepat tanggap dan berusaha berjanji serta menenangkan hatinya itu.
Sehingga, tanpa di sadari oleh Ellia. Kalau sejak tadi, Arfan telah memacu laju mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga saat itu, mereka sudah hampir sampai ditempat tujuan mereka malam itu. Sebab, sejenak otaknya terbayang pada saat sebuah aksi konyol yang dilakukan sang pemeran utama. Saat ia diculik dan ingin meloloskan dirinya sendiri. Arfan takut, Ellia juga akan nekat melompat paksa dan keluar dari mobilnya itu. Seperti yang dilakukan olah pemeran utama dalam aksi laga yang pernah ditontonnya itu. Untuk itu, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jadi, mungkin Ellia akan berpikir ulang beberapa kali untuk melakukan hal itu.