
"Loh, tadi dia sudah pamit pulang duluan, Bu. ucap Evan menjawab pertanyaan ibunya. "Jika dia langsung pulang, tidak mungkin dia belum sampai hingga jam segini?! Kecuali memang dia masih keluyuran ke tempat lain bersama pria lain." tuduh dengan wajah tampak datar saja saat bicara.
"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu tentang istrimu, Evan?" tanya Ibu Listiani dengan nada tinggi.
"Ibu, aku sudah mengetahui semua keburukan yang dia lakukan saat dibelakang ku, selama ini. Dan bukan hanya itu, ternyata Puspita memiliki rencana sendiri dan tidak baik pada keluarga kita, Bu." ungkap Evan, ambigu.
Dia sengaja melakukan itu untuk memancing agar ibu atau ayahnya penasaran. Kemudian akan memintanya untuk mengungkap semuanya dengan lebih jelas dan detail lagi. Atas ungkapan ambigu-nya itu.
"Keburukan, memiliki rencana sendiri dan tidak baik untuk keluarga kita?! Apa maksudmu Evan? Bicaralah dengan lebih jelas. Jangan membuat kami berpikir kemana-mana!" giliran Ayah Erik yang bertanya dengan nada tinggi dan lebih menuntut.
Evan pun menceritakan semuanya dengan jelas kepada kedua orangtuanya itu.
*POV Evan
Beberapa bulan lalu, aku pernah melihat Puspita bertemu seorang pria disebuah restoran. Dan aku sangat mengenal pria itu. Karena dia adalah teman sekolahku yang pernah aku kenalkan pada Puspita, beberapa hari sebelumnya. Yang anehnya, mereka tampak sangat akrab saat itu. Padahal, mereka tidak pernah saling kenal sebelum aku memperkenalkan mereka. Dan aku berencana menghampiri mereka. Tetapi saat itu, aku sedang melakukan pertemuan penting dengan Klein aku juga di sana. Dan Puspita tak menyadari kehadiranku di restoran itu.
Cukup lama mereka di sana. Karena saat kami tiba di restoran itu, mereka sudah ada di sana lebih dulu. Hingga pertemuan ku yang sudah hampir satu jam belum menemuka kesimpulan. Mereka baru beranjak pergi bersama sambil bergandengan tangan dan tertawa bahagia.
Sesampainya aku di rumah, aku menanyakan perihal pertemuan mereka itu pada Puspita. Tetapi, dia mengelak dan mengatakan, mungkin aku salah lihat saja. Dan bodohnya aku, aku tidak mengambil gambarnya saat itu sebagai bukti. Sehingga, dia berhasil lolos dari prasangka-ku saat itu. Dan setelah peristiwa itu, aku meyakinkan diriku bahwa mungkin memang aku salah lihat saja, saat itu. Hampir dua bulan berlalu, entah bagaimana? Aku kembali melihat peristiwa yang sama. Dan aku, tak ingin disebut salah lihat lagi. Aku memotretnya dan menunjukan itu sebagai bukti. Dan Puspita dengan tegas, kalau mereka hanya kebetulan saja bertemu.
__ADS_1
Tak ingin dianggap sebagai pria bodoh. Diam-diam, Aku membayar seseorang untuk mengawasi dan menyelidiki Puspita. Dan orang itu menemukan banyak hal yang saling berkaitan atas rencana buruk Puspita untuk kita.
Pertama, dia hanya ingin memiliki diriku seutuhnya. Kedua, dia hanya ingin jadi seorang istri tanpa mau menjadi seorang ibu. Yang akan mengalami sakit saat melahirkan, repot merawat bayi dan membesarkan seorang anak. Yang kesemuanya itu akan merusak penampilan dan kecantikannya. Karena itu, saat beberapa kali benih yang aku tanamkan dalam rahimnya mulai bertumbuh. Dia selalu berusaha menggugurkannya dengan meminum ramuan herbal penggugur kandungan. Saat dia pulang ke kampung ayahnya. Dan yang terakhir, saat dia mulai jatuh hati serta menjalin hubungan terlarang dengan pria yang menjadi temanku dulu. Yang aku kenalkan padanya itu. Mereka bekerja sama untuk menguasai dan mengambil alih harta keluarga kita.
Dan malam ini, dia sedang bersenang-senang bersama pria itu di hotel XX.
*****
"Jika Ayah dan Ibu masih meragukan semua perkataan-ku ini. Ayah dan Ibu bisa melihat semua rekamannya disini. Aku sudah meminta orang kepercayaan ku untuk merekamnya. Dan aku akan menjadikan rekaman itu sebagai bukti di pengadilan agama nanti. Karena, Aku akan menceraikan-nya, Bu." jelas Evan sambil menyodorkan sebuah flashdisk kehadapan kedua orangtuanya itu.
"Tapi, Evan---" ucap Ibu Listiani terpotong, dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Akibat merasa syok mengetahui fakta tentang keburukan menantu kesayangannya itu.
Usai berkata seperti itu, Evan pun pamit ke kamarnya untuk beristirahat. Dia sudah tidak perduli dengan Puspita. Yang akan pulang atau tidak malam itu.
Sepeninggalan Evan, Ayah Erik ingin langsung melihat isi rekaman flashdisk itu di laptopnya. Untuk itu, Ayah Erik mengajak istrinya masuk ke kamar mereka. Dan akan melihat isi rekaman tersebut bersama-sama di sana.
******
Disisi lain, didalam sebuah hotel. Puspita telah terlelap dalam pelukan teman prianya dibawah selimut. Masih dengan tubuh yang sama-sama polos. Hingga pagi menjelang.
__ADS_1
"Selamat Pagi, Sayang! Kau sudah bangun?" sapa Evan sambil bertanya dengan lembut dan mesra.
Evan sedang duduk santai sambil membaca koran pagi itu, bersama dengan Arfan. Di sofa didekat tempat tidur yang saat ini ditiduri oleh Puspita dan teman prianya.
"Kalian pasti bermain hingga pagi menjelang ya? Karena itu, kalian kelelahan dan bangun sudah menjelang siang seperti ini. Bangunlah dan bersihkan diri kalian! Aku ingin berbicara penting. Cepatlah!!! Aku tidak punya banyak waktu." imbuh Evan memerintah dengan suara yang sangat-sangat lembut.
Sementara itu, Puspita yang masih berada didalam selimut dan baru menggeliatkan badannya. Untuk memeluk tubuh teman prianya. Begitu terkejut mendengar suara Evan itu.
"Evan!!!" ucap Puspita dengan mata yang membulat sempurna karena terkejut. Saat sedikit menyingkap selimutnya dan menyembulkan kepalanya. Untuk melihat kearah suara Evan yang didengarnya tadi.
Setelah memastikan bahwa benar itu adalah Evan. Dengan kedua tangannya, Puspita mengguncang tubuh Rusman-teman prianya itu untuk dibangunkan.
"Ru-Rus-Rusman, bangun!!! Cepat bangun!!! Kita dalam masalah besar sekarang." ucap Puspita dengan suara terbata-bata. Sambil terus mengguncang tubuh Rusman dibalik selimutnya.
"Emm... masalah apa sih? Ini masih terlalu pagi sayang... ayo, tidur sebentar lagi!" ucap Rusman dengan malas. Sambil meraih pinggang Puspita dari balik selimut untuk diajak berbaring kembali.
"Tidak!!! Ayo cepat bangun! Lihat siapa yang menemui kita pagi ini." tolak Puspita. "Astaga! Dimana pakaianku?" imbuhnya sambil mencari pakaiannya yang sudah berserakan di atas lantai.
"Ada apa? Oh... kau mencari pakaianmu?" tanya Evan masih dengan begitu santainya. Seakan tak terjadi sesuatu pagi itu. "'Fan! Tolong ambilkan dia baju mandi?! Biar dia bisa keluar dengan cepat dari selimut hina itu." imbuh Evan beralih pada Arfan.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Akan saya ambilkan." jawab Arfan sigap. Dan sedikit berlari kearah kamar mandi.