Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Makan Malam


__ADS_3

Tepat pukul 18.35 WITA, Evan baru selesai berpakaian dan segera keluar dari kamarnya.


Saat menuruni tangga, dia terlihat celengak-celenguk seperti mencari sesuatu.


Setelah melihat Ibunya yang berada di ruang Televisi. Senyuman kecil terbit di wajahnya. Ternyata dia mencari ibunya.


"Ibu, aku pamit keluar dulu ya?!!" pamit Evan sambil mencium mesra sebelah pipi wanita paruh baya itu.


"Kau mau kemana, Nak? Sebentar lagi waktunya makan malam." ucap Ibu Listiani, ibunda dari seorang Evan.


"Aku akan makan malam diluar Ibunda ku, bersama seseorang. Bye Bun'!!!" jawab Evan dengan sejenak menghentikan langkahnya dan kembali melihat ke arah Ibunya. Kemudian kembali berpamitan sambil melambaikan tangannya dan berlalu pergi.


Melihat tingkah anaknya itu, Ibu Listiani menautkan keningnya. Ia sedikit heran melihat perubahan anak satu-satunya itu. Karena biasanya, sepulang dari kantor, Evan hanya akan berdiam diri didalam kamar untuk melanjutkan pekerjaan kantornya. Dan akan keluar setelah makan malam tiba. Kemudian akan kembali lagi ke kamarnya usai makan malam. Dia sangat jarang sekali makan malam diluar.


Dan satu lagi, hampir tiga tahun belakangan ini Evan jarang sekali menampakan wajah cerah dan bahagianya seperti saat ini. Selama ini, Ia hanya menampakan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun. Meski didepannya tampak ada sesuatu hal yang lucu sekalipun. Jangan pernah berharap dapat melihat sedikit senyum di wajah dinginnya itu.


Namun, kini Evan terlihat berbeda dari biasanya. Malam ini, wajahnya tampak cerah berseri dan sangat bersemangat untuk bertemu seseorang yang mengajaknya makan malam di luaran sana. Eh, lebih tepatnya dia yang mengajak seseorang tersebut.


"Ada apa dengan anak itu? Tidak biasanya dia seperti itu." Ibu Listiani membatin. Sambil menatap punggung anaknya yang terus menjauh dan menghilang dibalik pintu rumah itu.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam dengan kecepatan cukup tinggi. Akhirnya, Evan sampai dan segera memarkirkan mobilnya.


Seperti dugaan Evan, Ellia yang janjian dengannya itu telah sampai lebih dulu. Di restoran tempat mereka janji bertemu. Sebab, mobilnya sudah terparkir rapi di tempat parkir. Tepat di samping Evan memarkirkan mobilnya.


Evan sedikit melirik ke arloji di tangannya. Di sana telah menunjukan pukul 19.40 WITA. Dengan sedikit berlari, Evan masuk kedalam restoran tersebut. Ia takut telah membuat Ellia menunggunya lama.

__ADS_1


Setelah berada didalam restoran, Evan mengedarkan pandangannya untuk mencari posisi Ellia. Dan dia melihat Ellia duduk disalah satu kursi yang berada tepat di tepi kolam ikan, didalam restoran itu. Evan sedikit merapikan pakaiannya yang terasa berantakan karena berlari tadi. Setelah dirasa cukup, iapun melangkah mendekati Ellia.


"Selamat malam, Nona Ellia! Maaf sudah membuatmu menunggu?!" ucap Evan dengan senyum ramah.


"Selamat malam juga Tuan Evan. Tidak apa-apa, aku juga baru sampai 10 menit lalu. Silahkan duduk!!!" jawab Ellia balas tersenyum ramah. Hingga memperlihatkan lesung pipinya yang hanya sebelah itu.


"Anda tidak apa-apa 'kan, kalau saya memilih tempat duduk disini? Saya suka melihat pantulan cahaya bulan yang ada di air itu. Sangat menenangkan." ucap sungkan Ellia.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya juga suka ketenangan." jawab Evan tak keberatan. "Disini malah lebih baik Nona Ellia. Wajah cantikmu itu semakin mempesona saja, saat terkena pantulan cahaya rembulan itu." lanjut batin Evan terpaku memandangi wajah cantik Ellia.


Dia diam-diam memang sudah sangat mengagumi wajah cantik alami Ellia. Sejak pertama kali mereka bertemu beberapa tahun lalu. Dan malam ini, Kecantikan alami Ellia memang tampak semakin bertambah saja. Akibat pantulan cahaya rembulan dari air kolam itu yang langsung menerpa wajahnya. Sehingga semakin membuat wajahnya seperti tampak bersinar malam ini.


"Apa kau sudah memesan makananmu?" tanya Evan sesaat setelah sadar dari kekagumannya.


"Belum. Aku memutuskan menunggu Anda tadi." jawab Ellia sambil menggeleng pelan.


Merasa dirinya dipanggil, pelayan itupun mendekat.


"Iya, Tuan dan Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu ramah.


Dan Evan pun mulai mengatakan maksudnya. Dengan memesan menu makanan dan minuman yang ia inginkan. Begitupun dengan Ellia. Dan tak lupa, Evan juga memesan menu penutup untuk makan malam mereka.


Sambil menunggu pesanan mereka datang. Evan terus memandangi wajah cantik Ellia. Hingga membuat Ellia sedikit risih dipandangi seperti itu.


"Ekhem...!!! Sebenarnya, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Tuan?" tanya Ellia dengan sedikit berdehem untuk memulai obrolannya. "Bicaralah!!! Jangan hanya memandangiku seperti itu? Itu membuat saya risih." lanjut Ellia berkata jujur.

__ADS_1


"Astaga!!! Maafkan saya Nona...?!!"ucap Evan kembali tersadar atas sikapnya. Setelah mendengar pernyataan Ellia. "Wajah cantikmu itu membuatku lupa untuk mengatakan apa selanjutnya." lanjut Evan dengan suara lirih.


Namun, samar-samar Ellia mendengar ucapannya itu. Hingga Ellia memandangnya dengan kedua kening yang terangkat dan terpaut bingung.


"Hem... ??? Anda mengatakan apa Tuan?" tanya Ellia.


"Eh... bukan apa-apa." ucap Evan salah tingkah dengan membuang pandangannya ke arah lain, sebentar. "Em...begini Nona, Aku ingin bertanya. Apa kau benar-benar tidak mengingat wajahku ini? Kita pernah bertemu sekali, beberapa tahun lalu di counter milik Tante Ernawati yang ada di desa Mekar Jaya. Apa kau mengingatnya?" lanjutnya mulai mengutarakan maksud pertemuannya.


Mendengar sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan tersebut. Ellia langsung tampak berpikir.


"Di counter Tante Erna???" ulang Ellia sambil mengingat-ingat, 'apa benar dia pernah bertemu dengan pria yang ada dihadapannya saat ini?' pikir Ellia.


"Kau pernah bekerja di sana 'kan?" tanya Evan lagi untuk memastikan.


"Iya, benar." jawab Ellia pelan dan sedikit ragu. "Siapa sebenarnya Tuan Evan ini? Kenapa aku tidak mengingatnya? Sedang dia sangat mengingatku dan bahkan dia mengingat tempat kami bertemu saat itu." batin Ellia terus bertanya.


"Bahkan... hingga saat ini, saya memang masih bekerja di sana. Pekerjaanku sebagai agen properti hanya sampingan saja, Tuan. Dan masalah saya pernah bertemu atau tidak dengan Anda. Saya benar-benar tidak ingat. Karena selama ini dan setiap harinya. Saya selalu berjumpa dengan banyak orang yang berbeda setiap harinya, di sana." jawab Ellia terbuka dan jujur.


Dan obrolan mereka sejenak terhenti karena kedatangan dua pelayan yang membawakan makanan mereka. Yang salah satunya langsung menyajikan makanan tersebut dihadapan Ellia dan Evan sesuai pesanan mereka.


"Silahkan Tuan dan Nona! Selamat menikmati makanannya!" ucap salah satu pelayan tersebut dengan sopan dan ramah.


"Iya, terimakasih." ucap Ellia dan Evan hampir bersamaan.


Kedua pelayan itu mengangguk untuk menanggapi ucapan Ellia dan Evan. Kemudian pamit undur diri dengan sedikit membungkukkan tubuh mereka.

__ADS_1


"Kami permisi?!" ucap kedua pelayan itu kompak dan melangkah pergi meninggalkan Ellia dan Evan.


__ADS_2