Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Bertabrakan


__ADS_3

Tak lebih dari sepuluh menit kemudian. Acara malam itupun, mulai dibuka oleh dua orang. Seorang wanita dan seorang pria selaku MC yang sudah terpilih sebagai pembawa acara dimalam itu. Dan beberapa petinggi kampus yang sempat hadir saat itu. Juga telah memberikan sambutan-sambutan mereka.


Kini tiba saatnya, acara yang telah ditunggu-tunggu oleh semua mantan alumni yang hadir di sana. Yaitu menyaksikan potret-potret kenangan mereka saat dulu masih bersekolah di kampus tersebut. Dalam berbagai kegiatan kampus baik didalam maupun diluar kampus tersebut.


 Tiba-tiba, Ellia sedikit berbisik kearah telinga Evan.


    "Saya ingin ke toilet. Bisakah bapak melepaskan tangan saya?!" bisikan Ellia.


   Sementara itu, Evan yang sejak tadi pandangan dan perhatiannya terpusat ke depan. Menyaksikan keseruan kegiatan mereka masa-masa masih berstatus kuliah dulu. Langsung teralihkan akibat tiba-tiba merasakan hembusan nafas hangat Ellia. Yang menerpa daun telinga serta sebelah bagian tengkuknya.


Merasa sedikit terkejut akibat ulah Ellia seperti itu. Evan menatap wajah Ellia yang sedikit dekat dengan wajahnya itu, penuh arti. Dan setelahnya, hanya bisa mengangguk saja tanpa bisa mengucap sepatah katapun. Ia memberi izin, namun tanpa ia sadari. Ternyata tangannya masih setia menggenggam tangan Ellia, erat. Hingga Ellia kembali menyadarkannya dengan sedikit mengangkat tautan tangan mereka itu. Agar, Evan dapat melihat dan menyadarinya.


   "Astaga... Maafkan aku!" ucap Evan. Sambil melepas genggaman tangannya itu dari tangan Ellia. "Oh iya, apa perlu aku temani?" tawar Evan, setelahnya.


   "Terimakasih. Tapi tidak perlu, Pak. Saya bisa sendiri. Permisi!" ucap Ellia, datar dan menolak dengan lembut.


  Setelah kepergian Ellia, dilayar tancap sana, di atas panggung yang terus memutar. Dan menampilkan potret serta video kenangan para mahasiswa alumni tahun itu. Evan kembali fokus menatap ke depan layar tersebut.


 Dan saat salah satu video menampilkan seorang Evan. Yang pada saat itu merupakan salah satu most wanted di kampus itu. Dan digilai oleh hampir seluruh gadis yang ada di kampus itu. Tiba-tiba dihadang oleh salah satu gadis cantik ditengah lapangan basket.


Dalam video itu, Evan tampak menatap datar gadis itu. Sambil berdiri dan memasukan kedua telapak tangannya kedalam saku celananya. Sedang sang gadis cantik itu tampak malu-malu menyatakan cinta terhadapnya. Dengan memberikan sebuah bingkisan berbentuk kotak kecil berpita kepada Evan. Akibat aksi nekat gadis itu, suasana yang semula ramai namun tenang. Berubah seketika, menjadi riuh ramai akan sorak Sorai para mahasiswa yang menyaksikan adegan itu.


Menyaksikan itu, membuat Evan sedikit jengah sekaligus merasa malu. Dia membuang wajahnya kearah lain, sejenak.


Akibat video tersebut, suasana didalam ruangan acara itupun tiba-tiba semakin ramai. Karena, para undangan yang hampir keseluruhannya itu. Adalah yang menjadi saksi akan aksi pernyataan cinta kepada seorang Evan itu. Mereka ramai menyoraki dan masing-masing melempar pandang kearah dua orang pemeran dalam video tersebut. Yang juga kebetulan hadir di sana. Yaitu, Evan dan gadis cantik itu, yang entah siapa namanya.


  Tiba-tiba saat itu juga, sang MC pria mengundang Evan untuk memberikan sepatah dua katanya kepada beberapa staf-staf penting dari kampus tersebut, yang sempat hadir di sana. Sebagai perwakilan dari para alumni yang ada di sana. Dan berdampingan dengan sang gadis cantik dalam video tadi.


  Meski tampak terpaksa dan mau tak mau Evan pun berdiri dari duduknya. Dan menyanggupi permintaan dari para MC serta panitia penyelenggara acara itu. Yang juga merupakan teman-teman dekat Evan sendiri.


Sementara itu, Ellia yang telah selesai dengan hajatnya didalam toilet. Beranjak keluar dan mampir sebentar didepan wastafel untuk mencuci tangannya. Dan merapikan sedikit riasan pada wajahnya yang dirasa sedikit berantakan. Dia menambahkan sedikit pelembab pada bibirnya. Karena merasa bibirnya sedikit kering setelah tadi sempat memakan jamuan yang tersedia di acara itu.

__ADS_1


Merasa siap, Ellia pun keluar dan berniat meninggalkan toilet tersebut. Namun, saat didepan pintu keluar toilet cewek itu. Ellia tak sengaja menabrak tubuh seseorang. Karena terlalu fokus mengisi sesuatu kedalam tas Sling bag nya. Sambil menunduk tanpa memperhatikan jalan.


    "Astagfirullah...!!!" ucap Ellia.


Spontan menutup mata karena terkejut dan menduga tubuhnya akan terjatuh. Dan membayangkan benturan keras antara tubuh serta lantai di sana. Pasti sakit. Sebab, Ellia merasa tabrakan itu cukup keras baginya. Dan tubuhnya pun sempat dirasa terhuyung cepat ke belakang.


Tetapi, satu... dua... tiga detik setelahnya. Ellia sama sekali tak merasakan sakit pada tubuhnya. Secara perlahan, Ellia membuka mata dan betapa terkejutnya dia. Saat mendapati wajah Evan yang begitu dekat dengan wajahnya. Hingga hembusan nafas Evan itu begitu terasa hangat menerpa kulit wajahnya.


Seketika itu pula, jantung Ellia berdetak bak genderang yang ditabuh begitu cepat dan kencang. Saking kencangnya, Indra pendengaran sendiri pun mampu mendengarkan detak nya.


Cukup lama mereka terpaku dalam posisi seperti itu. Dengan Ellia yang cukup terkesima akan ketampanan Evan yang berkali-kali lipat rasanya. Saat dipandang dalam jarak yang sangat dekat seperti itu. Begitupun sebaliknya dengan Evan. Sehingga, membuat mereka lupa kalau saat ini ada orang lain selain mereka di sana.


Hingga, seseorang yang menjadi saksi atas peristiwa itupun. Mulai buka suara dengan menyebut nama Ellia. Karena merasa sangat mengenal wanita dalam rangkulan temannya itu adalah Ellia.


    "Mba' Ellia! Kau ada disini? Apa kau tidak apa-apa?" ucap seseorang itu. Yang ternyata adalah Adzriel.


Mendengar namanya disebutkan oleh seseorang. Masih dalam rangkulan kedua tangan Evan. Ellia seketika mengalihkan pandangannya kearah sumber suara itu. Dan seketika membelalakkan matanya, terkejut.


Sambil berusaha segera menegakkan tubuhnya ke posisi semula. Dan Evan pun membantunya dengan perlahan tanpa dia sadari.


"Sedang apa disini? Apa kamu juga salah satu alumni kampus ini?" tanya Ellia mencerca dengan nada ketus.



"Em." jawab Adzriel dengan mengangguk pula. "Mba' Ellia, kok bisa ada disini juga? Apa Mba' Ellia alumni kampus sini juga? Kok aku nggak tahu ya...!" tanya Adzriel, balik.



"Tidak, 'Zriel. Dia bukan alumni sini. Tetapi, dia datang bersamaku."


Bukan Ellia yang menjawab, tapi Evan.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali ke toiletnya? Aku sengaja menyusul mu, karena takut kau kenapa-kenapa. Apa kau tidak apa-apa?" tanya Evan begitu lembut beralih pada Ellia.


"A-aku... tidak apa-apa. Terimakasih." jawab Ellia, sedikit tergagap.


"Sebentar!" ucap Adzriel, tiba-tiba. "Dia datang bersamamu 'Van?" tanyanya, dengan nada penuh penekanan pada Evan. Dan Evan hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaannya. "Apa gadis yang kau maksud tadi... dia, Evan? Mba' Ellia ini!" sambung Adzriel lagi. Seakan memastikan sesuatu.


"Iya. Kok nada pertanyaan kamu kayak gitu sih, Bro! Apa ada yang salah, jika aku datang bareng Ellia?" jawab sekaligus tanya Evan, bingung. Mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan salah satu sahabatnya itu.


*


*


*


B


E


R


S


A


M


B


U


N

__ADS_1


G


__ADS_2