Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
"Siapa sih?"


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hanya dalam waktu 5 menit saja. Akhirnya, Ellia tiba dihalaman counter pulsa dan handphone yang dipercayakan padanya itu. Ellia keluar dari mobilnya sambil tak lupa membawa ikut serta rantangan yang dibawanya tadi dari rumahnya.


Sementara didalam counter itu. Karena jam masih menunjukkan pukul 06.20 WITA. Jadi, Ritna belum membuka seluruhnya pintu counter itu. Baru pintu kecil khusus mereka saja. Dan dia sedang menyapu area halaman depan counter itu. Setelah tadi selesai menyapu area dalam, usai sholat subuh.


   "Assalamu'alaikum, Rit! Gimana, Tante Erna udah bangun apa belum?" sapa Ellia, sesaat baru keluar dari dalam mobilnya.


   "Wa'alaikumsalam, Kak Ellia. Tante baru aja bangun tadi. Dan sekarang kayaknya masih di kamar mandi deh, Kak." jawab Ritna, dengan sejenak menghentikan aktivitas menyapunya. Karena itu merupakan adab dalam berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita. Yang diajarkan oleh ibunya padanya.


   "Ya sudah, Kakak masuk kedalam dulu ya. Kamu cepat selesaikan pekerjaanmu itu, lalu sarapan. Ini kakak udah buatkan nasi kuning spesial buatmu dan Tante, tadi." ucap Ellia sambil memperlihatkan rantangan yang dibawanya dan juga melangkahkan kaki masuk kedalam counter itu.


   "Alhamdulillah... rezeki anak Sholeh. Asyik!!! Kak Ellia memang the best deh... Oke, akan ku selesaikan dengan cepat pekerjaan ini. Dan... nasi kuning spesial, tunggu aku ya, ck!!!" ucap Ritna


Seketika berubah ceria dan bersemangat. Dengan diakhir kalimatnya menunjuk rantangan yang masih setia ada ditangan Ellia itu. Dengan jari telunjuk dan jempolnya membentuk sebuah pistol dan berdecak. Membuat Ellia tersenyum geli dan geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd bawahannya yang sudah seperti adiknya itu.


Setelah Ellia masuk, ternyata Tante Erna telah selesai mandi. Dan sudah rapi meski masih dengan mengenakan pakaiannya semalam. Karena memang ia tak ada rencana mau menginap di sana sebelumnya. Jadi, tak membawa pakaian gantinya. Dan memutuskan untuk kembali menggunakan pakaian semalam itu saja dulu untuk sementara.


     "Selamat pagi, Tante!" sapa Ellia


     "Selamat pagi juga, Ell'. Kau sudah datang? Apa yang kau bawa itu, Nak?" tanya Tante Erna saat melihat Ellia membuka rantangan nya di mini kitchen dalam counter itu.


    "Ini nasi kuning, Tante. Kita sarapan bareng ya, Tante!" jawab dan pinta Ellia, lembut.


Sambil membuka dan menata nasi kuning bawaannya itu keatas beberapa piring yang sudah ia siapkan di atas meja.


"Wah... beli dimana, Ell'? Sepertinya enak sekali... secara toping lengkap gini!" ucap Tante Erna, sambil menghampiri Ellia dan melihat nasi kuning yang ditata oleh Ellia itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, nggak beli kok, Tante. Ini aku yang buat tadi. Karena kebetulan bahan-bahannya masih lengkap didalam kulkas di rumah. Ayo, Tante, silahkan dimakan! Aku panggil Ritna dulu di depan." pamit Ellia.


Setelah sebelumnya menjelaskan asal usul nasi kuning yang dibawanya. Dan mempersilahkan Tantenya itu untuk makan lebih dulu tanpa harus menunggunya.


"Tante tunggu kalian aja. Ayo cepat panggil si Ritna kemari! Tante sudah nggak sabar untuk mencicipi nasi kuning spesial buatan kamu ini." tolak Tante Erna dengan sedikit memaksa dan memerintah. Agar Ellis tak membuatnya lama menunggu.



"Oh, baiklah, Tante. Saya akan segera kembali bersama Ritna." jawab Ellia dan segera melangkahkan kakinya keluar dari mini kitchen dari counter itu.


Dan tak berapa lama, akhirnya Ellia kembali lagi bersama Ritna. Dan merekapun memulai makannya setelah sebelumnya telah berdoa menurut keyakinannya masing-masing.


"Wah... nasi kuning buatan mu ini enak sekali, Ellia! Dimana kau mendapat resepnya? Bolehkah Tante juga minta resepnya? Kebetulan, dua bulan lagi itu adalah hari ulang tahun suami Tante. Jadi, Tante ingin membuat tumpeng nasi kuning ini aja. Boleh ya, minta resepnya, Ell'?" puji Tante Erna, tulus. Sekaligus meminta resep. **Maklum... emak-emak \+62, 😁😁🤭**


Sambil makan, mereka mengobrol ringan. Hingga makanan mereka masing-masing tandas tak bersisa. Dan hanya menyisakan piring kotornya saja.


Tepat pukul 07.50 WITA, Ellia yang dibantu oleh Ritna tentunya. Mulai membuka counter tersebut dan bersiap memulai tugas masing-masing.


Sementara Tante Erna mulai bersiap-siap untuk pulang.


"Ellia... Ritna...! Tante pamit pulang dulu ya, sudah siang. Suami Tante pasti sudah ke kantornya sekarang." pamit Tante Erna sambil mengenakan kembali blazer yang ia kenakan saat datang kemarin.


"Oh iya, Tante. Hati-hati di jalan! Jangan lupa kirim kabar nanti setelah Tante sampai rumah." jawab Ellia. Sedang Ritna hanya tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya. Kalian, selamat bekerja dan tetap semangat ya!!! Assalamu'alaikum!" pesan dan beri salam cara lslam, Tante Erna. Sambil melangkah keluar dari counter miliknya itu.

__ADS_1


"Iya. Terimakasih,Tante. Wassalam." balas Ellia dan Ritna berbarengan. Masih dengan senyuman ramah yang terlukis dari bibir masing-masing.


Beberapa saat setelah kepergian Tante Erna. Ritna mulai disibukkan dengan melayani para pelanggan counter itu. Sementara Ellia, juga sudah sibuk dengan pekerjaannya sendiri didepan layar laptopnya di ruang kerjanya.


Hingga siang menjelang, Ellia baru beranjak dari duduknya. Setelah cacing-cacing di perutnya mulai berdemo untuk minta diberi makan.


Baru saja Ellia melangkahkan kakinya satu langkah keluar dari ruangannya. Tiba-tiba suara seseorang yang menyapanya, menghentikan langkahnya.


"Assalamu'alaikum, Mba' Ellia!" sapaan suara seorang pria.


Seketika itu, Ellia mengalihkan pandangannya kearah sumber suara itu. Dan mendapati sosok pria yang mengenakan helm, kaca mata hitam, masker berwarna hitam dan berjaket coklat muda. Karena penampakan seseorang itu tertutup begitu. Ellia tak mengenalinya dan ditambah dengan suaranya yang asing juga baginya. Ellia menautkan kedua alisnya, bingung.


'Siapa orang ini? Kenapa dia bisa mengenali namaku? Dari suaranya... aku juga nggak mengenalinya. Siapa sih...?' batin Ellia bertanya-tanya.


"Assalamu'alaikum, Mba'!" ucap pria itu lagi mengulangi salamnya. Karena Ellia belum membalas salamnya tadi. "Kok nggak dijawab sih... salam ku, Mba'!" lanjutnya sedikit memaksa.



"Oh, Wa'alaikumsalam. Situ siapa ya? Aku nggak akan mengenal mu, jika kau berpenampilan tertutup seperti itu." jawab Ellia, akhirnya. Dan bertanya juga daripada dia penasaran sendiri.



"Oh iya, maaf... Mba'?! Aku sampai lupa melepas atribut ku ini. Pantas saja, Mba' Ellia tampak bingung begitu melihat ku." ucap pria itu, tersadar.


Dan mulai melepas atribut keselamatannya dalam berkendara. Mulai dari melepas helmnya terlebih dahulu. Kemudian lanjut melepas kacamatanya. Dan terakhir melepaskan masker pelindung alat pernapasannya itu.

__ADS_1


__ADS_2