
"Ya sudah, kami duluan. Selamat menikmati makanan kalian." ucap Puspita berpamitan. Dan mengakhiri obrolan singkat mereka dengan ucapan selamat makan. Kemudian sedikit menarik lengan Evan yang sedang dirangkulnya itu. Untuk melangkah pergi meninggalkan Ellia dan Neneng di sana.
"Iya. Silahkan, Mba'! Terimakasih." ujar Ellia seraya menganggukkan kepalanya sekali dan pelan. Sambil tersenyum sepintas lalu.
Sambil kakinya mengikuti langkah istrinya. Evan masih sempat-sempatnya menatap wajah berparas ayu milik Ellia dengan senyum menawan nya. Dan Ellia menyadari itu, tetapi berpura-pura langsung membuang wajahnya kearah lain.
Sementara itu, Neneng yang sejak tadi diam di sisi Ellia. Terus memperhatikan tingkah laku dan sikap dari Ellia serta Evan barusan.
Setelah Puspita dan Evan jauh dari pandangannya. Neneng mencoba bertanya pada Ellia. Dengan sangat pelan dan hati-hati.
"Mba Ell'! Neneng, boleh tanya sesuatu nggak?"
"Em...??" ucap Ellia dengan beralih menatap Neneng datar.
"Permisi... Mba'-Mba'! Ini makanan pesanannya. Selamat menikmati...!" ujar salah satu pelayan yang datang dan menyajikan makanan pesanan mereka, di atas meja.
"Iya. Terimakasih." jawab Ellia seraya tersenyum ramah.
"Kau ingin menanyakan apa tadi, 'Neng? Tanyakanlah!" ucap Ellia. Kemudian meminum sedikit minumannya untuk membasahi tenggorokannya. Sebelum memulai makannya dan juga yang sejak tadi terasa sudah sangat kering.
"Iya, Mba'." jawab Neneng pelan. "Menurut pandanganku! Sepertinya, Si Tuan... suami Mba' yang tadi itu. Menyukai Mba' Ellia deh?!" sambungnya dengan sangat pelan dan hati-hati.
Ellia menautkan kedua keningnya menatap wajah Neneng intens. Sambil mengunyah pelan makanan yang sudah ada didalam mulutnya. Saat mendengar penuturan pembantu yang sudah seperti adiknya sendiri itu.
"Kamu memandangnya darimana, Neng...? Sampai mengartikannya seperti itu." tanya Ellia santai. Setelah menelan terlebih dahulu makanan dalam mulutnya tadi.
__ADS_1
"Neneng melihat, dia memandangi wajah Mba' Ellia dengan sangat lama sambil terus tersenyum, tadi. Dan pandangan serta senyumannya itu loh, Mba'! Seperti penuh maksud." tuturnya serius.
"Ah... kau itu, Neng! Sudah seperti seorang psikolog saja. Tidak usah dipikirkan. Sekarang, ayo makan makananmu! Setelah ini, kita segera pulang. Aku sudah lelah dan ingin segera beristirahat." ujar Ellia mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Evan.
"Hem... baiklah, Mba'." jawab Neneng sedikit memanyunkan bibirnya pasrah akan kehendak majikannya itu.
Dan mereka pun mulai fokus memakan makanan mereka hingga tandas tak bersisa. Agar segera kembali ke rumah seperti kata Ellia.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit. Akhirnya, mobil mini Cooper berwarna kuning cerah. Yang dikemudikan oleh Ellia itu memasuki pekarangan rumahnya. Dan setelah memarkir dengan sempurna di sana. Ellia dan Neneng segera keluar dari mobil tersebut. Bersama dengan beberapa kantong plastik belanjaan dikedua tangan masing-masing.
Tepat didepan pintu, Ellia meletakkan plastik belanjaannya ke atas lantai. Dan merogoh kunci dari tas jinjingnya untuk membuka pintu rumahnya itu. Usai berbelanja seperti itu, Ellia akan langsung merapikan belanjaannya itu. Pada tempat-tempat yang seharusnya. Setelahnya, barulah dia masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.
*****
Bulan pun berlalu dan berganti tahun. Proyek penjualan perumahan milik perusahaan Evan yang sebagian dipercayakan pada Ellia. Akhirnya membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
Karena perumahan itu dibangun di daerah yang cukup strategis. Dengan konsep hunian hijau yang berada di daerah yang sedikit berbukit dan masih tampak asri dengan pepohonan yang tumbuh alami bagai backgroundnya sendiri. Dan juga indahnya pemandangan alami yang ditawarkan. Yaitu tampilan penorama alami pantai wisata yang berhadapan langsung dengan jarak yang tidak begitu jauh dibawah area perumahan tersebut. Serta harga yang dipatok cukup realistis.
Sehingga, Ellia yang memang termasuk seorang broker properti yang profesional dan berpengalaman. Juga sudah memiliki banyak jaringan klien. Tidak begitu membutuhkan banyak strategi jual yang dilakukan untuk menarik minat masyarakat. Agar memilih dan memiliki hunian-hunian yang ditawarkan tersebut.
Untuk itu, Evan merasa sangat puas dengan cara kerjanya. Dan karena itu pula, perasaannya semakin kuat. Ingin memiliki Ellia sebagai pendamping hidupnya nanti, dimasa mendatang. Meski saat ini, dirinya masih berstatus suami dari seorang Puspita Andara.
Selama beberapa tahun menjalin hubungan suami istri. Evan memang tidak pernah merasa nyaman dan dihargai sebagai seorang suami. Itu karena Puspita selalu melakukan apapun sesuka hati tanpa meminta izin dan pendapatnya sebagai suami. Dan ditambah dengan pernikahan mereka yang memang sejak awal juga hanya dijalani karena keterpaksaan dari ibundanya saja.
Dan selama ini, Puspita juga tidak pernah bisa membuat hati Evan luluh dan jatuh hati padanya. Seakan-akan, Puspita hanya ingin menikmati hidup dan memuaskan diri sendiri dengan harta yang dimiliki keluarga Evan. Bagaimana tidak dikatakan seperti itu? Sudah berulang kali Evan berusaha untuk membuatnya hamil. Dan berharap dengan hadirnya sang buah hati akan membuat hubungan tanpa cinta itu menjadi keluarga yang harmonis nantinya.
__ADS_1
Namun, setiap kali kandungannya diketahui dan memasuki trimester pertama, kedua atau ketiga. Puspita seakan sengaja selalu melakukan hal-hal yang harus menjadi pantangan baginya. Seperti membuat dirinya menjadi terlalu lelah dengan melakukan perjalanan jauh ke kampung menemui ayahnya. Yang akhirnya menyebabkan perutnya menjadi keram dan mengalami keguguran. Berulang kali seperti itu, membuat Evan bosan dan putus asa sendiri.
Tetapi suatu hari, Evan yang sedang melakukan reunian bersama para sahabatnya disebuah club' malam. Tanpa sengaja melihat Puspita, sedang duduk bersama seorang pria. Disalah satu sudut ruangan club' yang tampak remang-remang. Karena memang seperti itulah pencahayaan di sana.
Meskipun begitu, Evan tentu saja sangat mengenali postur tubuh istrinya itu. Walau didalam gelap sekalipun. Melihat hal itu, membuat Evan berpikir bahwa itu adalah hal yang mengganjal baginya. Diapun menyuruh seseorang kepercayaannya untuk menyelidiki istrinya itu secara diam-diam.
Dan setelah beberapa bulan belakangan. Penyelidikan tersebut mulai menemukan hasil yang sesuai dugaan Evan selama ini.
Bahwa selama ini, Puspita hanya ingin memiliki Evan, ibu mertua yang selalu memanjakannya dan tentunya semua harta yang dimiliki keluarga itu. Tanpa ada seorang anak yang akan membuatnya kesakitan saat akan melahirkan dan repot untuk dirawatnya hingga besar serta dewasa. Kemudian menjadi pewaris harta Evan nanti.
"Dasar Si Puspita, wanita gila !!!" umpat Author.
Dan hari ini, Evan bertekad akan membongkar semua kebusukan dari istrinya itu. Dihadapan Ibu Listiani, sang ibunda dari Evan Dimas Atmadja sendiri. Karena hanya dengan begitu, Puspita tidak akan bisa menghindar dan mengelak lagi. Dari segala keburukan yang selama ini dilakukannya.
Malam hari, tepat pukul 10 malam. Evan baru saja sampai di rumahnya. Dan mendapati ibu dan ayahnya masih terjaga. Mereka sedang asyik menonton televisi.
"Ayah...IBu...! Kalian belum tidur?" tanya Evan sambil menghampiri dan mencium kedua tangan orangtuanya itu takzim.
"Eh, Evan! Kau sudah pulang?" ucap Ayah Erik_ Ayah seorang Evan. Bukannya menjawab pertanyaan Evan, dia hanya balik bertanya pada anak tunggalnya itu.
"Iya." jawab Evan singkat. "Ayah, Ibu, kok belum tidur?" tanya Evan mengulang pertanyaannya tadi.
"Acara talk show yang kami nonton belum selesai. Dan kami juga belum ngantuk." jawab Ibu Listiani. "Oh iya, Puspita mana? Bukankah kalian tadi pergi bersama!" imbuhnya sambil melirik ke sana kemari ke belakang tubuh Evan.
"Loh, tadi dia sudah pamit pulang duluan, Bu! Apa dia belum sampai?" jawab Evan berpura-pura bingung dan balik bertanya.
__ADS_1
Padahal sesungguhnya, Evan sendiri sudah tahu kemana istrinya itu pergi. Saat dia masih asyik membicarakan tentang kerjasama perusahaan. Dengan beberapa orang pemegang saham di perusahaannya itu.