Aku Dan Titik

Aku Dan Titik
Keguguran


__ADS_3

"Istri bapak baik - baik saja pak…" jawab dokter itu.


"Namun babby nya belum bisa saya selamatkan" lanjutnya lagi dengan turut berduka cita.


"Apa…!!" pekik March dengan terkejut.


"Apa yang kamu bicarakan?" Mach memastikan kembali apa yang dia dengar dengan memegang lengan dokter itu.


"Maafkan saya tuan… karena ini efek dari babbynya yang kelihatan sangat lemah, dan tidak bisa ditolong" jelasnya.


Setelah pasti dengan pendengarannya. March begitu lemas dan mendudukan badanya dikursi yang ia duduki tadi.


"Yang sabar ya pak…" ucap Lyana dengan berderaian air mata.


"Babby nya harus dikeluarkan lewat oprasi. bapa harus menandatangani suratnya agar oprasi bisa segera dilakukan" ucap dokter itu setelah susternye memberikan selembar kertas.


"Jika terlambat, kita akan kehilangan ibunya juga" lanjutnya kembali.


Dengan tangan yang gemeteran, March berusaha menandatangani suratnya. agar istrinya baik - baik saja.


March memberikan suratnya setelah ia menandatangani. dia tidak berniatan untuk memberitahukan dahulu soal kejadiannya kepada kedua orang tua dan mertuanya. karena dia tidak ingin membuat mereka menjadi sedih atas kehilangan calon cucu pertamanya.


"Kamu pulang aja istirahat…" titah March saat melihat Lyana yang mulai lemas akibat nangis yang tidak henti - henti.


"Tidak masalah,… saya akan disini sampai Celine sadar" ucap Lyana dengan menyusut air matanya yang terus terjatuh.


March dan Lyana terus menunggu kabar dari dokter tentang Celine yang sedang menjalankan oprasi pengangkatan anaknya yang telah meninggal.


"Kamu makan dulu ini…" March memberikan roti kepada Lyana yang baru saja dia beli oleh supirnya.


"Ngga usah pak… saya tidak lapan" tolak Lyana dengan tersenyum lemas.


"Bagaimana Celine akan sembuh kalau kamu sakit begini?" tanya March agar Lyana mau makan. karena dari tadi siang Lyana belum memakan apapun.


Lyana menatap March dengan dalam. "Kenapa bapa tidak ada dikamar saat Celine terjatuh?" tanya Lyana yang dari tadi mengganjal didalam fikiranya.


March mengerutkan dahinya merasa heran atas perubahan sikaf Lyana yang akan marah terhadap dirinya.


"Saya tadi baru dari sana untuk mengajak Celine ke dokter, Karena dia ngga mau saya pulang lagi untuk mengerjakan pekerjaan saya. karena saya fikir dia tidak akan kenapa bapa" jelas March dengan teliti.


"Bapa lebih mentingin pekerjaan daripada istri bapa sendiri?" tanya kembali Lyana yang mulai emosi. karena dia tidak biasanya melihat Celine seperti ini.


"Saya menyuruh stap di hotel itu untuk menjaganya. namun mereka juga ngga ada yang tau atas kejadian ini" jelasnya kembali.


Lyana kembali menangis dengan sesegukan. dia sangat tidak tega dengan kondisi Celine sekarang ini, apalagi Celine yang telah kehilangan anaknya, akan seperti apa dia nantinya.


"Tenang lah, Celine akan sembuh" March terus menenangkan layana yang terus saja menangis tanpa henti - hentinya.


Setelah March beberapa kali menyuruh Lyana sarapan dan istirahat dirumahnya tidak mau. akhirnya Lyana pun terpaksa pulang kerumahnya, ibunya yang khawatir mendengar suara Lyana saat menelpon tadi.

__ADS_1


"Kamu bisa kesini lagi besok…" ucap March saat Lyana akan pergi.


Lyana hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju mobilnya ditempat parkir.


Beberapa saat Lyana pergi, dokter keluar dengan melepaskan sarung tangannya setelah selesai mengoperasi Celine.


"Proses operasinya berjalan dengan lancar, nona celine akan dipindahkan keruang pemulihan setelah itu akan dipindahkan diruang intensif" jelas dokter itu saat March menghampirinya.


"Terima kasih dokter" March berterima kasih karena dokternya telah menyelamatkan istrinya meskipun tidak dengan anaknya.


"Iya sama - sama" jawab dokter itu dan langsung pergi mengurus pasien lainya.


Saat Celine keluar dari ruang oprasi dengan tidak sadarkan diri dan didorong beberapa suster. March mengikutinya dan menjaga Celine selama diruang pemulihan dengan sabar.


March berniatan untuk memberitahukan semuanya kepada keluarganya. karena dia tidak ingin memberikan harapan kepada kedua mmertua dan orang tuanya tentang cucunya lagi.


"Hallo mom…" sapa March saat tersambung dengan Glaretha.


"Iya March kenapa?" tanya Glaretha yang tidak biasanya March menelponnya.


"Mom, March ingin bertemu dengan mommy" ucap March dengan sangat ragu.


"Ada masalah apa emngnya?. tumben sekali kamu ingin bertemu dengan mommy" jawab Glaretha semakin terheran - heran dengan menantunya.


"March ingin membicarakan sesuatu" ucap March.


March langsung meninggalkan Celine sebentar dan menemui mertuanya yang akan segera sampai dicafe depan rumah sakit.


"Mom maafkan March,…" March memulai pembicaraanya setelah Glaretha duduk dihadapanya.


"Ada apa dengan kamu March?" tanya Glaretha mengerutkan keningnya.


"Celine…"


"Celine kenapa…?" potong Glaretha dengan sedikit meninggikan suaranya karena kaget.


"Celine keguguran mom…" March langsung menyampaikannya dengan menundukkan kepalanya.


"Apaa…!!" pekik Glaretha dengan sangat kaget.


"Kenapa bisa keguguran seperti itu… mommy udah bilang, jaga Celine dan anaknya dengan baik" ucap Glaretha dengan sangat emosi.


"Tapi March bisa jelasin semuanya mom…"


"Ngga ada penjelasan - penjelasan… dimana Celine sekarang?" tanya Glaretha yang siap untuk menemui anaknya.


"Dia ada dirumah sakit depan sini" jawab March menunjukan rumah sakit depan caffe.


Tanpa bicara apapun lagi kepada March. Glaretha langsung pergi menuju rumah sakit menemui Celine dan menanyakan ruangannya kepada resepsionis rumah sakit.

__ADS_1


Glaretha langsung menuju ruangan Celine yang telah dipindahkan keruang intensif dengan air mata mulai berjatuhan. saat melihat Celine berbaring diatas ranjang dengan lemas. Glaretha langsung membungkam mulutnya.


Dia tidak tega melihat anaknya, dari dulu, dia belum pernah melihat Celine dirawat sampai seperti ini.


"Sayang kamu kuat ya…" ucap Glaretha dengan menggenggam tangan Celine dan berlinaian air mata yang terus membasahi pipinya.


"Mommy tenang ya… Celine akan baik - baik aja" ucap Zeyn dengan memegang pundak istrinya.


Glaretha sempat menelpon suaminya saat dia berada di mobil menuju rumah sakit.


"Semua ini gara - gara kamu… kamu yang bikin anak saya seperti ini" ucap Glaretha menggebu - gebu melirik tajam kearah March.


March hanya menundukkan kepalanya, dia juga merasa bersalah karena tadi dia langsung pergi tidak menjaga Celine.


Saat Glaretha terus mengomel - ngomel kepada March. Celine pun tersadar menggerakkan matanya.


"Lyana…" ucap Celine mengingat siapa yang mengantarnya pergi kerumah sakit.


"Celine kamu udah sadar…" Glaretha, Zeyn dan March langsung melihat kearah Celine.


"Mommy daddy… kenapa kalian disini?" tanya Celine saat tersadar.


"Ini sayang… minum dulu" Glaretha tidak menjawab pertanyaan Celine, namun dia memberikan segelas air putih untuknya dan Celine pun meminumnya.


"Kenapa kalian ada disini…?" tanya Celine melihat sekeliling tidak mendapati sosok Lyana.


"Lyana kemana?" lanjutnya lagi.


"Sayang kamu istirahat dulu… Lyana sedang istirahat, dia kecapean nungguin kamu seharian" jawab Glaretha mengusap rambut Celine.


Celine terdiam merasakan ngilu dibagaian perutnya bekas oprasi tadi. "Mom anak aku kemana…??" Celine mulai menyadari perutnya menjadi kecil kembali dan tidak merasakan apapun didalamnya.


Glaretha, Zeyn, dan March terdiam kaku mendengar pertanyaan Celine yang menyadari anaknya telah hilang.


"Dimana anak aku mom…" jerit Celine dengan histeri.


.


.


.


.


Happy readyng gays...


Tinggalkan keritikannya ya.. biar bisa diperbaiki..


Tinggalkan like dan komen juga ya🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2