
Saat ini, usia kandunganku sudah memasuki usia 9 bulan. Aku pun di sarankan oleh Dokter agar lebih banyak bergerak dan juga jalan kaki.
Akupun mengikuti saran Dokter tersebut. Hampir setiap pagi dan juga sore hari selalu menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di halaman rumah. Dan akupun setiap harinya menyempatkan diri untuk menyapu dan mengepel lantai
Dan seperti biasanya, pak Chandra selalu teriak-teriak kepadaku, seolah-olah aku ini seperti anak kecil yang baru bisa jalan alias takut aku jatuh atau terpeleset.
Saat aku sedang asik mengepel lantai rumah, saat itu aku merasakan mulas yang teramat sangat
“Bi.. Bibi.. Kesini bi.” Teriakku memanggil bi Ina
“Ada apa Ai?” tanya bi Ina yang buru-buru mendatangiku
“Bi.. Perutku sakit banget bi. Aku ga kuat bi.” Ucapku
“Ai, sepertinya kamu akan segera melahirkan. Sini bibi antar kamu kerumah sakit.” Ucap bi Ina yang melihat air ketubanku sudah pecah
Aku yang di papah oleh bi Inapun hanya bisa pasrah mengikuti kemana saja bi Ina membawaku
Setelah sampai di Rumah sakit, aku langsung dimasukkan ke ruang persalinan
Tak selang berapa lama, pak Chandrapun datang. Karena tadi sudah diberitahu oleh bi Ina.
“Bi, gimana keadaan Ai sekarang?” tanya pak Chandra
“Saya belum tahu tuan. Ai masih ada di ruang persalinan.” Sahut bi Ina
“Oh begitu.” Ucap oak Chandra
Dan dari dalam terdengar suaraku yang teriak kesakitan
“Kak... Kakak..” teriakku memanggil pak Chandra
Tak selang berapa lama, susterpun keluar
“Siapa disini yang suaminya ibu Ai?” tanya suster itu
__ADS_1
“Saya sus.” Ucap pak Chandra
“Anda diminta masuk kedalam oleh istri anda.” Ucap suster itu
“Iya baiklah sus.” Ucap pak Chandra dan akhirnya masuk keruang persalinan
“Kak.. Sakit kak.” Ucapku
“Iya.. Sabar sayang.. Sabar..” ucap pak Chandra
“Aargh..” teriakku lagi
“Dok, ini kenapa istri saya kesakitan sekali seperti ini dok?” tanya pak Chandra panik
“Tunggu sebentar pak. Saya cek dulu.” Ucap dokter itu
Setelah memeriksaku, dokter itu pun memberitahukan sesuatu kepada pak Chandra
“Pak, sepertinya bayi dalam kandungan istri anda ini tidak bisa keluar dengan cara normal. Dikarenakan kedua-duanya berada dalam posisi sungsang.” Jelas dokter itu
“Mau tidak mau, kita harus operasi.” Jawab Dokter itu
“Ya udah dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya.” Ucap pak Chandra pasrah
“Kak.. Sakit..!” ucapku lirih
“Sabar sayang. Sebentar lagi kamu akan baik-baik saja.” Ucap pak Chandra menenangkanku
Ketika semua persiapan oprasi sudah beres, aku pun langsung di bawa masuk ke ruang oprasi
“Ai, kamu pasti bisa. Aku selalu tunggu kamu di sini.” Ucap pak Chandra disaat aku hendak masuk ruang oprasi
Dan 10 menit kemudian, seorang suster keluar dari ruang oprasi.
“Disini siapa keluarganya bu Ai?” tanya suster itu teriak
__ADS_1
“Kami Dok.” Sahut pak Chandra dan juga bi Ina bebarengan
“Begini, pasien sekarang kehilangan banyak darah. Jadi kami memerlukan tranfusi darah AB secepatnya.” Jelas suster itu
“Memang di sini tidak ada persediaan kantong darah AB?” tanya pak Chandra
“Kebetulan, persediaan kantong darah AB nya sedang kosong. Jadi kami harap tolong segera cari pendonor darah golongan darah AB.” Ucap suster itu
“Tuan, biar saya saja yang mendonorkan darah buat Ai.” Ucap Bi Ina
“Bibi ga apa-apa kaya gitu?” tanya pak Chandra
“Ga apa-apa tuan.” Sahut bi Ina
“Ya udah. Terimakasih banyak ya bi.” Ucap pak Chandra dan bi Inapun mengangguk sambil tersenyum
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Kira-kira bagaimana keadaan Ai dan ke dua anaknya? Apakah ibu dan anak bisa selamat?
Tunggu lanjutannya di next...
Jangan lupa like dan comentnya...🙏
__ADS_1