
Alena memasuki rumah besar tersebut , suasananya masih sama seperti tadi pagi , di mana suara kemesraan terdengar jelas di kedua telinga alena, Alena tidak ingin memikirkan itu , ia langsung menuju kamar atas , apa lagi ia butuh istirahat , hari ini benar benar lelah sekali ....
Alena melewati sepasang kekasih yang sedang bermesraan , sebenarnya ia tidak kuat harus melihat itu di depan matanya , hatinya tidak akan sanggup melihat suaminya bermesraan di depan nya seperti ini , membuat Alena benar benar merasa sedih , tapi Alena harus apa , ia tidak boleh egois seperti ini , bukankah suami nya mencintai wanita itu , wanita itu adalah kekasih suami nya , dan suaminya sangat melindungi lisya dengan sepenuh hati nya , jadi , Alena sama sekali tidak mempunyai hak untuk mengatur itu semua , lagi pula ia bukanlah siapa siapa di rumah itu , melainkan pelayan saja ...
batin Alena dan segera pergi dari sana .....
di kamar , Alena sudah menyelesaikan ritualnya , ia sudah membersihkan badannya , dan sekarang ia sudah merasa segar dan juga adem , kemudian ia pun merebahkan tubuhnya sejenak di lantai itu , ia sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya tadi pagi , dan saat ini ia membutuh kan istirahat sejenak , Alena pun menutup matanya pelan ...
____________________________________________
marzela terus memikirkan Alena sedari tadi , ia juga merindukan menantu malangnya itu , ia ingin sekali menemui dan melihat keadaan Alena , namun saat ini ia sedang berada di luar negri bersama farqan anak angkat nya ...
__ADS_1
marzela sedang membawa suami nya Erwin untuk berobat di sana dengan waktu yang agak lama , yah , Erwin ingin sembuh total dengan penyakit jantungnya itu , ia ingin mengendong cucunya nanti , dan jika ia sakitan seperti ini , ia pasti tidak mampu mengendong cucu pertama nya itu ,
* entah mengapa , ibu terus saja memikirkan Alena , ibu merasa kasihan pada gadis itu , gadis itu terlihat muda dengan usia suami nya , seharusnya gadis itu saat ini sedang menyelesaikan kuliah nya , tapi di saat usianya masih muda seperti ini , ia harus mengurus rumah tangga seperti ini dengan sendiri ....ibu benar benar kasihan pada nya ....
ucap marzela sedikit lesu ...
* bukankah kau tidak menerima Alena sebagai menantumu ...
tanya Erwin melihat ke arah marzela ..
marzela hanya menunduk , ia sadar , selama ini ia sama sekali tidak menerima menantu nya itu , tapi saat ini marzela sudah menyesal , ternyata Alena lah yg baik buat putra nya itu , bukankah marzela harus memelih juga , dan itu demi putra nya Arkan , ia ingin Arkan anaknya mendapatkan istri yang baik , dan juga tidak memikirkan harta putra nya , itulah kemauan marzela , tapi saat ini , marzela sudah menemukan gadis itu, dan dia adalah Alena menantunya ....
__ADS_1
* aku sadar aku dulu tidak merestui hubungan Arkan putra kita untuk menikahi Alena , tapi saat ini , sejak aku tau jika gadis itu gadis baik , aku jadi hilaf ...
aku melakukan itu hanya untuk melakukan hal baik , aku ingin putra kita bahagia dan juga memiliki istri yang bisa menerimanya kelak ...
aku juga egois ....
ucap marzela , kemudian ibu seperuh baya itu menghapus air matanya pelan , saat ini ia benar benar menyesal sekali ,..
* sudahlah ... kau tidak perlu menangis seperti itu , kau juga melakukan hal baik demi putra kita , kau tidak perlu merasa bersalah ...
jelas Erwin lembut kepada marzela istrinya ...
__ADS_1