
" permisi Bu " ucap Rey masuk ke ruangan Bu Linda " iya, duduk " ucap Bu Linda , Rey pun duduk " ada apa " ucap Bu Linda " begini Bu beberapa hari lagi ultah mama saya tapi mama saya ada di luar negeri dan sebelum itu akan ada festival di sana yang membuat semua jalan macet jadi untuk menghindari itu saya mau minta izin mulai dari besok " ucap Rey " apa papa kamu tahu " ucap Bu Linda " iya , dia sudah di sana dan menyuruh saya menyusul " ucap Rey " ibu tidak bisa menolak karena mungkin bagi keluarga mu itu sangat penting , jadi ibu izinin " ucap Bu Linda " terima kasih Bu, kalau begitu saya permisi " ucap Rey yang diikuti anggukan dari Bu Linda , Rey pun keluar dari ruangan Bu Linda
" halo tuan " ucap sopirnya " mang tolong nanti pas jemput aku kita langsung ke bandara , jadi tolong suruh bibi mengemas barang ku lalu nanti mang bawa pas jemput aku biar kita langsung ke bandara " ucap Rey " baik tuan " ucap sopirnya , Rey pun mematuhi handphone nya
" kenapa aku malah kepikiran Aqeela " gumam Rey sendirian
" Sya kok gue kepikiran Aqeela ya " ucap Dion heran " Lo naksir ya " ucap Rasya mengejek
" enak aja " ucap Dion " tapi nggak apa-apa gue kasih kok " ucap Rasya tersenyum " Lo mau bokap Lo serangan jantung ya " ucap Dion
" gue itu cuma di jodohin , gue kan belum pacaran, tunangan, apalagi nikah " ucap Rasya tersenyum " Sya sejak Aqeela diskors Lo kayak nya mulai hidup deh " ucap Dion " enak aja lo, Lo pikir gue mati " kesal Rasya " Lo hidup kok, tapi mayat idup dingin " ucap Dion " Lo pikir gue kulkas " ucap Rasya " Lo nggak nyadar " ucap Dion
" o iya gimana perkembangan nya " ucap Dion tersenyum " maksud lo apa sih " ucap Rasya heran " ya Lo deketin Sandrina lah " ucap Dion
" gue nggak ada apa apa tu sama dia " ucap Rasya " iya, tapi masih proses kan " ucap Dion tersenyum yang membuat Rasya tersenyum samar " kalau senyum itu jangan di tahan " goda Dion " siapa yang senyum " sangkal Rasya
" itu kucing malu malu " ucap Dion
__ADS_1
setelah beberapa waktu akhirnya sekolah selesai
" mang , langsung ke bandara ya " ucap Rey saat dalam perjalanan yang diikuti anggukan dari supirnya " tuan sendirian aja " ucap supirnya khawatir " iya , mang tenang aja , Rey bisa jaga diri " ucap Rey
di bandara " hati hati ya " ucap sopirnya yang diikuti anggukan dari Rey, setelah itu Rey pun masuk ke bandara sambil membawa kopernya tanpa mengganti seragam sekolahnya terlebih dahulu
" apa kau tidak bosan tidur terus " tanya Aila ke Aqeela yang masih tertidur " orang tidur di tanya , mana bisa di jawab " ucap dokter Ghani dari belakang " biarin , lasingan aku bosan banget " ucap Aila " jangan ngomong gitu nanti Aqeela marah loh " ucap dokter Ghani " biarin aja kalau begitu, dia kan harus bangun biar bisa marah marah " ucap Aila " bener juga " ucap dokter Ghani " kenapa om dateng lagi ,kan Aqeela tadi udah di periksa " ucap Aila
" itu cairan apa " ucap Aila penasaran sambil melihat dokter Ghani yang menyuntik tangan Aqeela " ini vitamin " ucap dokter Ghani
" jangan bohong itu dosa " ucap Aila " ngomong ngomong dari kemarin dosanya kemana aja " ucap dokter Ghani tersenyum " traveling kali , soalnya udah bosan di sini terus " ucap Aila
" yah bosan lagi " ucap Aila " kenapa kamu nggak pergi beli cemilan terus makan di sini sambil nonton tv " ucap dokter Ghani " bosan, tapi kalo ngemil nya sih ok juga , ya udah kita keluar nya bareng yuk " ucap Aila senang
" ok " ucap dokter Ghani tersenyum " sebentar ya Qeel " ucap Aila senang, lalu pergi dengan dokter Ghani
" dok ada yang nunggu di dalam " ucap asisten Ghani " tamu , siapa , aku rasa tidak ada janji temu lagi " ucap dokter Ghani heran " saya juga tidak tahu , tapi dia bilang dia keluarga " ucap asisten nya yang membuat Ghani semakin heran dia pun masuk ke ruangannya dan menemukan orang yang sedang memandang keluar jendela " siapa ya " ucap Ghani orang itu pun menoleh " uncle " ucap Rey tersenyum " loh Ala, ada apa "ucap Ghani senang , lalu mereka duduk di sofa " aku kira uncle tahu kalau aku ke sini " ucap Rey " nggak tuh " ucap Ghani
__ADS_1
" mungkin papa lupa soalnya dia yang nyuruh aku ke sini nanti dia yang jemput aku di sini " ucap Rey " memang ada apa bukannya kamu itu sekolah " ucap Ghani " aku udah minta izin, soalnya kan beberapa hari lagi ultah mama " ucap Rey " o iya , uncle lupa " ucap Ghani
" aku ngerti , uncle kan sibuk " ucap Rey
" iya belakangan ini uncle sibuk banget di tambah lagi ada pasien yang begitu ya pokoknya begitu lah " ucap Ghani " namanya juga dokter jadi emang harus siap sibuk ini kan menyangkut nyawa " ucap Rey yang diikuti anggukan dari Ghani " akhirnya aku juga bisa rileks " ucap Ghani senang
" halo " ucap asisten Ghani mengangkat telepon RS yang ada di mejanya " dok tolong, teman saya teman saya kembali kritis " ucap Aila panik sambil menangis " mbak tolong tenang, ini ruangan no berapa " ucap asisten Ghani " ruang VIP B2 " ucap Aila panik " baik " ucap asisten Ghani , langsung mematikan telepon itu dan langsung memberi masuk ke ruangan Ghani dan memberi tahu Ghani
" dokter , pasien ruangan VIP B2 kembali gawat" ucap asistennya panik " apa, Aqeela , cepat bawa alat pacu jantung nya " ucap Ghani panik yang diikuti anggukan dari asistennya
" Aqeela , siapa " ucap Rey penasaran " maaf nanti uncle jelaskan " ucap Ghani segera ke ruangan Aqeela yang diikuti oleh asistennya karena penasaran Rey pun mengikuti mereka
" om , tolong tiba tiba tanda pital nya kembali tidak stabil " tangis Aila " suster , tolong nyalakan alatnya " ucap Ghani sambil memegang alat pacu jantung nya yang diikuti anggukan dari asistennya , setelah beberapa kali mencoba tapi Aqeela masih belum juga stabil " naikkan lagi " ucap Ghani panik menyuruh asistennya menaikkan setrumannya agar jantung Aqeela merespon " ayolah ku mohon " ucap dokter Ghani panik lalu kembali menyetrum dan akhirnya Aqeela merespon
" syukurlah " ucap dokter Ghani lega lalu meletakkan alat pacu jantungnya di tempatnya
" Qeel , syukurlah " ucap Aila menangis
__ADS_1
sedangkan Rey terus berusaha melihat wajah Aqeela untuk memastikan itu yang dia kenal atau tidak dari luar karena dinding ruangannya yang terbuat dari kaca transparan tapi dia tidak bisa melihatnya karena tertutup oleh Aila , dan yang lainnya