
" Ala, kenapa di sini " ucap dokter Ghani
, karena Rey ada di luar ruangan Aqeela
" mm tidak ada " ucap Rey tersenyum melihat pamannya " ya ayo kita kembali ke ruangan uncle " ucap Ghani yang diikuti anggukan dari Rey , mereka pun yang diikuti oleh asisten Ghani
" Qeel , kau hobi banget sih bikin aku jantungan" kesal Aila tanpa di sadari kalau jari Aqeela sedikit bergerak " kalau kamu begini , aku bingung kamu tahu kan otakku nggak bisa mikir kalau panik " kesal Aila sambil duduk di kursi dekat Aqeela
" akhirnya istirahat " ucap dokter Ghani lega
" makanya kalau punya impian di pikirin dulu " ejek Rey " kau ini bukannya nyemangatin malah ngejek " kesal pamannya yang membuat Rey tersenyum " kenapa kau tidak langsung pulang ke rumah, padahal kau kan tahu arah " ucap Ghani " iya tapi kalau bisa gratis kendaraan kenapa mesti yang bayar " ucap Rey tersenyum " dasar kenapa tidak menghubungi dan menyuruh kakakku mengirimkan mu mobil " ucap Ghani " papa pasti lagi sibuk, dia ke sini aja kan karena ada bisnis tapi ingat kalau dalam beberapa hari juga ultra mama " ucap Rey tersenyum
" o iya tadi itu seperti Aila " ucap Rey " ya memang dia itu lagi merawat temannya yang tadi itu " ucap dokter Ghani " aneh, kenapa bukan orang tuanya yang rawat dia " ucap Rey
__ADS_1
" sebenarnya tidak ada yang tahu kalau dia sakit , karena dia bilang dia tidak mau membebani semua jadi begini " ucap dokter Ghani " bukannya itu jadi membebani Aila " ucap Rey " iya tapi Aila juga malah semangat, mungkin saja temannya itu pernah menolongnya jadi Aila berusaha membalasnya" ucap dokter Ghani " tapi bukannya , jika dia di rawat itu membutuhkan izin dari orang tua nya" ucap Rey " iya, apa jika orang itu tidak memiliki keluarga dan membutuhkan pertolongan sesegera mungkin apa dokter akan membiarkan nya sampai sekarat , bukankah tugas dokter itu mengobati , begi katanya mau nyangkal tapi bener juga , dan karena dia juga kasihan , mau tidak mau aku harus menolong nya " ucap dokter Ghani " tapi iya sih ucapan nya bener juga , aku jadi penasaran " ucap Rey tersenyum
" memang dia sakit apa " ucap dokter Ghani
" yang lain bisa aku beritahu karena aku percaya kau tidak akan membocorkan nya tapi soal penyakitnya aku percaya atau tidak aku tetap tidak bisa memberitahu mu , karena itu lah yang dia minta " ucap dokter Ghani
" ya baiklah, apa aku bisa menemui Aila " ucap Rey " kenapa kau minta izin padaku memang aku ini orang tuanya " ucap dokter Ghani
" kan calon " ucap Rey tersenyum " hm kalau begitu tidak aku izinkan " ucap dokter Ghani berlagak serius " ya terserah, uncle kan masih belum resmi " ucap Rey tersenyum yang membuat pamannya kesal , Rey pun berjalan pergi , di saat memejamkan mata dokter Ghani teringat " Rey tunggu " ucap Ghani yang membuat Rey menoleh " uncle minta tolong kasih Aila obat ini , beritahu dia kalau temannya sadar suruh dia minum ini, ingat sekali minum " ucap dokter Ghani sambil menyerahkan botol obat kecil kepada Rey " kenapa aku, uncle kan dokternya bukan aku " ucap Rey sambil memegang botol obat yang begitu kecil
" emangnya dokter bukan manusia, nggak bisa sakit " kesal pamannya " nggak, ya udah " ucap Rey, lalu pergi
" akhirnya istirahat , bebas " ucap dokter Ghani tidur di sofa , tiba-tiba " dokter " ucap sekretarisnya masuk " ada apa lagi " kesal dokter Ghani sedih " ada rapat " ucap asistennya " hehehe , dunia ini begitu kejam " ucap dokter Ghani sedih sambil bangun yang membuat sekretarisnya menahan tawa
__ADS_1
" ini mah namanya, senjata makan tuan udah beralasan malah dapet yang lebih parah " sedih dokter Ghani sambil berjalan pergi sedangkan sekretarisnya diam dan terus tertawa diam
" kenapa kau diam " ucap dokter Ghani melihat sekretarisnya yang membuat sekretarisnya kembali seperti tidak terjadi apa-apa " maaf " ucap sekretarisnya berbalik lalu mengikuti dokter Ghani sambil menahan senyum karena sikap nya
dari luar ruangan Aqeela , Rey terus memperhatikan Aqeela terus berusaha melihat wajahnya sambil berjalan masuk tapi tidak terlihat karena Aila yang menghalangi " Aila " ucap Rey yang membuat Aila menoleh " kak Rey " ucap Aila mendekat " kapan kakak ke sini" ucap Aila berdiri di depan Rey yang membuat Rey tidak melihat ke arah Aqeela " tadi, o iya ini obat, katanya kasih ke teman setelah dia sadar , sekali minum " ucap Rey " iya " ucap Aila mengambil obat yang diberikan oleh Rey
" apa aku bisa melihat teman mu " ucap Rey
" iya, apa kakak bisa menemaninya sebentar soalnya aku lapar mau cari makan di bawah , satu lagi tolong taruh obat ini di atas laci " ucap Aila menyerahkan obat yang tadi , lalu langsung pergi tanpa memberikan kesempatan pada Rey untuk menolak yang membuat Rey berjalan mendekati ranjang Aqeela sambil melihat arah perginya Aila
" dasar " ucap Rey tersenyum sambil menaruh obat di atas laci, lalu mengalihkan pandangan nya ke arah Aqeela yang membuat nya terdiam sejenak
" Aqeela " ucap Rey tersadar , lalu duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Aqeela " Qeel, jadi selama ini kau di sini , kenapa kau tidak memberi tahu ku , aku ke rumah mu tapi Tante bilang kau tidak ada, ternyata kau di sini , kenapa kau tidak meminta bantuan ku , apa kau begitu tidak mengingat ku " ucap Rey sedih , lalu memegang tangan Aqeela " kenapa kau tidak meminta bantuan ku, aku akan siap membantu mu , apa diingatan mu aku hanya teman sekelas mu " ucap Rey sedih
__ADS_1
" baiklah aku tidak akan mengeluh , tapi tolong dengarkan aku , aku harap kau memang tidak sadar , aku minta maaf , karena tidak bisa membantu mu " ucap Rey " maafkan aku, tapi karena kau tidak sadar , aku ingin mengakui perasaan ku, aku tahu kau menyukai Rasya , aku tidak mempermasalahkan itu karena kalian sahabat ku , tapi jangan marah kepada ku karena menyukai mu , jujur sebenarnya dari dulu aku menyukai mu tapi aku sadar bahwa kau hanya menganggap ku sebagai sahabat , aku tidak masalah tapi aku sedih ketika aku berubah menjadi sekedar teman sekelas mu , aku begitu senang saat bertemu dengan mu kau ingat orang yang kakinya terluka yang kau bantu itu , itu aku saat tahu itu kau sahabat ku aku sangat senang , tapi aku juga sedih karena aku tahu kau dan Rasya tidak seperti sahabat ku dulu yang saling mendukung , aku juga minta maaf karena sering membututi mu tapi aku juga senang kau masih ingat tempat favorit kita bertiga , kau ingat kita bertiga selalu bersama tapi setelah kecelakaan itu semuanya berbeda , tapi terima kasih karena kau dan Rasya masih bertahan , aku senang , dan sekali lagi aku menyukai mu , tolong maafkan aku karena tidak bisa menjaga persahabatan kita, dan satu lagi jangan bertengkar dengan Rasya karena dia sama seperti mu kalian berdua melupakan semua nya " ucap Rey meneteskan air matanya sambil menggenggam tangan Aqeela " kak " ucap Aila tiba-tiba masuk sambil membawa camilan yang membuat Rey menghapus air matanya dan menoleh " ya " ucap Rey tersenyum " kakak habis nangis " tanya Aila " nggak , aku cuma kelilipan ,ya udah kamu udah di sini aku pergi dulu ya , nanti uncle nyariin " ucap Rey berdiri " nggak mau camilan " ucap Aila , Rey pun menggeleng yang diikuti anggukan dari Aila , Rey pun pergi " ku harap kau selalu bahagia " ucap Rey tersenyum sambil melihat Aqeela sejenak dari luar lalu kembali berjalan pergi , dan tanpa ada yang menyadari Aqeela mengeluarkan air mata nya