
"Tidak! Karena aku memang yakin dia sudah tiada sejak 19 tahun lalu."
"Berdoalah semoga dia masih hidup!"
"Dia sudah lama mati dengan membawa dosanya karena telah menyakiti Ibu."
Ibu terdiam, lantas memalingkan wajahnya dariku. "Dia wanita yang cantik, kamu pasti bangga terlahir darinya!" Ibu tersenyum, namun senyuman yang menyimpan kesedihan.
"Aku sudah melihat wajahnya, dia memang cantik, tapi aku justru merasa terhina lahir dari seorang selingkuhan seperti dia!"
"KHANSA!" Bentakan ibu membuatku tersentak, lagi-lagi ibu marah untuk seseorang yang telah tiada.
"Jangan marah padaku untuk wanita yang sudah menyakiti Ibu."
"Dia memang menyakiti Ibu, tapi itu bukan salahnya. Dia wanita yang baik."
"Bukan salahnya, apa itu salah ibu? Tidak kan? Mana ada wanita baik-baik yang menjadi perusak rumah tangga wanita lain? Tidak ada Bu! Dia tidak lebih dari seorang wanita yang tak punya hati!"
Tanpa sadar aku meninggikan suara didepan ibu, hal yang tak pernah aku lakukan selama ini. Dan kali ini aku melakukannya hanya karena seseorang yang bahkan tak pernah aku tau pernah ada didunia ini.
"Jaga bicaramu Khansa!"
"Untuk apa aku menjaga bicara untuk wanita seperti dia?" tanyaku dengan nafas terengah. Kenapa lagi-lagi aku harus berdebat dengan ibu untuk seseorang yang telah lama mati?.
Ibu tak menjawab, beliau justru berbalik membelakangiku. Kulihat ibu mengusap air matanya pelan.
"Pergi dan carilah dia. Kapanpun kamu kembali, rumah ini akan selalu terbuka untukmu" ucapnya pelan kemudian masuk kedalam kamar.
Aku terdiam ditempat, menatap rumah yang selama 19 tahun kutinggali. Kupikir, aku akan meninggalkan rumah ini karena dua hal, merantau atau menikah. Sayangnya, sekarang aku pergi bukan karena dua hal itu, tapi untuk sesuatu yang tak pernah terpikir dibenakku sekalipun.
Kuangkat tas yang tergeletak dilantai, menghela nafas sejenak.
"Aku pasti akan kembali, Bu..." lirihku.
...🍁...
Aku baru saja sampai diwarung makan Bu Jumaroh yang biasanya sudah buka dijam 7, dan sekarang sudah hampir ashar. Namun, warung besar ini terlihat masih tutup, atau mungkin tutup lebih awal?. Karena biasanya akan tutup dijam 5 sore.
Tadinya, aku berniat berpamitan padanya sekaligus mengajukan pengunduran diri. Namun, melihat warung yang sepi, sepertinya aku harus kerumahnya langsung.
__ADS_1
Kuamati sekali lagi warungnya, kucoba hubungi wanita yang sudah menjadi bosku sejak 5 bulan ini, namun nomor ponselnya tidak aktif.
Aku masih kebingungan, saat seorang wanita paruh baya yang tak lain pemilik toko sembako disamping warung makan datang menghampiriku.
"Bu Jumnya gak jualan Mba Khansa, tadi pagi dapat telpon dari rumah sakit katanya anaknya kecelakaan, korban tabrak lari," jelas Bu Idah membuatku terkejut.
"Astaghfirullah. Kalau boleh tau dirumah sakit mana ya?" tanyaku tak sabar.
Bu Idah terdiam, tampak mengingat-ingat. "Kalau gak salah rumah sakit Bakti Husada," ungkapnya kemudian.
Usai mengatakannya, wanita usia 40-an lebih itu kembali ke toko sembakonya. Sementara aku diam saking terkejut mendengarnya. Aku segera melajukan motorku menuju rumah sakit yang berada di kecamatan, membeli parcel buah diperjalanan. Setelah sampai aku langsung kutanyakan dimana ruangannya pada resepsionis yang berjaga.
"Ruang mawar nomor 43."
Melangkah cepat menuju kamar yang dimaksud, aku berjalan dengan cepat hingga tanpa kuduga seseorang menabrakku dari arah belakang.
Pria berpakaian serba hitam yang juga terlihat buru-buru, ia berusaha menutupi wajahnya dengan masker, kacamata, dan topi. Membuatku berpikir dia sudah melakukan tindak kriminal dan sedang kabur. Terlebih saat melihat beberapa luka baru dipunggung tangan kirinya.
Parcel yang kubawa jatuh berserakan, buah-buahan didalamnya pun menyentuh lantai.
"Maaf!"
Ingin aku memakinya dengan keras karena sudah mengukur semuanya dengan uang. Namun, langkahnya yang sudah terlalu jauh membuatku urung melakukannya. Lebih memilih berjongkok mengambil buah-buahan yang jatuh.
"Khansa?"
Aku menoleh mendengar suara yang tak asing. Huda, pria dengan berwajah kalem yang menjadi teman SMA-ku. Senyum ramahnya masih sama seperti terakhir kali kami bertemu, tak banyak perbedaan pada fisiknya selain pakaian formal yang semakin menampilkan wajah tampannya.
Pria yang pernah kusukai saat SMA itu tak pernah lagi kulihat sejak perpisahan. Kabarnya hilang begitu saja bagai ditelan bumi.
"Huda?"
"Sudah lama tidak bertemu." Tangannya terulur padaku diiringi senyumnya yang begitu manis.
"Iya, apa kabar?." Aku berdiri dan membalas uluran tangannya.
"Baik. Sedang apa kamu disini?" tanyanya yang membuatku langsung menyadari parcelku berserakan bersama uang yang diletakkan pria tadi.
"Tadinya mau jenguk anak bos aku yang dirawat disini. Tapi tadi ada orang yang gak sengaja nabrak, jadi..."
__ADS_1
Huda langsung mengambil semua buah beserta uangnya, mengembalikannya padaku.
"Sebenarnya ini bukan uangku sih, tapi uang orang yang nabrak tadi. Dikira semuanya bisa di selesaikan pake uang apa?" gerutuku menatap lembaran merah yang ternyata ada lima.
"Udah terima aja, anggep aja rezeki" cetusnya tertawa renyah.
"Tapi parcelnya tetap gak tertolong nih!"
"Ya pakai uang itu buat beli lagi?"
Ah benar juga, lagian pria tadi memberikannya bukan? Maka itu artinya uang ini sah-sah saja menjadi milikku. Hudapun menawarkan diri mengantarkanku, akupun setuju saja. Setelah membeli parcel, kami berjalan bersama menuju ruang rawat anak Bu Jum.
"Loh kamu mau kesini?" tanyanya saat kami sampai dikamar yang dituju, aku mengangguk bingung.
"Ini sih ruang rawat adik aku."
"Hah, beneran?"
.........
Setelah Huda menjelaskan, aku mengerti jika ternyata dia adalah anak sulung Bu Jum yang memiliki tiga anak. Huda selama ini kuliah diluar negeri hingga tak pernah lagi terlihat.
Kini, kami tengah menemani adik perempuannya yang baru kelas dua SMP yang mengalami cedera kaki, karena kecelakaan saat kabur dari seorang pria yang berusaha melec*hkannya. Sementara Bu Jum istirahat dirumah karena darah tingginya kambuh setelah hampir seharian berjaga.
Saat masih asik mengobrol dengan mereka, suara tv yang menayangkan berita menarik perhatian kami. Seorang pria tewas terbunuh didekat sekolah dengan dua tembakan didada.
"Itu pria yang berusaha memperk*saku kak!"
Aku dan Huda terkejut mendengar ucapan adiknya. Tak menyangka jika pria yang bahkan gagal melaksanakan aksinya itu akhirnya tewas mengenaskan.
"Apa kamu yang melakukannya?" Huda bertanya pada sang adik, yang langsung menggeleng.
"Mana mungkin dia pelakunya, dia yang korban disini, lagipula luka ditubuh pelaku adalah luka tembakan, dan Vania bahkan tak memiliki senjatanya." Aku mencoba menenangkan.
"Aku hanya takut saja jika Vania akan dibawa-bawa dalam kasus ini" ucap Huda panik.
"Aku rasa iya, tapi hanya sebagai saksi."
"Ada seorang kakak laki-laki yang menolongku lolos dari pria itu, mungkin saja dia..."
__ADS_1
Bersambung.