
Aku mengangguk, detik berikutnya beliau menarikku dengan paksa. Aku tak berusaha menolak, saat kami melangkah keluar hingga melewati pintu utama, beliau menghempaskanku dilantai teras rumah.
"Tidurlah disini sampai pagi, jangan masuk sebelum ibu izinkan!" Ibu menutup pintu dan menguncinya, meninggalkanku yang mulai kedinginan saat angin terasa menembus pakaianku dan menusuk kulitku.
"Benarkah jika ini akan membuat perasaan Ibu sedikit membaik?" gumamku.
Kuputuskan duduk dikursi yang ada, mengatur nafas guna menetralkan segala emosi. Perlahan, mata ini mulai terasa berat dan mulutku menguap karena memang sudah larut malam.
Namun, baru terasa terpejam, suara sambaran petir mengejutkanku. Hingga hujan disertai angin kencang turun dengan deras. Kuusapkan kedua tangan, memeluk tubuh yang semakin kedinginan. Entah karena mengantuk atau karena kepala yang terasa berat, mata ini mulai terpejam secara perlahan.
...🍁...
"Dasar bodoh! Anak bodoh!"
Teriakan pelan ibu menjadi suara pertama yang kudengar setelah mata ini terbuka. Sebuah handuk kecil yang menempel diatas dahi membuatku tau aku sedang dikompres. Kulihat sinar matahari yang melewati celah gorden, memberi tahuku jika hari sudah siang.
"Bu..." panggilku pada wanita bersanggul yang tengah duduk membelakangiku itu, beliau berbalik.
"Dasar anak bodoh!"
"Auwh!" Aku meringis kecil saat ibu memukul lenganku pelan, tapi entah kenapa terasa sakit. Mungkin saja karena kondisi tubuhku yang sedang lemah.
"Kenapa tidak masuk lewat pintu belakang? Kamu tau pintu itu gak Ibu kunci!" cecarnya menatapku marah.
Aku tersenyum melihat kekhawatiran yang terpancar jelas dimatanya, lagi-lagi merasa beruntung mendapat ibu sebaik beliau. Seorang ibu yang menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda.
"Karena Ibu belum memberi izin!"
"Dasar anak bodoh!" Ibu kembali memukul pelan, aku meringis. "Semalam hujan deras sama angin kencang, kamu pikir Ibu akan maafin kamu kalau kamu sakit?"
Aku menggeleng pelan, lantas dengan tubuh yang terasa lemah berusaha duduk bersandar pada kepala ranjang, melepas kompres didahi dan meletakan diatas nakas. Ibu terlihat bangun dari duduknya, namun ia urungkan. Tapi aku tahu ibu berniat membantuku. Aku tersenyum senang.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Ibu"
Ibu mencebik kesal. "Kata siapa Ibu khawatir sama kamu?" Beliau memalingkan wajahnya, dengan cepat kupeluk beliau dari samping. Karena aku tau, ibu berusaha menyembunyikan wajah penuh kekhawatirannya dariku.
"Kasih sayang seorang ibu tidak perlu dibuktikan atau disangkal dengan kata-kata, karena sikap Ibu yang menunjukkannya. Dan buktinya adalah handuk kompres itu." Aku mengeratkan pelukan, menikmati kehangatan dari seorang ibu yang begitu aku rindukan.
Ibu melepas pelukanku pelan, kemudian melangkah pergi. Namun, pertanyaanku berhasil menghentikannya yang sudah berada diambang pintu.
"Apa Ibu percaya jika aku tidak berusaha menggoda pacar Mira?"
Ibu menoleh sejenak, tak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya. Mungkinkah, apa yang dilakukan Mas Hakim mengingatkan ibu pada pengkhianatan ayah? Dan itu membuat ibu merasa bersedih?.
"Aku tau Ibu percaya padaku, karena meskipun bukan Ibu yang melahirkanku, tapi Ibu yang merawatku sejak lahir," ucapku saat beliau masih diam, kemudian akhirnya keluar dari kamar dan langsung menutup pintu tanpa menjawab pertanyaanku.
Namun, detik berikutnya pintu kembali terbuka. Ibu, menatapku dengan lekat dan berdiri dihadapanku yang masih duduk bersandar diranjang.
"Kamu ingin tau bagaimana ayahmu berkhianat?" Tatapannya menunjukkan emosi yang campur aduk, antara marah, kecewa, sedih, dan juga sakit hati.
Aku menggeleng, tersenyum tipis pada beliau yang menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku beranjak dari ranjang dengan sedikit sempoyongan, berdiri dihadapan ibu kemudian meraih kedua tangannya, lantas mengecup tangan yang mulai keriput itu penuh takzim.
"Kamu ingin tau siapa ibu kandungmu?"
Jujur, kini aku cukup penasaran dengan sosok wanita yang merebut ayah dari seorang wanita yang begitu baik seperti ibu, namun aku tau jika ibu menceritakan tentangnya padaku, maka sama saja ibu harus mengingat kisah menyakitkan yang beliau alami 19 tahun lalu.
Aku kembali menggeleng, tanpa kuduga ibu memukul kepalaku pelan.
"Kenapa tidak mau tau?" ketusnya.
Kuusap jemari yang telah membesarkanku dengan penuh rasa sakit hati.
"Tangan ini, adalah tangan yang sudah menyuapiku, mengajariku berjalan, menggendongku, dan juga membelai kepalaku sebelum tidur. Mengajariku sholat, dan menengadahkan tangan untuk berdoa. Kasih sayang yang Ibu berikan terlalu besar sampai membuatku tak ingin tau tentang hal yang memang tak perlu kuketahui."
__ADS_1
Semua perlakuan itu memang tak bisa kurasakan setelah memasuki sekolah dasar, karena ibu mulai bersikap tak acuh padaku dan tidak mempedulikanku.
Namun, entah kenapa aku tak bisa melupakan kasih sayangnya, meski nyatanya semua kasih sayang itu terjadi saat aku masih kecil. Mungkin, karena memang tak ada kenangan indah lain yang bisa kuingat.
"Ibu tidak menyayangimu!" Sanggahan itu hanya membuatku tersenyum.
Ibu terus berpura-pura kuat dan tegar, bahkan setelah tahu aku mengetahui kebenarannya, padahal aku kira beliau akan menumpahkan segala rasa sakit hatinya padaku dan mengusirku dari rumah. Namun ternyata, hati beliau jauh lebih mulia dari yang kuduga.
"Tangan ini pula, yang telah menarikku masuk kedalam rumah setiap kali ada orang yang menyebutku anak haram!" ucapku kemudian.
Ibu menatapku dalam, beliau masih berusaha menahan air matanya. Kubalas tatapan itu dengan senyuman, walau kutahu senyuman ini tak akan tersalur dibibir beliau, karena memang tak ada kebahagiaan dihatinya yang bisa membuat ibu tersenyum.
"Apa Ibu sudah sarapan?" tanyaku mengalihkan pembicaraan setelah melihat jam dinding sudah menunjuk angka 8.
Beliau diam, aku mengecup pipinya pelan hingga beliau terkejut.
"Aku sayang Ibu."
Segera aku berlari keluar dari kamar sebelum ibu bereaksi, melangkah kedapur untuk membuat sarapan. Meski tubuh masih terasa lemah, aku tetap harus membuat sarapan, karena aku yakin ibu belum makan.
Baru saja tangan ini meraih gagang pintu kulkas, saat sebuah tangan menarikku dengan kasar.
"Ngapain kamu masih ada disini!" teriak Mira dengan marah, kemudian langsung menjambak rambutku begitu keras. Aku berusaha tak bersuara saat tarikannya semakin kuat, karena jika ibu melihatnya aku yakin beliau akan menghentikan Mira.
Sedangkan aku tak berniat melakukannya, karena dimanapun seorang wanita yang dikhianati tidak selamanya akan sesabar ibu. Biarlah Mira menumpahkan emosinya atas kejadian semalam, untuk kali ini saja.
"Harusnya kamu itu pergi setelah ketahuan menggoda Hakim! Kamu juga udah tau bukan anak kandung Ibu, terus ngapain masih ada dirumah ini?" Mira menarik rambutku semakin keras.
"Aku tidak menggoda Hakim!" ucapku, sembari berusaha melepaskan tangan Mira dari kepalaku yang semakin terasa sakit.
"Dasar gak tahu diri! Harusnya kamu pergi dari rumah ini!."
__ADS_1
"Aku tidak akan pergi dari rumah ini, kecuali jika Ibu yang mengatakannya!."
Bersambung.