Aku Putri Seorang Pelakor

Aku Putri Seorang Pelakor
Bab 22 : Adik Sepupu


__ADS_3

"Dia adik sepupu saya."


Aku terkejut saat Mas Adam sudah berada dibelakangku dan merangkul pundakku, kenapa aku tidak menyadari kehadirannya?.


Mas Adam tersenyum padaku, seolah mengingatkan padaku bagaimana hubungan kami didepan orang lain.


"Eh kak, kenapa pulang lagi?." Tentu aku juga harus ikut bersandiwara bukan?.


"Ada barang yang ketinggalan." Mas Adam melirik gerobak sayur disampingku. "Sepertinya kamu sedang belanja, jangan lupa beli ikan. Sepertinya kakak ingin makan ikan goreng malam ini." Setelahnya, Mas Adam kembali masuk kedalam rumah.


Ibu-ibu yang sedari tadi diam melihat kami tertawa dengan salah tingkah.


"Oh adik sepupunya? Saya kira siapa?." Bu RT tersenyum kikuk, melirik ibu-ibu lainnya.


"Iya. Saya menginap dirumah Kak Adam karena saya kuliah disini." ucapku berusaha menahan diri, untuk tidak mempertanyakan tentang apa yang mereka ucapkan tentang suamiku sebelumnya.


"Eh tapi saya baru tahu lho kalau Adam punya adik sepupu?." tanya ibu berdaster.


"Saya tinggal diluar kota dan baru lulus SMA, saya melanjutkan pendidikan disini karena orang tua saya merasa lebih aman jika saya tinggal bersama Kak Adam. Kami hampir tidak pernah bertemu kecuali hari raya, jadi sangat wajar jika Kak Adam tidak mengatakan apapun tentang saya." Rasanya begitu tak nyaman, mengucapkan sebuah kebohongan.


Setelahnya mereka hanya mengangguk-angguk singkat, kembali fokus dengan aneka bahan lauk didepan mereka tanpa bergosip seperti sebelum aku datang.


.........


Waktu terasa begitu lambat karena berada didalam rumah seharian, sendirian. Semua pekerjaan rumah sudah beres, bahkan aku sudah menyapu berulang kali, sayangnya tetap tidak mengurangi rasa bosanku.


Andai saja Mira tidak memblokir nomorku, mungkin setidaknya aku bisa mengobrol dengan ibu. Sayangnya, bahkan mendengar suaranya saja tak bisa.


Aku tiba-tiba terpikir sebuah hal, aku akan kuliah dijurusan tataboga, mungkin sebaiknya aku belajar lebih dulu lewat internet. Mungkin tidak banyak yang bisa kumengerti, tapi setidaknya aku tak terlalu 'buta' saat masuk kuliah nanti.


Aku sudah lulus SMA satu tahun lebih, beberapa materi dasar sudah hilang dari memori otak. Masuk kuliah mungkin bukan hal yang besar, namun tetap saja aku butuh persiapan untuk itu.


Baru saja aku ingin membuka google, saat sebuah nomor menelpon. Nomor asing, namun dari angka-angkanya terlihat familiar. Aku membuka aplikasi pesan, dan benar saja jika ini adalah nomor Huda.


Untuk beberapa saat aku berpikir, apakah aku harus mengangkat telponnya atau tidak. Mengingat raut wajah ketidaksukaan yang Mas Adam tunjukan kemarin membuatku tak nyaman.


Meskipun pria itu mengatakan tidak marah, tentu sebagai istri aku harus pengertian bukan?.


Kuputuskan untuk membiarkan panggilan dari Huda terhenti sendiri, namun tak kusangka jika Huda terus menelpon hingga beberapa kali. Sampai kuputuskan untuk menerima panggilannya.


"Halo, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Khansa, kenapa tidak mengangkat telponnya?."


"Maaf, tadi aku sedang ditoilet." ujarku beralasan.

__ADS_1


"Oh begitu rupanya."


"Eum ... Ada apa ya kamu meneleponku?."


"Aku hanya ingin memastikan kamu sudah membeli perlengkapan untuk masuk kuliah, siapa tau kamu melupakan sesuatu?."


Ah benar, dia lebih tahu karena lebih berpengalaman, tak ada salahnya jika aku bertanya.


"Aku sudah membeli perlengkapan seperti saat SMA, tapi aku tidak tau apa saja yang dibutuhkan seorang mahasiswi tataboga."


"Baiklah, mungkin ada beberapa yang belum kamu siapkan. Ada 5 benda yang harus kamu siapkan."


"Tunggu! Aku akan mencatatnya." Aku beralih pada aplikasi notepad pada ponsel. "Baiklah, apa saja?."


"Aneka pisau_"


"Pisau?!." Aku terkejut bukan main. Memangnya boleh membawa pisau kekampus?.


"Tentu saja. Mata kuliah kita lebih sering praktek dibanding teori, tentu saja yang harus ada dalam memasak adalah pisau." Terdengar Huda tertawa pelan.


Begitukah?


"Baiklah, kedua?."


"Sendok dan garpu, lalu timbangan kecil setidaknya yang 5 kg, wearpack, dan juga safety shoes. Untuk sementara itu dulu." sebutnya.


"Jangan sungkan, bertanyalah jika ada hal yang tidak kamu mengerti. Oke?."


"Oke."


"Dan ya, mungkin kamu juga bisa membaca lebih banyak buku resep, itu pasti akan berguna untuk seorang calon koki."


"Iya."


"Oh ya bagaimana dengan kakak sepupumu?."


"Kakak sepupu?." Aku merasa bingung, sampai teringat siapa Mas Adam didepan orang lain. "Oh kakak ... Kenapa?."


"Dia terlihat marah saat pulang kemarin? Apa dia tidak menyukaiku? Maksudku, apa dia tidak suka aku bicara denganmu?."


"Ah tidak-tidak, kami memang benar-benar buru-buru kemarin. Jadi jangan pikirkan sikapnya." Bukan hanya aku, bahkan Huda melihat jika Mas Adam marah.


"Syukurlah kalau begitu, aku pikir dia marah karena aku bicara denganmu."


"Tentu saja tidak."

__ADS_1


"Kalau begitu sudah dulu ya, aku harus masuk kelas sekarang."


"Oh iya-iya, sekali lagi terima kasih."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku menghela nafas, mungkin aku yang terlalu berlebihan mengartikan perasaan Mas Adam. Padahal jelas-jelas dia kemarin mengatakan tidak marah. Mungkin sesekali berbicara dengan Huda tidak masalah.


.........


"Sudah pulang Mas?." Kukecup tangan Mas Adam yang baru memasuki rumah setelah melewati waktu Maghrib. Dari senyum diwajahnya terlihat jelas betapa lelahnya dia.


"Hem, ada begitu banyak pekerjaan dikantor, jadi Mas pulang agak terlambat."


Sejujurnya, melihatnya membuatku menjadi penasaran dengan dengan ucapan ibu-ibu tadi pagi, mungkinkah ada hubungannya dengan kepergian Mas Adam setiap malam?.


Aku ingin sekali bertanya, tapi aku khawatir Mas Adam akan tersinggung karena aku menuduhnya atas dasar ucapan orang lain, terlebih dia terlihat begitu lelah saat ini.


Lebih baik, aku menyimpannya sendiri untuk sementara waktu. Sekaligus berdoa, jika Mas Adam tidak akan melakukan hal-hal yang bisa menjerumuskannya kedalam dosa dan hukum.


"Gak papa, lagipula Mas bukan sengaja pulang terlambat. Mas pasti sangat lelah, aku akan siapkan air hangat."


"Masak apa hari ini?." tanyanya yang berjalan mendahuluiku menuju meja makan.


"Ada ikan goreng dengan sambal pedas dan juga sayur sup, bukannya tadi pagi Mas bilang ingin maka ikan goreng?."


Entah apa yang salah, Mas Adam terkekeh kemudian mengusap kepalaku pelan. "Ternyata kamu memang sepolos ini?."


"Apa?." Apa maksudnya?.


"Mas mengatakan ingin makan ikan goreng hanya untuk mengalihkan perhatian mereka dari pertanyaannya padamu."


Perkataannya membuatku menyadari sesuatu.


"Mas mendengar pertanyaan mereka padaku, apa Mas juga mendengar tentang apa yang mereka bicarakan sebelumnya?."


Dia tampak terdiam. "Tidak!." Dia kembali diam beberapa saat, bahkan tanpa satupun kedipan mata. "Mas akan mandi lebih dulu, setelah itu kita makan malam." ucapnya kemudian.


"Eh tapi air hangatnya belum siap." ucapku teringat jika aku belum memanaskan air.


"Mas bisa mandi air dingin." Setelahnya, dia masuk kedalam kamar begitu saja.


Aku terdiam ditempat, menyadari jika jawaban yang dia berikan padaku, bukanlah kenyataan yang sebenarnya.

__ADS_1


Mungkinkah apa yang ibu-ibu itu katakan benar? Suamiku ... seorang pembunuh.


Bersambung.


__ADS_2