
"Ibu tak ingin mengatakan apapun padaku?" Aku berdiri didepan ibu yang duduk disofa dengan membaca koran, setelah aku dan Mas Adam sudah menyaliminya sebelum benar-benar sudah siap pergi. Tentu saja setelah resmi mengundurkan diri dari warung Bu Jum.
Ibu tak acuh, aku tersenyum melihat bagaimana kemarahan beliau kali ini ditunjukkan dengan diam. Aku melirik koran terbalik yang beliau baca, lantas terkekeh pelan, ibu menatapku tajam.
"Korannya terbalik Bu." Kubenarkan posisi koran ditangannya. "Bukannya Ibu tak ingin aku pergi? Apa Ibu tidak berniat menghentikanku?" Aku masih berharap, jika ibu akan memintaku tetap tinggal.
"Kamu sudah menikah! Sudah seharusnya kamu ikut suamimu!" ucapnya acuh.
Aku menghela nafas. "Aku pamit Bu, aku tidak tahu kemana suamiku akan membawaku, tapi aku janji akan sering datang kesini."
Aku melirik Mas Adam yang hanya tersenyum, kemudian mengambil alih koper ditanganku dan keluar lebih dulu. Aku mengikutinya dengan enggan, menoleh pada ibu yang masih tak menatapku walau sejenak.
"Minta Mira memijat Ibu sebelum tidur, dan membuatkan Ibu teh herbal. Panggil dia jika Ibu kesulitan memasukan benang kedalam jarum jahit, dan ya... minta dia belajar membuat sup ayam, makanan_"
"Ibu tau!" ucapnya sembari mengangkat satu tangan, memaksaku diam.
Aku tersenyum getir. "Assalamualaikum, Ibu..."
Kemudian melanjutkan langkah mengikuti Mas Adam yang berdiri disamping sebuah mobil travel yang siap mengantar kami.
Mas Adam membiarkanku masuk lebih dulu, disusul olehnya yang kemudian menutup pintu. Travel besar ini hanya diisi oleh kami dan seorang sopir, sementara jok bagian belakang dirombak menjadi tempat motorku.
Aku menoleh kembali kearah rumah saat travel mulai melaju, terlihat ibu keluar dengan tergesa. Kulihat mulutnya mengucapkan dua kata, tak bisa kudengar, namun dari gerak mulutnya aku tau beliau berkata, "Waalaikumsalam, Khansa."
Mungkin, beliau hanya enggan mengakui jika ingin aku tetap tinggal hingga berpura-pura acuh. Nyatanya, kepergianku membuat ibu merasa kesepian, aku yakin itu. Karena Mira sangat jarang bahkan tak pernah melakukan hal yang tadi kusebutkan pada ibu.
'Aku pasti akan sangat merindukan Ibu.'
Perlahan tapi pasti, travel semakin menjauh dari rumah yang kutinggali selama hampir 20 tahun, rumah yang menjadi tempatku berteduh dari panas dan hujan. Rumah, yang tak akan pernah kulupakan meski tak menyisakan kenangan indah untuk diingat.
Aku menatap kedepan, menghela nafas pelan. Hari ini aku pergi, dan aku tak tahu kapan bisa datang kembali.
"Ibumu menyayangimu."
Aku menoleh setelah Mas Adam bicara, pria yang mengaku ingin menikah denganku itu terus saja tersenyum padaku, bahkan setelah sifat ketus yang kutunjukkan.
"Aku tau! Karena dia adalah ibuku."
"Tapi dia bukan ibu kandungmu."
"Darimana Mas tau?" Lagi dan lagi, pria asing ini tahu sesuatu tentangku.
__ADS_1
"Beberapa... waktu lalu."
Jawabannya terdengar jelas seperti sebuah kebohongan, tapi aku terlalu malas untuk menuntutnya jujur. Lagipula, dia hanya akan berkilah.
"Kemana Mas akan membawaku?"
"Tidurlah dulu, karena perjalanan mungkin akan sangat melelahkan."
"Cih!"
Aku menatap kaca travel dengan nanar, memperhatikan setiap warga yang lewat. Kebanyakan dari mereka adalah petani padi, namun ada juga beberapa yang hanya pekerja disawah ibu. Sawah ibu, yang kini kulewati membentang luas, tempat dimana aku sering bermain lumpur dan mencari keong saat ibu menyuruhku bekerja disana.
Aku tersenyum simpul, berharap jika suatu hari nanti aku akan menetap didesa ini, meski tidak serumah dengan ibu.
"Kita akan kembali dan menetap disini setelah urusan saya selesai."
Aku menoleh pada Mas Adam yang seakan bisa membaca pikiranku, bagaimana bisa?.
"Bagaimana Mas tau apa yang aku pikirkan?"
"Pikiran pasti dari seseorang yang baru pertama kali pergi jauh dari tempat tinggalnya." Dia mengedipkan sebelah matanya jahil, menyebalkan.
"Mas serius kita akan tinggal disini?"
"Mas gak lagi bohongin aku kan?" Aku menunjuk tepat didepan wajahnya, sembari menyipitkan mata menunjukkan tatapan menyelidik.
Entah apa yang lucu, dia justru tertawa terpingkal-pingkal.
"Kenapa malah ketawa? Gak ada yang lucu!" Aku menyedekapkan tangan didepan dada, tapi dia justru semakin tertawa dengan keras.
"Karena istri saya ini terlihat begitu lucu saat marah."
"Jangan bersikap sok akrab, kita tidak sedekat itu sampai Mas memanggilku seperti itu."
"Kamu tidak mengenal saya, tapi saya mengenal kamu."
Aku menatapnya dengan lekat, pria ini terus saja mengatakan hal-hal aneh. Apa dia tak paham arti kata mengenal? Kami baru bertemu tak lebih dari dua hari, dan dia sudah mengenalku? Aku tertawa dalam hati, ada-ada saja.
"Sudah, berhenti ngambeknya dan tidurlah." Mas Adam berucap dengan lembut.
Aku tak berniat menurutinya, tapi sepertinya tidur bukan pilihan yang buruk. Kupejamkan mata sembari bersandar pada jok mobil.
__ADS_1
...🍁...
Entah sudah berapa lama aku tertidur, saat kudapati Mas Adam tengah menatapku dengan tersenyum. Aku segera bangun untuk menghindar, tapi sialnya aku lupa jika masih berada dimobil hingga kepala ini terbentur atap mobil travel.
Mas Adam tersenyum, kemudian menuntunku kembali duduk. Aku melihat kesekeliling, travel sudah berhenti tepat didepan sebuah rumah sederhana yang berada diperumahan sederhana. Dimana jarak dari satu rumah kerumah lainnya kurang lebih 5 meter.
"Dimana ini?"
"Kampung halaman saya."
Mas Adam turun lebih dulu membawa tas besarku, kemudian dibantu sopir menurunkan motor matic-ku. Setelah semua barang-barang dikeluarkan, sopir travel itu berlalu pergi, menyisakan aku dan Mas Adam yang masih berdiri didepan rumah bercat putih didepan kami.
"Ayo." Mas Adam menuntun motorku masuk, sementara aku membawa tas.
Pria itu memarkirkan motor digarasi disamping rumah, dimana sebuah motor sudah berada disana. Mas Adam kemudian mengambil alih tas ditanganku dan berjalan lebih dulu, merogoh kunci disaku dan memasukannya kelubang pintu. Dibukanya kedua daun pintu itu, kamipun masuk kedalam rumah yang bisa dibilang cukup luas.
Aku terkagum-kagum saat melihat betapa rapinya rumah yang akan kutinggali ini, semua benda terdiam rapi ditempatnya masing-masing. Padahal sebelumnya aku sudah membayangkan akan melihat kekacauan dari rumah seorang pria yang tinggal sendiri.
"Dimana orang tua Mas?" tanyaku saat Mas Adam meletakan tas diatas sofa ruang tamu.
"Mereka sudah meninggal."
Aku tertegun, menatap Mas Adam yang tersenyum dengan rasa bersalah.
"Maaf."
"Tidak papa, kita baru memulainya, wajar jika kamu tidak tahu."
"Berapa lama kita sampai disini?" tanyaku yang benar-benar terlelap dalam perjalanan, dan belum sempat mengecek ponsel.
"Sekitar 3 sampai 4 jam."
"Cukup jauh, lalu bagaimana bisa Mas sampai ditempat tinggalku?" Tentu aku merasa curiga, Mas Adam bisa berada didesaku padahal tempat tinggalnya jauh dari sana.
"Yang jelas, bukan sebuah kebetulan."
Aku mencebik kesal. "Sekarang Mas mengakui kalau Mas orang suruhan Mira!"
"Saya tidak mengatakannya."
"Lalu apa maksud Mas bukan sebuah kebetulan?" Dia bicara tak jelas, tentu saja aku tak mengerti maksud perkataannya yang berputar-putar.
__ADS_1
Dia tersenyum lagi. "Belum waktunya kamu tau."
Bersambung.