
Aku terbangun saat mobil yang kami naiki sudah berhenti di pelataran rumah. Sang sopir yang berada didepan entah ada dimana, membuatku yakin jika mobil sudah berhenti cukup lama.
Aku kembali duduk dengan tegap, menatap Mas Adam yang tersenyum padaku.
"Kenapa tidak membangunkanku, Mas?."
"Kamu butuh banyak istirahat, jadi Mas tidak bisa mengganggu saat kamu tertidur."
Dia keluar dari mobil lebih dulu, kemudian berlari kecil menuju pintu disisiku. Dengan penuh perhatian, Mas Adam menuntunku keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah.
Setelah kami masuk, mobil yang mengantarkan kami pergi begitu saja. Membuatku berpikir jika itu adalah mobil taksi online, yah meskipun terlihat terlalu mewah untuk taksi online.
Mas Adam menuntunku untuk duduk disofa ruang tengah.
"Kamu butuh sesuatu?." tanyanya, duduk bersimpuh didepanku.
Aku menggeleng. "Tidak!."
"Baiklah, tapi katakan jika kamu butuh sesuatu."
"Iya." balasku. "Boleh aku bertanya?." tanyaku kemudian.
Dia tampak ragu, kemudian mengangguk pelan.
"Apa kita sekarang aman, maksudku Mas mengatakan jika musuh Mas begitu banyak. Tapi, apa yang semalam menculikku_"
"Kamu tidak perlu memikirkan mereka, pikirkan saja jika materi-materi untuk kamu masuk kuliah. Pikirkan jika kamu ingin mengejar mimpimu untuk membanggakan ibu. Belajar dengan giat dan jadilah seorang koki yang handal. Selain itu, jangan pikirkan hal lain." Dia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya, menatapku lekat.
Disaat seperti ini, dia bahkan masih mengingat keinginanku, sungguh aku merasa beruntung menjadi istrinya, terlepas dari apapun yang orang-orang bicarakan.
"Iya." Aku mengangguk cepat, mendengar ucapannya membuatku kembali semangat teringat impianku membanggakan ibu.
Kuusap tangannya pelan, hingga melihat sebuah bekas luka dipunggung tangan kirinya. Luka ini terlihat tak asing, aku merasa pernah melihatnya pada seseorang.
"Kamu ingin tau luka apa ini?." tanpa kuduga Mas Adam menanyakannya, merasa jika dia bersiap mengatakannya dengan jujur aku mengangguk.
"Kamu ingat saat kamu mengunjungi putri bosmu dirumah sakit?."
Aku mengernyit bingung mendengar pertanyaannya yang tak nyambung, tapi berusaha mengingat kejadian yang Mas Adam maksud.
"Apa maksud Mas, saat aku menengok Vania anaknya Bu Jum?." tanyaku yang mengingat hari itu, dimana aku menjenguk Vania yang merupakan adik Huda.
Tanpa kuduga Mas Adam mengangguk, tapi tunggu! Kenapa Mas Adam bisa tahu kejadian itu, sementara saat itu kami bahkan belum bertemu dan menikah?.
__ADS_1
"Kenapa Mas bisa tahu kejadian itu? Dan kenapa Mas tahu tentang mereka?."
"Karena yang menabrak jalanmu sampai parcel yang kamu bawa berjatuhan adalah Mas."
"Apa?." Aku menatapnya terkejut.
"Benar, dan luka ini adalah luka yang sama yang kamu lihat hari itu."
Aku hampir tak percaya mendengarnya, jawabannya sungguh tak terduga. Ternyata pria dengan pakaian serba hitam itu adalah suamiku saat ini.
"Lalu darimana Mas mendapatkan luka ini?." tanyaku.
"Mas adalah orang yang menolong Vania, anak bosmu. Sekaligus orang yang sudah_"
"Membunuh si pelaku dengan dua tembakan didada!." tebakku cepat, mengingat berita yang kutonton saat menjenguk Vania dirumah sakit.
Mas Adam mengangguk.
Aku membekap mulut tak percaya, rasanya tak ingin mengetahui fakta yang baru saja kudengar. Pria yang menjadi buronan di tv, kini tengah berada dihadapanku.
Spontan aku berdiri, menjauh dan membuat jarak dengan Mas Adam yang masih duduk bersimpuh ditempatnya.
Jujur, kini tiba-tiba aku merasa ketakutan melihatnya, saat mengingat bagaimana pelaku itu terbunuh. Aku sudah melihat korban suamiku, meski tidak secara langsung. Namun, semua ini jelas sudah menegaskan padaku jika Mas Adam benar-benar seorang pembunuh seperti yang orang-orang katakan.
Mas Adam tersenyum tipis, kemudian berdiri. Dengan cepat aku melangkah mundur semakin jauh darinya, saking takutnya aku bisa merasakan tubuhku gemetar.
Terlebih, setelah melihatnya yang bisa bersikap begitu tenang setelah membunuh orang lain. Mungkinkah pelaku itu bukan yang pertama? Melainkan satu diantara korban-korban Mas Adam.
Memikirkannya membuatku semakin merasa takut.
"Maaf karena membuatmu ketakutan, tapi percayalah jika Mas tidak akan menyakitimu."
Hatiku mempercayai ucapannya, tapi akal sehatku memaksaku untuk waspada terhadapnya. Bagaimanapun aku tidak bisa menebak apa yang berada dalam pikirannya, apalagi mungkin dibalik pakaiannya ada banyak senjata yang tersembunyi.
"Masuklah kedalam kamar, Mas akan memasak untuk sarapan kita berdua."
"Tidak!." ucapku spontan. "Tolong, jangan dekati aku saat ini." Cepat aku berlari masuk kedalam kamar, menutup pintu dan menguncinya.
Maaf Mas, untuk saat ini aku masih merasa begitu shok.
..........
Setelah Dzuhur aku keluar dari kamar, rumah terasa begitu sunyi dan sepi, entah dimana Mas Adam saat ini. Aku melangkah menuju dapur, perut terasa lapar karena sejak pagi pulang dari rumah sakit belum juga makan.
__ADS_1
Jika bukan karena takut melihat Mas Adam, mungkin aku tak akan menolak tawarannya untuk memasak makanan untukku.
Kubuka lemari dapur, tanpa kuduga sebuah kotak makanan berada disana, dengan kertas berisi tulisan yang menempel.
"Mas harus berangkat bekerja, jadi Mas hanya bisa memesan makanan untukmu." Tulisan itu diakhiri emoticon senyum.
Sebenarnya aku merasa bersalah karena terlalu waspada terhadapnya, tapi mau bagaimana lagi, aku memang takut berada didekatnya.
Tak bisa mengabaikan kotak makanan dengan baik harum yang menggugah selera, kuambil kotak itu yang ternyata berisi ayam kecap lengkap dengan nasi dan sambal. Tanpa menunggu lama, langsung kupindahkan makanan kedalam piring dan melahapnya dengan cepat. Hanya dalam beberapa menit, makanan sudah berpindah kedalam perut.
Aku kembali kekamar untuk memeriksa ponsel, siapa tahu Mas Adam mengirimiku sebuah pesan. Namun, bukannya Mas Adam justru Huda yang sempat menelpon beberapa menit lalu. Dia juga mengirimkan pesan.
[ Sudah beli perlengkapan kuliahnya? Maaf aku agak cerewet, tapi siapa tahu kamu lupa?.]
Membaca pesannya membuatku ingat jika aku sama sekali belum membeli perlengkapan yang dia sebutkan. Apa aku beli saja sekarang? Karena untuk meminta pada Mas Adam disaat sekarang rasanya canggung, terlebih secara terang-terangan aku menunjukkan ketakutanku padanya.
Tapi, Mas Adam sudah mengatakan padaku jika aku tak boleh pergi tanpa sepengetahuannya. Apalagi, mungkin setelah kejadian kemarin, banyak dari musuhnya yang mengetahui tentang aku. Dan jelas itu akan berbahaya. Aku tak ingin mengambil resiko, yang akan membuat Mas Adam kesulitan.
Atau ... aku pesan saja secara online? Yah! Sepertinya itu pilihan yang paling tepat.
Baru ingin membuka aplikasi pesan online, bel rumah berbunyi. Biasanya Mas Adam akan langsung masuk tanpa membunyikan bel, itu artinya bukan dia. Tapi siapa yang datang jam segini.
Berusaha menepiskan pikiran buruk, kuputuskan untuk keluar kamar dan mengintip lewat jendela. Dari pakaian dan sesuatu ditangannya, dia seperti seorang kurir.
"Permisi, paket!!!."
Ah aku memang terlalu berlebih-lebihan, mungkin saja Mas Adam memesan sesuatu, aku segera membuka pintu.
"Dengan Khansa Rumaisa." Kurir itu membaca nama yang tertera pada paket.
Aku mengangguk bingung, merasa tak memesan apapun.
"Silahkan paketnya Mba." Dia menyodorkan kotak paketnya.
"Eh tapi saya tidak memesan apapun." ucapku.
"Mungkin suaminya yang pesan, karena alamatnya benar disini." Dia membaca alamat pada paket, akupun melakukan hal yang sama. Benar, sesuai alamat.
Meskipun bingung akupun menerima paket itu, kurirpun pergi setelahnya.
Aku membuka kotak yang sebesar kotak sepatu ini, dan akupun terkejut saat melihat isinya.
Bersambung.
__ADS_1