
"Kalau Lo mau istri Lo selamat, datang kesini sekarang juga!."
Suara itu terdengar samar ditelinga, kupaksakan membuka mata yang masih terasa berat. Kepala terasa pusing, terlebih saat melihat ruangan tempatku berada begitu gelap. Meski terlihat lebih terang dengan cahaya bulan yang bersinar.
Aku berusaha bangun, hingga akhirnya aku menyadari jika kini aku tengah diikat diatas kursi dengan tangan dan kaki yang terikat, juga mulut yang dilakban.
Aku berada disebuah ruangan yang tak terlalu luas, namun dari cahaya bulan aku melihat jika ruangan ini terlihat seperti kamar yang sudah lama tak digunakan.
Ya Allah, sebenarnya dimana aku sekarang? Apakah aku diculik?. Tiba-tiba aku merasa ketakutan, memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Kenapa aku diculik? Apakah mereka akan membunuhku? Atau bahkan mereka akan mengambil organ tubuhku untuk dijual? Atau ... Aku akan dijadikan seorang pela*ur.
Ya Allah, tolonglah hambaMu ini.
Sungguh, aku merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Cih, jadi Lo gak percaya kalau istri Lo ada ditangan gue." Suara seorang laki-laki yang sama kembali terdengar. Dari suaranya aku yakin dia ada didepan ruangan tempatku berada saat ini.
Aku tidak yakin, tapi aku merasa jika pria itu tengah bicara dengan Mas Adam. Mencoba memancing Mas Adam ketempat ini menggunakan diriku.
Ya Allah, sepertinya keputusanku yang mengikuti Mas Adam tanpa persiapan adalah sebuah kebodohan. Kebodohan yang akan semakin menyulitkan suamiku itu.
"Ha Ha Ha! Baru percaya Lo sekarang?." Terdengar gelak tawa dari pria yang belum kuketahui bagaimana wajahnya itu, dari tawanya yang terdengar begitu puas, aku yakin dia sedang mengancam Mas Adam.
Tidak! Aku tidak bisa membiarkan Mas Adam berhasil diancam hanya karena kebodohanku. Semua ini adalah kesalahanku, jadi aku yang harus menanggungnya sendiri.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, seorang pria botak dengan tindik ditelinga melihatku dengan senyum mengerikan, diikuti oleh dua pria dibelakangnya yang penampilannya jelas seorang berandalan.
"Ha Ha Ha! Udah sadar Lo ternyata!." Dia kembali tergelak, disusul dua pria lainnya.
Pria botak itu mendekatiku, dan dengan kasarnya melepas lakban dimulutku. Emosi, aku langsung meludahi wajahnya.
PLAKK!
Aku hampir terhuyung dari kursi setelah mendapatkan tamparan yang begitu keras, pipi langsung terasa perih dan panas secara bersamaan.
"Berani Lo ludahin gue!." Pria botak itu melotot padaku.
Jujur, saat aku ini merasa ketakutan, namun aku tak akan memperlihatkannya atau pria ini akan semakin semena-mena padaku. Kutatap balik pria botak ini dengan tatapan tajam.
PLAKK!
__ADS_1
Tamparan kedua mendarat dipipi yang lain, membuatku merasa semakin pusing.
"Sekarang Lo malah pelototin gue!."
"Keluarkan saya dari sini!." Teriakku tepat didepan wajahnya.
"Hahaha, Lo pikir gue bodoh apa. Udah susah-susah gue dapetin Lo buat mancing si Adam, dan sekarang Lo minta dilepasin? Hahaha!."
Tawanya menggema keseluruh ruangan, dia lantas mencengkram daguku dengan satu tangan.
"Gue gak nyangka kalau Adam punya istri yang lumayan cantik, pantes aja dia jaga rumahnya dengan begitu ketat." Dia hampir menci*mku, sebelum aku membenturkan kepalaku pada kepalanya.
"Sialan Lo!."
PLAKK!
Tamparan yang ketiga kalinya, kali ini aku bukan hanya merasa pusing, pandanganku juga semakin buram.
"Dasar cewe sialan! Kalau bukan buat liat suami Lo mati didepan Lo, udah gue habisin Lo sekarang juga!." Teriak pria botak emosi.
"Sabar aja Bos, palingan si Adam bentar lagi nyampe. Kita siap-siap aja buat habisin dia pake cara yang paling menyakitkan." sahut seorang pria sembari merokok.
"Dan setelah habisin Adam, baru deh kita bisa ni**atin istrinya bareng-bareng!." sahut pria yang ketiga.
BRAK!
"KHANSA!."
Pintu yang tertutup terbuka kasar, samar aku melihat sosok yang kukenal tengah mengepalkan tangannya penuh amarah. Dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Aku hanya bisa tersenyum padanya karena kepala yang terasa semakin pusing, hingga perlahan semuanya gelap gulita.
..........
Perlahan cahaya samar masuk kedalam mata, kucoba membuka mata perlahan. Kusentuh kepala yang terasa pusing, sampai aku melihat sebuah infus ditangan kiriku.
Kulihat kesegala arah, kali ini aku bukan berada diruangan yang sama seperti sebelumnya, melainkan sebuah kamar serba putih yang kuyakini adalah ruang rawat rumah sakit.
Disampingku, Mas Adam tengah tertidur dengan posisi duduk, sementara kepalanya bersandar pada sisi brangkar. Sepertinya pergerakanku mengusik tidurnya, hingga kemudian dia terbangun.
Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca, sementara bibirnya tersenyum. Tunggu! Bibirnya berdarah.
"Bibirmu berdarah Mas? Apa Mas baik-baik saja?." kusentuh wajahnya, melihat apakah ada luka lain.
__ADS_1
Aku merasa khawatir. Aku tidak mengetahui apapun yang terjadi setelah aku pingsan, jadi aku khawatir jika Mas Adam sampai terluka. Terlebih lagi, lengan kirinya juga belum sembuh sempurna.
Mas Adam tak menjawab, dia justru meraih tanganku dengan kedua tangannya.
"Mas baik-baik saja, jangan khawatir."
Tidak! Aku yakin dia berbohong. Dia sama sekali tidak terlihat baik-baik saja.
"Jangan bohong Mas! Tangan Mas terluka, dan Mas melawan tiga orang atau bahkan lebih!."
"Maaf karena membuatmu terlibat dengan semua ini." Dia menatapku sendu, mengecup tanganku dengan lembut, lantas mengusap pipiku.
"Tamparlah Mas dengan keras, seperti saat kamu mendapatkan tamparan ini."
Aku menggeleng cepat merasa bersalah padanya, karena sebenarnya aku yang salah disini, bukan dia.
"Maaf karena mengikuti Mas begitu saja, aku tidak tahu kalau_"
"Bukan hanya langit, bahkan saat malam dunia Mas juga begitu gelap. Ada banyak musuh dimana-mana, yang mengincar nyawa Mas bahkan mungkin juga kamu. Jadi mulai sekarang jangan pergi tanpa sepengetahuan Mas!."
Aku tak berani membantah, aku mengangguk pelan. "Kapan Mas akan keluar dari dunia gelap ini?." tanyaku.
Dia melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, tatapannya berubah kosong.
"Mas akan memanggil dokter untuk memeriksamu." Dia beranjak, dengan cepat aku mencekal tangannya.
"Jangan alihkan pembicaraan Mas, sudah sejauh ini, apakah Mas tidak ada keinginan untuk keluar dari dunia gelap ini?."
Dia melepaskan cekalan tanganku, kemudian keluar begitu saja. Tidakkah kamu merasa jika duniamu adalah dunia yang menyiksa, Mas?.
Beberapa saat kemudian seorang dokter dan perawat masuk, mereka langsung memeriksaku dan menanyakan perasaanku. Setelah memastikan jika kondisiku membaik, aku diizinkan pulang.
Mas Adam masuk setelah dokter dan perawat pergi, membawa kursi roda dan membantuku duduk disana. Kami masuk kedalam sebuah mobil hitam yang mewah, dengan seorang sopir yang siap dibalik kemudi.
"Ini mobil siapa Mas?." bisikku saat mobil mulai melaju.
Mas Adam hanya tersenyum sebagai jawaban, lantas menyandarkan kepalaku kebahunya. Tak ingin berpikir lebih banyak, kuputuskan memejamkan mata untuk sejenak.
Bersambung.
......Yuk kasih kritik dan saran kalian, siapa tahu ada typo atau plot yang menurut kalian kurang masuk akal. Beneran deh, author berharap banget krisan dari kalian. Jangan lupa kasih komen juga ya, biar author semangat update 😉.......
__ADS_1
...^^^Love you readers♥️♥️♥️^^^...