
Aku terkejut saat melihat banyaknya makanan yang terhidang diatas meja meja makan, ada sayur sup, tumis kangkung, telur dadar dan juga ayam goreng. Semua makanan itu begitu harum, hingga berhasil membuatku kelaparan.
Aku melihat kearah dapur, dimana Mas Adam tengah mencuci sisa peralatan memasak. Segera kuhampiri dia, kemudian membantunya yang sudah membuat makan malam. Jujur, aku merasa bersalah karena mengabaikan tugasku sebagai seorang istri memasak untuknya.
"Maaf" ucapku saat kami selesai mencuci peralatan masak.
Dia mengelap tangannya dengan sapu tangan, kemudian mengelap tanganku.
"Kenapa minta maaf?" tanyanya dengan nada lembut seperti biasa, meletakan lap pada tempatnya.
"Karena aku tidak membuat makan malam, padahal itu tugasku sebagai seorang istri."
Mas Adam langsung menatapku tanpa mengatakan apapun, membuatku tak bisa membaca isi pikirannya.
"Bukannya Mas sudah bilang, diluar ataupun dirumah, anggaplah Mas sebagai kakak sepupumu. Jadi, jangan terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga. Entah itu memasak ataupun beres-beres rumah."
Dia mengatakannya dengan lembut dan penuh senyuman, tapi kalimatnya berhasil membuat hatiku merasa sakit.
"Jika kamu tidak masak, maka Mas bisa masak atau pesan online. Dan jika kamu tidak beres-beres rumah, Mas bisa melakukannya selagi senggang atau menelpon jasa bersih-bersih. Jadi, jangan merasa bersalah dan meminta maaf."
Dia tersenyum, kemudian melangkah ke ruang makan. Disini, aku berdiri tak bergeming. Merasa jika Mas Adam sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama denganku.
Bukan hanya penuh kelembutan, dia bahkan bicara dengan begitu tenang, seolah apa yang dia katakan bukanlah sesuatu yang bisa menyakiti hatiku.
..........
"Mas akan pergi lagi?" tanyaku menahan tangannya, saat Mas Adam bersiap keluar, setelah mengantarkanku kedalam kamar.
Jujur kini aku merasa khawatir jika mas Adam keluar sendirian, aku takut dia ditangkap polisi. Mengingat paket misterius itu membuatku meyakini, siapapun orang yang sudah mengirimkannya pasti mengawasi Mas Adam diam-diam.
"Maaf." Dia menatapku, dengan wajah bersalah.
"Bisa temani aku tidur?." Mas Adam tampak terkejut. "Malam ini saja, entah kenapa tiba-tiba aku merasa takut untuk tidur sendiri."
Bukan alasan, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Semenjak aku diculik, aku takut jika musuh-musuh Mas Adam yang lain akan mencoba melakukan hal-hal serupa.
"Jangan khawatir, Mas sudah memperkuat penjagaan di sekitarmu."
"Apa?." Aku terkejut. Sejak kapan? Dan kenapa aku tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Sebenarnya Mas sudah membuat penjagaan di sekitarmu setelah kita menikah, tapi semenjak kejadian kemarin Mas memperkuatnya menjadi dua kali lipat."
Apa yang Mas Adam lakukan, sudah cukup menjelaskan jika nyawaku tengah menjadi incaran musuh-musuhnya. Aku semakin ketakutan.
"Tapi aku ingin bersama Mas, bersama suamiku."
Mas Adam menatapku dengan diam, seolah menolak jika aku menyebutnya suami.
"Diluar aku mungkin bisa berpura-pura jika Mas hanya kakak sepupuku. Tapi dirumah, dan pada kenyataannya Mas adalah suamiku" ucapku.
"Khansa_"
"Apa sama sekali tidak bisa, hanya semalam saja?" tanyaku memelas.
Pada akhirnya, Mas Adam mengangguk setuju lantas duduk disisiku diatas tempat tidur.
"Sekarang tidurlah."
Aku mengangguk, kemudian berbaring dan menggenggam tangan Mas Adam untuk menghilangkan rasa takutku.
"Jangan pergi kemanapun, setidaknya sampai aku benar-benar tertidur nyenyak" ucapku kemudian menutup mata dengan masih menggenggam tangan Mas Adam.
BRAKK!
Aku terkejut saat mendengar pintu utama terbuka kasar. Apakah ada maling? Atu itu musuh Mas Adam yang ingin membunuhku? Tapi bukankah Mas Adam sudah memperkuat penjagaan?.
Didorong rasa penasaran, aku membuka pintu sedikit dan mengintip keluar, tak ada siapa-siapa. Tapi aku tetap waspada, sembari mencari-cari kesekeliling kamar, apakah ada senjata yang bisa aku gunakan.
Aku tak ingin menerima fakta jika Mas Adam adalah pembunuh, tapi mengetahui itu membuatku yakin jika dia menyimpan senjata ditempat tersembunyi.
Aku terus mencari dibawah kasur, didalam lemari sampai kekolong lemari.
"Dapat." Aku bernafas lega mendapat sebuah pistol dalam laci tersembunyi didalam lemari.
Namun, tiba-tiba aku merasa kecewa, kenapa aku harus menemukan senjata yang memaksaku menerima kenyataan tentang siapa suamiku.
Aku keluar saat kembali mendengar langkah kaki, yang anehnya aku merasa mendengar lebih dari dua langkah kaki, yang artinya ada lebih dari satu orang yang masuk.
Langkah-langkah itu terdengar masuk kedalam kamar Mas Adam, dengan cepat aku keluar saat tiba-tiba suasana menjadi hening. Dengan pistol ditangan, aku melangkah pelan kearah kamar Mas Adam, bersiap menodongkan pistol pada siapa saja yang berada didepanku.
__ADS_1
BRAKK!
Kubuka pintu dengan kasar dan langsung menodongkan pistol ditanganku dengan gemetar, namun aku terkejut saat melihat apa yang tengah terjadi didepanku. Mas Adam, dengan sebuah darah segar diperut kiri yang membanjiri kaos putihnya, tengah terbaring diatas ranjang, dengan dikelilingi oleh 3 orang yang tak kukenal sama sekali.
Dua orang laki-laki, dan satu orang perempuan dan semuanya seumuran Mas Adam, sekitar 30 tahun lebih. Mereka mengenakan pakaian yang sama dengan Mas Adam, jaket dengan kaos putih didalamnya dan celana jeans hitam. Tatapan merekapun sama, menatapku seperti seekor mangsa yang akan diterkam kapan saja.
Tubuhku gemetar, hingga pistol ditangan terjatuh begitu saja. Hingga akhirnya tatapanku tertuju pada Mas Adam, yang tampak tersenyum padaku sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa sampai terluka separah ini?.
"Mas..."
"Maaf, tapi sebaiknya Anda keluar sekarang juga." ucap seorang pria berkumis tipis dengan sinis, dia menatapku tajam.
"JHON!." Satu-satunya wanita diantara mereka membentak pria yang baru saja bicara padaku, kemudian menatapku dengan senyuman manis.
Rambut panjangnya tergerai sempurna, alisnya tebal dan matanya lebar dengan bibir yang tipis. Sebagai wanita, aku merasa iri dengan kecantikannya.
"Tolong maafkan rekan saya Nona." Dia bicara dengan ramah. "Nona, tolong keluar dulu sebentar. Ada hal yang harus kami lakukan."
Mendengarnya membuat perhatianku kembali teralihkan pada Mas Adam. Aku langsung panik saat melihat kembali darah dikaos yang Mas Adam kenakan.
"MAS!!!."
Satu pria yang dipanggil Jhon dan juga pria yang satunya menghalangi jalanku yang berniat mendekat pada Mas Adam.
"Maaf Nona, sebaiknya Anda kembali kekamar Anda."
Wanita ini membawaku keluar dari kamar, kemudian kembali masuk.
"Wanita itu benar-benar merepotkan." Suara pria bernama Jhon terdengar menggerutu.
"Jaga bicaramu Jhon, dia istri Tuan Adam!" ucap Wanita tadi.
"Jika bukan karena markas kita dalam kepungan, aku tak akan membawa Tuan Adam kesini!" ucap pria bernama Jhon lagi.
"Diam dan lakukan saja tugasmu." Suara pria yang terdengar asing, mungkin ini suara pria yang kedua.
Setelahnya semuanya terdengar hening, membuatku semakin cemas memikirkan keadaan Mas Adam. Semoga mereka bisa menyelamatkan Mas Adam.
__ADS_1
Bersambung.