
"Apa maksud kamu?" cecarku semakin penasaran.
"Saya akan membantu kamu membuktikan pada ibumu, jika kamu juga bisa membanggakannya."
Aku tertegun mendengar jawabannya, kenapa dia bicara seolah-olah tahu bagaimana perlakuan ibu padaku selama ini? Jelas-jelas dia hanyalah orang asing yang bahkan tak pernah kutemui. Tapi dia bahkan tahu isi hatiku saat ibu membandingkanku dengan Mas Rian dan Mira.
"Apa yang kamu katakan?" tanyaku menyelidik.
"Pertama, panggil saya Mas! Karena saya lebih tua darimu dan saya adalah suamimu!" Titahnya tak menghiraukan pertanyaanku.
"Jawab dulu pertanyaanku! Apa maksudmu ingin menikah denganku, dan apa maksudmu ingin membantuku?" desakku tak mau kalah, aku yakin dia hanya sedang mengalihkan pembicaraan.
Adam hanya tersenyum simpul, dan dengan santainya melangkah melewatiku kemudian langsung berbaring ditempat tidur.
"Jadi, apa kita akan tidur seranjang?"
Aku membelalak kesal menatapnya yang tengah menyangga kepalanya dengan satu tangan sembari tersenyum menjengkelkan. Dengan cepat aku menarik tangannya yang lain hingga dia duduk.
"Siapa bilang kamu bisa tidur disini?"
"Mas..." Ralatnya.
"Ok. Siapa bilang Mas bisa tidur disini?" tanyaku kembali dengan panggilan yang berbeda. Memanggil nama suami yang lebih tua memang kurang etis, terdengar aneh.
Dia berdiri, kemudian langsung duduk disofa panjang yang ada.
"Baiklah, saya akan tidur disini." Dia melepas kaos kakinya, kemudian membaringkan tubuhnya diatas sofa yang panjangnya hanya setengah badannya.
Aku berusaha tak peduli, meskipun tau jika dia bisa pegal karena tidur disofa. Memilih masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Aku baru keluar dari kamar mandi, saat kulihat Mas Adam sudah terpejam disofa. Apa dia benar-benar sudah tidur, atau baru mulai memejamkan mata?.
Tak ingin menahan rasa penasaran, kudekati dia perlahan. Menunduk dan mengibaskan tangan didepan wajahnya. Dia tidak bereaksi, rupanya Mas Adam memang sudah terlelap.
"Cepat sekali" gumamku dan berbalik, tanpa kuduga Mas Adam menarik tanganku hingga tubuh ini jatuh dipangkuannya.
Aku berniat marah, saat tatapan matanya yang begitu teduh membuatku melupakan rasa kesalku. Tatapan lekat dari bola mata berwarna hitam itu seakan mengunciku, terlebih saat bibir tipisnya menyunggingkan senyuman manis.
__ADS_1
Tunggu! Bagaimana bisa aku berpikir seperti ini?. Tersadar, aku langsung bangun dan mengusap pakaianku.
"Wangi tubuh saya akan tertinggal dipakaianmu, jadi kamu pasti akan mimpi indah" ucapnya masih tersenyum.
Aku menghentakkan kaki kasar, naik ketempat tidur dan langsung menutup seluruh tubuh dengan selimut, berbaring membelakanginya, malu.
Sebuah kekehan pelan terdengar, aku membuka selimut dan menatapnya kesal.
"Jangan tertawa!" sentakku dan kembali menutup tubuh dengan selimut.
Bisa-bisanya dia tertawa begitu ringan setelah membuatku merasa malu, menyebalkan. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu, dan langsung bangun duduk menatapnya yang ternyata sedang menatapku sembari duduk disofa.
"Kenapa tadi Mas bilang akan membawaku pindah hari ini juga? Mas pikir aku mau ikut Mas?."
"Karena kamu sudah menjadi istri saya."
Kalimatnya singkat, tapi membuatku mengerti arti perkataannya, jika istri harus menuruti suami. Tapi, apakah aku benar-benar harus pergi dari rumah ini untuk ikut dengannya?. Meski pernah berpikir pergi dari rumah ini karena menikah, tentu saja bukan pernikahan seperti ini yang aku maksud.
Sepertinya pemikiranku kurang lengkap sehingga Allah mengabulkannya begitu saja. Harusnya aku berpikir keluar dari rumah ini untuk menikah dengan pria yang sangat mencintaiku, bukan pria yang asing. Mungkin akan berbeda keadaannya sekarang, mungkin.
"Tapi aku tidak ingin jauh dari Ibu." ucapku apa adanya.
"Iya, tapi sebelumnya aku berniat kembali. Tapi pergi setelah menikah, sepertinya tidak ada kesempatan untukku kembali kesini."
Selesai mengatakannya, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
"Bagaimana Mas bisa tahu kalau aku sudah berniat pergi?."
Pria ini benar-benar misterius, jelas kami baru pertama kali bertemu, dengan catatan jika dia memang bukan orang suruhan Mira. Tapi, kenapa dia seolah tau semua kehidupanku.
Pertama, dia mengatakan jika memang ingin menikah denganku, padahal kami jelas-jelas hanya orang asing. Jangankan rasa cinta, bahkan namanya saja baru kuketahui hari ini.
Kedua, dia mengatakan akan membantuku membuat ibu bangga. Yah, itu memang keinginan terbesarku, namun aku merasa tak pernah mengutarakannya kepada siapapun, apalagi dia.
Dan ketiga, dia tahu kalau sebelum ini aku sudah berniat pergi dari rumah ini. Bukankah mengetahui semua tentangku adalah hal yang aneh.
Tiba-tiba, ingatanku tertuju pada ucapan ibu tempo hari, jika ada pria yang mengikutiku. Atau jangan-jangan, mas Adam adalah orangnya.
__ADS_1
"Apa Mas adalah pria yang selalu mengikutiku?." tanyaku, raut terkejut terlihat dari matanya yang melebar beberapa detik.
"Apa maksud kamu?." Dia menautkan kedua alis tebalnya.
"Kata ibu, ada pria yang selalu mengikutiku. Aku tidak tau dan tidak terlalu peduli tentang itu. Tapi, Mas mengetahui semua tentangku, bukankah wajar jika aku curiga Mas adalah pria yang Ibu maksud?."
Dia terdiam beberapa saat, dan detik berikutnya terkekeh pelan.
"Tentu saja bukan, memangnya untuk apa saya mengikuti kamu."
"Benar, itulah yang membuatku bingung. Kenapa Mas mengatakan ingin menikah denganku padahal kita baru bertemu, lalu kenapa Mas tahu jika aku ingin membuat ibu bangga. Dan barusan, Mas tahu kalau aku sudah berniat pergi dari rumah ini. Darimana Mas mengetahui semua itu?."
Lagi-lagi dia diam, seakan memikirkan sesuatu. "Besok kita akan pergi pagi-pagi, jadi sebaiknya kita tidur lebih cepat agar besok bisa bangun lebih awal." ucapnya dan langsung membaringkan tubuhnya disofa dengan posisi membelakangiku.
"Tapi aku belum bilang jika aku setuju untuk pergi." ucapku, namun dia hanya diam tak merespon. Menyebalkan.
Aku hanya bisa merasa bingung, pria ini benar-benar misterius. Kenapa dia tak mau menjawab pertanyaanku, dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
...🍁...
"Aaakhh!!!."
Aku terkejut bukan main saat kulihat seorang pria yang baru saja masuk kedalam kamar. Pria dengan handuk yang melilit di pinggangnya itu terlihat kebingungan.
Aku yang baru saja terbangun dari tidur langsung kembali menutup diri dengan selimut, hingga akhirnya ingatanku tentang pernikahan dadakan semalam akhirnya muncul. Dan pria yang baru saja kulihat, tentu saja adalah Mas Adam.
Aku membuka selimut sebatas bahu, dan melihat jika Mas Adam yang tengah memakai baju Koko yang ia pakai semalaman.
Aku memalingkan wajah dan menutup diri dengan selimut saat gerakan tangannya yang menurunkan handuk, hingga beberapa saat aku merasa jika dia sudah selesai berganti baju.
"Kenapa Mas pakai pakaian itu lagi?." tanyaku saat melihatnya yang sudah berpakaian lengkap.
"Karena saya tidak memiliki baju disini."
Ah benar juga.
"Mau sholat berjamaah?." tanyanya yang sudah siap berdiri diatas sajadah.
__ADS_1
Aku menggeleng. "Mas duluan saja." Tentu saja, aku masih merasa malu jika sholat berjamaah dengannya, suamiku.
Bersambung.