
"Lalu kapan urusan Mas selesai? Kita akan tinggal kembali kekampungku sampai urusanmu selesai, itu yang Mas katakan."
"Entahlah." Mas Adam mengedikkan kedua bahunya.
"Entahlah?" Aku menatapnya kesal. Sebelumnya dia seolah-olah tahu kapan akan membawaku kembali kedesaku, tapi ternyata dia bahkan tak tahu kapan urusannya akan selesai.
"Tenang saja, saya pastikan tak akan lama." Dia mengusap kepalaku lembut, membuat jantung ini tiba-tiba berdebar dengan kencang.
"Duduklah." Mas Adam mendudukanku disofa, sementara dia pergi keruangan yang terlihat seperti dapur.
Tak lama kemudian, dia membawakan satu gelas air putih, sebuah termos dan juga juga satu cup mie instan yang belum dibuka.
"Warung makan yang berada di perempatan jalan tadi saya lihat sedang tutup, sementara itu warung terdekat disini. Hanya ada mie ini yang bisa dimakan sekarang, jadi kamu makan ini dulu untuk makan siang. Saya akan belanja nanti." Dia berucap dengan kikuk, sembari membuka cup mie, membuatku spontan tersenyum. Kenapa dia tampak sungkan padaku yang sedari tadi dia buat kesal?.
Kruk Kruk
Aku berusaha menahan senyum saat mendengar suara perutnya. Dia lapar, tapi justru kebingungan memberikanku makanan.
"Ada bahan makanan?" tanganku mencegahnya yang bersiap menuang air panas diatas mie, dia mengangguk.
Tanpa meminta persetujuan, aku masuk kedalam dapur yang akan menjadi tempat masakku beberapa waktu kedepan.
Membuka lemari atas, terdapat berbagai jenis makanan instan. Aku menggeleng, dia hidup diperumahan tapi makanannya seperti anak kos saja. Membuka kulkas, ada satu buah kol, seledri, satu potong dada ayam dan juga beberapa butir telur.
Aku menatap Mas Adam yang berdiri dibelakangku.
"Ada beras?."
"Sepertinya ada." Dia membuka ember sedang dibawah kolong, terlihat beras yang mungkin hanya tersisa kurang dari satu liter.
Aku menyalakan kompor, memastikan jika masih ada gas untuk memasak.
"Mandilah dulu, aku akan memasak."
Mas Adam pergi tanpa bicara, sementara aku memulai masak dengan menanak nasi dikompor. Karena jika menggunakan rice cooker akan memakan waktu lama.
.........
Beberapa menit berlalu, masakan telah siap diatas meja saat Mas Adam datang dengan wajah yang lebih segar. Ada sup ayam dan juga telur dadar. Setidaknya meski hanya dua menu, dia tidak perlu makan makanan instan saat sudah memiliki istri.
"Wah, sepertinya enak." Mas Adam duduk, kemudian memintaku untuk duduk juga.
__ADS_1
Aku langsung mengambilkannya makanan, meski tidak diajarkan oleh ibu karena kepergian ayah yang begitu cepat, aku sering melihat kajian di TV yang sering ibu tonton. Mengambilkan makanan untuk suami adalah termasuk ibadah.
"Terima kasih."
Kami menikmati makanan tanpa bersuara, hingga beberapa saat kemudian perut yang semula lapar kini menjadi kenyang.
"Maaf, karena makanan pertama kamu sebagai istri saya hanya ini" ucapnya yang entah kenapa membuatku terharu.
"Asalkan makanan ini berasal dari yang halal, menu apa saja bukanlah masalah," balasku sungguh-sungguh.
"Insyaallah, makanan ini halal."
.........
Setelah menikmati makan siang, Mas Adam menunjukkan kamar bernuansa abu muda dengan sebuah lemari.
"Ini lemari pakaian kamu." ucapnya.
"Baiklah." Aku mulai menata pakaianku kedalam lemari.
"Mau saya bantu?." tawarnya, aku menggeleng.
Meski aku sadar, kalimat yang kutanyakan sudah cukup membuatnya sebagai suami tersinggung.
"Ada, tapi cukup kotor. Saya akan membersihkannya setelah ini. Kamu sholat dan istirahat saja." Dia menjawab sembari mengambil sebuah sebuah selimut dari lemari, meletakannya diatas tempat tidur.
"Biar aku yang bersihkan, tunjukan saja dimana kamarnya." ucapku.
"Tidak perlu, lagipula kamar ini yang akan menjadi kamar kamu. Dan kamar itu akan menjadi kamar saya, jadi saya akan membersihkannya sendiri."
"Kalau begitu aku saja yang pindah kekamar itu, Mas kamar ini saja." Tentu saja aku merasa sungkan jika mengalahkan pemilik kamar, jadi lebih baik aku yang pindah dan mengambil kembali pakaianku yang sudah tertata rapi dalam lemari.
"Kalau begitu kita bersihkan sama-sama."
"Tidak perlu."
"Ayo." Ajakku tak menghiraukan ucapannya.
Mas Adam tersenyum. "Baiklah, Ayo!"
Dia keluar dari kamar, sementara aku mengikutinya menuju sebuah kamar yang berada tepat disamping kamar tadi.
__ADS_1
Dia membuka pintu, hingga debu-debu yang beterbangan menjadi sambutan pertama yang kami terima sehingga kami langsung terbatuk. Disusul dengan terlihatnya jaring laba-laba yang berada dibeberapa sudut. Tak lupa juga dengan kecoa dan jenis binatang lainnya.
"Kamar ini jarang sekali saya bersihkan, jadi ya seperti ini. Apa kamu yakin mau ikut membersihkannya?."
"Kenapa tidak?."
Dia tersenyum, kemudian pergi entah kemana, dan kembali dengan membawa masker untukku juga dirinya sendiri, tak lupa beberapa alat kebersihan. Tanpa menungguku, dia mulai menyapu lantai dengan debu yang begitu tebal, aku lekas membantunya dengan menyingkirkan jaring laba-laba.
"Debunya sangat tebal." ucap Mas Adam
Aku menoleh pada Mas Adam yang berdiri sembari memegang sapu, tanpa kuduga dia mengoleskan debu ditangannya tepat dipipiku.
Sejenak dia terdiam, tampak merasa bersalah. Mungkin, dia mengira aku akan marah.
"Maaf" ucapnya pelan, yang membuatku tersenyum dalam hati, kemudian membalas perbuatannya dengan cara yang sama, dia terdiam terkejut.
"Sekarang kita impas." Ucapanku seakan menyadarkannya dari lamunan, membuat mata kami saling beradu. Detik berikutnya, kami lantas kompak tertawa pelan.
Kami membersihkan kamar sembari bercanda tawa, sesekali saling menjahili hingga kembali tertawa bersama. Aku tak pernah mengira akan semudah ini dekat dengannya yang sebelumnya hanya orang asing. Tak kusangka Mas Adam adalah sosok pria yang asik.
1 jam kemudian kamar yang semula kotor dan penuh dengan debu sudah bersih, beberapa jenis binatang yang sebelumnya menghuni kamar inipun telah diusir oleh Mas Adam.
"Maaf membuatmu kelelahan." ucapnya saat kami duduk bersama disisi tempat tidur. Dia kembali minta maaf untuk sesuatu yang sama sekali bukan salahnya.
Sikapnya itu membuatku merasa ucapannya yang ingin menikah denganku bukanlah bualan semata, dia mengatakan yang sebenarnya. Tapi, bagaimana bisa dia ingin menikah denganku? Entahlah.
"Jangan minta maaf untuk sesuatu yang bukan salahmu, Mas" ucapku membersihkan sisa debu yang menempel ditangan.
"Aku akan membuatmu bahagia dalam pernikahan yang diawali dengan terpaksa ini."
Aku menoleh, tepat menatap mata coklat yang kini juga menatapku. Aku tak biasa mengartikan ekspresi orang lain, tapi tatapan matanya seolah menunjukkan sebuah perasaan yang dalam disana. Mungkinkah dia mencintaiku? Dan kenapa dia mengatakan ingin menikah denganku adalah karena itu?.
Entahlah, aku tak ingin ambil pusing. Lebih baik ikuti saja alur hidup yang berjalan, suatu saat nanti aku pasti akan menemukan jawabannya, bukan?.
"Sekarang bebersihlah lebih dulu, kita akan sholat berjamaah."
Ucapannya kali ini membuatku tak memiliki kata untuk membalasnya, hanya sebuah anggukan disertai senyum yang kuberikan sebagai jawaban.
Dia baru saja mengingatkanku tentang sholat, semoga saja dia adalah seorang imam yang akan menuntunku kedalam surga. Aamiin.
Bersambung.
__ADS_1