Aku Putri Seorang Pelakor

Aku Putri Seorang Pelakor
Bab 16 : Sholat Pertama


__ADS_3

"Assalamualaikum Warahmatullaah."


Tepat setelah selesai melaksanakan sholat zhuhur, Mas Adam berbalik dan menatapku dengan senyuman teduh, kemudian menyodorkan tangan kanannya padaku. Aku sempat bingung, hingga akhirnya aku mengerti apa yang dia maksud. Aku sempat ragu, hingga akhirnya memantapkan hati untuk mengecup tangan suamiku itu.


"Boleh saya mencium keningmu?." tanyanya pelan, dan entah kenapa aku mengangguk begitu saja.


Dia meraih kepalaku dengan kedua tangannya, kemudian mengecup keningku seperti saat dia baru mengucapkan ijab qobul.


"Saya adalah imammu, tapi jika saya salah jalan, maka tolong kembalikan saya kejalan yang benar." ucapnya dengan raut wajah sendu.


Aku merasa bingung dengan ucapannya yang seakan menyimpan makna tersembunyi, hingga kalimat berikutnya membuatku paham.


"Ini sholat pertama saya setelah beberapa minggu, atau bulan. Sudah sangat lama saya menjauh dari-Nya, dan hari ini saya kembali melaksanakan perintahNya sebagai imam kamu." jelasnya tanpa kuminta.


Sebenarnya aku cukup terkejut mendengarnya, karena dari sikap dan cara bicaranya tak terlihat dia orang yang tak dekat denganNya. Dia juga melafalkan setiap bacaan sholat dengan tartil, tentu siapapun akan mengira dia seseorang yang rajin beribadah. Tak terkecuali aku, yang mengira demikian.


Jujur, aku cukup kecewa mengetahui karena perkiraanku sudah salah.


Tapi mungkin, Allah menjadikan ini sebagai salah satu tugasku sebagai istrinya, menuntunnya agar kembali istiqomah dalam melaksanakan tiang agama itu, walaupun aku sendiri bukan seorang hamba yang rajin beribadah.


Meski sebenarnya aku tak menyangka, dia akan mengakui hal yang tak kutanyakan sama sekali. Terlebih, apa yang dia katakan bukanlah hal yang baik. Tapi itu membuatku sadar, dia tipe orang yang jujur. Dan aku senang akan hal itu.


Tapi tunggu! Bukankah dia sempat sholat saat dirumah ibu?. Kenapa dia mengatakan ini sholat pertamanya?.


"Lalu dirumah ibu, saat Mas mengajakku sholat subuh berjamaah? Bukannya Mas sholat waktu itu?."


Dia memalingkan wajahnya. "Saya menangguhkannya setelah kamu keluar dari kamar."


"Astaghfirullah!." reflek aku beristighfar, menyadari ucapanku mungkin akan menyinggungnya aku langsung meminta maaf.


"Maaf."


"Tidak papa, sangat wajar jika kamu terkejut."


Aku tak menyangka, jika penolakanku untuk sholat bersamanya akan membuatnya menangguhkan niat untuk sholat. Apa aku berdosa karena itu?.


"Kamu tidak tahu apa-apa, jadi kamu tidak berdosa. Karena saya melakukannya dengan kesadaran saya sendiri."


Aku langsung menatapnya terkejut, ternyata dia bisa mengetahui isi hatiku. Apa jangan-jangan dia bisa membaca pikiran orang lain?.


"Saya tidak bisa membaca pikiran orang lain, saya hanya menebak kemungkinan besar hal apa yang kamu pikirkan." Dia tersenyum, tapi malah membuatku semakin terkejut.

__ADS_1


"Tolong jangan berekspektasi terlalu tinggi pada saya, karena saya memiliki keburukan yang tak bisa saya ceritakan padamu."


Ah rupanya dia memiliki rahasia dan tidak sejujur yang aku kira, aku menghela nafas. Toh memang ada beberapa hal yang tak bisa diceritakan pada siapapun, termasuk pasangan. Jadi aku tak bisa memintanya jujur tentang apa yang dia sembunyikan dariku, itu haknya.


"Setiap orang memiliki masa lalunya masing-masing, dan jika itu adalah sebuah aib, maka menyembunyikannya adalah sebuah keharusan. Asal Mas benar-benar mau berusaha untuk bertaubat, maka Dia akan memberi ampunan sebelum nyawa mencapai batas leher."


Aku tersenyum malu setelah mengatakan kalimat yang terdengar begitu religius, pasalnya aku sendiri tidak sebaik itu. Terlebih, sebagai seorang muslimah aku bahkan belum menutup kepalaku.


"Kalau begitu mari kita saling mengingatkan dalam beribadah." ucapnya yang langsung kuangguki dengan semangat.


Setelah sholat Zhuhur, kami lanjut membersihkan halaman luar rumah yang ditumbuhi rumput-rumput liar yang sudah cukup tinggi. Meskipun tidak menganggu kaki melangkah, tetap saja tidak enak dilihat.


"Eh Adam, sudah pulang?" Seorang pria paruh baya yang mengendarai motornya, menyapa suamiku itu.


"Iya Paman." Mas Adam menatapku sejenak, kemudian mendekati pria yang dia panggil paman itu. Mereka terlihat berbincang serius untuk beberapa menit, hingga pria paruh baya yang tak kukenal itu pergi.


"Dia siapa Mas?" tanyaku saat Mas Adam menghampiri.


"Dia paman saya, adiknya Ibu saya."


"Oh begitu, kenapa tadi Mas tidak mengenalkanku padanya, aku kan juga ingin mengenal keluargamu?"


"Eum... Dia sedang buru-buru."


"Oh ya, bahan makanankan sudah habis, tolong catat apa saja yang diperlukan, biar saya beli." Ucapannya membuatku teringat isi kulkas yang sudah kosong.


"Memangnya disini tidak ada tukang sayur keliling ya Mas?"


"Sebenarnya ada, tapi adanya pagi-pagi, inikan sudah siang."


Aku mengangguk mengerti, kami masuk kedalam rumah, setelah mencatat bahan masakan yang diperlukan, Mas Adam sudah siap diatas motor yang dia keluarkan dari garasi samping rumah.


"Istirahat saja sementara saya kepasar, biar bersih-bersihnya dilanjutkan saya nanti." ucapnya.


"Aku akan lanjutkan dengan perlahan, dan istirahat jika sudah lelah." ucapku.


Mas Adam mengangguk, dan aku menyalimi tangannya. Dia kemudian melajukan motornya pergi dari halaman rumah.


Aku menatap tubuhnya yang semakin menjauh dan kemudian lepas dari pandangan, entah mengapa aku merasa hubungan kami begitu cepat dekat, untuk pasangan suami istri yang menikah karena fitnah.


Tapi aku bersyukur, pernikahan ini tak seburuk bayanganku saat mengira Mas Adam adalah orang suruhan Mira. Yah, meskipun belum terbukti jika dia memang bukan orang suruhan Mira, setidaknya dia memperlakukanku dengan baik.

__ADS_1


Meskipun sampai saat ini aku bingung, kenapa dia bisa ikut menjadi sasaran Mira untuk memfitnah dan mengusirku dari rumah.


Selepas kepergian Mas Adam, aku melanjutkan membersihkan halaman. Juga menanam kembali beberapa jenis bunga yang sudah hampir mati karena tak terurus.


...🍁...


Aku dan Mas Adam baru saja menyelesaikan makan malam, dia tampak lahap menikmati setiap masakanku, membuatku senang.


"Masakanmu sangat enak." Pujinya.


"Terima kasih." Aku tersipu malu, memilih membersihkan alat makan untuk menghindari bersitatap dengannya.


Mas Adam menghampiriku yang berada didapur, mengambil piring yang sudah kusabuni.


"Saya bantu bilas ya..."


Aku belum menjawab saat dia langsung memutar keran wastafel dan melakukan ucapannya. Pekerjaan mencuci alat makan selesai lebih cepat berkat bantuan Mas Adam.


"Terima kasih Mas" ucapku.


"Terima kasih juga."


Aku mendongak, menatapnya bingung. "Untuk apa?"


"Karena mau menerima pernikahan ini dengan lapang dada."


Aku memasang wajah menggerutu. "Mas tidak lupa alasan kita menikah kan?" tanyaku dengan wajah ngambek, padahal aku justru merasa beruntung menikah dengan pria pengertian seperti dia.


"Tidak! Tentu saja tidak! Itulah sebabnya saya berterima kasih padamu."


Dia menatapku dengan senyuman teduhnya.


"Sudah malam, tidurlah. Saya juga akan masuk kekamar. Kamu beranikan tidur sendiri?"


Aku mengangguk.


"Saya masuk ya?"


Aku kembali mengangguk, seiring langkahnya yang masuk kedalam kamarnya. Dalam hati aku berdoa, semoga pernikahan ini mencapai sakinah, mawadah, dan warohmah.


Aamiin...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2