
"Mas." panggilku pelan setelah kami baru saja menyelesaikan makan malam.
"Iya?."
"Tadi siang Huda meneleponku." ucapku hati-hati, dan bisa kulihat tatapan matanya berubah tajam, namun detik berikutnya kembali santai.
"Lalu?."
"Dia memberi tahu beberapa perlengkapan tataboga yang ternyata belum dibeli."
"Baiklah, Mas akan membelikannya besok. Kirimkan saja dinomor Mas." Dia tersenyum tipis, bersiap beranjak.
"Mas tidak marah?."
"Kenapa Mas harus marah, justru Mas senang karena kamu mendapat teman yang baik seperti dia." Dia tersenyum.
"Benarkah?."
"Tentu, lagipula sepertinya dia bisa membantumu dalam banyak hal sebagai senior tataboga. Jadi kamu bisa belajar banyak darinya." Setelahnya dia berlalu masuk kedalam kamar.
Aku merasa lega, ternyata perasaanku jika Mas Adam marah salah. Syukurlah, jika tidak demikian.
..........
Kutatap motor yang berlalu meninggalkan rumah, bersama Mas Adam yang selalu pergi setiap malam, tepatnya setelah beberapa menit aku masuk kedalam kamar.
Aku menghela nafas dalam, berharap jika prasangka yang timbul dalam hatiku tidak benar. Mas Adam, selalu pergi setiap malam, bahkan ketika tubuhnya begitu lelah.
Sungguh, aku berharap dia bukan seperti yang orang-orang katakan.
Pagi harinya, seperti biasa aku akan melihat Mas Adam yang pulang setelah semalaman entah kemana, lewat jendela rumah yang tertutup gorden.
Namun ada yang tak biasa dari pergerakan Mas Adam, dia tampak meringis kesakitan dengan sesekali memegangi lengan tangan kanannya. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena matahari belum muncul sehingga suasana masih lumayan gelap meskipun lampu teras dinyalakan, tapi aku merasa yakin ada luka dibalik jaket hitam yang dia kenakan.
Khawatir, dengan cepat aku keluar kamar dan menghampirinya yang baru masuk kedalam rumah. Mas Adam tampak terkejut melihatku, matanya melebar sempurna.
"Mas baik-baik saja?." tanyaku khawatir menyentuh lengan kanannya, dia berdesis kesakitan.
"Kenapa kamu bangun jam segini, bukannya Mas sudah bilang untuk_"
"Aku selalu melihat Mas pulang setiap pagi." pungkasku cepat, membuatnya kembali terkejut.
"Kamu..."
"Mas terluka kan? Lebih baik sekarang kita obati dengan cepat." Aku bersiap membantunya berjalan, saat Mas Adam justru menepis tanganku.
"Mas tahu." Tatapannya begitu tajam. "Jadi sebaiknya kamu masuk kedalam kamar!." Titahnya tegas.
__ADS_1
"Tapi Mas terluka."
"Mas bisa mengobatinya sendiri." Dia berjalan mendahuluiku, kemudian mengambil kotak p3k dilemari dapur.
Dia tampak bersiap membuka jaketnya, tapi berhenti dan melirikku dengan raut tak suka.
"Masuk kedalam kamar!." titahnya lagi.
"Tapi aku ingin membantu_"
"TIDAK PERLU!."
Aku terkejut saat tiba-tiba dia meninggikan suaranya.
Mas Adam menghela nafas, gusar. Ia lantas memalingkan wajahnya dariku.
"Masuklah kedalam kamar." ucapnya pelan.
Enggan, tapi aku terpaksa mematuhi perintahnya dan masuk kedalam kamar. Meskipun sebenarnya aku benar-benar merasa khawatir dengan keadaannya.
Tak langsung menutup pintu dengan rapat, aku membuka pintu sedikit agar Mas Adam tak menyadarinya. Dapur masih cukup terlihat dari sini, jadi aku ingin melihat apa yang akan dia lakukan hingga tak ingin aku berada disana.
Aku terkejut saat dia membuka jaketnya, kaos putihnya penuh dengan warna merah darah. Dugaanku benar, lengan kanannya terluka.
Entah apa yang dia lakukan, aku melihat dia seperti mengambil sesuatu dari lengannya dengan gunting. Mas Adam meringis kesakitan, bahkan kali ini sampai memejamkan mata dengan keringat yang bercucuran.
Apapun yang dia ambil dengan guntingnya, yang jelas dia melakukannya lumayan lama. Hingga akhirnya aku melihat, sebuah peluru yang berhasil diambilnya.
Tapi bagaimana bisa? Kenapa dia bisa berhubungan dengan peluru yang merupakan senjata api. Sebenarnya apa yang dia lakukan semalam, aku semakin merasa gelisah sekarang.
Ingin sekali aku menghampirinya, membantunya yang tengah berusaha membalut lukanya dengan perban. Namun jelas aku tahu Mas Adam tidak akan menyukainya.
Sungguh aku tak habis pikir dengan apa yang dia pikirkan, hingga luka separah itu dia tangani sendiri. Jangankan pergi kedokter, dia bahkan tidak membiarkan aku membantunya.
Mungkinkah yang orang-orang katakan benar? Mas Adam seorang pembunuh. Dan alasannya tak ingin berurusan dengan dokter adalah karena dia tak ingin berurusan dengan polisi?.
Ya Allah, semoga saja dugaanku salah.
Dengan cepat aku menutup pintu saat Mas Adam menoleh kesini, semoga saja dia tak melihat jika aku mengintipnya.
..........
Aku duduk dengan resah diruang makan, pasalnya Mas Adam tidak juga keluar dari kamar bahkan setelah hampir jam 8.
Aku khawatir, jika luka dilengannya membuat keadaannya memburuk. Tak ingin memikirkan terlalu banyak hal, kuputuskan untuk menuju kamarnya dan mengetuk pintu.
"Mas, waktunya sarapan."
__ADS_1
Tak ada jawaban, bahkan hingga beberapa menit. Apakah Mas Adam pingsan? Tak sadarkan diri? Haruskah aku memanggil dokter? Tapi bagaimana jika Mas Adam marah?.
Aku bersiap membuka handle pintu, saat Mas Adam sudah membukanya terlebih dulu. Wajahnya tampak pucat, sementara tangan kanannya disangga dengan kain sederhana. Aku hampir menyentuh keningnya sebelum tangan kirinya mencekal ku lebih dulu.
"Kenapa Mas? Mas baik-baik sajakan? Apa aku boleh memanggil dokter? Sebenarnya apa yang terjadi Mas? Kenapa Mas bisa sampai tertembak?." Semua pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa bisa ditahan.
Mas Adam menatapku dengan wajah marahnya.
"Jangan tanyakan apapun yang tidak perlu kamu ketahui. Semakin sedikit yang kamu tahu, maka itu akan lebih baik!."
Dia melepaskan cekalan tangannya dari tanganku, kemudian berjalan lebih dulu menuju meja makan.
Tak ingin membuatnya marah dan bisa-bisanya tak jadi makan, aku memilih mengalihkan pembicaraan.
"Mas mau makan apa? Hari ini ada telur balado dan juga ikan bandeng." Aku mengambil piring dan mengambil nasi.
"Telur saja." jawabnya datar.
Kuambil lauk yang disebutkannya, lantas menggeser kursi agar lebih dekat dengannya.
"Apa yang kamu lakukan?." tanyanya.
"Tentu saja menyuapi Mas." jawabku santai, tak mempedulikan wajahnya yang tak ramah sama sekali.
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Aku?." Dia merubah caranya menyebut dirinya sendiri. Seakan tengah membentangkan jarak diantara kami.
Dia menghela nafas. "Mas bisa melakukannya sendiri."
"Mas kidal?." tanyaku.
"Tentu saja tidak."
"Kalau begitu Mas tidak bisa makan dengan tangan kiri. Apalagi sebagai muslim itu jelas tidak benar, kecuali Mas memang kidal."
"Lengan Mas yang terluka, bukan telapak tangan. Jadi Mas masih bisa makan sendiri!." Aku tersenyum, baru kali ini aku melihat sikap keras kepalanya.
"Baiklah." Dengan santai kuletakan piring beserta sendok didepannya, karena aku yakin dia tak bisa makan dengan benar.
Yang dia katakan tidak salah, jika bukan telapak tangannya yang terluka. Namun, lengan dan telapak tangan masih satu syaraf, jadi jelas dia tetap akan merasa sakit.
Mas Adam menautkan alis tebalnya, kemudian mulai meraih sendok dengan tangan kanannya. Dia meringis lagi, melirikku dan kembali mencoba.
"Mas bisa makan dengan tangan kiri kalau begitu, lagian jika dipikir lagi ini termasuk keadaan daruratkan?. Mas juga tidak mau disuapi olehku." ucapku bersiap menyantap makananku sendiri.
Dia terlihat mencoba dengan kiri, dan hasilnya tangannya gemetar sampai nasinya berjatuhan.
__ADS_1
Aku tersenyum padanya. "Mau disuapi?."
Bersambung.