
Setelah beberapa saat, Mira melepaskan tangannya yang tampaknya sudah lelah. Menatapku penuh kebencian.
"Ini rumah ibuku, bukan ibumu. Kamu yang cuman anak seorang pelakor gak berhak tinggal disini!"
"Aku bukan anak Ibu, tapi aku masih anak kandung ayah. Jadi bisa dibilang, aku memiliki sedikit hak dirumah ini" jawabku dengan asal.
Bukan karena sungguh-sungguh merasa memiliki hak, hanya saja aku ingin Mira berhenti berusaha mengusirku. Aku tau keberadaanku disini sudah begitu mengusiknya karena apa yang dilakukan Hakim, tapi aku tidak mau jauh dari ibu.
"Dasar manusia gak tau diri!"
Plak!
"Aku terima tamparan ini Mira, karena aku tidak ingin melawanmu. Tapi itu bukan berarti aku mengakui kesalahan yang Hakim tuduhkan!" ucapku mengusap pipi yang terasa perih dan panas.
"Dasar pelakor!"
Kutahan tangannya yang hampir menamparku untuk kedua kali.
"Maaf karena tidak bilang kalau tamparan tadi adalah tamparan terakhir yang kuterima." Kuhempaskan tangannya pelan, bagaimanapun aku tak ingin menyakitinya.
"Aku tidak pernah menggoda Hakim, terserah kamu mau percaya atau tidak. Aku hanya sedang mengatakan faktanya!."
"Aku tau!" ucapnya setengah berteriak dengan nafas yang tak beraturan. Aku terkejut mendengar ucapannya, dia tahu?.
Raut wajahnya terlihat begitu frustasi, dia menatapku dengan mata mengembun.
"Aku tau kamu tidak menggoda Hakim, itu sebabnya aku ingin kamu keluar dari rumah ini!"
"Apa?"
"Aku tau, aku tau bukan kamu yang mencoba menggodanya, aku tau kalau dia yang mencoba melecehkanmu!" ucapnya dengan frustasi, tubuhnya luruh kelantai kemudian menangis sesenggukan.
"Mira...?" Aku mensejajarkan diri dengannya, meraih bahunya pelan dan dia tidak melakukan penolakan.
"Karena kamu bukan wanita yang pertama kali berusaha dia lecehkan" ucapnya kemudian terisak pelan.
Ucapannya membuatku benar-benar tak percaya. Hakim melakukannya bukan hanya padaku, dan Mira bahkan mengetahuinya, lalu kenapa Mira masih bertahan dengan pria bejad seperti itu?.
Tak ingin bertanya pada wanita yang menangis, kucoba membawanya kedalam pelukan. Tangisannya semakin keras, hingga beberapa saat kemudian terhenti.
"Aku mohon Khansa, pergilah dari sini sejauh mungkin agar Hakim tak memiliki kesempatan kedua untuk melanjutkan niatnya." Mira menangkup tangannya didepanku dengan pipi yang basah oleh air mata, membuatku merasa dilema.
Disatu sisi aku ingin tetap bersama ibu dan terus berusaha berbakti padanya. Namun apa yang Mira katakan tidak salah, jika aku terus menerus disini, bukan hal yang mustahil jika Hakim akan mencoba untuk yang kedua kali. Mungkin Mira sedikit mengkhawatirkanku setelah melihat apa yang terjadi.
"Kenapa kamu mengusirnya hanya untuk pacarmu itu?."
__ADS_1
Kami menoleh pada ibu yang menghampiri kami, aku dan Mira langsung berdiri.
"Hakim bisa mencoba melakukannya lagi Bu. Aku tidak peduli dengan Khansa, tapi aku tidak terima jika pacarku sendiri terus menyentuh wanita lain."
Aku menoleh, terkejut mendengar perkataan Mira yang ternyata tak peduli padaku, padahal aku sudah berpikir demikian. Ah bagaimana aku lupa, jika hubungan kami tak sedekat itu untuk membuatnya lebih khawatir padaku dibanding kekasihnya.
"Itu artinya masalahnya bukan pada Khansa, tapi Hakim!"
"Jadi Ibu tetap mau dia tinggal disini setelah dia tau semuanya?" Mira menatap ibu tak percaya.
"Sejauh apapun Khansa pergi, masih banyak wanita muda disekitar rumahmu. Memangnya kamu mau mengusir mereka semua hanya karena pacar biadabmu?"
"Ibu!" teriak Mira tak terima.
"Putus saja dengannya, itu lebih baik daripada kamu terus tersiksa begini!"
"Aku mencintainya Bu, mana mungkin kami putus sedangkan saat ini aku sedang_"
Kalimatnya terhenti saat dia terlihat menyadari ucapannya barusan, apa yang dia maksud 'sedang' ?.
"Sedang apa?" Ibu mencecarnya dengan menyelidik, mewakili tanya yang ingin kulontarkan.
"Kami..." Mira tampak bingung menjawab, hingga kemudian dia kembali bicara. "Kami sedang saling jatuh cinta, meskipun dia melakukannya tapi aku tau dia hanya mencintaiku!"
Mira terlihat begitu gelisah, matanya enggan menatapku dan ibu. Seakan tengah mencari alasan terbaik, dia sibuk memainkan ujung kaosnya.
"Sebenarnya Hakim punya kepribadian ganda Bu."
"Kepribadian ganda?" Aku dan ibu bertanya serentak.
"Iya, jadi dia memiliki lebih dari satu kepribadian. Dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan saat kepribadian keduanya muncul, tapi dia selalu minta maaf padaku setelah sadar."
Yah, aku memang pernah mendengar hal semacam itu. Mungkinkah jika Mira berkata jujur, atau dia hanya sedang menutupi sesuatu dari kami?.
"Kesurupan maksud kamu?" tanya ibu, Mira menggeleng.
"Bukan tapi semacam itu, ini semacam penyakit yang tidak ada obatnya."
"Kamu tidak bohongkan?" tanyaku.
"Enggak, buat apa aku bohong. Kepribadian gandanya memang suka melecehkan wanita, tapi kepribadian aslinya dia pria yang baik Bu, percaya sama aku."
Ibu menatapku sejenak, kemudian mengambil nafas dalam.
"Ibu kurang paham tentang penyakit yang kamu bilang itu. Tapi jika ini keputusan yang kamu ambil, kamu juga harus memikirkannya. Karena sepertinya kepribadian itu tidak bisa membuat kalian sampai menikah."
__ADS_1
Mira tampak kecewa dengan keputusan ibu, tapi tak urung mengangguk, kemudian menatap ibu.
"Jadi gimana Bu, Khansa pergi saja ya?"
Hatiku terasa mencelos mendengarnya yang masih ingin aku pergi, kutatap ibu berharap beliau tidak mengusirku karena Mira.
"Dia akan tetap tinggal disini!"
Aku tersenyum lega mendengarnya, berbeda dengan Mira yang memekik keras.
"Bu...!"
"Kenapa? Selama Hakim tidak kesini, sepertinya kemungkinannya kecil dia akan bertemu Khansa."
"Tapi Hakim bisa saja ketemu Khansa ditempat lain Bu."
"Justru itu, jika Khansa tetap dirumah ini kita akan tau mereka bertemu atau tidak. Tapi jika Khansa keluar dari rumah ini, kita tidak tahu kapan mereka bertemu."
Apa yang ibu ucapkan benar, tapi aku merasa jika itu hanyalah alasan agar aku tetap tinggal, aku tersenyum bahagia.
Mira pergi dengan langkah kasar dan keluar dari rumah, setelah kepergiannya aku segera memeluk ibu dengan erat.
"Terima kasih telah membiarkan aku tinggal Bu."
.........
"Kamu berangkat kerja?" tanya ibu saat aku tengah membereskan meja makan seusai sarapan yang sangat terlambat.
Aku menggeleng. "Sudah terlalu siang, mungkin aku akan mengirim pesan izin. Semoga saja Bu Jum tidak marah."
"Kalau begitu temui Ibu dikamar setelah selesai mencucinya!" Ibu melirik piring kotor ditanganku, kemudian masuk kedalam kamarnya.
Setelah mencuci peralatan masak dan makan, aku menuju kamar ibu. Mengetuk pintunya pelan hingga beliau membukakannya.
Ibu menyuruhku masuk, kemudian memintaku duduk disisinya yang duduk disofa panjang dalam kamar. Ibu mengambil sebuah kotak persegi dengan panjang sekitar 15 cm setiap sisinya. Kotak kayu dengan gaya klasik berwarna kecoklatan itu digembok dari luar.
Tiba-tiba, ibu meletakannya ditanganku begitu saja, belum sempat aku bertanya ibu memberikan sebuah kunci yang kuyakini adalah kunci kotak ditanganku ini.
"Apa ini Bu?"
"Karena kamu sudah tau jika kamu bukan putri kandung Ibu, maka kamu bisa melihatnya sekarang."
Bersambung.
Apakah isi kotak itu? Jawabannya ada dibab berikutnya 😉
__ADS_1