
Tanganku gemetar saat melihat foto sebuah pisau yang berlumuran darah, terlebih saat membaca tulisan diatasnya.
"Suamimu seorang pembunuh bayaran."
Tidak! Aku bukan takut saat mengetahui Mas Adam adalah pembunuh bayaran, tapi yang membuatku takut adalah seseorang yang mengirimkan foto ini.
Jika seseorang ini bisa mengirimiku paket ini, itu artinya dia tahu jika Mas Adam adalah seorang pembunuh. Bagaimana jika dia melaporkan Mas Adam pada polisi?.
Aku tidak tahu apa yang hati dan pikiranku inginkan saat ini, namun yang jelas aku tak ingin memikirkan jika Mas Adam harus mendekam dalam penjara.
Aku jelas-jelas tahu jika dia seorang pembunuh, bahkan dia sudah mengakuinya sendiri. Namun, tetap saja sebagai seorang istri aku tak ingin dia sampai dipenjara.
"Siapa yang sudah mengirimkan foto ini?." gumamku merasa takut.
Ataukah orang yang mengirimkannya adalah salah satu musuh Mas Adam? Ya, mungkin saja. Memangnya siapa lagi yang akan melakukan ini tiba-tiba? Meskipun aku belum menangkap apa tujuan orang ini memberi tahuku.
Aku melihat-lihat kedalam kotak untuk melihat apakah ada benda lain, tapi yang kudapatkan justru tulisan dibalik foto.
"Selanjutnya, aku akan mengirimkan bukti-buktinya. Tunggu saja!."
Tulisan itu membuat seluruh tubuhku terasa gemetar, aku benar-benar ketakutan.
Bel rumah yang berbunyi membuatku berjingkat kaget, dan secara spontan menutup kotak ini dan menyembunyikannya dibawah meja.
Kubuka pintu rumah, seorang kurir tengah berdiri membawa sebuah kotak agak besar. Kurir ini berbeda dengan kurir yang tadi, namun mengingat apa yang terjadi tadi membuatku ketakutan.
"Atas nama Mba Khansa?."
"Benar."
"Silahkan diterima, ini paket dari Pak Adam Biantara."
Mendengarnya membuatku merasa lega, dengan cepat aku menerimanya. Kurir itu pergi setelah aku tanda tangan, akupun langsung masuk kedalam rumah.
Melihat isi kotak tadi jelas masih menyisakan shok yang begitu dalam, jadi kuputuskan membuka paket dari Mas Adam ini nanti.
Kuambil paket misterius yang kuletakan dibawah meja, membawanya masuk kedalam kamar. Bagaimanapun juga aku merasa jika Mas Adam tidak perlu tahu akan hal ini.
__ADS_1
..........
Jam 4 sore, Mas Adam sudah pulang. Aku tidak berada didepan pintu menyambutnya, melainkan hanya mendengar suara motornya dari dalam kamar.
Jangan lupa, jika aku masih merasa takut padanya. Ya, walaupun aku tahu dengan jelas jika tujuannya baik karena sudah menolong Vania. Namun, tetap saja apa yang dia lakukan bukan hal yang benar, apalagi ini berurusan dengan nyawa manusia. Dan untuk saat ini aku ingin menjaga jarak dengannya.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum, Khansa. Kamu didalam?." tanya Mas Adam setelah mengetuk pintu kamarku.
Aku tak menjawab, memilih menutup diri dengan selimut.
"Khansa, kamu didalam?." tanyanya lagi, kali ini terdengar panik.
Sebenarnya aku malas menjawabnya, tapi daripada dia khawatir dan malah membuka pintunya paksa aku memilih bersuara.
"Waalaikumsalam."
"Kamu sudah buka paketnya?."
Kali ini aku mengambil paket dimeja nakas, membuka pintu dan memberikannya padanya.
Memikirkan paket misterius tadi siang, apa aku kasih tahu Mas Adam saja. Ah tidak-tidak, ini bukan saat yang tepat. Lagipula pengirim paket itu tidak membahayakan siapapun, jadi aku rasa tak masalah menyembunyikannya dari Mas Adam.
"Mas saja yang buka" jawabku sekenanya, padahal karena aku takut jika itu paket dari orang yang sama. Ya, walaupun aku berusaha positif thinking jika itu memang paket yang Mas Adam kirimkan.
Mas Adam tersenyum, tidak ada sedikitpun raut kekesalan yang terlihat diwajahnya atas sikap ketusku.
"Ya sudah kalau begitu." Mas Adam lantas membuka paket itu, dan ternyata isinya adalah semua perlengkapan kuliah yang sebelumnya disebutkan oleh Huda.
Aku mengambil alih kotak ditangan Mas Adam dengan senang, tak menyangka jika dia akan membelikannya untukku. Padahal aku sendiri lupa berniat memesan semua ini lewat online.
Tapi, tunggu dulu!.
"Kenapa Mas bisa tahu kalau aku membutuhkan semua ini?." Jelas Huda memberitahuku lewat panggilan telpon, dan aku juga belum mengatakannya pada Mas Adam. Lalu, bagaimana dia bisa tahu? Bukankah ini aneh?.
"Kamu sempat mengalami hal yang buruk karena suamimu ini, jadi Mas pikir untuk menelpon temanmu dan menanyakan apa saja yang kamu perlukan untuk kuliah. Maaf, karena membuka ponselmu untuk mendapatkan nomornya."
__ADS_1
Begitu rupanya... Aku mengangguk paham, ponselku memang tidak menggunakan sandi apapun. Tapi tunggu! Atau ini hanya modus, apakah saat membuka ponselku, Mas Adam...
"Apa Mas memasang penyadap atau pelacak diponselku?." tanyaku penuh selidik, menyipitkan mata padanya agar dia tahu jika aku mencurigainya.
Jelas kecurigaanku ini bukan tanpa dasar, setelah mengatakan kebenaran tentang pembunuhan yang dia lakukan, mungkin Mas Adam lebih waspada terhadapku. Dia mungkin takut jika aku akan melaporkannya kepolisi atau semacamnya.
Dan entah apa yang lucu, Mas Adam justru terkekeh pelan dan hampir mengusap kepalaku jika aku tidak cepat menghindar.
"Tentu saja tidak, memangnya untuk apa Mas melakukan itu pada istri Mas sendiri?."
"Ya karena Mas takut kalau aku akan melapor polisi. Jadi Mas menyadap ponselku untuk tahu aku menghubungi siapa, kemudian melacak ponselku agar Mas selalu tahu keberadaanku."
"Sepertinya itu ide yang bagus." Dia menaikkan kedua alisnya berulang.
"Aku serius Mas!." kesalku melihat respon santainya.
"Mas bisa memahami jika kamu merasa takut memiliki suami seorang pembunuh, tapi tolong jangan sampai hal ini terlalu kamu pikirkan dan membuatmu tertekan. Apalagi sampai membuatmu terlalu memikirkan banyak hal."
"Jangan sampai terlalu dipikirkan?." Kuulang perkataannya dengan sinis. "Mas sadarkan dengan apa yang Mas lakukan? Mas membunuh seseorang,. menghilangkan nyawa manusia. Hal yang bukan saja membuat Mas berdosa, tapi mungkin suatu waktu Mas bisa dipenjara." ucapku dengan perasaan yang berkecamuk, antara sedih dan juga kesal.
"Mas menunggu hari itu." Dia tersenyum tipis.
Ucapannya membuatku tertegun, apa maksudnya?.
"Kenapa harus menunggu, kenapa tidak Mas langsung menyerahkan diri saja?." Kesalku, bisa-bisanya dia mengatakan menunggu harinya dipenjara.
"Tidak semudah itu" jawabnya dengan wajah yang sulit diartikan.
"Benar, meninggalkan sebuah maksiat memang tidak mudah, tapi aku tidak lihat jika Mas sudah berusaha" balasku kesal.
Bukannya balas marah atau membuat sangkalan lainnya, Mas Adam justru kembali tersenyum. Sungguh, lama-lama aku merasa kesal dengan senyumannya yang tak kenal suasana. Kenapa dia bisa begitu tenang bahkan saat aku sedang kesal padanya?.
"Aku sedang kesal, dan Mas malah tersenyum. Menyebalkan!."
"Jika kamu senang dengan itu, maka mulailah belajar dengan giat." Mas Adam melirik kotak yang masih berada ditanganku, kemudian masuk kedalam kamarnya.
Melihat sikapnya yang begitu lembut, entah kenapa malah membuatku merasa kasihan. Ya, kasihan pada seorang pembunuh yang bisa dipenjara kapan saja.
__ADS_1
Mungkin, karena aku memang telah mencintainya.
Bersambung.