Aku Putri Seorang Pelakor

Aku Putri Seorang Pelakor
Bab 25 : Mengikuti Adam


__ADS_3

Suara azan yang berkumandang berhasil mengembalikan kesadaran ku, aku terbangun. Kubuka mata perlahan, melihat kearah jam dinding yang menunjukan angka 3. Rupanya yang kudengar adalah azan ashar.


Tiba-tiba aku menyadari jika diriku tengah terbaring diatas ranjang, tepatnya dikamar Mas Adam. Namun, pria yang sebelumnya demam itu entah dimana keberadaannya sekarang.


Dengan cepat aku beranjak, baru saja membuka pintu dan yang kucari tepat berada didepanku. Mas Adam datang, dengan segelas jus ditangannya.


"Kenapa Mas tidak bilang jika ingin jus, harusnya Mas membangunkanku tadi."


Dia tersenyum, lantas menyodorkan jus jeruk ditangannya padaku. "Minumlah."


"Ha?."


"Kamu pasti cukup lelah mengurus Mas tadi."


Panggilan 'Mas' yang dia sebutkan, membuatku merasa jika suasana hatinya sudah membaik. Suamiku kembali, Mas Adam yang lembut dan penuh perhatian akhirnya kembali.


Dengan senang hati kuterima jus jeruk buatannya dan meminumnya, enak.


"Terima kasih Mas." Tiba-tiba aku teringat sesuatu, dan reflek menyentuh dahinya dengan punggung tangan.


"Mas sudah mendingan, atau Mas pusing? Ada yang sakit? Katakan padaku Mas! Jangan sampai aku menjadi istri yang ceroboh lagi dengan tidak mengetahui keadaanmu."


Dia tersenyum, mengacak rambutku dengan tangan kirinya.


"Mas sudah sembuh berkat kegigigan kamu merawat Mas."


"Alhamdulillah. Syukurlah kalau begitu." Kami terdiam sejenak. "Oh ya, Mas belum makan siangkan?." tanyaku.


Belum sempat Mas Adam menjawab, justru perutku yang lebih dulu bersuara. Mas Adam terkekeh pelan.


"Sepertinya ada yang lebih lapar dari Mas."


Aku tersenyum malu mendengarnya.


..........


Sangat terlambat, kami makan siang dijam 4 sore setelah melaksanakan sholat ashar. Tapi aku merasa bahagia, bukan hanya karena keadaan Mas Adam yang sudah membaik, namun juga sikapnya yang kembali seperti sebelumnya.


Kini, kami berdua tengah duduk bersama diteras belakang rumah, menikmati suasana sore yang cukup menenangkan dengan hamparan taman yang tak terlalu luas.


"Kamu setuju?." tanyanya tiba-tiba, membuatku menoleh.


Tanpa dijelaskan, aku bisa mengerti maksudnya.


"Apa aku boleh menolak?." tanyaku menatap kedepan, bisa kurasakan kini Mas Adam menoleh padaku.


"Tidak!."


Aku terkekeh pelan. "Maka artinya Mas tidak perlu bertanya." Aku tersenyum, menyembunyikan rasa sakit setiap kali membayangkan perpisahan dengannya.

__ADS_1


"Ini adalah yang terbaik."


"Itu keputusan Mas, dan aku tidak bisa menolaknya. Tapi aku ingin mengingatkan, jika manusia bisa berencana, tapi hanya Allah yang menentukan akhirnya."


Dia menatapku dengan diam.


"Dan aku berdoa, jika rencana yang Allah pilihkan untuk pernikahan kita nanti sesuai dengan yang aku harapkan."


Kini, tatapannya berubah tajam.


"Kita lihat saja nanti, keputusan Mas ... Atau doaku yang akan terjadi."


"Kamu menantang Mas?."


"Tidak!." Aku menggeleng cepat. "Aku hanya seorang istri yang ingin mempertahankan pernikahannya lewat doa."


"Dalam 4 tahun, bukan hal yang mustahil jika banyak yang akan terjadi. Dan akan ada banyak hal, yang membuatmu menangis berkali-kali." Dia menatapku lekat.


"Aku tau, karena sejatinya berumah tangga adalah untuk melewati suka dan duka bersama." Aku tersenyum padanya yang hanya menatap datar.


"Tidak ada suka, karena Mas hanya bisa memberimu duka."


"Siapa yang bilang? Apa aku tidak terlihat bahagia setelah menikah dengan Mas? Mas mungkin tidak menyadarinya, tapi menikah dengan Mas membawa kebahagiaan yang tidak kudapatkan selama ini." Aku tersenyum lebar.


Dia tampak menghela nafas, mungkin merasa frustasi dengan setiap jawabanku.


"Kita jalani saja pernikahan ini seperti air sungai yang mengalir sesuai jalurnya, entah akan ada banyak batu ataupun hambatan lainnya, jalani saja." ucapku.


"Iya, aku akan membelinya besok." Aku terdiam, tiba-tiba teringat ibu.


"Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba murung?."


"Entahlah, tiba-tiba aku teringat ibu."


"Baiklah, kita akan mengunjunginya besok."


"Eh gak perlu Mas! Lagian luka ditangan Mas juga belum sembuh. Jadi sebaiknya kita tidak berpergian dulu."


"Mas sudah baik-baik saja." Dia melepaskan kain penyangga tangan kanannya dengan santai.


Aku tidak terlalu panik, mengingat jika ditubuhnya terdapat begitu banyak bekas luka.


"Aku tahu, tapi tetap saja Mas butuh istirahat." ucapku


"Jaga hatimu!."


"Ha?." Dia bicara apa.


"Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi dalam 4 tahun, tapi jaga hatimu agar tidak mencintai Mas. Jangan perhatian pada Mas dan bersikap layaknya seorang istri."

__ADS_1


Ada yang berdenyut nyeri didalam sini, mendengar perkataannya membuat hatiku terasa mencelos. Sekuat mungkin kutahan air mata yang ingin menetes.


"Tapi aku memang istrimu Mas."


"Adik, yang orang lain tahu kamu adalah adikku dan Mas adalah kakak sepupumu. Entah diluar rumah, atau didalam rumah, anggaplah Mas sebagai kakakmu."


Mendengarnya membuatku menyadari, sikap dan cara bicaranya mungkin kembali lembut. Namun, dia tetap seseorang yang membentang jarak dengan istrinya sendiri.


Tapi selain menurutinya, sungguh aku tidak punya pilihan lain.


"Aku mengerti." Tak tahan menahan tangis terlalu lama, aku memilih beranjak dan masuk kedalam rumah. Tepatnya kedalam kamar untuk membenamkan wajah dibawah selimut, lantas melepaskan tangisan.


..........


"Mas akan pergi lagi?." tanyaku keluar dari kamar, menghentikan langkah Mas Adam untuk keluar.


Aku tak menyangka, bahkan setelah tangannya terluka dia masih keluar setelah makan malam.


"Iya!."


"Apa aku bisa menghentikan Mas?." tanyaku penuh harap.


Jika benar dia adalah seorang pembunuh, maka sungguh sebagai istri aku tak ingin Mas Adam terus terjerumus dalam lubang dosa.


"Tidak!."


"Bahkan jika aku memohon." Aku jatuh bersimpuh dihadapannya, berharap dia menangguhkan niatnya.


"Sekalipun kamu memohon." Tatapannya terlihat begitu dingin, seolah hatinya tak tergerak sedikitpun melihatku.


"Kenapa Mas? Kenapa Mas harus melakukan semua ini? Aku mohon hentikan apapun yang Mas lakukan."


"Bukankah sudah Mas katakan, jangan bersikap layaknya seorang istri."


"Tidak ada adik yang ingin kakaknya berbuat dosa." balasku.


Dia tak bergeming, dan tetap pergi dengan motornya. Aku tak tinggal diam, melainkan mengejarnya dengan motorku.


Terdengar nekat memang, aku bahkan tidak tahu dimana tempat tujuannya dan apakah tempat itu berbahaya. Yang kutahu saat ini, aku harus menghentikan Mas Adam melakukan kejahatan.


Kulajukan motor dengan pelan agar dia tak menyadarinya, mengikutinya yang terus melaju melewati banyak jalan kecil. Hingga akhirnya, motornya berhenti didepan sebuah hotel mewah.


Dia masuk kedalam dengan mulus, setelah dua orang berpakaian rapi serba hitam menghampirinya. Sementara aku, hanya diam diatas motor. Merasa bingung dengan apa yang harus kulakukan sekarang.


Aku bukan Intel, atau agen rahasia apalagi seorang detektif. Mengikuti seseorang bukanlah keahlian ku, terlebih dengan pakaian sederhana ini aku jelas tidak akan dibolehkan masuk kedalam hotel mewah ini.


Kuputuskan untuk pulang dan akan memikirkan rencana untuk mengikutinya besok. Namun aku teringat jika aku tak tau jalan pulang, kuputuskan membuka ponsel untuk menggunakan maps.


Namun, baru saja berniat mengetik alamat rumah, seseorang membekap mulutku. Aku meronta dan berusaha melawan, hingga tubuh terasa lemas dan semuanya gelap gulita.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2