Aku Putri Seorang Pelakor

Aku Putri Seorang Pelakor
Bab 20 : Merasa Tengah Bermimpi


__ADS_3

"Baiklah, kalau begitu kami akan pulang."


Mas Adam hampir menarik tanganku, saat Huda berucap.


"Eh kenapa buru-buru, ini masih siang. Gimana kalau kita makan es krim? Bukannya kamu suka es krim Khansa?. Tempat biasa kita makan es krim dulu masih buka sampai sekarang, kita maka disana saja?."


"I-itu..." Aku melirik Mas Adam, merasa jika pria itu tak nyaman dengan tawaran Huda.


"Kami sedang terburu-buru, jadi maaf kami harus pergi."


Mas Adam kembali menarik tangan kiriku, saat Huda menarik tangan kananku. Bisa kulihat Mas Adam menatapnya tajam, membuat Huda melepaskan tanganku.


"Khansa, boleh aku minta nomor ponselmu. Kita akan satu kampus, jadi mungkin kedepannya kamu butuh menghubungiku." Huda merogoh saku celananya kemudian menyodorkan ponselnya.


"Kalian mungkin beda jurusan, jadi itu sama sekali tidak perlu." tukas Mas Adam.


"Memangnya kamu jurusan apa Khansa?." tanya Huda.


"Aku ... Tata boga."


"Bagus, kita berada dijurusan yang sama karena aku juga tata boga." Huda tersenyum sumringah.


"Benarkah?."


"Ya. Sekarang mana nomor ponselmu?."


Mas Adam tak bicara, membuatku berpikir jika tak masalah jika memberikan nomorku pada Huda. Namun setelah itu, Mas Adam justru melangkah pergi meninggalkanku.


Apa dia marah?.


..........


"Mas marah?." tanyaku saat motor yang Mas Adam kendarai baru saja berhenti didepan rumah.


Pria itu tak bergeming dan diam tanpa kata.


"Turunlah!." ucapnya tanpa menatapku, bahkan tubuhnyapun tak bergerak sedikitpun.


"Ah iya."


Aku baru saja turun dari motor, dan Mas Adam langsung melaju pergi entah kemana. Semarah itukah dia sampai pergi meninggalkanku sendiri?.


Aku menghela nafas dan memilih masuk kedalam rumah, saat ponsel dalam tas tiba-tiba berdering. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan sebuah pesan.


"Assalamualaikum Khansa, ini aku Huda."


Tanpa membalas pesan dari Huda, aku masuk kedalam rumah. Merasa jika pria itulah yang membuat Mas Adam marah, mungkin sebaiknya aku menjaga jarak dengannya.

__ADS_1


Aku memilih menuju kamar dan kembali membuka ponsel, bukan untuk membalas pesan Huda, melainkan untuk mencari tahu apa saja yang diperlukan oleh orang yang akan kuliah.


Ada banyak hal yang kubutuhkan seperti buku dan pena, dan aku baru menyadari jika aku belum memiliki semua itu. Mungkin sebaiknya aku mencatat apa saja yang diperlukan agar bisa membelinya .... tunggu dulu, kenapa aku lupa jika aku tidak punya sepeser uang pun?.


Aku mengambil dompet didalam laci nakas dan membukanya, melihat hanya ada dua lembar uang biru disana. Aku kembali menghela nafas, lalu dengan apa aku membeli perlengkapan kuliah?.


Mungkin Mas Adam yang sudah mendaftarkanku, tapi tentu aku masih sungkan jika harus meminta uang padanya. Terlebih saat ini dia sedang marah padaku.


..........


Makan siang yang sudah terhidang diatas meja tampak mengepulkan asap, menguarkan aroma sedap yang menggugah selera. Aku harap Mas Adam segera pulang untuk menikmati masakanku.


Jika saja aku memiliki nomor ponselnya, aku akan menghubunginya. Mungkin aku memang harus memintanya saat Mas Adam pulang nanti, lagipula bertukar nomor ponsel tidak ada salahnya apalagi dengan suami sendiri.


Aku menoleh saat suara pintu utama terbuka, harapanku langsung terkabul dengan pulangnya Mas Adam. Dia menghampiriku dengan sebuah kantong plastik besar dikedua tangannya.


"Apa itu Mas?."


"Mas tidak tahu apa saja yang kamu perlukan, jadi Mas hanya membeli yang menurut Mas kamu memerlukannya." Dia meletakannya dikursi dan membuka salah satunya, terlihat beberapa buku dan juga pena. Juga alat sekolah lainnya.


"Ini?."


"Perlengkapan kuliah kamu, katakan saja jika ada yang kurang, Mas akan membelinya."


"Mas sudah tidak marah?." tanyaku hati-hati.


"Soal Huda ...?"


"Mas tidak marah padamu, Mas hanya buru-buru membeli perlengkapan kuliahmu."


"Lalu kenapa Mas tidak mengajakku?."


"Karena Mas pikir kamu kelelahan, lagipula kamu harus memasak makanan lezat ini bukan?." Mas Adam menghirup aroma lezat masakanku.


"Baunya sangat harum."


"Oh ya Mas, boleh aku minta nomor ponsel Mas. Mungkin aku membutuhkannya nanti."


"Baiklah, mana ponselmu?."


Aku mengambil ponsel didapur dan memberikannya. Mas Adam mengambil alih, menekan beberapa nomor kemudian mengembalikannya padaku. Aku cukup terkejut saat melihat nama yang tersimpan.


"Kakak sepupu?."


"Temanmu mengenal Mas sebagai kakak sepupumu, jadi itu untuk berjaga-jaga."


"Ah iya." Ada rasa tak suka, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


.........


Masih seperti malam-malam sebelumnya, aku akan menatap bintang yang bisa dihitung jari sebelum tidur. Sekedar untuk mengurangi rasa rinduku pada ibu.


Padahal baru 3 hari aku meninggalkan rumah itu, tapi rasanya sudah sangat lama. Aku terus khawatir dengan keadaan beliau.


Apakah ibu bisa tidur? Apakah Mira melakukan hal-hal yang biasa kulakukan? Memijat ibu sebelum tidur, atau memasukan benang kedalam jarum saat ibu berniat menjahit. Juga, apa Mira ingat jika ibu harus minum teh herbal.


Rasanya semua pertanyaan itu terus mengganjal didalam hati, terlebih Mira masih memblokir nomorku sehingga aku tidak bisa menghubunginya. Aku khawatir, keadaan ibu memburuk karena kepergianku.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


Mas Adam membuka pintu, membawa sebuah gelas.


"Mas bawakan susu untukmu, minumlah." Dia melegakannya diatas nakas.


"Terima kasih."


"Kamu merindukan Ibu?."


"Eum." Aku mengangguk. "Aku khawatir Mira tidak mengurusnya dengan baik."


"Kalau begitu kita akan mengunjungi ibu sesekali, sampai urusan Mas disini selesai."


Aku tersenyum, tak menyangka dia masih mengingat perkataannya saat kami kesini.


"Aku sudah mendaftar kuliah disini, jadi walaupun urusan Mas sudah selesai, kita tidak bisa pulang begitu saja. Aku harus menyelesaikan pendidikanku, kemudian mencari pekerjaan yang cocok nantinya. Jadi mungkin kita memang hanya bisa mengunjunginya sesekali, karena akan tinggal disini dalam beberapa tahun."


Bukan tanpa alasan aku mengatakannya, namun membuat ibu bangga denganku adalah keinginan yang harus aku wujudkan, dan kuliah adalah salah satu jalannya. Yah, walaupun akhirnya aku harus berpisah dengan ibu.


"Mas mengerti, kamu ingin membuat ibumu bangga."


"Yah, dan aku tidak menemukan cara lain selain kuliah dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak. Aku ingin membuat ibu bangga, seperti bangganya Ibu pada Mas Rian."


"Mas percaya kamu pasti bisa."


"Terima kasih sudah membantuku Mas."


Tanpa Mas Adam, mungkin keinginan kuliah hanya sekedar mimpi yang tak bisa menjadi nyata. Dan apapun alasannya mau menikah denganku, aku sangat yakin jika aku menikah dengan laki-laki yang tepat.


Pria itu hanya tersenyum tipis. "Cepatlah minum susunya sebelum tidur, kamu butuh istirahat yang cukup untuk menjadi seorang koki yang handal." Dia mengedipkan sebelah matanya, kemudian keluar dan menutup pintu.


Terlepas dari beberapa sikapnya yang membuatku penasaran, Mas Adam benar-benar sosok pria yang perhatian. Aku ... Khansa Rumaisa, yang tak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian yang begitu nyata, merasa tengah bermimpi.


Sebuah mimpi yang begitu indah, hingga tak ingin bangun sama sekali.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2