
"Kamu tidak ingin bertanya darimana Mas mendapatkan luka ini?." tanya Mas Adam, saat aku baru saja berdiri untuk membawa peralatan makan kedalam dapur.
"Jika Mas tidak ingin mengatakannya, maka aku tidak akan bertanya. Bukannya Mas sendiri yang bilang, semakin sedikit yang aku tahu maka akan lebih baik. Aku tahu Mas hanya ingin aku baik-baik saja." Aku tersenyum.
Kelanjutan aktifitasku, mencuci peralatan makan diwastafel. Setelah selesai, aku menghampiri Mas Adam yang masih duduk ditempatnya.
"Mas akan berangkat kerja hari ini?." tanyaku.
"Tidak." jawabnya singkat, tanpa menatapku.
"Kalau begitu apa Mas butuh sesuatu, atau Mas ingin sesuatu. Biar aku ambilkan?." tawarku kemudian duduk dikursi yang ada.
"Tidak."
"Baiklah." Aku bingung harus mengatakan apa, keadaan terasa begitu tak nyaman karena sikap Mas Adam yang berubah.
"Jika kamu melihat Mas pulang setiap pagi, maka kamu pasti juga melihat Mas pergi setiap malam. Benar?." Dia menatapku penuh selidik.
Aku mengangguk.
"Lalu kenapa kamu tidak menanyakan apapun?."
"Karena aku tahu, Mas belum siap mengatakannya padaku. Atau mungkin Mas menunggu waktu yang tepat."
"Bagaimana jika Mas tidak berniat memberitahukannya padamu?." tanyanya dingin.
"Maka aku akan bersikap seolah tidak melihat apa-apa." Aku memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai mengembun.
"Kamu mendengar sesuatu tentang Mas kan?." Masih dengan tatapan dinginnya, dia bertanya datar. Sungguh, aku merasa tengah diintrogasi oleh seorang polisi.
"Tidak." bohongku, menampik gosip yang kudengar hari itu.
"Jangan berbohong!."
Aku menghela nafas, memejamkan mata dan menarik nafas dalam, kemudian menghembusnya kasar.
"Ya, aku mendengar sesuatu tentang Mas, yang aku yakini hanyalah sebuah fitnah tak berdasar."
"Bagaimana jika itu benar?."
"Maka aku akan berpura-pura jika aku tak mendengar apapun." jawabku dengan suara gemetar, menahan tangis.
Dia diam dengan wajah dinginnya, namun dapat kulihat kedua tangannya terkepal kuat.
__ADS_1
"Kamu bukan orang yang pandai berpura-pura."
"Benarkah?." Aku tertawa pelan, menyembunyikan sesak didada. "Kalau begitu Mas harus mengajariku."
Sontak ucapanku membuatku kembali menatapku dingin.
"Bertahanlah dalam pernikahan ini, setidaknya dalam 4 tahun. Setelahnya kamu bisa bebas pergi kemanapun yang kamu inginkan."
Mendengar ucapannya kali ini membuatku terkejut. "Kamu merencanakan perpisahan kita Mas?." Aku menatapnya kecewa.
"Sudah kukatakan, jika aku bukan pria yang baik!." ucapnya, dengan panggilan yang kembali berbeda.
"Aku juga bukan wanita yang baik Mas!."
Dia langsung menatapku tajam.
"Kamu pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku!."
"Tapi pria yang terbaik untukku adalah kamu Mas!."
"JANGAN KERAS KEPALA KHANSA!." bentaknya membuatku terkejut.
Aku tersenyum miris. "Jadi ini alasan mengapa Mas tidak ingin pernikahan kita disahkan? Bukan karena kuliahku, tapi karena Mas sudah merencanakan kapan kita akan berpisah. Benarkan?."
"Ini yang terbaik untukmu."
"Kamu tidak tahu apapun tentang aku, siapa aku dan bagaimana kehidupanku. Jadi akan lebih baik jika kamu menurut."
"Aku tidak perlu tau apapun tentang kamu Mas, siapa kamu dan bagaimana kehidupanmu. Yang perlu aku tahu hanya bagaimana caramu memperlakukanku."
Dia diam tak bergeming.
"Bagaimana jika aku mencintaimu?." tanyaku dengan air mata yang kini sudah sudah tak dapat kutahan lebih lama.
Kali ini dia tak langsung menjawab, melainkan menatap mataku dengan tatapan lekat. "Jangan pernah melakukannya!." ucapnya memalingkan wajahnya.
"Aku tidak pernah berpikir, jika aku akan dengan cepat merasa nyaman denganmu Mas. Aku tidak tau ini perasaan apa, yang jelas aku tidak pernah berharap jika pernikahan ini harus diakhiri."
"Maaf." ucapnya pelan.
"Apa?."
"Maaf karena sudah menikahimu, dan maaf membuatmu nyaman bersamaku, tapi lebih baik kamu menghentikan perasaan itu sekarang juga. Agar kita bisa berpisah dengan damai nantinya." Dia berdiri, kemudian masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
"Kamu egois Mas!." teriakku setelah pintu kamarnya tertutup, lantas terisak. Kubenamkan wajah berpangku tangan diatas meja, melupakan tangis. Berusaha memberitahu Mas Adam, jika aku terluka dengan keputusan sepihaknya.
Kenapa pernikahanku harus seperti ini ya Allah, kenapa pernikahan yang bahkan belum seumur jagung ini harus direncanakan kapan akan berakhir.
..........
Tok! Tok! Tok!
Kuketuk pintu kamarnya dengan pelan, dengan membawa segelas bubur hangat ditangan. Sudah siang, dan Mas Adam sama sekali belum keluar dari kamarnya, dan aku khawatir dengan keadaannya terlebih tangannya sedang terluka.
Pertengkaran kami adalah hal yang tak bisa dihindari, namun aku tak ingin tetap berada dalam keadaan ini. Aku berusaha sabar, dan mencoba mengerti bagaimana perasaan Mas Adam.
Entah dia benar-benar seorang pembunuh ataupun bukan, aku bisa merasakan jika alasannya ingin mengakhiri pernikahan kami adalah demi diriku. Dan aku tahu, diapun tak ingin pernikahan ini berakhir.
"Mas."
Kembali kuketuk pintu kamarnya, namun masih tak ada jawaban. Kuputar handle pintu dengan cepat, khawatir jika Mas Adam pingsan, untungnya pintu kamarnya ternyata tidak dikunci.
Aku terkejut saat melihatnya terbaring diatas ranjang, memejamkan mata dengan wajah yang begitu pucat. Kupegang dahinya yang terasa panas, namun tangannya terasa begitu dingin, dia demam.
"Ya Allah Mas."
Dengan cepat kusiapkan kompresan air es, juga sebuah handuk kecil. Sayangnya bahkan setelah dikompres demamnya tidak juga turun. Jika bukan karena menghubungi dokter akan membuatnya marah, aku pasti akan melakukannya. Akhirnya kuputuskan untuk membeli obat diapotik.
"Obat untuk luka, dan obat untuk demam." ucapku pada apoteker.
Setelah mendapatkan obat-obat yang dibutuhkan, aku segera pulang. Terlihat Mas Adam masih berbaring tak sadarkan diri.
Perlahan, kubuka kemejanya untuk mengganti perban dilengan kanannya. Aku merasa ngilu saat ternyata perbannya sudah basah oleh darah, dengan perlahan dan hati-hati aku berusaha melepasnya tanpa mengusik Mas Adam.
"Aku tidak tahu bagaimana kamu mendapatkan luka ini Mas, tapi apapun yang terjadi aku tetap tidak setuju kamu mengakhiri pernikahan kita."
Aku tidak tau bagaimana cara yang benar melakukannya, yang jelas aku hanya meneteskan obat merah sebelum membalutnya dengan perbanyang baru. Aku harap yang kulakukan tidak salah.
Setelah selesai, kubersihkan tubuhnya dengan handuk yang sudah basah oleh air hangat. Berharap dengan ini suhu tubuhnya bisa sedikit turun.
Dan melihat tubuhnya aku baru menyadari, ada begitu banyak bekas luka dimana-mana. Ada yang seperti sayatan, juga luka tembak. Perasaanku kini campur aduk, menyadari jika Mas Adam sering mengalami hal yang sama.
"Jangan bersikap seperti ini Mas, karena aku yang terbiasa dengan sikap lembut dan penuh perhatian darimu merasa terluka dengan sikapmu hari ini." ucapku, meski dia tak mendengarnya.
Setelah semuanya selesai, aku duduk dilantai dipinggir ranjang, menggenggam tangannya dan menatapnya yang tengah terbaring lemah. Semoga saja apa yang tadi kulakukan bisa membuat kondisinya membaik.
"Aku tidak pernah merasa nyaman seperti ini bersama siapapun, tidak pernah merasa hidupku setenang dan sedamai ini. Dan aku mendapatkannya darimu Mas, jadi tolong ... jangan paksa aku untuk melepaskan semua perasaan ini."
__ADS_1
"Aku tidak tahu, dan aku tidak yakin apa bisa menyebutnya sebagai cinta. Yang jelas, perasaan ini terasa begitu dalam. Terdengar konyol bukan? Kita bahkan belum tinggal bersama selama 1 Minggu dan aku sudah mengatakan ini. Tapi sebagai seorang wanita yang berusia 19 tahun, aku merasa ini bukanlah perasaan sesaat."
Bersambung.