
Aku sudah menduganya, namun aku benar-benar tak mengharapkan akan disuruh mencium tangan pria asing yang mendadak jadi suamiku ini. Dengan enggan, tanpa menatap pria berkopiah putih disampingku, langsung kukecup tangannya yang terbalut sarung tangan dengan singkat.
"Sekarang mempelai pria mengecup kening istrinya," ucap Pak Ustad.
Aku memejamkan mata tak ingin melihat wajahnya, hingga kurasakan sebuah sentuhan lembut mendarat dikeningku. Untuk sejenak aku tertegun, merasakan kenyamanan. Namun, dengan cepat aku langsung memalingkan wajah, malu sekaligus kesal.
Setelah itu, para tamu yang hanya terdiri dari penghulu alias ustadz dan beberapa saksi memberikan ucapan selamat pada kami, kemudian langsung pulang setelah menikmati hidangan seadanya. Menyisakanku bersama suamiku, serta ibu, Mira dan kekasihnya Hakim yang menatapku penuh amarah.
Melihat pria yang hampir melecehkanku itu mendadak membuatku gelisah, apalagi saat mengingat bagaimana tangan lakn*tnya menyentuh tubuhku. Bulir keringat dingin perlahan mulai terasa didahi, aku ketakutan.
Tidak! Bukan hanya itu, aku bahkan mendadak merasa jijik pada diriku sendiri. Hari itu, aku tak memikirkan hal ini, mungkin karena aku lebih memikirkan perasaan ibu. Namun sekarang aku merasa diriku begitu hina, karena sudah disentuh oleh pria bej*d itu.
Ada keinginan untuk memukul pria itu sekeras-kerasnya, namun keinginan itu kalah oleh rasa takutku yang lebih besar.
Reflek, aku memejamkan mata dan menggenggam erat tangan suamiku. Berharap dapat menghilangkan sedikit ketakutan yang tengah kurasakan. Pria ini tampaknya mengerti ketakutanku, karena tangannya yang lain menggenggam balik tanganku.
"Kamu aman, tenanglah." Bisikan lembutnya terasa seperti angin segar. Aku tak bisa mengelak, jika suaranya mampu membuatku lumayan lebih tenang dan perlahan membuka mata.
Tapi tunggu, kenapa dari kalimatnya dia seolah tahu jika aku tengah merasa ketakutan?. Aku ingin menanyakannya, saat ucapan Mira menangguhkan niatku.
"Khansa sekarang kan udah nikah, jadi harusnya dia pergi dong dari sini" ucap Mira, yang bahkan tak mengakui perbuatannya setelah kuceritakan soal aku yang memang sudah berniat pergi dari rumah ini.
Tanganku mengepal geram, melupakan ketakutanku begitu saja. Ingin sekali kutampar wajahnya yang terus berpura-pura polos dan tak tau apa-apa. Namun, tiba-tiba sebuah sentuhan lembut mengusap pelan punggung tanganku.
Aku menoleh kesal saat menyadari jika pria yang kini menjadi suamikulah pelakunya, namun kemarahanku seakan menguap begitu saja saat pandangan kami saling beradu.
Pria didepanku terlihat begitu tampan, wajahnya terlihat begitu meneduhkan dengan alis tebalnya, bulu matanya begitu lentik melebihi seorang wanita. Hidungnya cukup mancung untuk seorang warga pribumi.
Kulitnya juga lebih putih dari warga desa pada umumnya, dia terlihat seperti aktor yang sering kulihat alam film. Postur tubuhnya tegap, membuatku spontan membayangkan roti sobek dibaliknya.
__ADS_1
Astaghfirullah!
Menyadari fikiran ngawurku, aku langsung melepaskan tanganku dari pegangannya. Memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan wajahku yang terasa memanas, juga degup jantung yang tiba-tiba berdebar kencang. Ada apa ini?.
"Saya akan membawanya pindah hari ini juga."
Aku kembali menoleh kesal saat mendengar perkataan pria yang usianya lebih tua dariku itu, tanpa kuduga dia justru tersenyum manis padaku, membuatku merasa malu dan kembali memalingkan wajah. Tanpa sengaja, bersitatap dengan ibu.
Aku tersenyum padanya, aku tau beliau sebenarnya enggan melepasku pergi dari rumah ini. Namun aku juga tau, jika kepergianku akan membuat sakit dihatinya sedikit berkurang, jadi kuputuskan akan tetap pergi. Meski tak tahu kemana suami yang bahkan belum kuketahui namanya ini akan membawaku, setidaknya aku bisa keluar dari rumah ini untuk melegakan perasaan ibu.
Ibu memalingkan tatapannya dariku, kemudian berdiri. "Sudah hampir petang, kalian bisa pergi besok pagi," ucapnya dan masuk kedalam kamar.
Mira menatapku dengan kesal, mungkin karena gagal membuatku pergi malam ini juga. Dia kemudian menarik Hakim keluar dari rumah.
Setelah semua orang pergi, aku turut berdiri dan melangkah masuk kedalam kamar. Hingga tepat setelah masuk, langkah yang mengikutiku membuatku mengingat jika ada seseorang yang juga masuk kedalam kamarku.
"Kenalkan, suamimu... Adam Biantara." Dia tersenyum, mengulurkan tangan seolah aku mengajaknya berkenalan dengan sukarela.
Aku tak membalas uluran tangannya, kemudian menyedekapkan tangan didepan dada, menunjukkan kalau aku tidak takut padanya. Meskipun wajahnya terbilang tampan dan tak terlihat berniat jahat, tetap saja dia adalah orang suruhan Mira yang patut diwaspadai.
Lagipula, siapa yang bisa mempercayai orang suruhan sepertinya.
"Kenapa mau-maunya disuruh Mira untuk menikah denganku? Memangnya berapa besar uang yang Mira berikan padamu?" tanyaku menyelidik.
Dia tidak terlihat seperti seseorang yang kekurangan uang, karena meskipun saat ini dia tidak menggunakan barang-barang mewah, entah kenapa firasatku mengatakan dia adalah orang kaya. Lalu, mana ada orang kaya yang mau dibayar untuk menikahi wanita asing?.
Bukankah terdengar tak masuk akal?.
"Saya bukan orang suruhannya." ucapnya begitu tenang, bahkan diiringi dengan sebuah senyuman tipis.
__ADS_1
Aku mencebikan bibir sembari memutar bola mata malas, setelah mendengarnya menyangkal dengan begitu halus. Bisa-bisanya dia masih berkilah setelah semua yang terjadi.
"Saya tau apa yang mencoba dia lakukan padamu, tapi saya benar-benar bukan orang suruhannya. Saya dipukul seseorang, dan saat saya sadar ternyata saya sedang bersama kamu ditoko kosong. Saya bahkan tidak tahu apa yang terjadi."
Aku menghela nafas, berusaha sabar pada manusia didepanku ini, yang bisa bersikap begitu tenang saat berbohong.
"Benarkah? Lalu siapa yang membiusku hingga pingsan?" Aku yakin kali ini dia tidak punya jawaban.
"Tentu saja orang yang disuruh adikmu, orang yang sama yang memukul saya hingga tak sadarkan diri. Lalu membawa saya ketempat yang sama dengan kamu." jelasnya, masih dengan wajah tenangnya.
Aku menyipitkan mata menatapnya penuh selidik, berharap menemukan sebuah kebohongan dimatanya. Sayangnya, aku tak bisa melihatnya, seakan dia bicara yang sebenarnya.
Jika benar apa yang dia katakan? Itu artinya Mira salah sasaran, atau pria ini memang bagian dari rencananya.
"Jika kamu benar-benar korban, harusnya kamu menyangkalnya dan membatalkan pernikahan ini, sehingga kita tidak perlu menikah! Lagipula kamu ini laki-laki, pernikahan ini bisa dibatalkan jika kamu tidak mengucapkan ijab qobul!" Kesal, aku sungguh ingin meluapkan semua rasa kesalku padanya.
Jika dia benar-benar hanya korban, lalu kenapa dia tetap mengucapkan ijab kobul, padahal dia bisa saja kabur dan pergi sejauh mungkin.
"Saya tidak akan melakukannya."
Ucapannya membuatku mengernyit heran.
"Kenapa?"
"Karena saya memang ingin menikah dengan kamu."
"Ha?"
Bersambung.
__ADS_1