Aku Putri Seorang Pelakor

Aku Putri Seorang Pelakor
Bab 9 : Pertengkaran


__ADS_3

"Jangan membohongi dirimu sendiri, Khansa!"


"Ibu adalah Ibuku! Seorang wanita yang hanya mengandung dan melahirkan selama 9 bulan lebih, tidak bisa dibandingkan dengan wanita yang membesarkanku selama 19 tahun dengan luka dihatinya!"


"Benar, kami tidak bisa dibandingkan. Karena tanpa dia, kamu tidak akan berada disini atau memanggil Ibu seperti sekarang. Tanpa dia, tidak akan ada Khansa Rumaisa yang harus Ibu besarkan!" 


Aku terkejut mendengar perkataannya yang terasa begitu mengena, kenapa sekarang ibu ingin aku menganggap wanita itu ... ibu?.


"Kamu tidak akan ada tanpa dia, tapi kamu akan tetap hidup tanpa ibumu ini!"


"Kata siapa Bu? Jika Ibu tidak merawatku, bukankah sangat mungkin hidupku akan sangat buruk. Bisa saja aku menjadi gelandangan, pengemis, atau bahkan seorang pelac*r. Dan kemungkinan terbesarnya, aku akan meninggal bahkan sebelum aku bisa berjalan atau bicara."


"Hentikan Khansa! Dia tetap ibumu! Ibu membencinya, tapi bukan berarti Ibu ingin kamu merasakan hal yang sama. Jangan membenci wanita yang mengorbankan nyawanya untuk melahirkanmu!" Ibu menatapku nyalang, ucapan dan raut wajahnya membuatku sedikit merasa takut. Beliau terlihat begitu marah sekaligus murka.


"Kamu baru berumur 19 tahun, kamu tidak pernah tau apa yang terjadi dimasa lalu. Jangan menghakimi ibu kandungmu hanya karena melihat penderitaan Ibu!"


"Bu..."


"Untuk saat ini Ibu tidak bisa mengatakannya, tapi percayalah pada Ibu jika ibu kandungmu tidak seburuk yang kamu bayangkan. Maaf, karena tidak bisa memberi tahumu sekarang."


Setelah diam beberapa saat, ibu masuk kedalam rumah, meninggalkanku yang bingung melihat sikapnya. Ibu, seakan mencoba menerapkan pada pikiranku, jika ibu kandungku bukanlah orang yang buruk, seperti dugaanku.


...🍁...


Tok! Tok! Tok!


"Bu? Sudah waktunya makan siang!" panggilku setelah mengetuk pintu, sembari membawa makanan kesukaan ibu, sup ayam.


Ibu tak menyahut ataupun membukakan pintu, kucoba meraih handle pintu dan membukanya perlahan, rupanya tidak dikunci.


Kulihat ibu tengah duduk dikursi goyangnya dengan kacamata yang bertengger diatas hidung, mencoba memasukan benang kedalam jarum. Dengan sebuah pakaian dipangkuannya.


Kudekati beliau perlahan, setelah meletakan makanan diatas nakas. Aku duduk bersimpuh didepannya yang seakan tak menganggap keberadaanku, masih sibuk dengan benang dan jarum ditangannya.


Kuraih dua benda itu, lantas memasukan benang kedalam lubang jarum dengan mudah. Beliau menatapku acuh, mengambil jarum berisi benang yang kusodorkan.

__ADS_1


"Ibu marah?"


Ibu tak menjawab, sibuk menjahit sebuah kancing yang terlepas dari kemeja panjang yang ternyata pakaian Mira.


"Kenapa Ibu marah padaku untuk seseorang yang telah tiada?"


Ibu langsung menatapku dengan tajam, tak setuju dengan ucapanku. "Dia mungkin masih hidup!"


"Benarkah? Apa selama ini kita berpindah-pindah rumah?"


"Apa maksudmu?"


"Jika dia benar-benar masih hidup, apa dia sama sekali tidak merindukan anak yang dia lahirkan? Kita tidak pernah berpindah rumah, dan jika dia memang mencariku, dia seharusnya datang kesini karena aku yakin dia tahu rumah ini." Aku tersenyum miris, sementara Ibu tampak tertegun.


"Tapi apa? Setelah 19 tahun aku bahkan baru tau jika aku bukan anak kandung Ibu. Dia tidak pernah datang kesini sekedar melihatku dari luar rumah. Tidak ada tetangga yang mengatakan ada wanita yang berdiri diluar rumah untuk melihatku. Itu sudah membuktikan, jika dia memang sudah tiada."


"Ada seorang pria yang selalu mengikutimu tanpa kamu sadari."


"Apa?" Aku terkejut, ibu mengatakan sesuatu yang tak kuduga.


"Tidak! Ibu pasti salah. Kalau memang benar dia selalu mengikutiku, aku yakin dia tidak ada hubungannya dengan wanita itu, karena dia sudah tiada!" Sangkalku pada ibu, sekaligus pikiranku sendiri yang mulai merasa resah jika apa yang ibu katakan benar.


"Jika kamu seyakin itu, kamu harus mencari makamnya!"


Ucapan ibu membuatku tak habis pikir, kenapa ibu kekeuh mempertemukanku dengan ibu kandungku? Bahkan jika benar wanita itu sudah tiada.


"Bagaimana jika dia tidak pernah ditemukan, dan terkubur didalam laut!" balasku mulai kesal.


"Katakan itu setelah kamu mencoba mencarinya dan dia benar-benar tidak ditemukan!" bentaknya meletakan jarum jahit dan pakaian ditangannya keatas pangkuan dengan kasar.


"Kenapa Ibu ingin aku mencarinya?"


Ibu meraih pakaian dan jarumnya, lantas berdiri dan meletakannya diatas kursi, kemudian menatapku dengan raut wajah yang sulit kutebak.


"Karena dia adalah ibumu!" sentaknya membuatku sakit hati, kenapa ibu terus berusaha membuatku menganggap wanita itu, ibu.

__ADS_1


Aku berdiri, tepat berhadapan dengan beliau.


"Jika Ibu ingin aku keluar dari rumah ini, katakan dengan jelas! Jangan menyuruhku mencari wanita itu untuk Ibu jadikan alasan mengusirku!" sentakku tak lagi dapat menahan air mata yang mengiringi rasa marah mendengar ucapan ibu.


Ibu tampak bergeming, tanpa menunggu beliau bicara aku langsung keluar dari kamarnya dan masuk kedalam kamarku, kemudian mengunci pintunya.


Aku terduduk bersandar pada pintu, menutup wajah dengan kedua tangan kemudian terisak. Dada ini terasa begitu sesak, saat ibu terus menyuruhku mencari wanita itu. Padahal sudah kukatakan dengan jelas jika aku tak ingin mencarinya.


Hah! Harusnya aku sadar seberapa bencinya ibu padaku. Meskipun beliau peduli padaku yang pingsan diluar rumah, bukan berarti beliau sudah benar-benar mengikhlaskan masa lalunya.


Melihatku tentu saja masih membuat lukanya terus menganga. Harusnya aku sadar, meskipun ibu menyayangiku, namun rasa benci dihatinya juga tidak hilang begitu saja.


Kuputuskan menuruti keinginannya, mulai menata pakaian kedalam tas koper dan memasukan semua baju kedalamnya. Setelah memastikan barang yang kuperlukan sudah dimasukan kedalam koper, segera kuraih tas selempang disamping pintu dan bergegas keluar.


Namun, tepat saat langkah ini bersiap keluar dari pintu utama, suara itu memanggilku pelan.


"Khansa!"


Aku menoleh dengan berat hati, menatap ibu yang kulihat mencoba menahan air matanya.


"Ibu tidak berniat mengusirmu, jangan mencarinya hanya karena ucapan Ibu. Tolong jangan pergi, Khansa..." lirihnya dengan suara gemetar.


Kupejamkan mata sejenak, guna menetralkan emosi yang sempat tak terkendali. Harusnya aku bisa berpikir jernih, ibu tak mungkin berniat mengusirku.


Beliau, benar-benar hanya ingin aku mencari ibu kandungku, tidak lebih. Hanya saja, aku tidak berniat mengurungkan niatku. Aku memang akan mencari wanita yang melahirkanku. Bukan karena ingin bertemu dengannya, tapi demi memenuhi perintah ibu.


"Aku akan kembali, entah setelah bertemu dengannya, atau setelah menemukan makamnya." Lirihku, meletakan tas koper begitu saja dan langsung mendekap tubuhnya erat.


Beliau membalas pelukanku pelan, hingga setelah beberapa saat pelukan kami terurai.


"Aku akan mencarinya, dan memastikan dia memang sudah tiada agar aku bisa tinggal bersama Ibu dengan tenang."


"Jangan mengharapkan kematiannya Khansa!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2