
"Mas?" panggilku pada Mas Adam yang tak keluar kamar sejak pembicaraan singkat kami pagi tadi.
Aku sudah membuat sarapan, dan dia belum juga keluar kamar setelah cukup lama aku menunggu, hingga kuputuskan memanggilnya yang kukira hanya mandi setelah semalaman entah kemana.
Pintu terbuka, tampak suamiku yang kini terlihat lebih segar dari sebelumnya. Wajahnyapun kembali dihias dengan senyuman yang selalu kulihat.
"Ayo sarapan, makanan sudah siap!" ajakku, dia mengangguk dan berjalan lebih dulu.
"Maaf karena sudah membentakmu tadi" ucapnya saat aku mengambilkan makanannya.
"Mas kan sudah minta maaf tadi, aku sudah memaafkan. Lagian kalau memang Mas tak ingin aku bangun terlalu pagi, aku akan menurut. Toh Mas benar, aku bisa istirahat lebih lama" ucapku, menunjukkan padanya jika aku baik-baik saja, karena memang itulah kenyataannya.
"Terima kasih."
Aku hanya tersenyum, kemudian kami memulai sarapan yang agak sedikit siang.
"Bagaimana Mas?." tanyaku saat Mas Adam baru menyuap makanannya, dia mengunyahnya dengan terdiam sejenak.
"Enak, masakanmu memang selalu enak. Sepertinya saya akan gemuk dalam waktu dekat." Mas Adam terkekeh pelan.
"Bisakah Mas berhenti bicara dengan bahasa formal padaku? Aku merasa tak nyaman." tanyaku yang semakin lama semakin tak nyaman. Aku bicara dengan bahasa santai, sementara suamiku yang lebih tua malah dengan bahasa formal.
"Tentu..." Dia terdiam sejenak. "Mas akan mencobanya."
"Itu terdengar lebih baik." Aku tersenyum senang, sembari kembali menyuapkan makanan kedalam mulut.
"Oh ya, Mas bilang kalau masakanku enak, apa Mas ingin aku memasak sesuatu untuk makan siang nanti?." tanyaku.
"Emm, sepertinya Mas ingin makan nasi goreng."
"Nasi goreng?."
"Kenapa memangnya? Apa itu sulit?."
"Tentu saja tidak, maksudku nasi goreng adalah makanan yang simpel. Aku pikir Mas ingin aku masak sesuatu yang lebih sulit."
"Mas suka makan nasi goreng."
"Baiklah, aku akan masak nasi goreng spesial untuk makan siang nanti."
Sekarang aku tau, apa makanan kesukaan suamiku. Dan entah kenapa, rasanya menyenangkan.
Seusai sarapan Mas Adam mengajakku kepasar, entah akan membeli apa, dia bilang aku harus ikut dengannya.
Meskipun ada dua motor, Mas Adam memintaku membonceng padanya. Aku hampir tak pernah dibonceng siapapun apalagi seorang pria, sehingga aku merasa tak nyaman dan duduk lebih mundur dan berpegangan pada pegangan belakang.
"Kenapa jauh sekali? Nanti kamu jatuh."
"Gak papa Mas, aku lebih nyaman seperti ini."
Mas Adam menghela nafas pelan, dan tiba-tiba menarik gas motornya membuat kedua tanganku reflek berpegangan padanya, dia kemudian menghentikan motornya.
"Lihat, kamu akan jatuh jika motornya jalan." Dia terkekeh.
Aku hampir menarik tanganku dari kausnya, saat dia justru menahannya.
__ADS_1
"Tetaplah seperti ini."
Aku hanya bisa menahan senyum dengan sikapnya, menangguhkan melepas tanganku dari kausnya.
Setelahnya kamipun memulai perjalanan, sesampainya dipasar, dia membawaku menuju toko pakaian paling besar disini, kemudian meminta pakaian wanita pada penjaga toko.
"Mas, bajuku sudah banyak" cegahku saat menyadari pakaian itu untukku.
"Tidak papa, lagipula Mas belum membelikan baju untukmu sama sekali."
Dia tidak menghiraukanku, tetapi malah meminta penjaga toko membantuku mencoba beberapa pakaian yang sudah dipilihkan. Dia juga memintaku memilih mukena dan sajadah yang kuinginkan.
"Tapi ini terlalu banyak Mas." ucapku saat dia membayar semua pakaian yang menurutnya cocok untukku.
"Semakin banyak semakin baik."
Setelah selesai membeli pakaian dan alat sholat, Mas Adam membawaku kesalah satu salon sederhana yang ada disana, meminta pegawainya untuk memberikan perawatan wajah dan lain sebagainya untukku.
"I-ini berlebihan Mas, sepertinya aku tidak memerlukan semua ini." ucapku saat sudah duduk dikursi yang menghadap cermin, sementara pegawai salon sudah berdiri dibelakangku.
"Kamu memerlukannya." Mas Adam beralih pada pegawai salon. "Silahkan dimulai."
Mas Adam keluar entah kemana, sementara pegawai salon mulai menyentuh rambutku.
"Eh!" cegahku.
"Rambut Nona sebenarnya bagus, tapi butuh perawatan yang lebih baik."
Dan setelahnya aku mengalah, membiarkan pegawai salon memberi perawatan pada rambutku.
"Maaf."
"Iya?."
"Kapan ini selesai?." tanyaku yang sudah merasa tak nyaman dengan benda dikepalaku.
Pegawai salon tersenyum. "Sebentar lagi."
.........
Aku keluar dari ruang perawatan dan melihat jika Mas Adam tengah duduk disalah satu kursi yang ada disini.
"Mas." panggilku dan membuatnya menoleh.
Entah apa yang salah denganku, hingga Mas Adam justru hanya terdiam tanpa kata. Tatapan matanya seakan sedang memindai penampilanku, apa aku terlihat semakin buruk?.
"Apa ada yang salah?."
Pertanyaanku membuatnya tersadar, dia langsung menggeleng cepat dan tersenyum.
"Ti-tidak, tidak ada yang salah." Dia menggaruk tengkuknya yang aku yakini tak gatal.
"Baiklah, ayo kita pulang." ajakku, Mas Adam mengangguk.
.........
__ADS_1
"Kenapa Mas harus mengeluarkan uang untuk semua ini, padahal barang-barang ini dan perawatan salon tidak terlalu penting?." tanyaku saat kami sudah kembali sampai dirumah menjelang siang. Saat ini kami duduk bersama diruang tamu.
Belanjaan yang begitu banyak didepan mata membuatku menyayangkan semua uang yang telah dikeluarkan.
"Pernikahan kita digelar dengan begitu sederhana, jadi Mas ingin membelikanmu banyak hal."
Aku hanya tersenyum menanggapinya, tak menyangka aku bisa menikah dengan pria yang bisa begitu perhatian seperti Mas Adam. Meskipun pernikahan kami terjadi karena fitnah dari Mira.
"Lalu kapan kita akan mengesahkan pernikahan ini Mas?" tanyaku, mengingat pernikahan kami diadakan secara sirri.
Jika aku tak mendapat perlakuan sebaik ini dari Mas Adam, mungkin aku tak akan menginginkan pernikahan ini disahkan dan memilih pergi dari rumah ini. Tapi semua yang terjadi berbanding sebaliknya, tentu aku ingin pernikahan ini diakui oleh negara.
Kutatap wajahnya yang tiba-tiba gelisah.
"Kenapa Mas?"
Dia menatapku dengan lekat, seolah bersiap mengatakan sesuatu yang sulit untuk diucapkan.
Dia menghela nafas berat. "Sepertinya pernikahan kita tidak perlu disahkan."
Apa?.
"Apa maksud Mas?" tanyaku dengan hati yang tiba-tiba gelisah.
Mas Adam terdiam sejenak, entah memikirkan apa yang jelas aku merasa dia sedang gelisah.
"Kamu masih ingin kuliah?." tanyanya tiba-tiba.
"Ha?." Kami sedang membicarakan satu hal, dan dia justru menanyakan hal lain. "Apa hubungannya dengan pernikahan kita."
"Jawab dulu pertanyaan Mas, apa kamu masih ingin kuliah dan melanjutkan pendidikanmu?."
Meski tak mengerti arah pembicaraannya, aku mengangguk. Karena sejak lulus SMA, aku memang ingin kuliah.
"Kalau begitu pernikahan kita memang tidak perlu disahkan."
"Apa? Apa yang kamu katakan Mas? Apa hubungannya pernikahan kita dengan keinginanku kuliah?."
"Mas akan mendaftarkanmu dikampus terbaik disini, fokuslah mengejar cita-citamu dan jangan pikirkan hal lain."
"Pernikahan kita bukan hal lain Mas, tolong jangan mengalihkan pembicaraan."
"Kampus mungkin tidak melarang mahasiswinya menikah, tapi saat kamu memasuki universitas kamu adalah mahasiswi baru. Jadi, akan lebih baik jika tidak ada yang tahu jika kamu sudah menikah."
"Itu bukan masalah Mas."
"Itu masalah."
"Baiklah, jika itu memang masalah untuk Mas. Tapi, pernikahan kita tetap bisa disahkan kan Mas?."
"Tidak."
"Kenapa?." Aku benar-benar tak habis pikir. Sebenarnya apa yang berada dalam pikirannya hingga menolak mengesahkan pernikahan kami.
"Keputusan Mas sudah bulat, akan lebih baik jika kamu mengerti." ucapnya dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Bersambung.