Aku Putri Seorang Pelakor

Aku Putri Seorang Pelakor
Bab 8 : Surgaku Ada Padamu


__ADS_3

Jawaban ibu sama sekali tak membuatku puas, kuputuskan untuk langsung membukanya. Namun, baru juga kumasukan kuncinya, ibu menyentuh tanganku.


"Bukalah dikamarmu."


Melihat gurat kesedihan yang tergambar diwajahnya, aku menebak jika isi dalam kotak ini berisi sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu, tepatnya pengkhianatan ayah. Kulakukan sesuai perintah, keluar dari kamar ibu dan masuk kedalam kamarku sendiri.


Sesampainya didalam kamar, aku segera duduk disisi ranjang, dan dengan tak sabar memutar kunci pada gemboknya.


Klek!


Gembok terbuka, dengan rasa gugup yang tiba-tiba muncul, kubuka kotak itu perlahan. Hingga benda yang pertama kulihat adalah sebuah kotak beludru kecil. Kubuka kotak khas perhiasan itu, dan benar saja isinya adalah sebuah kalung liontin berbentuk hati.


Mengingat apa yang kutonton dalam film, aku mencoba membuka liontin itu. Dan benar saja, sebuah foto yang kukenal sebagai ayah disatu sisi, dan seorang wanita berparas cantik disisi satunya.


Sejenak, kupandangi wajah seorang wanita yang terlihat begitu cantik. Senyumannya begitu manis dengan lesung pipi yang juga kumiliki. Rambutnya halus tergerai indah diterpa angin, kulitnya putih bersih bak pualam. Matanya bulat dengan kelopak mata yang tebal.


Ibu benar, aku memang mirip dengan wanita yang melahirkanku ini.


Ada rasa aneh yang tiba-tiba terasa menelusup kedalam dada. Seburuk-buruknya dia, dia adalah wanita yang mengandungku selama 9 bulan, melahirkanku dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.


Darah yang mengalir pada tubuhku adalah darahnya. Bohong jika aku mengatakan tak terpengaruh apapun setelah melihat fotonya, nyatanya tanpa sadar air mataku menetes begitu saja.


"Dia ibuku..." gumamku menyentuh potret wajahnya dengan hati yang berdenyut nyeri. Rasa rindu yang tak pernah kurasakan nyatanya kini datang tanpa kuminta.


Kubawa liontin itu kedalam dekapan, seolah memeluk wanita yang harusnya menjadi yang pertama kupanggil 'Ibu'. Meresapi rasa rindu pada seseorang yang bahkan tak pernah kutemui secara langsung, rasa rindu yang tak akan memiliki obatnya karena dia sudah tiada.


Kutatap kembali fotonya, menyesali mengapa dia harus memilih menjadi orang ketiga dengan wajah cantiknya. Ah, masih pantaskah dia kupanggil ibu setelah dia menyakiti wanita sebaik ibu tiriku itu?.


Aku ingin mengelak, tapi nyatanya sebuah rasa sayang muncul begitu saja hanya dengan melihat wajahnya.


"Maafkan aku Bu, karena hatiku telah berkhianat dengan merindukan wanita ini." gumamku teringat ibu yang telah membesarkanku hingga saat ini.


Dada ini perlahan terasa sesak karena berusaha menahan tangis, kuusap kasar air mata yang dengan lancang terus menetes. Kuletakan liontin itu ketempatnya semula, lantas mengambil sebuah alat rekam yang berada disamping kotak beludru.


Kutekan tombolnya, hingga sebuah suara asing menyapa indra pendengaranku.


"Namanya siapa Mas?" tanya seorang wanita dengan suara yang begitu lembut.

__ADS_1


"Namanya, Khansa Rumaisa" jawab laki-laki yang aku yakini adalah ayah.


"Cantik, aku suka. Semoga dia menjadi anak yang cantik sesuai namanya."


"Aku berharap dia akan menjadi wanita yang baik dan cantik sepertimu, Raihana."


Raihana, itukah nama wanita yang melahirkanku?. Wanita yang berhubungan dengan pria yang sudah menikah? Bukankah nama itu terlalu indah untuk seorang pelakor? Hah! Dia sudah menodai keindahan namanya.


Dan apa kata ayah tadi? Baik? Kenapa ayah bisa menyebut baik pada wanita yang mau menjadi selingkuhan? Dan kenapa ayah berharap aku menjadi sepert wanita itu. Tidak! Aku tidak ingin menjadi seperti dia. Aku ingin menjadi wanita sebaik ibu yang sudah merawatku, ibu Fatma.


"Lalu bagaimana dengan Mba Fatma, Mas?"


Suara setelahnya terdengar seperti radio yang kehilangan sinyal, suaranya bahkan begitu menganggu telinga. Langsung kumatikan rekaman itu, menghela nafas panjang karena tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan selanjutnya.


Kuletakan alat perekam itu, kemudian mengambil foto dengan warna yang sudah memudar. Foto sepasang suami istri dengan menggendong bayi yang baru lahir. Mereka, adalah orang yang sama yang fotonya berada didalam liontin, dua orang yang pergi sebelum aku mengenal mereka sebagai kedua orang tuaku.


Aku membalikan foto itu, terdapat sebuah tulisan berupa alamat dibelakangnya. Aku tidak tahu letak pastinya, yang jelas ini adalah sebuah alamat di ibu kota. Mungkinkah ini alamat rumah yang mereka tinggali selama mengkhianati ibu?.


Tiba-tiba saja, tangisan ibu kala itu melintas dikepala, membuatku spontan meremas foto dalam tangan. Mereka bahagia, diatas penderitaan ibu. Mereka tersenyum, diatas tangisan ibu. Kenapa aku harus lahir dari manusia tanpa perasaan seperti mereka?.


Aku merasa kesal sendiri, meletakan foto dan langsung mengunci kotak ini dan menaruhnya kedalam lemari.


...🍁...


"Bu?" panggilku pada ibu yang tengah duduk termenung ditaman belakang rumah.


Beliau menoleh, tersenyum samar kemudian kembali menatap kedepan. Aku langsung duduk disamping ibu, memeluknya erat.


"Kamu sudah melihatnya?" Suaranya seakan tertahan, ibu sedang berusaha menahan tangisnya.


Aku mengangguk.


"Kamu sudah mendengar suaranya?."


Aku kembali mengangguk, lantas dengan enggan melepas pelukanku darinya, menatap kedua matanya yang sudah mulai berkaca-kaca dengan lekat.


"Aku sayang Ibu..."

__ADS_1


"Bagaimana dengan Ibumu? Apa kamu menyayanginya?"


Sebenarnya aku ingin berbohong dan menggeleng, tapi dibanding melakukannya, aku memilih mengangguk jujur.


"Aku tidak akan bohong, aku menyayanginya hanya karena melihat fotonya. Tapi percayalah padaku, jika rasa sayangku pada Ibu melebihi rasa sayangku pada orang yang bahkan tak pernah kutemui."


"Kamu ingin bertemu dengannya?"


Aku cukup terkejut mendengarnya,kenapa ibu bertanya seolah ibu Raihana masih hidup. Padahal aku mendengar jelas jika ibu menyebut mereka telah pergi. Dan aku yakin tak salah memahami kata pergi sebagai meninggal.


"Bukannya kata Ibu dia sudah meninggal, aku mendengarnya pagi itu?"


Ibu tampak berpikir sejenak, menghela nafas berat, tatapannya terlihat menerawang.


"Mereka dinyatakan meninggal karena kecelakaan pesawat yang jatuh dilaut, saat itu kamu dititipkan pada pengasuhmu yang kemudian membawamu pada Ibu. Jenazah ayahmu ditemukan, tapi tidak dengan ibu kandungmu. Ada kemungkinan kecil jika dia masih hidup. Ibu tidak akan menghalangi jika kamu ingin mencarinya."


"Apa Ibu ingin aku mencarinya?"


Ibu memalingkan wajahnya dariku, aku tersenyum saat kutemukan jawabannya. Segera kembali kupeluk erat tubuhnya, menikmati aroma khas darinya yang selalu berhasil membuatku selalu rindu untuk pulang.


"Aku tidak akan mencarinya jika Ibu tidak benar-benar menginginkannya, aku juga tidak akan pergi dari rumah ini jika Ibu tidak mengusirku, kecuali..."


"Kecuali apa?"


"Kecuali jika aku meninggal, aku tidak akan kembali kesini meskipun sebagai arwah" ucapku kemudian terkekeh sendiri.


Plak!


Ibu memukul kepalaku pelan, aku pura-pura meringis kesakitan.


"Jangan bahas soal meninggal, Ibu ini lebih tua darimu, harusnya Ibu yang membicarakan tentang kematian!"


"Iya iya, aku hanya bercanda. Bahkan maut sekalipun tidak akan memisahkan kita, karena aku ingin bersama Ibu masuk kedalam Surga!"


"Surganya seorang anak ada ditelapak kaki ibunya" ucapnya membuatku tertegun.


Perlahan kurenggangkan kedua tangan yang memeluknya. "Ibu adalah Ibuku, dan surgaku ada padamu!" tegasku, menolak kenyataan jika aku tidak terlahir dari rahimnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2