
Hari sudah terang, dan ketiga orang itu masih belum juga keluar dari kamar. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan, tapi aku berharap jika mereka bisa mengobati Mas Adam.
Pintu kamar Mas Adam terbuka, dua orang pria yang belum kuketahui siapa mereka keluar.
"Anda bisa melihat keadaan Tuan Adam, tapi ingat ... hanya melihat!." ucap pria yang belum kutahu namanya, dengan alis yang menukik tajam.
Aku mengangguk mengerti, masuk kedalam kamar Mas Adam. Aku cukup terkejut saat melihat wanita itu tengah mengusap dahi suamiku dengan sebuah handuk kecil, dia melakukannya dengan begitu pelan. Tatapan matanya tampak khawatir melihat Mas Adam, membuatku merasa jika dia memiliki perasaan untuk suamiku itu.
Dia berjingkat kaget saat menyadari kehadiranku, dan langsung menjauh dari Mas Adam. Aku mendekat kearah suamiku yang masih memejamkan matanya itu, lantas duduk disisi ranjang.
"Bagaimana keadaannya?." tanyaku menatap Mas Adam khawatir, pada wanita yang kini berdiri disampingku.
"Belum stabil, tapi keadaannya sudah lebih baik dari semalam" jelasnya.
Aku menatap wanita berparas cantik itu dengan lekat. "Apa yang terjadi semalam?" tanyaku.
"Hal yang sering terjadi dalam kehidupan Tuan Adam 15 tahun ini."
"Apa maksudmu?." Aku jelas tak mengerti apa yang dia katakan.
"Peluru, pistol, dan juga pisau adalah benda-benda yang tak pernah luput dalam hidupnya. Tuan Adam sering terluka seperti ini, jadi Nona tidak perlu khawatir."
"Tidak perlu khawatir?." Aku tertawa sinis. Bagaimana bisa dia memintaku untuk tidak mengkhawatirkan keadaan Mas Adam yang masih belum sadarkan diri?.
"Saya sangat mengerti perasaan Nona, tapi kehidupan Tuan Adam memang seperti ini. Jadi, akan lebih baik jika Nona bisa beradaptasi."
"Siapa kalian?." tanyaku intens, masih penasaran siapa mereka bagi Mas Adam.
Apakah mereka yang membawa Mas Adam pada dunia yang gelap ini?.
"Perkenalkan, saya Viera. Pria yang kemarin bicara pada Nona adalah Jhon, dan pria yang satunya lagi adalah Michael. Dan kami adalah orang-orang yang Tuan Adam selamatkan beberapa tahun lalu."
"Selamatkan?."
"Benar." Viera melirik Mas Adam sesaat. "Sebaiknya kita bicara diluar, agar tidak mengganggu istirahat Tuan Adam."
Aku tak ingin meninggalkan Mas Adam, tapi yang dikatakan Viera ada benarnya. Akhirnya kamipun keluar dan menuju ruang tengah, dimana Jhon dan juga Michael sudah duduk disana.
__ADS_1
Jhon menatapku dengan tajam, kemarahannya padaku tergambar dengan jelas diwajahnya.
"Jangan terus menatap Nona Khansa seperti itu, Jhon!." Viera menatap Jhon tajam, hingga membuat pria itu memalingkan wajahnya.
"Jadi, bagaimana kalian bisa mengenal Mas Adam?" tanyaku pada Viera.
"Saya tidak bisa menceritakan semuanya, tapi mungkin sebagian kecilnya."
Viera lantas memulai ceritanya.
20 tahun lalu, tepatnya saat Mas Adam baru berusia 10 tahun, seorang mafia menjadikannya sebagai anak buah yang baru. Mas Adam, yang saat itu baru kehilangan kedua orang tuanya, dilatih dengan keras dan kejam hanya untuk menjadi seorang pembunuh yang handal.
Cambuk, pukulan kayu dan juga tamparan keras adalah makanan sehari-hari baginya. Hingga 8 tahun kemudian akhirnya Viera, Jhon, dan Michael datang, bukan untuk dilatih seperti Adam, melainkan akan dijual organ tubuhnya.
Saat itu usia Mas Adam sudah 18 tahun, sementara ketiga orang dihadapanku ternyata berada 3 tahun dibawah Mas Adam.
Mas Adam, yang merasa jika dia harus melindungi mereka bertiga, akhirnya menjadi pemberontak, melawan bos mafia dan membawa mereka bertiga kabur. Saat itu Mas Adam bahkan sampai dirawat 2 bulan dirumah sakit akibat dua tembakan didada yang ternyata terkena pada jantungnya. Hingga pada akhirnya dia harus dioperasi.
Bukannya bebas setelah semua penderitaan itu, Mas Adam justru bertemu dengan mafia yang lain, yang menjadikannya sebagai pembunuh bayaran lagi. Namun, kali ini Mas Adam tidak mencoba kabur, dia memiliki alasan untuk itu. Dan pada akhirnya, Viera, Jhon dan Michael yang merasa berhutang budi pada Mas Adam tetap berada disisinya, meskipun akhirnya mereka juga harus menjadi pembunuh bayaran.
"Kenapa mafia yang pertama menjadikan Mas Adam pembunuh, memilihnya yang saat itu baru berusia 10 tahun? Dan bahkan baru kehilangan orang tuanya?." tanyaku setelah Viera selesai bercerita.
"Alasannya karena orang tua Tuan Adam adalah anak buahnya."
"Astaghfirullah!." spontan aku mengucap istighfar, ternyata Mas Adam bisa masuk kedunia hitam ini karena jejak orang tuanya.
"Lalu kenapa Mas Adam tidak mencoba kabur dari mafia yang kedua?." tanyaku lagi.
"Dia bahkan masih menjadi bos kami hingga saat ini" ucap Viera dengan tersenyum, senyuman yang menyimpan banyak beban.
Viera menghela nafas dalam. "Tuan Adam memiliki alasannya sendiri, sebuah alasan yang tidak bisa kami katakan pada Nona." Viera menggenggam tanganku dan menepuknya pelan.
"Kenapa?."
"Saya tidak yakin, tapi suatu saat nanti Tuan Adam sendiri yang akan menceritakannya pada Nona." Viera kembali tersenyum, tapi justru membuatku merasa penasaran sekaligus gelisah.
"Tolong tetaplah disisi Tuan Adam, walaupun Nona sudah mengetahui seberapa gelap dunianya. Nona tidak perlu khawatir, Tuan Adam tidak akan membiarkan musuhnya menyentuh Nona walau sedikit."
__ADS_1
Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan. Sebagai seorang perempuan yang baru hampir berusia 20 tahun dan tak pernah keluar dari zona aman, jujur aku merasa takut masuk kedalam dunia Mas Adam.
Dunia, yang membawanya pada begitu banyak luka dan juga dosa.
"Aku tidak yakin dengan kalian, tapi Mas Adam adalah seorang muslim. Dia bahkan beberapa kali mengimami sholatku, dan apa yang dia lakukan saat ini adalah dosa." mataku perlahan mulai terasa mengembun.
"Apakah kalian tidak ingin berusaha keluar dari dunia penuh dosa ini?." Aku menatap ketiga orang dihadapanku secara bergantian.
"Kuncinya ada pada Tuan Adam, karena hanya Tuan Adam yang tahu kenapa dia mau bertahan sampai sekarang."
Aku terdiam, sepertinya aku harus tahu apa alasan Mas Adam bertahan pada pekerjaan penuh dosa ini.
"Lalu siapa yang menyerang Mas Adam semalam, sampai dia terluka separah ini?." tanyaku kemudian, yang masih belum tahu siapa yang melukai suamiku.
"Dalam dunia kami, tidak ada yang namanya teman, tapi hanya ada lawan. Setelah bertahun-tahun membunuh banyak orang, tentu saja akan banyak musuh yang bermunculan. Dan yang semalam menyerang kami, adalah anak buah dari pria yang sudah menculik Nona."
"Apa?."
Ternyata masalah tidak selesai begitu saja saat aku bangun dirumah sakit.
"Apa mereka_"
"Nona tenang saja, asal berada disini Nona dan Tuan akan aman karena banyak penjaga diluar. Untuk urusan mereka Nona tidak perlu memikirkannya."
"Bahkan jika Anda memikirkannya tidak akan merubah apapun" sela Jhon dengan sinis, membuat Viera langsung mendelik tajam padanya.
Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya yang sepertinya sangat tidak menyukaiku, karena mungkin saja semua ini terjadi karena aku yang saat itu mengikuti Mas Adam diam-diam.
Kuputuskan masuk kedalam kamar, dimana Mas Adam belum juga terbangun. Baru saja aku mendekat kearahnya, sampai kulihat gerakan dijari tangannya.
"Mas..."
Kugenggam dengan erat tangannya, mengecupnya penuh harapan agar Mas Adam segera sadar. Harapanku terkabul, saat perlahan kedua mata Mas Adam terbuka.
Dia tampak bingung untuk beberapa saat, kemudian menoleh kearahku dan tersenyum tipis.
"Mas..." Kukecup kembali tangannya dengan air mata yang menetes, aku merasa begitu bahagia akhirnya Mas Adam sudah sadar.
__ADS_1
Bersambung.