Aku Putri Seorang Pelakor

Aku Putri Seorang Pelakor
Bab 19 : Mendaftar Kuliah


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 6 sore, dan aku baru saja selesai melaksanakan sholat Maghrib saat suara motor Mas Adam terdengar.


Segera aku keluar dan membukakan pintu untuknya, menyambutnya dengan senyuman hangat. Pembicaraan terakhir kami mungkin tidak berakhir baik, tapi aku tetap tak ingin pertengkaran ini semakin berlarut-larut.


"Mas." Aku meraih tangannya yang begitu dingin dan mengecupnya pelan.


Dia tidak mengatakan apapun, dan langsung masuk melewatiku begitu saja.


"Aku sudah membuat nasi goreng spesial seperti yang Mas inginkan, ayo makan. Mas sudah melewatkan makan siang, jadi jangan sampai melewatkan makan malam."


Dia menghentikan langkah saat kami berada diruang makan, kemudian berbalik menatapku.


"Saya tidak melewatkan makan siang, saya juga sudah makan malam lebih awal. Jadi kamu tidak perlu repot-repot melakukannya." Nada bicaranya terdengar begitu dingin, terlebih dari bahasa formalnya yang kembali.


"Kenapa kamu bicara dengan formal lagi padaku Mas? Aku tidak menyukainya."


"Saya menyukai apapun yang tidak kamu sukai."


"Mas Marah?." Aku menghela nafas. "Baiklah jika Mas marah, aku minta maaf. Aku tidak akan memaksa Mas mengesahkan pernikahan kita. Apapun keputusan Mas, aku akan menerimanya. Tapi tolong, jangan bersikap seperti orang asing."


Mungkin terlalu cepat jika menyimpulkan jika aku perasaan ini adalah cinta, mengingat jika kami baru tinggal bersama dua hari. Tapi yang jelas, perlakuan lembut dan juga perhatian yang dia berikan membuatku merasa nyaman dengannya.


Dan melihat sikapnya sekarang, aku merasa sakit hati.


"Kita memang orang asing yang kebetulan menikah."


"Tidak, kita bukan orang asing. Mas sendiri yang mengatakannya padaku, jika aku mungkin tidak mengenal Mas, tapi Mas mengenalku. Dan Mas juga ingin menikah denganku."


Dia menunduk, entah apa yang dia pikirkan dia kemudian mendongak.


"Maaf."


Setelahnya, Mas Adam langsung masuk kedalam kamarnya, bahkan tanpa melihat sedikitpun nasi goreng yang sudah kubuatkan untuknya.


Aku menghela nafas, meletakan nasi goreng kedalam lemari kemudian masuk kedalam kamar. Saat aku tengah memikirkan kemungkinan apa yang membuat Mas Adam menolak mengesahkan pernikahan kami, suara motor terdengar. Aku langsung melihat dari jendela kamar, Mas Adam pergi dengan motornya.


.........


Sama seperti pagi buta sebelumnya, Mas Adam baru pulang setelah semalaman entah kemana. Namun, mengingat dia yang seakan tak ingin ketahuan olehku, aku memilih pura-pura tak melihatnya dan keluar dari kamar setelah dia masuk kedalam kamar.


Setelah selesai beberes seperti biasa, aku langsung menyiapkan sarapan spesial. Mengingat kemarin dia sama sekali belum memakan nasi goreng, aku berpikir untuk membuatnya lagi lagi ini.


Mas Adam keluar dari kamar setelah makanan terhidang diatas meja.


"Maaf."

__ADS_1


Aku menghela nafas melihat rasa bersalah diwajahnya, membuatku mengerti jika dia memiliki alasan yang kuat dibalik keputusannya atas pernikahan kami.


"Mas bilang akan mendaftarkanku dikampus yang ada disini, apa jadi?." tanyaku sengaja mengalihkan pembicaraan, tak ingin membuatnya merasa bersalah lebih dalam.


Apalagi, aku memang ingin kuliah dan melanjutkan pendidikanku.


"Kamu tidak keberatan jika pernikahan kita_"


"Keputusan Mas sudah bulat bukan, maka aku tidak bisa membuatnya menjadi persegi apalagi segitiga." Aku tersenyum.


Mas Adam tertawa pelan, kemudian menatapku lekat. "Terima kasih sudah mau mengerti."


"Jadi bagaimana? Apa Mas jadi mendaftarkanku dikampus?." tanyaku lagi.


Dia mengangguk. "Tentu, kita akan berangkat setelah sarapan. Tapi Mas harus tahu dulu, jurusan apa yang ingin kamu ambil."


Aku berpikir sejenak, selama ini aku hanya berpikir masuk kuliah tanpa memikirkan jurusannya. Aku berusaha memikirkan hal apa yang paling aku sukai.


"Aku ingin kuliah jurusan memasak, apa itu namanya?." Aku berusaha mengingat-ingat.


"Tata boga." ucap Mas Adam.


"Ah ya itu, aku mau masuk jurusan Tata boga."


.........


Kami baru saja menyelesaikan pendaftaran kuliahku, dan aku bisa masuk Minggu depan. Rasanya begitu membahagiakan, memikirkan jika aku bisa kuliah setelah berbagai penolakan yang kuterima dari ibu.


Aku tak menyangka, jika akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikanku setelah menikah dengan pria asing yang sebelumnya tak pernah kukenal.


"Terima kasih ya Mas." ucapku saat kami keluar dari ruang Dekan.


Mas Adam tak menjawab, dan hanya tersenyum kecil. Aku merasa bahwa pria itu tengah memikirkan sesuatu.


"Khansa?."


Aku dan Mas Adam serentak menoleh saat sebuah suara menyebut namaku.


"Huda?."


Pria itu melangkah cepat kearahku dan Mas Adam, hingga sampailah dia tepat didepan kami. Huda melirik Mas Adam sembari mengernyit bingung.


"Dia siapa Khansa?." tanya Huda.


Aku bersiap mengenalkan mereka satu sama lain, saat Mas Adam mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Adam, kakak sepupu Khansa."


Aku membelalak kaget mendengar Mas Adam memperkenalkan diri, tapi detik berikutnya aku mengingat jika dia tak ingin orang luar tau pernikahan kami.


Huda tampak tersenyum lega, kemudian membalas uluran tangan Mas Adam. "Huda, teman Khansa."


Mas Adam melirikku setelah tangan mereka terlepas, membuatku merasa tak nyaman.


"Khansa, kenapa aku tak tahu kalau kamu punya kakak sepupu?."


Aku tersenyum kikuk karena tak memiliki jawaban untuk pertanyaan Huda, memangnya apa yang bisa kukatakan.


"Saya tinggal diluar kota dan jarang kesini, wajar jika Khansa tidak menceritakan tentang saya pada teman-temannya." bohong Mas Adam.


"Ah begitu rupanya." Huda mengangguk-angguk. "Oh ya Khansa, sedang apa kamu disini?."


"Aku baru saja mendaftar kuliah, kamu sendiri?."


"Benarkah? Kalau begitu kita akan satu kampus karena aku juga kuliah disini." Huda menunjukan tas punggungnya.


"Bukannya kamu kuliah diluar negeri?."


"Yah begitulah, tapi aku pindah kesini karena kesehatan ibu memburuk setelah kecelakaan yang menimpa Vania. Walaupun harus bolak-balik antar kota, setidaknya aku masih bisa pulang dibanding saat aku kuliah diluar negeri."


"Kesehatan Bu Jum memburuk?." Bagaimanapun aku masih mengingat Bu Jum yang baik padaku semasa aku bekerja padanya, dan mendengarnya sakit membuatku khawatir.


"Hem, sekarang dia sakit-sakitan, padahal keadaan Vania sudah membaik."


"Aku turut prihatin atas kesehatannya, semoga Bu Jum cepat sembuh."


"Semoga saja, lain kali datanglah kerumah, mungkin keadaan ibu bisa lebih baik setelah bertemu denganmu."


"Tentu." jawabku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Bagaimana dengan pria yang menolong Vania waktu itu?. Apa dia terbukti membunuh orang yang mau memperk*sa Vania?."


"Ya, tapi dia tidak ditemukan sampai sekarang."


"Astaghfirullah! Sangat disayangkan dia menolong orang dengan membunuh. Jika saja dia tidak membunuh pelaku, mungkin dia tidak akan dicari sebagai buronan."


"Benar, aku juga cukup merasa bersalah padanya. Dia sudah menolong Vania, tapi malah harus menjadi buron."


Aku berniat membalas ucapan Huda saat Mas Adam tiba-tiba meraih tanganku, membuatku terkejut. Entah kenapa aku merasa jika dia sedang gelisah sekarang, bahkan raut wajahnya yang semula santai berubah menjadi tegang.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2