
Aku duduk termenung diatas tempat tidur, tempat asing yang akan menjadi tempat istirahatku untuk beberapa waktu kedepan. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, namun mata ini sama sekali tak ingin terpejam.
Aku merasa gelisah, teringat ibu yang harus dipijat sebelum tidur. Sebenarnya aku ingin menelpon Mira dan menanyakannya, tapi aku yakin gadis itu tak akan menerima panggilanku, karena nomorku sudah diblokir olehnya. Sementara untuk menelpon ibu, beliau bahkan tak punya ponsel. Entah harus kepada siapa aku bertanya tentang keadaan ibu.
Aku memilih beranjak, melangkah kearah jendela dan membukanya. Menikmati pemandangan alam yang sebenarnya bukan pemandangan alam, karena lebih banyak atap rumah dan lampu-lampu yang terlihat ketimbang pepohonan.
Suasana disini jelas berbeda ketimbang rumahku, dimana pemandangan sawah adalah hal yang kulihat sehari-hari, juga suasana jangkrik yang terdengar dimalam dan pagi hari, hingga saat malam terasa sunyi.
Disini, suasana terasa bising karena kendaraan yang berlalu lalang. Meski tidak banyak, tetap saja aku merasakan suasana yang berbeda. Dan jangan lupakan soal suhu udaranya yang lebih hangat disini.
Semuanya ... terasa berbeda, hingga memaksaku menyadari jika aku dan ibu kini telah berjarak.
Aku menghela nafas, menahan rasa rindu pada ibu yang baru pertama kali kutinggal pergi untuk waktu yang tak pasti. Entah sedang apa beliau sekarang, aku khawatir ibu akan susah tidur karena tidak dipijat.
"Belum tidur?."
Aku tersentak saat pintu kamar terbuka, Mas Adam tersenyum padaku.
"Belum," jawabku kemudian kembali menatap keluar jendela.
"Kangen Ibu?." tanyanya seraya berdiri disampingku, aku mengangguk.
"Maaf harus menjauhkanmu darinya, saya janji akan secepatnya menyelesaikan urusan saya disini."
Aku terdiam mendengarnya, teringat sesuatu.
"Apa jika kita kembali kesana kita akan tinggal dirumah Ibu?." tanyaku khawatir.
Mengingat Mira yang sangat ingin aku pergi, sepertinya gadis itu tak akan membiarkanku kembali kerumah itu. Lagipula aku sudah menikah, rasanya tak nyaman jika membiarkan Mas Adam dan Mira dalam satu atap, bukan?. Meskipun kenyataannya, aku selalu ingin berada didekat ibu.
"Tidak, tapi tinggal tepat disamping mereka."
"Disamping?."
Ingatanku tertuju pada rumah disamping rumah ibu, yang berjarak sekitar 10 meter. Rumah yang dibeli oleh seseorang dari pemilik lamanya beberapa bulan lalu, namun pemilik barunya terkesan misterius. Seorang pria, yang kuingat melihatku dari dalam jendela rumahnya saat aku pulang dari rumah hakim tempo hari.
Pria itu hampir tak pernah terlihat keluar rumah, hingga rumah yang sebenarnya belum dibangun terlalu lama itu seperti tidak ada penghuninya.
"Maksud Mas rumah bercat putih dengan pagar hitam itu?." tanyaku, pasalnya hanya rumah itu yang paling dekat dengan rumah ibu.
__ADS_1
"Iya."
"Bukannya rumah itu ada pemiliknya?."
"Benar, dan saya sudah menyewanya. Karena selain rumah itu, tidak ada rumah lain yang disewakan."
Aku bingung, sekaligus bahagia. Bingung karena terasa kebetulan pemilik rumah itu menyewakannya saat kami butuh rumah. Padahal aku tak pernah melihat plang 'Disewakan' disana.
"Sewanya mahal ya Mas?." tanyaku, mengingat rumah itu adalah rumah yang cukup bagus dan terawat. Meskipun rumah ibu sebagai juragan jelas lebih besar dan bagus.
Mas Adam tersenyum sebagai jawaban, membuatku merasa tak enak. Meskipun begitu aku juga tidak akan menolak, karena aku memang ingin tinggal dekat ibu.
"Saya akan mengusahakan apapun yang membuatmu bahagia." ucapnya membuatku tersentuh.
"Terima kasih Mas."
"Maaf karena baru bisa memberikan kamu rumah sewa."
"Aku yang minta maaf karena membuat Mas menyewa rumah saat ada rumah ini."
Perlahan tangannya menyentuh rambutku, membelai kepalaku pelan.
"Kamu cantik."
"Sekarang tidurlah, sudah malam."
Aku mengangguk, Mas Adam keluar dari kamar setelah mengucap salam. Tanpa dia tau, debaran dihati ini belum juga hilang bahkan setelah dia pergi. Apa sifat lembutnya membuatku jatuh cinta begitu cepat?.
Ah, sepertinya dengan fitnah dari Mira adalah cara Allah mempertemukanku dengan jodohku, Mas Adam. Aku tersenyum senang, merasa suasana hati yang sudah jauh lebih baik, kuputuskan untuk tidur.
...🍁...
Aku baru saja selesai melaksanakan sholat subuh saat kudengar suara motor yang masuk kedalam halaman. Aku membuka tirai yang menutupi jendela, kulihat Mas Adam baru turun dari motornya.
"Darimana dia?." gumamku bingung.
Mas Adam masuk kedalam rumah, sementara aku memutuskan untuk tak ambil pusing dan keluar dari kamar untuk memulai aktifitas rumah tangga.
Aku sempat bingung dimana alat kebersihan seperti sapu dan pel, sampai aku teringat melihatnya disamping dapur. Tepat saat aku sudah sampai di dapur, aku melihat Mas Adam didapur yang lampunya belum dinyalakan. Hingga suasana hanya remang-remang karena mendapat cahaya dari ruang tengah yang lampunya sudah kunyalakan.
__ADS_1
Dia terlihat meneguk segelas air putih hingga tandas, dia belum menyadari keberadaanku hingga tatapan matanya menunjukkan raut wajah terkejut saat melihatku. Dia terlihat panik, sembari menyembunyikan benda ditangan kirinya yang belum sempat kulihat kedalam jaket hitamnya.
Apa itu? Kenapa dia menyembunyikannya dariku?. Aku berniat menanyakannya, saat Mas Adam justru bertanya lebih dulu.
"Sedang apa kamu disini?." tanyanya dengan nada yang cukup tinggi, tak selembut biasanya hingga membuatku bingung. Karena dari gerak tubuhnya, dia tampak gelisah. Terlebih, dia menjaga jarak denganku seakan sedang waspada.
"Mau mulai beberes rumah Mas."
Dia mengerjapkan matanya, terlihat mengatur nafas beberapa kali hingga raut wajah yang sebelumnya tampak tegang kemudian tersenyum.
"Kenapa pagi buta begini?." Nada bicaranya kembali terdengar pelan, tingkahnya yang aneh membuatku tiba-tiba merasa bingung. Manakah Mas Adam yang asli, yang sekarang ataukah yang penuh kelembutan seperti kemarin?.
"Aku biasa bangun pagi saat dirumah Ibu, Mas. Jadi rasanya aneh jika bangun terlalu siang. Lagipula ini juga sudah jam lima pagi, jadi tidak terlalu pagi buta." jawabku apa adanya.
"Inikan rumah kamu juga, jadi gak perlu bangun sepagi ini buat beberes, kamu bisa istirahat lebih lama." ucapnya tersenyum.
Entah kenapa aku mendengarnya sebagai sebuah perintah, seakan dia benar-benar tidak suka jika aku bangun terlalu pagi. Apa karena aku melihatnya yang baru pulang. Dan apa ucapannya itu agar hal ini tidak terulang lagi? Apa itu artinya dia memang sering pulang pagi-pagi?.
"Eum, aku gak terbiasa Mas. Jadi..."
"Pokoknya mulai sekarang kamu tidak perlu bangun sepagi ini!." titahnya dengan tegas, terdengar seperti perintah yang tidak menerima bantahan.
Aku membulatkan mata terkejut tak menyangka dia akan meninggikan suaranya padaku. Sikap lembut yang baru saja dia tunjukkan kembali berganti dengan nada bicara yang terkesan kasar.
Aku menunduk, hanya bisa mengangguk patuh dengan penuh kebingungan, sekaligus sebuah rasa sakit yang tak kumengerti apa sebabnya. Hingga tiba-tiba Mas Adam membawaku kedalam pelukannya.
"Maaf karena sudah membentakmu." ucapnya dengan suara pelan.
Mas Adam melepaskan pelukan, menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang terasa begitu dingin. Sebuah penyesalan tergambar jelas diwajah tampannya.
"Sekali lagi, Maaf." Dia mengecup keningku cukup lama.
Entah benar atau tidak aku merasa dia tengah menangis tanpa suara, dan air matanya menetes diwajahku. Dia melepaskan kecupannya dari keningku, lantas kembali menatapku.
"Maaf karena membiarkanmu sholat subuh sendirian, subuh berikutnya kita akan melaksanakannya berjamaah."
Aku hanya mengangguk, Mas Adam tersenyum tipis kemudian masuk kedalam kamarnya.
"Kamu kenapa Mas?." gumamku bingung.
__ADS_1
Aku merasa ada yang tidak beres, dia bukan hanya minta maaf karena sudah membentakku, tapi juga untuk sesuatu yang lain. Sebuah hal penting, yang tengah dia sembunyikan dariku.
Bersambung.