Aku Putri Seorang Pelakor

Aku Putri Seorang Pelakor
Bab 21 : Adam Buronan?


__ADS_3

Kukecup punggung tangan imamku dengan pelan, dan Mas Adam mengecup keningku setelahnya. Berbeda dengan dua subuh sebelumnya, kali ini Mas Adam yang mengimami sholatku.


"Maaf karena dua hari ini Mas tidak memenuhi janji Mas padamu untuk sholat subuh berjamaah." ucapnya dengan tatapan sendu.


"Tidak papa, aku mengerti."


"Dan tolong ingatkan Mas, jika Mas melupakan kewajiban kita sebagai seorang muslim."


Aku mengangguk sembari tersenyum tipis. Ada begitu banyak hal yang memenuhi isi kepalaku saat ini, berbagai tanya ingin kulontarkan kepada suamiku ini.


Siapa dia? Kemana dia pergi setiap malam? Dan kenapa tiba-tiba dia muncul dalam hidupku dan membantuku mencapai impianku?. Beberapa hari lalu dia masih orang asing, tapi sekarang dia adalah suamiku. Suami, yang tak kuketahui latar belakangnya. Yang menolak mengesahkan pernikahan kami.


Aku ingin menanyakan semua ini padanya, namun sayangnya aku hanya bisa menahannya dalam hati. Karena aku menyadari, ada begitu banyak hal yang dia sembunyikan dariku.


"Maaf karena membuatku merasa penasaran." ucapnya membuatku terkejut. lagi dan lagi dia seakan tahu isi hatiku.


Dia menghela nafas, dan kembali bicara. "Mas tahu, ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kamu tanyakan. Tapi maaf, untuk saat ini Mas tidak bisa mengatakannya padamu."


"Lalu kapan Mas bisa mengatakannya?." Dia yang membahasnya lebih dulu, tentu membuatku ingin bertanya.


"Mas tidak tahu, yang jelas kamu akan mengetahuinya suatu hari nanti."


Aku tersenyum tipis, mencoba memahami keputusannya.


"Baiklah, Mas ingin sarapan apa pagi ini?." tanyaku kemudian.


"Mungkin ... sepiring nasi goreng spesial."


"Hem, Mas memang belum sempat makan nasi goreng buatanku. Tapi sayang sekali, karena nasi goreng tidak baik untuk sarapan jadi sebaiknya kita makan yang lain saja."


"Baiklah, apa saja yang kamu buat Mas akan memakannya."


..........


"Ya ampun, aku lupa membeli bahan makanan!." gumamku saat melihat isi kulkas yang hanya tersisa dua butir telur, aku lupa jika persediaan makanan sudah menipis.


"Ada apa?". Mas Adam yang baru keluar dari kamarnya bertanya, dia ikut melihat isi kulkas.


"Tenang saja, nanti akan ada tukang sayur keliling yang lewat, kamu bisa belanja disana."

__ADS_1


"Biasanya jam berapa Mas?."


"Jam 7."


"Hah, nanti sarapannya jadi kesiangan."


"Mas akan sarapan ditempat kerja, kamu tidak perlu khawatir." ucapnya sembari mengusap kepalaku pelan.


"Tempat kerja?." tanyaku terkejut, menyingkirkan tangannya dari kepalaku.


"Oh iya Mas lupa memberi tahumu, mulai hari ini Mas sudah mulai masuk kerja." Dia menegakan tubuhnya, membuatku menyadari penampilannya yang berbeda hari ini, sebuah kemeja dengan celana bahan, dia tampak rapi dan ... tampan?. Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan.


"Memangnya Mas kerja dimana?." tanyaku tak ingin terpesona padanya lebih dalam.


"Sebuah perusahaan infrastruktur."


Aku mengangguk mengerti.


"Sayang sekali aku tidak bisa memasak saat Mas mulai berangkat kerja." Aku merasa bersalah.


"Tidak masalah, lagipula sarapan dimanapun sama saja."


"Tapi..."


"Nasi goreng tidak baik untuk sarapan, jadi mungkin sekali ini saja." Aku merasa tidak memiliki pilihan lain. Setidaknya Mas Adam bisa berangkat dengan perut yang terisi, takutnya dia lupa sarapan dikantor karena pekerjaan.


.


"Bagaimana Mas?." tanyaku saat dia mulai memakan nasi goreng.


"Enak, seperti biasa. Sering-seringlah membuatnya." ucapnya disela mengunyah.


Aku mengangguk semangat. "Tapi tidak bisa terlalu sering, apalagi untuk sarapan."


Dia mengangguk.


Selesai sarapan, aku mengantar Mas Adam sampai kedepan rumah. Menyalimi tangannya kemudian melihatnya sampai hilang dari pandangan.


Tepat setelah Mas Adam sudah tidak terlihat, gerobak tukang sayur berhenti didepan rumah yang berada disamping rumah ini. Beberapa tetangga langsung keluar untuk berbelanja, akupun bergegas masuk kedalam mengambil dompet.

__ADS_1


Baru saja aku keluar bersiap menghampiri gerobak tukang sayur itu, saat tiba-tiba seorang wanita diantara mereka menyebut nama suamiku.


"Eh si Adam itu buronan tau!" ucap seorang ibu paruh baya yang tengah berkerumun dengan ibu lainnya, menyentuh seikat sayur kangkung.


Tampaknya mereka tak menyadari kehadiranku karena posisi mereka membelakangiku. Terlebih, tatapan mereka yang fokus dengan aneka sayuran dan lauk pauk membuat mereka sibuk bicara tanpa menatap kearah lain.


Jarak antara kami memang cukup jauh, namun suasana yang tak terlalu ramai membuatku mendengar jelas ucapan ibu-ibu yang barusan bicara.


Kuurungkan niat menghampiri mereka saat nama Mas Adam disebuah dengan kalimat yang mengejutkan. Kenapa wanita itu menyebut Mas Adam buronan?.


"Hush! Jangan asal nebak Bu Rt. Kalau salah nanti jatuhnya fitnah." balas ibu paruh baya dengan kerudung instan berwarna hitam. Dari kalimatnya dia tampaknya lebih bijak dibanding yang lain.


"Kalau bukan buronan apa coba, waktu suami saya minta data kependudukan aja dia nolak menunjukan KTP, dan pas mau setelah dipaksa, ternyata dia bukan orang sini. Namanya juga gak ada Adamnya, Abdillah Alfarezel." Wanita yang dipanggil Bu Rt itu kembali bicara, sementara aku hanya mendengarkan kalimat demi kalimat yang membuatku merasa resah.


Jika benar apa dia katakan, bukankah artinya Mas Adam sudah berbohong tentang namanya? Dan jika nama saja dia sudah berbohong, artinya dia menyimpan kebohongan yang lebih besar.


"Memangnya Bu Rt yakin itu KTPnya?." tanya seorang ibu berdaster dengan rambut sebahu.


"Ya yakinlah, orang wajahnya aja sama persis."


"Memangnya dia orang mana?." tanya ibu berdaster lagi.


"Dari KTPnya sih orang Jakarta, tapi diakan udah lama tinggal disini, hampir 10 tahun, ya walaupun jarang kelihatan dirumah, itukan udah kaya pindah. Kalau dia orang baik-baik, pasti ngurus kepindahan. Kecuali kalau dia emang buronan yang dicari sama polisi, dan tinggal disini karena sembunyi."


Aku ingin sekali menghampirinya dan menanyakan maksud ucapannya, karena jika itu tidak benar, maka nama Mas Adam akan tercemar hanya karena sebuah fitnah tak berdasar.


Dan jika apa yang dia katakan benar... Ah akal sehatku sungguh tak bisa menerima jika pria sebaik Mas Adam benar-benar seorang buronan. Aku yakin, ibu itu hanya menyebarkan berita palsu.


"Memangnya kasus apa sampai jadi buronan?" tanya seorang wanita paruh baya dengan sanggul yang berantakan.


"Dengar-dengar sih pembunuhan." Meskipun pelan, aku masih bisa mendengar suara Bu RT itu.


Tak ingin terprovokasi dengan berita yang belum tentu kebenarannya, aku memilih menghampiri mereka. Memaksa mereka menghentikan pembicaraan.


"Eh." Bu RT tampak salah tingkah melihatku.


"Eh Mba warga baru disini?." tanya ibu dengan kerudung instan.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Loh kok keluar dari rumahnya Adam?." tanya ibu berdaster.


Aku berpikir sejenak, Mas Adam tidak ingin ada yang tahu tentang pernikahan kami, jadi aku harus merahasiakan pernikahan kami. Lalu sekarang, harus sebagai siapa aku memperkenalkan diri didepan mereka?.


__ADS_2