
Vania tak melanjutkan kalimatnya, tapi aku dan Huda mengerti apa yang dia maksud. Hanya saja, semoga yang dia katakan tidak benar. Karena pria baik itu bisa masuk penjara setelah menyelamatkannya jika benar-benar terbukti membunuh si tersangka.
Ponselku berbunyi, rupanya pesan dari Mira yang mengatakan jika ibu ditemukan pingsan ditoilet oleh seorang tetangga. Sementara dia tidak bisa pulang karena sedang jam kuliah.
Aku langsung pamit pada Huda dan adiknya, melajukan motor dengan cepat kembali ke rumah. Meskipun aku sudah berniat pergi, tentu saja aku tidak bisa membiarkan ibu yang pingsan sendirian. Tetangga mungkin menolongnya, tapi mereka tidak akan terus menemani Ibu.
Aku berdecak kesal saat harus terjebak lampu merah yang baru menyala, hingga harus menunggu beberapa detik.
"Semoga Ibu baik-baik saja." Tak hentinya aku menggumamkan doa dengan perasaan cemas.
Saat masih menunggu, tanpa kuduga seorang pria tiba-tiba menjambret tas selempangku, dan masuk kedalam sela bangunan sebuah ruko yang tutup. Panik, aku segera menepikan motor dan langsung turun mengejarnya sembari berteriak.
"Berhenti!"
"Berhenti!"
Masuk kedalam celah-celah kecil diantara bangunan, aku terhenti saat tak lagi melihat jejaknya. Nafasku terengah, menatap sekeliling mencoba mencari pria berjaket levis tadi. Sayangnya meski mengejar keberapa tempat, pria itu tak terlihat sedikitpun.
"Dimana dia?"
Aku hampir menyerah, saat kulihat tas hitam yang tak asing tergeletak didepan sebuah toko kosong, atau lebih tepatnya tidak ditempati, terlihat dari tampilannya yang tak layak.
Aku segera mengambilnya, tiba-tiba setelah aku berdiri, sebuah sapu tangan membekap mulutku, aku berusaha memberontak, sayangnya tenagaku seakan perlahan melemah seiring pandangan yang mulai memudar.
...🍁...
Aku menyipitkan mata sembari membukanya perlahan, kupegang kepala yang terasa berdenyut nyeri. Kulihat sekeliling, rupanya aku berada dikamar tidurku. Kulihat jam didinding, sudah pukul 7 malam. APA?.
Tunggu! Bagaimana bisa aku ada disini? Bukannya terakhir kali sebelum pingsan siang tadi saat aku berada di depan toko...
Plak!
Aku terkejut mendapat tamparan mendadak, kulihat ibu berdiri didepanku bersama Mira dengan mata memerah, raut wajahnya begitu tegang, apa ibu marah padaku?
Tunggu! Apa ibu baik-baik saja? Bukankah beliau pingsan ditoilet?.
__ADS_1
Aku segera bangun dan beranjak, berniat memeluk ibu yang justru mendorong tubuhku kasar hingga terduduk disisi kasur.
"Ada apa Bu? Kenapa Ibu marah padaku? Apa ibu baik-baik saja, tadi_"
"Apa kamu pikir Ibu akan baik-baik saja setelah apa yang kamu lakukan?"
Nada suaranya meninggi, meskipun bukan pertama kali aku melihatnya marah, tapi aku merasa jika kemarahan ibu kali ini berbeda.
Kulihat Mira yang menyeringai lebar dibelakang ibu, entah kenapa sekarang aku merasa jika dia merencanakan sesuatu, hal yang membuat ibu marah padaku saat ini. Mungkinkah ucapannya soal ibu yang pingsan hanya kebohongan semata? Sebuah jebakan!.
"Memangnya apa yang aku lakukan Bu?" tanyaku kebingungan, tepatnya ingin tau apa yang sudah Mira lakukan padaku hingga ibu semarah ini.
"Kamu masih bertanya apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak merasa berdosa sudah membohongi ibumu ini! Jika kamu benar-benar menganggap Ibu sebagai ibumu, seharusnya kamu tidak melakukan perbuatan bejad ini!"
"Perbuatan bejad?"
"Jangan pura-pura tidak tahu Khansa! Beberapa orang melihatmu sedang bersama seorang pria didalam toko kosong di ke kecamatan. Kamu bilang ingin mencari ibu kandungmu, tapi kamu justru menorehkan kotoran diwajah Ibu!" Nafasnya terengah-engah, ibu memegangi dadanya.
Aku berdiri, menatap Mira dengan tak habis pikir. Kini aku mengerti apa yang sudah dia lakukan terhadapku, dan aku bisa menebak jika pria yang mencuri tasku adalah orang suruhannya. Dan dia membuatku seolah-olah sedang melakukan hal keji dengan pria suruhannya itu.
"Aku mengerti apa yang ada dipikiran Ibu sekarang, tapi sungguh semua ini tidak benar Bu. Ada seorang pria yang mengambil tasku, dan aku mengejarnya, tapi..."
"Sekarang lihat sendiri kan Bu, dia memang persis seperti ibunya. Dia bahkan lebih buruk dari ibunya, yang hanya berhubungan setelah menikah dengan ayah. Tapi dia, malah melakukannya sebelum menikah."
"MIRA!" sentakku tak terima. Ini semua jelas fitnah darinya.
"Bantu kakakmu berias, penghulu akan datang sebentar lagi."
"Berias? Penghulu? Jangan bilang aku akan dinikahkan!"
Ibu hanya diam, kemudian pergi dari kamar. Kutatap Mira yang tersenyum puas, aku sungguh tak menyangka, kebencian Mira benar-benar dia tunjukkan dengan fitnahnya setelah aku mengetahui tentang ibu kandungku.
Jika tidak ingat dia adalah saudara seayahku, sudah kupastikan wajahnya yang penuh sandiwara itu akan penuh dengan pukulan.
"Ah, aku udah gak sabar lihat kamu nikah dan pergi dari rumah ini. Ya walaupun kamu nikah sama cowo ganteng sih!" ucapnya dengan wajah sumringah, diikuti raut wajah kesal pada kalimat kedua.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot melakukan ini Mira, karena aku memang sudah pergi dari rumah ini sebelum kamu mengirimiku pesan palsu."
Dia mengernyit bingung. "Apa maksud kamu?"
...🍁...
"Sah!"
Aku hanya bisa menahan tangis diatas tempat tidur, saat kudengar kata sah yang diucapkan serentak oleh beberapa saksi, setelah sebelumnya suara lelaki asing mengucapkan ijab kabul dengan begitu lantang.
Pria asing, yang kini telah sah menjadi suamiku, diusia yang baru beberapa bulan kedepan menginjak 20 tahun.
Aku tersenyum miris, bukankah hari pernikahanku sungguh menyedihkan? Tak ada kehadiran seseorang yang harusnya menjadi wali, karena Mas Rian bahkan enggan datang dan memilih mewakilkannya pada wali hakim.
Dan bukannya menikah dengan pria yang aku cintai, aku justru menikah dengan pria tak dikenal, hanya karena sebuah fitnah tanpa bukti yang sengaja Mira ciptakan.
Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dan berkesan, justru menjadi hari yang membuatku serasa ingin mati, jika tak ingat jika bunuh diri adalah sebuah dosa.
Aku tersentak saat pintu terbuka, ibu menatapku dengan senyum sekaligus embun yang menggenang dipelupuk matanya.
"Ayo keluar, suamimu sudah menunggu!"
Beliau menuntunku untuk keluar, kemudian duduk disamping pria berjas hitam yang belum dan tak ingin kulihat wajahnya.
Setelah aku duduk, penghulu mulai membacakan doa dengan khidmat. Aku hanya bisa mengaminkan setiap doanya dengan setengah hati, meskipun pernikahan ini bukanlah pernikahan yang kuinginkan, tetap saja aku berharap pernikahan ini akan menjadi pertama dan yang terakhir untukku.
Walaupun, jika mengingat pria disampingku adalah orang suruhan Mira, aku yakin dia bukanlah pria yang baik. Aku hanya bisa berdoa, semoga dia tidak seburuk yang aku bayangkan.
"Silahkan mempelai pria memakaikan cincin maharnya" ucap penghulu, yang tak lain adalah seorang ustadz tersohor dikampungku.
Jangan tanyakan soal penghulu dari KUA, karena pernikahan dadakan ini hanya diadakan secara sirri atau agama, sehingga tidak ada penandatanganan buku nikah dan sebagainya.
Pria yang masih tak ingin kulihat dengan menunduk itu meraih tanganku, kemudian memakaikan sebuah cincin kawin dengan tangannya yang dibalut sarung tangan. Aku mencebikan bibir, apa dia merasa jijik sampai menutupi kedua tangannya dengan sarung tangan?.
"Silahkan mempelai wanita mencium tangan suaminya."
__ADS_1
Ucapan penghulu membuatku terkejut sekaligus kesal.
Bersambung.