
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju hotel, Calvin tak henti-hentinya tersenyum sumringah. Sesekali ia melirik Gea yang tertunduk malu. Satu tangan mereka saking bertaut. Calvin mere*mas lembut tangan Gea yang berada dalam genggamannya untuk menyalurkan kebahagiaan yang kini tengah ia rasa.
"Gea, kenapa dari tadi nunduk terus sih? Kamu nggak suka nikah sama aku?* tanya Calvin sambil sedikit menundukkan wajahnya agar dapat melihat wajah Gea.
"Bu-bukan begitu, tuan. Tapi aku hanya ... aku hanya sedang malu. Siapakah diri ini yang bisa bersanding dengan tuan yang begitu tinggi. Aku merasa seperti sedang bermimpi bisa menikah dengan mu, tuan," ujar Gea membuat Calvin gemas kamu mengecup tangan Gea yang ada di dalam genggamannya.
"Kamu dapat merasakannya, bukan?"
"Apa?* tanya Gea bingung. Ia mendongakkan sedikit kepalanya untuk menatap Calvin.
Lalu Calvin mengulang lagi mengecup di tangan Gea membuat gadis itu tersipu.
"Kau dapat merasakannya kan?"
Gea mengangguk dengan pipi yang bersemu merah.
"Itu artinya ini bukan mimpi. Dan satu hal, kini kau bukan lagi asisten pribadiku, tapi istriku. Jadi aku harap mulai sekarang kau mengganti panggilanku itu. Terus terang aku merasa terganggu saat kau memanggilku tuan," tukas Calvin dengan sorot mata tajamnya.
Gea menyipitkan matanya dengan gesture tubuh seakan sedang berpikir keras, "ganti panggilan? Tapi apa ya? Aku tidak tahu tuan. Kau memangnya mau dipanggil apa?"
Sikap Gea yang terkadang begitu polos inilah yang membuat Calvin gemas sendiri. Lantas ia menarik tubuh Gea hingga merapat ke tubuhnya kemudian merangkul pundaknya sambil mencubit cuping hidungnya dengan gemas. Calvin seperti ABG yang baru mengenal cinta. Dimabuk cinta membuatnya seolah dunia hanya milik berdua. Bahkan ia tak peduli kalau ada orang lain di dalam mobil itu, yaitu sopir sang mama yang diminta mengantarkan pengantin baru itu ke hotel yang telah direservasi Nathalia.
"Apa aja, yang penting jangan tuan-tuan lagi."
"Emmm ... pak, bapak, om, paman, uncle, ... "
"Heh, udah berani main-main kamu ya!" Mata Calvin mendelik tajam kemudian ia menggelitik perut Gea membuat gadis itu menjerit sambil tertawa kegelian.
"Ampun mas, ampun, ampun, geli, ampun mas, geli ... " jerit Gea.
Mendengar panggilan Mas yang disebutkan Gea terang saja membuat Calvin tersenyum lebar lalu ia tanpa sungkan menghadiahi Gea dengan sebuah kecupan di sudut bibir Gea membuat Gea melotot karena malu.
"Mas, nggak tahu tempat banget sih! Nggak enak sama yang di depan," bisik Gea tapi Calvin justru masa bodoh. Ia malah kembali mengecup Gea tapi di bagian pipi.
"Ck ... usil banget sih!" Gea berdecak sebal. Ia merasa malu. Bahkan ia tak berani mengangkat kepalanya takut sopir yang duduk di depan melihat mereka.
"Kenapa harus malu? Kan kamu istriku, toh sah-sah saja mau cium kamu dimana aja," jawab Calvin acuh tak acuh. "Tapi aku suka panggilanmu tadi apalagi kalau ada kata sayangnya jadi masa sayang pasti lebih bagus lagi."
"Maunya," jawab Gea sambil terkikik geli melihat tingkah mantan majikannya itu yang berubah 180°. Inilah uniknya cinta bisa membuat seseorang berubah signifikan, seperti Calvin yang biasanya kaku dan dingin, menjadi bak ABG labil.
...***...
__ADS_1
Setibanya di hotel, Calvin segera mengambil kunci kamar dengan resepsionis. Setelah itu, mereka segera menuju kamar tipe presidential suite. Saat pertama kali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, Gea tak henti-hentinya berdecak kagum. Kamar itu begitu luas dengan nuansa putih dan taburan kelopak bunga mawar merah dan putih di sepanjang jalan juga di atas kasur ukuran king size. Bahkan di tengah-tengah kasur ada taburan bunga mawar yang dibentuk hati, sungguh manis dan romantis.
"Mas, ini ... "
"Kamu suka?" potong Calvin yang telah memeluk Gea dari belakang.
"Suka banget. Ya ampun, mimpi aja Gea nggak berani, lah ini bisa tidur di kamar hotel mewah dengan dekorasi super cantik dan romantis. Mama Nathalia keren banget ya, mas. Sama Gea aja mama kayak totalitas banget apalagi pas mas nikah sama mbak Anastasia ya mas, pasti lebih keren dari ini," ujar Gea dengan senyum lebar.
Raut wajah Calvin berubah saat mendengar nama Anastasia disebut. Entah, masih ada rasa kesal dan kecewa karena Anastasia lebih mementingkan karirnya daripada dirinya yang merupakan suaminya. Namun mendung itu tak berlangsung lama, sebab kini ia sudah memiliki seseorang yang ia yakini akan selalu bersedia menemaninya dan mendampinginya saat suka maupun duka. Yang akan selalu melayaninya membuatnya bahagia dan tidak merasakan kehampaan lagi.
"Kamu salah. Mama justru melakukan ini pertama kali untuk kita."
"Lho, kok gitu? Bukannya mbak Anastasia itu menantu pertama mama, orang yang mas cintai, aku yang hanya perempuan biasa aja merasa diistimewakan, masa' mbak Anastasia nggak," ucap Gea seolah-olah tak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan Calvin. Walaupun ia tidak diberitahu bagaimana hubungan antara Nathalia dan Anastasia tapi ia dapat melihat bahwa ibu mertuanya itu kurang menyukai menantu pertamanya itu.
"Udah ya, nggak usah bahas Cia lagi. Bukankah ini hari istimewa kita, apa kita akan terus berdiri kayak gini terus?" sergah Calvin tak suka Gea terus-terusan membahas tentang istri pertamanya itu.
Mendengar protes dari sang suami lalu Gea pun segera membalikkan badannya lalu ia melingkarkan tangannya di leher parfum sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Iya, iya, mas sayang. Maaf," ucap Gea pelan dengan nada manja membuat Calvin menarik pinggang Gea hingga tubuh bagian depan mereka saling merapat satu sama lain.
"Mau mandi duluan, mas duluan, atau bareng?" goda Calvin sambil menyeringai.
"Aku duluan deh, mas." Gea berusaha melepaskan tangan Calvin yang merengkuh pinggangnya.
"Nggak tahan? Nggak tahan apa? Mas mau bab ya? Kalau iya, mas duluan deh!" tukas Gea salah paham.
"Bukan itu, sayang. Tapi mas udah nggak tahan mau makan kamu. Ngerti kan maksud mas?"
"Makan aku? Mas mau makan aku? Mas ... jangan bercanda deh! Mas bukan saudaranya Sumanto kan yang pernah viral karena makan manusia?" cecar Gea yang sudah bergidik ngeri.
"Astaga ... istriku ... bukan makan itu." Calvin menggaruk-garuk tengkuknya karena gemas dengan kepolosan Gea.
"Jadi apa? Jangan sepotong-sepotong ngomongnya, Gea nggak ngerti." Gea mengerucutkan bibirnya kesal.
Cup ...
Gemas dengan tingkah Gea, Calvin justru mencium bibirnya singkat.
"Maksudnya itu mas ingin bercinta denganmu. Making love sekaligus making baby untuk ibu sama mama, kamu mau kan?"
Mendengar hal itu, wajah Gea sontak memerah. Lidahnya tiba-tiba kelu tak mampu berucap sepatah kata pun. Ia pun bergegas melepaskan diri dan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
'Astaga, aku harus ngapain ya? Aku kan nggak tahu gimana itu bercinta? Ciuman aja baru sama Mas Calvin aja aku melihat dan merasakan langsung, kalau bercinta gimana caranya? Artinya itu ajakan untuk berhubungan suami istri kan?' batin Gea bermonolog. 'Ah, mas Calvin kan pernah menikah kenapa aku harus repot-repot mikirin gimana caranya ya?' Gea lantas tertawa sendiri memikirkan kebodohan dirinya.
Sementara itu, di luar sana, Calvin tampak duduk sambil tersenyum-senyum sendiri. Namun tiba-tiba sebuah panggilan telepon menginterupsi lamunannya. Dilihatnya, nama pemanggil yang tampil di layar adalah My Honey. Itu adalah nomor telepon Anastasia. Dengan malas-malasan, Calvin mengangkat panggilan itu.
"Hai honey, kok kamu nggak pernah telepon aku lagi sih kayak biasa?" cecar Anastasia tiba-tiba saat panggilan itu diangkat.
"Bukankah kau selalu sibuk? Aku hanya tak ingin mengganggu kesibukanmu yang sangat penting itu," ketus Calvin membuat Anastasia di seberang sana terperangah. Sebab baru kali ini ia mendengar kata-kata bernada ketus dari suaminya.
"Kamu masih marah, honey? Kok kamu gitu sih? Kamu kan tahu sendiri kesibukanku," ucap Anastasia tanpa rasa bersalah.
"Aku tidak marah. Untuk apa marah? Marah pun percuma kan! Karena aku tahu, makanya aku udah nggak mau ganggu kamu lagi. Mulai sekarang aku nggak mau ganggu kamu lagi Terserah kau mau mengejar cita-cita dan impianmu itu mau sampai ke planet Mars pun terserah. Suka-suka kau saja. Jadi kau bisa konsentrasi dengan karirmu yang super penting itu."
Baru saja Anastasia membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Calvin, ternyata panggilan telah lebih dahulu diputuskan oleh Calvin.
"Hon ... " ucapnya menggantung saat panggilan telah diputus sepihak.
"Aaargh ... sialan! Kenapa Calvin bisa tiba-tiba berubah sih? Apa dia benar-benar marah karena aku pergi begitu saja tempo hari?" gumamnya masih tak percaya dengan perubahan sikap Calvin.
Tiba-tiba ada sepasang lengan kekar yang memeluk tubuh Anastasia dari belakang sambil mengecupi leher wanita itu membuat Anastasia menggeliat apalagi saat laki-laki itu menyapukan lidahnya di kulit leher dan telinga Anastasia.
"Chrish ... ahhh ... "
"Kau kenapa, hm? Apa suamimu masih marah?" tanya laki-laki itu telat di telinga Anastasia.
Anastasia mengangguk pelan.
"Jadi kau mau tetap di sini atau segera pulang?"
"Kegiatan kita tinggal 3 hari lagi, kita selesaikan dulu pekerjaan kita di sini. Aku yakin, Calvin hanya sedang kesal padaku karena ia begitu merindukan ku. Aku tahu cara ampuh meruntuhkan kekesalannya," ujar Anastasia menyeringai.
"Bagaimana caranya? Apa dengan seperti ini?"
Blubbb ...
Blush ...
"Ahhhh ... "
Kondisi keduanya yang masih dalam keadaan polos, memudahkan laki-laki yang ternyata Christian itu memasukkan senjatanya ke dalam liang milik Anastasia. Lalu mereka pun kembali melakukan sesi percintaan mereka yang entah untuk ke berapa kalinya itu.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...