Aku Sang Pelakor

Aku Sang Pelakor
Ch. 41


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Gea nampak bingung sebab rumah sakit yang kerap ia datangi itu bukan hanya dipenuhi orang-orang yang ingin berobat maupun menjenguk pasien, tapi juga beberapa petugas kepolisian.


Hingga tibalah mereka di lantai yang dituju. Terlihat garis polisi melingkari sebuah ruangan yang seketika membuat jantung Gea berdegup dengan kencang.


"Mas," cicit Gea saat beberapa langkah lagi kakinya mendekat ke ruangan dimana ibunya dirawat.


Calvin yang paham istrinya sudah dilanda ketakutan lantas segera merengkuh pundaknya sambil mengusapnya perlahan.


Tak lama kemudian, muncul Nathalia dengan mata memerah dan langsung berhambur ke pelukan Gea membuat rasa panik seketika melanda.


"Kamu sabar ya, sayang. Ibu udah tenang di atas sana. Kamu tak perlu khawatir, ada mama dan Calvin yang akan selalu menjagamu," bisik Nathalia parau.


Bibir Gea bergetar. Lidahnya terasa kelu, tenggorokannya tercekat, untuk melontarkan sebuah tanya pun rasanya tak mampu. Pikirannya sedang linglung saat ini. Hingga Calvin dan Nathalia membimbingnya menuju ke ruangan lain.


"Ka-kamar mayat? I-ini ap-apa maksudnya, mas? Ma, ini ... apa yang sebenarnya terjadi?" cicit Gea terbata.


Nathalia melirik Calvin dan Calvin menggeleng membuat Nathalia menghela nafasnya.


"Kita masuk dulu ya, sayang!" ajak Calvin tanpa melepaskan rengkuhan tangannya sama sekali.


Sesampainya di sebuah brankar yang tertutup kain putih, seorang perawat yang sejak tadi ikut mengekori mereka menurunkan kain putih itu secara perlahan. Sekian detik Gea terpaku. Ia seakan bermimpi. Melihat istrinya justru mematung membuat Calvin khawatir kemudian Calvin pun membuka suaranya menjelaskan apa yang telah terjadi.


Tak lama kemudian, tubuh Gea bergetar hebat. Tangisnya pun pecah memenuhi ruangan dimana ibunya telah terbaring tak berdaya pun tak bernyawa. Ibunya ... semangat hidupnya kini telah pergi menghadap sang pencipta tanpa meninggalkan satu pesan pun. Meninggalkannya selamanya.


"Nggak, ini nggak mungkin. Ini pasti bohong kan, mas, ma. Ibu ... ibu nggak mungkin ninggalin Gea sendirian kan, mas! Ini ... ini cuma prank kan, Ma! Atau ... atau ini hanya mimpi. Ya ini pasti mimpi ... Gea yakin, Gea sekarang sedang bermimpi," Gea meracau karena belum mempercayai kalau ibunya telah tiada. Lantas ia menampar pipinya sendiri membuat Calvin dan Nathalia terkesiap.


"Sayang, mas mohon tenangkan dirimu. Jangan seperti ini!" sergah Calvin sambil menggenggam erat tangan Gea.


"Tapi mas ... itu ... itu bukan ibu kan! Ibu ... ibu nggak mungkin ninggalin Gea sendiri. Ibu .... Ibu ... Gea mohon jangan begini. Gea ... Gea nggak mau ditinggal, Bu. Jangan tinggalin Gea, Bu. Gea nggak mau sendirian, Bu. Gea mohon!" jerit Gea menangis pilu membuat Nathalia dan Calvin ikut meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Sayang, tenangkan dirimu!" lirih Calvin sambil mendekap erat tubuh Gea yang bergetar hebat. "Ikhlasin ibu, sayang. Ibu sudah tenang di sana. Ibu sudah tidak kesakitan lagi. Jangan bersedih! Ibu pasti sedih kalau kamu bersedih," imbuh Calvin sambil mengusap punggung Gea. Ia tahu, pasti Gea saat ini sedang benar-benar hancur. Ia pun pernah merasakannya saat ayahnya meninggal. Tapi ia tak ingin Gea hancur seperti dirinya dulu. Ia sangat mencintai Gea dan ia tak ingin Gea terus-terusan bersedih.


"Tapi mas, ibu pergi, mas. Pergi ninggalin aku. Kini aku sendirian. Gimana nasib Gea selanjutnya kalau ibu nggak ada, mas," lirihnya seakan lupa kalau ia sekarang tak lagi sendiri.


"Kamu tenang lah, sayang. Kamu punya mas dan mama. Kamu nggak sendirian lagi. Ibu sudah mempercayakan anak perempuannya yang cantik sama mas, pasti mas akan selalu menjaga dan melindungimu. Begitu juga mama. Kami akan selalu ada untukmu. Kamu percaya kan dengan mas?" ucap Calvin seraya menatap lekat wajah Gea.


Gea mengangguk pelan meski masih terus terisak. Calvin lantas kembali memeluk Gea. Nathalia menyeka air matanya dengan punggung tangannya.


'Perempuan jahat itu, aku pastikan kalian akan membusuk di penjara. Pergilah, berlarilah sejauh mungkin dan akan aku pastikan tetap menemukanmu,' batin Nathalia.


"Mas, bisa jelaskan sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa di ruangan ibu sampai dipasang garis polisi?" tanya Gea setelah ia sedikit tenang.


Calvin menghela nafasnya lalu ia meminta ibunya yang lebih mengetahui kronologisnya untuk bercerita.


"Beberapa jam yang lalu saat suster Yana yang menjaga ibumu terlelap, tiba-tiba ada yang membekapnya dengan sapu tangan yang telah ditetesi obat tidur. Dan di saat itulah ada 2borang berpakaian perawat berdebat dengan ibumu yang berakhir dengan aksi melenyapkan nyawa ibumu. Mereka membekap ibumu dengan bantal dan memotong selang infus. Setelah ibumu tidak bernafas lagi, mereka pun pergi. Mereka pikir, mereka bisa melenggang pergi begitu saja. Mereka lupa, kalau di ruangan tempat ibumu dirawat terdapat kamera CCTV tersembunyi jadi setelah perawat yang menjaga ibumu sadarkan diri dan menyadari sesuatu telah terjadi dengan ibumu, ia pun segera memanggil dokter. Dokter yang mama tugaskan memantau ibumu pun segera menghubungi mama setelahnya. m"


"Jadi mama sudah tau siapa kedua perawat gadungan itu?" Tanya Calvin dengan sorot mata penasaran.


"Siapa mereka?" sambar Gea cepat.


"Anastasia dan ibunya," jawab Nathalia yang sukses membuat Gea dan Calvin tersentak tak percaya. Gea sampai mengepalkan tangannya.


"Kau jangan khawatir, mau lari kemana pun mereka, meskipun ke ujung dunia sekalipun, mama akan mendapatkan mereka dan menjebloskan mereka berdua ke penjara," tegas Nathalia berusaha meyakinkan Gea.


"Terima kasih, ma. Terima kasih banyak," ucap Gea terharu sambil memeluk sang mama mertua.


Sementara itu, di sebuah bandara tampak dua orang perempuan tengah menggeret koper mereka untuk melakukan penerbangan ke luar negeri. Mereka mengenakan masker dan kaca mata hitam besar. Mereka juga mengenakan sweater yang cenderung santai tidak seperti biasanya yang kerap mengenakan pakaian mewah. Dengan langkah penuh percaya diri mereka melakukan check-in untuk mendapatkan boarding pass. Selama proses check in, mereka tampak begitu santai tanpa beban seolah apa yang telah mereka lakukan tengah malam tadi bukanlah masalah.


Hingga tiba-tiba ada seorang petugas check in yang meminta mereka mengikutinya ke suatu ruangan dengan alasan ada berkas yang tidak valid. Dengan malas, Anastasia dan Monika pun mengikuti langkah petugas itu sambil menggerutu.

__ADS_1


"Apa berkas mama ada yang kurang?" ketus Anastasia sambil berjalan mengekori petugas itu.


"Mana ada. Kamu kali yang begitu."


"Eh, enak aja. Aku kan sering bepergian mana mungkin berkasku bermasalah. Atau jangan-jangan KTP mama udah mati."


"KTP mama udah ganti yang seumur hidup," ketus Monika geram dengan omelan anaknya sendiri.


"Ah, ya sudah. Kita ikutin saja sebenarnya ada apa. Semoga saja tidak mempersulit kita pergi dari sini. Kalau sampai penerbangan kita tertunda, pasti itu kesalahan mama," ujar Anastasia membuat Monika mendengkus mendengarnya.


Hingga tibalah mereka di sebuah ruangan. Anastasia dan Monika masuk ke ruangan itu dengan ekspresi kesal.


"Kenapa tidak jelaskan kesalahannya di luar saja sih!" ketus Anastasia tak ada sopan santun sama sekali. Bahkan ia mendudukkan bokongnya seenaknya di sofa ruangan itu sebelum diminta.


Bukannya menjawab, petugas tersebut justru menekan earphone yang ada ditelinganya dan mengucapkan sesuatu. Hanya dalam hitungan menit, segerombolan orang-orang berpakaian preman masuk ke ruangan itu membuat nafas Anastasia dan Monika seketika tercekat. Mereka menelan ludahnya kasar, merasa takut saat melihat orang-orang berpakaian preman serba hitam mendekat.


"Ma-mau apa kalian?" bentak Anastasia saat mereka makin mendekat.


"Maaf, Anda terpaksa kami tahan karena telah melakukan pembunuhan berencana terhadap nyonya Martini. Serahkan diri Anda sekarang juga atau ... "


"Atau apa?" tantang Anastasia dengan gigi bergemeluk. "Aku tidak melakukan itu. Kalian pasti salah orang," kilah Anastasia tak mau mengaku.


"Iya, putriku benar. Kalian pasti salah orang. Kami tidak pernah melakukan apa yang kalian tuduhkan itu," timpal Monika yang sudah ketar-ketir.


"Silahkan Anda jelaskan itu nanti di kantor polisi!"


Lalu orang yang barusan berbicara memberikan kode pada bawahannya yang terdiri di belakangnya untuk segera meringkus Anastasia dan Monika. Awalnya mereka memberontak. Tapi tenang mereka kalah jauh dengan tenaga para petugas itu. Mereka menjerit dan menangis histeris tidak terima ditangkap seperti itu. Mereka tak mau mengakui kesalahan mereka. Terang saja, aksi penangkapan mereka mengundang perhatian para pengunjung bandara. Karena terlalu banyak memberontak, masker dan kacamata mereka pun terlepas. Banyak orang yang mengabadikan peristiwa penangkapan itu dengan kamera ponsel mereka. Berita pembunuhan berencana itupun dalam sekejap mata viral dengan dalang utama Anastasia dan Monika. Mereka tak dapat lagi mengelak sebab rekaman CCTV menjadi bukti valid kalau mereka berdualah pelaku pembunuh atas ibu mertua Calvin itu.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2