
Sembari menunggu kepulangan Calvin dari kantor, Gea menikmati santai sorenya dengan duduk di tepi kolam renang. Ia memainkan kakinya di yang terendam dalam air. Nyaman. Itu yang ia rasakan saat ini.
Saat sedang menggigit risoles di tangannya, tiba-tiba sepasang lengan memeluknya erat dari belakang. Dari aromanya, Gea amat sangat tahu siapa pemilik tangan itu. Gea pun menoleh ke samping sehingga wajahnya bertemu dengan wajah Calvin yang sedang mengulas senyum.
Cup ...
"Kok masih berendam di sini, sayang? Udah lama?"
Gea menggeleng, "emmm ... paling baru 15 menit. Pingin berenang, tapi nggak bisa," adu Gea sambil mencebikkan bibirnya.
Cup ...
Gemas melihat bibir Gea, Calvin pun mengecupnya singkat.
Lalu ia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih pukul 17.03. Tak apalah berenang sebentar pikirnya. Lagipula Calvin pernah membaca, berenang bagus dilakukan oleh ibu hamil.
Calvin pun gegas melepaskan pelukannya. Kemudian ia menegakkan punggungnya dan melepaskan dari jas, dasi, kemeja, hingga celana bahan yang ia pakai membuat mata Gea melotot.
"Mas, entar ada yang lihat!" protes Gea yang tak suka ada perempuan lain yang melihat tubuh nyaris polos sang suami sebab kini yang tersisa di tubuhnya hanyalah sebuah celana bokser.
Calvin terkekeh lalu ia menceburkan dirinya ke dalam kolam dan menarik pelan lengan Gea agar ikut dirinya masuk ke dalam kolam. Namun Gea justru menahan tubuhnya sambil menggeleng.
"Kenapa?" tanya Calvin heran.
"Mas nggak lihat baju aku? Masa' nyebur ke dalam kolam paket daster?" Gea bersungut-sungut dongkol. Calvin terkekeh lantas meletakkan telapak tangannya di bawah ketiak Gea dan dalam sekali sentakan Gea sudah berdiri dengannya di dalam kolam.
"Mas," pekik Gea terkejut karena Calvin seenaknya menceburkannya ke dalam kolam. Baru saja Gea hendak protes, Calvin lebih dahulu mengangkat daster Gea ke atas hingga menyisakan penyangga dadanya dan celana pendek membuat Gea terlihat begitu seksi di mata Calvin.
"Maaaas, kok dilepas sih! Entar ada yang lihat gimana?" protes Gea lagi dengan bersungut-sungut dan mata melotot. Gea baru saja membalikkan badannya hendak naik ke atas melalui tangga kecil di sana, namun Calvin justru menahannya dengan memeluknya dari belakang.
"Pintunya udah dikunci, sayang. Jadi nggak usah khawatir ada yang lihat!" bisik Calvin sambil menunjuk ke arah pintu masuk area kolam. Gea pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu kemudian mendengkus keras yang malah dihadiahi Calvin dengan kecupan di pipinya.
Lalu Calvin membalikkan badannya sehingga mereka saling berhadapan. Perlahan, Calvin membimbing Gea menuju kolam yang lebih dalam tapi lagi-lagi Gea menggeleng.
__ADS_1
"Nggak papa, ada mas yang akan jagain kamu," ujarnya meyakinkan.
Percaya, Gea pun menurut pada sang suami. Sore itu pun diisi dengan kegiatan belajar berenang. Walaupun sebenarnya lebih banyak kegiatan bermain air dibandingkan belajarnya. Apalagi kondisi Gea yang tengah hamil, Calvin harus selalu berhati-hati demi menjaga kandungan sang istri.
...***...
"Emmm ... wangi banget ma, mama masak apa?" tanya Gea saat mencium aroma harum dari dapur dan ternyata sang ibu mertua lah yang sedang memasak.
Nathalia tersenyum sambil membawa mangkok cukup besar yang entah apa isinya.
"Oh, mama buat opor ayam kampung. Kamu suka kan? Atau kamu ada pingin makanan lain, entar mama coba masakin?" tawar Nathalia membuat hati Gea lagi-lagi menghangat.
"Gea suka Ma. Alhamdulillah, kehamilan Gea nggak bikin Gea susah makan. Walau kadang mual, tapi soal makanan apa aja Gea suka. Nggak ada yang nolak," ujar Gea sambil menyengir lebar.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Nathalia riang sambil mengambil piring berisi ikan asin.
"Mama suka makan ikan asin juga?" tanya Gea.
"Hah! Serius, Ma? Kok mas Calvin nggak bilang-bilang ke Gea ya, Ma?" Gea mengerutkan keningnya merasa heran dengan sang suami.
Nathalia terkekeh kecil, "suami kamu itu sengaja nggak bilang ke kamu. Takutnya kamu malah capek-capek siapin dan masakkin. Katanya, dia nggak mau kamu capek, sayang."
"Tapi kan Gea juga pingin bantuin mama dan bibik masak, Ma. Gimana entar lama-lama mas Calvin lupa rasa masakan Gea terus kepincut sama yang lain yang lebih lezat masakannya dari Gea, Gea takut Ma," adu Gea yah sudah mengerucutkan bibirnya.
"Semua itu takkan pernah terjadi, sayang!" tiba-tiba saja Calvin sudah memeluk Gea dari belakang mengabaikan keberadaan sang mama yang geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putranya.
"Mas jamin itu. Mas cuma nggak mau kamu capek apalagi perut kamu udah lumayan gede kayak gini, pasti capek kan mondar-mandir," ucap Calvin sambil mengusap perut Gea yang sudah membukit sebab kandungannya udah masuk usia 5 bulan.
"Janji?"
"All with my life."
Gea tersenyum mendengar kata-kata sang suami.
__ADS_1
"Eh, mas kok tumben minta menu kayak gitu, mas ngidam?" tanya Gea penasaran.
Calvin mengedikkan bahunya, "mas juga nggak tahu, tiba-tiba pingin aja."
"Udah ngobrolnya, kita makan dulu yuk! Yuk, sayang, kita makan mumpung semuanya masih hangat."
"Siap, ma."
"Oke, ma."
Seru keduanya bersamaan.
...***...
Siang itu cukup terik. Gea yang sedang menonton televisi tiba-tiba merasakan sakit di area perut bagian bawah. Namun, Gea berusaha untuk rileks. Sebab setahunya, ini merupakan bagian dari kontraksi palsu sebab usia kandungannya memang sudah masuk usia sembilan bulan akhir.
Gea pun mencoba tetap rileks sambil berjalan mondar-mandir dari ruang menonton sampai ke gazebo belakang rumah.
Di rumah saat ini hanya ada ia dan beberapa asisten rumah tangga. Nathalia sedang berada di rumah sakit, sedangkan Calvin sedang di kantor.
Rasa sakit itu perlahan datang dan perlahan pergi. Dan kini rasa sakitnya kian menyebar hingga ke bagian paha dan pinggang.
Gea mencoba menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia pikir, tidak mungkin kan ia melahirkan sekarang sebab menurut perkiraan ia akan melahirkan sekitar dua Minggu lagi. Namun, perlu diingat, tidak semua prediksi itu tepat. Waktu kelahiran bisa datang lebih cepat ataupun lebih lambat karena itu kita harus selalu siap kapanpun dan dimana pun.
"Non, ada tamu di depan mau ketemu dengan nona," ujar seorang asisten rumah tangga yang menemui Gea di gazebo.
Gea mengerutkan keningnya penasaran, "siapa?" tanya Gea.
"Saya kurang tahu, non. Saya cuma diminta bik Sumi kasi tau soalnya bik Sumi sedang buat minum. Katanya bapak-bapak, non."
"Ya sudah, terima kasih ya mbak. Saya ke sana sekarang."
Beberapa menit kemudian, Gea seketika terpaku saat melihat tamu tersebut. Karena tadi sang tamu menundukkan wajahnya, Gea tak bisa mengenali. Namun sekarang, ia dapat melihat dengan jelas wajah orang tersebut.
__ADS_1