Aku Sang Pelakor

Aku Sang Pelakor
Bab. 28


__ADS_3

Namun, saat baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam sana, ia seperti mendengar suara -suara yang tak asing di pendengarannya. Ia sangat tahu suara apa itu.


Perlahan, Anastasia meneruskan langkahnya dengan tubuh yang mulai bergetar. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.


"Itu ... itu tidak mungkin dia kan! Calvin nggak mungkin mengkhianatiku kan!" gumamnya berusaha tetap optimis dengan kesetiaan sang suami.


Namun, semakin dekat langkah kakinya ke balik pintu rahasia yang sedikit renggang itu, suara itu kian terdengar jelas dan nyaring.


Dengan tangan bergetar pun berkeringat dingin, Anastasia mendorong pintu rahasia itu secara perlahan.


"Ho-honey ... " cicitnya yang sudah membelalakkan mata dan wajah yang pias.


Namun, karena kedua insan itu terlalu larut dalam pergulatan yang kian panas dan membara membuat keduanya tidak menyadari ada yang sedang memperhatikan pergulatan keduanya dengan dada yang bergemuruh.


Apalagi mereka kini tengah berada di puncak pelepasan, tentu tak mungkin mereka menghentikan begitu saja pergulatan mereka.


Hingga sampailah mereka di puncak kenikmatan. Keduanya melenguh bersamaan. Bibit-bibit unggul pun telah tersemai sempurna di rahim Gea. Setelah selesai, keduanya masih saling bertatapan. Tatapan penuh cinta membuat Anastasia kian meradang karena diabaikan bahkan tak dianggap.


"Calvin, apa yang kau lakukan di belakangku, hah!"

__ADS_1


Tak tahan lagi melihat keduanya saling tatap penuh cinta, Anastasia pun menumpahkan emosinya dengan meneriaki sang suami yang masih betah mengungkung tubuh Gea.


Sontak saja, kedua insan yang baru saja mendapatkan pelepasan itu menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara dan membulatkan matanya.


"Cia," gumam Calvin terkejut. Pun Gea, ia benar-benar terkejut. Namun, hanya dalam hitungan detik, keterkejutan itu berubah seakan tak ada masalah yang berarti.


Calvin pun dengan sigap mengambil selimut dan menutupi tubuh polos Gea. Setelahnya, Calvin beranjak berdiri dan mengambil celananya yang terkapar di lantai lalu mengenakannya dengan santai.


"Sejak kapan kau di sana?" tanya Calvin acuh tak acuh. "Apa kau tak malu menonton orang yang sedang bercinta? Atau di luar sana kau sudah biasa melihat hal seperti ini?" lanjutnya membuat tangan Anastasia terkepal.


"Calvin, teganya kamu mengkhianatiku? Apa salahku, honey? Kenapa kau tega? Ah, aku yakin, pasti jalaang ini yang telah menggodamu lebih dahulu kan! Dasar jalaaang tak tahu diri!" teriak Anastasia dengan gigi bergemeluk.


Lalu ia melangkahkan kakinya menuju ranjang dimana Gea tengah berusaha untuk duduk sambil mengeratkan selimut di tubuh polosnya.


"Jangan pernah mengatakan Gea jalaaang! Dan jangan pernah menyakiti Gea karena Gea sekarang adalah istriku. Kau harus menghargai dan menghormati dia. Bukankah aku telah membebaskanmu untuk melakukan apa yang kau mau, maka sudah seharusnya aku mendapatkan pula apa yang aku inginkan dan aku ingin Gea menjadi istriku," bentak Calvin murka.


Lalu ia segera beringsut mengusap kepala Gea yang rambutnya ditarik Anastasia tadi.


"Sakit?" tanya Calvin lembut membuat Anastasia makin meradang. Gea pun mengangguk. Sebenarnya ia masih bisa menahan sakit itu, tapi ia tentu ingin agar Calvin lebih memperhatikannya sekaligus membuat Anastasia kian panas dan meradang karena cemburu.

__ADS_1


"A-apa? Is-istri? Hahaha ... kau jangan bercanda, honey. Aku sangat tahu, kau itu sangat mencintai diriku. Mustahil kau menikahinya. Aku tahu, kau hanya memanfaatkan dia sebagai pemuas napsumu, bukan!" ucap Anastasia tidak mempercayai apa yang barusan Calvin ucapkan.


"Jangan terlalu percaya diri Cia! Ya, aku akui aku sangat mencintaimu, tapi ... itu dulu. Sejak kau lebih mementingkan egomu dan cita-citamu hingga mengabaikan perasaanku, maka sejak itu juga perasaan cintaku mulai memudar. Kau membuatku seperti laki-laki bodoh yang terus menantikan kepulangan istrinya. Kau membuatku seperti laki-laki yang tak memiliki harga diri karena selalu diabaikan istrinya. Aku memiliki istri, tapi aku justru seperti bujangan. Apa-apa aku sendiri. Semuanya sendiri. Dan aku tidak bohong kalau aku telah menikahi Gea. Dengannya aku merasakan bagaimana bahagianya memiliki seorang istri. Dengannya hidupku lebih berarti dan berwarna. Dan dengannya, aku merasa begitu dihargai. Dan aku satu lagi, dia bukan sekedar pemuas napsuku. Dia istriku, sudah pasti aku menyayangi dan mencintainya," ucap Calvin tegas tanpa keraguan sedikitpun.


Gea yang sudah berdiri di belakang Calvin, hanya terdiam. Namun, salah satu sudut bibirnya naik ke atas. Ia puas. Sangat puas. Ia tak menyangka akan mendapatkan pembelaan sedemikian rupa dari suaminya itu. Bahkan Calvin tanpa ragu mengakui menyayangi dan mencintainya. Semoga apa yang Calvin ucapkan memang benar adanya. Bukan hanya untuk memberikan pelajaran pada istri pertamanya itu.


"Kau ... " tiba-tiba tubuh Anastasia luruh ke lantai. Ia menangis dan meraung dengan begitu kencang. "Honey, kenapa kau tega? Kenapa kau begitu jahat padaku, honey? Bukankah ... bukankah dulu kau mendukungku untuk meraih impian dan cita-citaku, lalu kenapa saat aku tengah berjuang tiba-tiba kau berubah seperti ini? Maafkan aku, honey! Aku tahu, aku salah karena egois mementingkan karir dan cita-citaku. Tapi bukan begini caranya kau membalas ku honey. Aku yakin, ini kau lakukan karena kau masih kecewa padaku. Baiklah, aku akan memaafkanmu saat ini. Aku yakin, kau hanya sedang khilaf saat ini. Kau hanya tergoda sesaat saja. Aku yakin, kau akan segera kembali padaku dan membuangnya. Aku akan sabar menunggu. Aku sangat yakin, kau masih sangat mencintaiku. Kalau begitu, aku pulang dulu honey. Aku tunggu kau di rumah kita," lirih Anastasia masih dengan kepercayaan diri yang tinggi. Tentu ia tak terima dikalahkan oleh setan kecil itu, batinnya.


"Dan kau jalaaang, aku akan pastikan kalau Calvin akan segera menendangmu pergi. Jadi jangan berbangga hati dahulu. Sebentar lagi, kau akan lihat, siapa perempuan yang benar-benar Calvin cintai dan itu ... hanyalah aku," lanjutnya dengan dagu terangkat.


Lalu ia melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu. Sepanjang jalan keluar dari kantor, ia menunjukkan raut wajah sedih. Tentu saja tujuannya agar semua orang tahu, ada pelakor di gedung itu dan dirinya sebagai istri sah sedang tersakiti.


Dan benar saja, disepanjang perjalanan menuju keluar terdengar kasak kusuk membicarakan pemilik perusahaan itu yang tengah berselingkuh. Sebab saat pertengkaran tadi, ada karyawan yang sedang berada di lantai teratas untuk menyerahkan dokumen. Alhasil, mereka jadi mendengar pertengkaran itu.


Kini, karyawan gedung itu terbagi menjadi dua kubu, yaitu pro dan kontra. Yang pro mendukung sebab mereka sangat tahu kalau istri atasan mereka itu terlalu sering mengabaikan atasan mereka dan atasan mereka pun layak mendapatkan seorang pendamping yang mau mendampingi CEO mereka, sedangkan yang kontra menentang keras apapun bentuk perselingkuhan itu.


"Sayang, kamu tak usah terlalu pikirkan kata-kata Cia tadi, oke! Yang harus selalu kamu tahu, aku takkan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi," ucap Calvin mencoba menenangkan Gea yang sedang terisak di pelukan suaminya itu.


Gea pun mengangguk pelan membuat Calvin tersenyum lebar lalu mengecup puncak kepalanya. Pun Gea, diam-diam ikut tersenyum di dada bidang suaminya itu.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2