
Tok tok tok ...
"Masuk," seru Nathalia yang berada di ruangannya di rumah sakit.
Setelah mendapatkan izin, dari balik pintu muncul Mega dengan ekspresi yang muram.
"Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Nathalia. Tak biasa-biasanya ekspresi datar asisten pribadinya yang tomboy itu terlihat begitu muram.
"Ada kejadian besar, Bu," ucap Mega. Ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. "pesawat yang ditumpangi petugas medis yang kita tugaskan membawa calon pendonor ginjal untuk ibu Martini tiba-tiba hilang saat mengudara," ucap Mega terbata. Sudah tak mampu berpikir positif, dugaan negatif telah memenuhi benaknya. Bukan rahasia lagi apa yang akan terjadi bila pesawat tiba-tiba menghilang saat mengudara. Sudah pasti telah terjadi sesuatu di atas sana hingga pesawat jatuh entah kemana. Membayangkan betapa banyaknya korban berjatuhan, membuat mata Mega memerah. Ia memang gadis tomboy, tapi hatinya masih sama seperti perempuan lainnya, rapuh dan gampang tersentuh. Apalagi membayangkan betapa kecewanya Gea yang seakan kehilangan harapan untuk mengoperasi ibunya. Gea pasti merasakan kesedihan yang tak terkira.
"Apa?" seru Nathalia dengan wajah pias.
Padahal operasi sudah dijadwalkan esok hari, tapi justru kejadian tak terduga ini yang terjadi. Nathalia terduduk lemas di kursinya. Ia bingung, bagaimana cara menyampaikan kenyataan ini pada Gea.
Sementara itu, di perusahaan Maxxon Group, tampak Calvin merengkuh pinggang Gea sambil menyusuri lobby perusahaan. Mereka berniat makan siang di luar. Semenjak fakta kebusukan Anastasia terkuak di seluruh lapisan masyarakat, Calvin makin berani menunjukkan kemesraannya dengan Gea. Toh Gea sudah menjadi istrinya. Memang terjadi pro dan kontra di perusahaan itu sebab bisa-bisanya Gea yang merupakan asisten pribadi Calvin menjerat atasannya sendiri. Namun, melihat sikap Gea yang tetap ramah dan lembut pada semua orang, membuat mereka mengangumi sosok Gea. Bahkan tak jarang bila Gea mengantarkan makan siang, ia turut menyisihkan masakan buatannya untuk resepsionis. Karena makanan yang diberikan cukup banyak, resepsionis itu pun berbagi dengan karyawan lain. Mereka pun memuji masakan Gea dan mengatakan wajar saja atasan mereka jatuh cinta pada Gea. Toh Gea selain cantik, ia juga ramah, baik, dan tidak sombong. Dia juga suka berbagi dan masakannya enak. Lama kelamaan yang kontra pun turut menyukai Gea sebagai istri atasan mereka. Mereka kini kerap membandingkan sikap Anastasia dan Gea selaku istri Calvin dan bagi mereka Gea memang yang terbaik.
Calvin dan Gea kini sudah berada di sebuah restoran yang letaknya di tepi danau. Danau itu merupakan danau buatan yang disana juga disediakan perahu kecil dan bebek-bebekan untuk para pengunjung yang ingin menikmati pemandangan danau buatan namun terlihat seperti terbentuk secara alami. Airnya sangat jernih. Tampak banyak ikan warna-warni berenang kesana kemari membuat keindahannya makin bertambah. Di beberapa sudut danau, ditanam pohon-pohon rindang yang di bawahnya bisa dijadikan tempat bersantai.
Calvin dan Gea duduk di dalam sebuah saung yang tepat menghadap ke danau. Semilir angin menerpa wajah Gea, menerbangkan helaian rambutnya membuat Calvin yang duduk di sisinya sampai terpaku dengan keindahan dan kecantikan Gea.
Walaupun Gea belum bercerita tentang peristiwa kemarin pun masa lalunya, Calvin tampak sabar menunggu. Ia tak mau menuntut penjelasan. Ia yakin, Gea memiliki alasan tersendiri. Meskipun Calvin telah tahu sebagian alasan Gea mau menikah dengannya karena untuk biaya pengobatan sang ibu dan ingin membalas sakit hatinya pada ayah dan keluarga barunya, tapi ada sedikit keyakinan, alasan lainnya mengapa Gea bersedia menjadi istrinya karena perempuan yang telah menjadi istrinya itu pun memiliki rasa yang sama padanya. Ya, rasa yang sama, yaitu rasa cinta. Dan dari hati yang paling dalam, Calvin menyadari dan mengakui kalau dirinya telah jatuh cinta pada istrinya itu.
"Mas, kok liatin aku terus sih?" tanya Gea yang wajahnya kini sudah menghadap suaminya.
__ADS_1
Calvin mengulurkan tangannya lalu menyelipkan helaian rambut Gea yang beterbangan ke belakang telinga membuat istri dari Calvin Alviano itu tersenyum manis dengan semburat merah di pipinya.
"Kamu ... cantik," puji Calvin lagi membuat rona di pipi itu kian menjalar hingga ke telinga.
Cup ...
Kemudian tanpa rasa malu ataupun sungkan, Calvin mengecup tepat di semburat merah itu membuat Gea membulatkan matanya.
"Mas," desis Gea sambil mengerucutkan bibirnya.
Calvin terkekeh lalu mengecup pipi Gea lagi tapi yang di sebelahnya.
Cup ...
"Mas, kok cium lagi sih?" protes Gea pura-pura melotot.
"Awww .... yang, sakit Yang! Kok kamu kdrt siih!" kekeh Calvin yang membuat Gea mencebikkan bibirnya.
"Mas Calvin sih cium-cium mulu. Ini kan tempat umum," protes Gea.
"Memangnya kenapa kalau tempat umum?" Calvin mengulum senyumnya. Ia geli dengan dirinya sendiri karena bisa-bisanya bersikap seperti ini.
"Dih, pura-pura nggak tahu! Malu tahu, mas. Gimana kalau ada yang lihat? Katanya kayak nggak tau tempat aja buat pacaran."
__ADS_1
"Emang kita pacaran?"
Gea mengangguk lucu, "kita kan belum pernah pacaran, mas. Jadi Gea anggap sekarang sedang pacaran. Hehehe ... Mas sih enak dulu sama mbak Cia pernah merasakan indahnya pacaran, lah aku boro-boro pacaran. Nikah aja dadakan." Gea berdecak sambil geleng-geleng kepala. Namun seutas senyum. tersungging di bibirnya.
Mendengar itu, sontak saja Calvin mengacak rambut Gea gemas.
"Oh, seperti itu! Oh ya, tadi katanya entar orang bilang kayak nggak tahu tempat aja buat pacaran, emangnya pacaran harus ada tempat khusus? Bukannya bahaya ya?"
"Bahaya?" beo Gea.
"Iya, bahaya tau pacaran di tempat khusus apalagi sepi. Entar ada yang ketiga. Kalau kita kan sudah menikah, jadi aman. Setan-setan malah malu mau gangguin. Justru malaikat yang bersorak katanya kita ini pasangan romantis. Hehehe ... "
Jelas saja, Gea langsung tergelak kencang mendengarnya. Ternyata suaminya yang kakunya melebihi kanebo kering ini bisa bercanda juga.
Tak lama kemudian, mereka pun mulai menyantap makan siang mereka. Mereka memakan masakan ala kampung namun terasa begitu nikmat. Ada sayur asam, ayam kremes, sambal terasi, tempe dan tahu goreng, aneka lalapan, sungguh menggugah selera. Ditemani pemandangan yang asri dan udara yang sejuk membuat suasana makin terasa begitu indah dan menyenangkan.
Selesai makan, Calvin mengajak Gea naik ke atas perahu kecil. Mereka saling berselfie ria untuk mengabadikan momen indah tersebut. Saat kapal berhenti di tengah-tengah danau, Calvin mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
"Ini apa mas?" tanya Gea saat Calvin menyodorkan kotak beludru berwarna merah hati tersebut.
"Mas kan nggak pernah melamar kamu secara resmi. Nggak pernah menyatakan perasaan mas juga. Jadi ... di kesempatan ini, mas ingin mengungkapkan perasaan mas kalau mas sangat mencintaimu, Gea Morena. Terima kasih karena sudah mau menjadi istri pria seperti diriku yang serba kekurangan ini. Terima kasih mau menerima mas padahal waktu itu nas bukan hanya masih terikat dengan Anastasia, tapi juga belum yakin dengan perasaan mas ke kamu. Tapi kini, mas sudah yakin sepenuhnya kalau mas sangat mencintaimu. Kamu mau kan selalu mendampingi mas dalam keadaan apapun? Menjadi pendamping mas hingga akhir hayat hidup mas?" tutur Calvin dengan tatapan penuh cinta membuat mata Gea berkaca-kaca.
"Gea mau mas. Mau banget. Sebab ... Gea juga cinta sama mas. Maaf kalau Gea masih banyak kekurangan. Dan terima kasih atas cinta dan kasih sayang yang mas berikan. Mas itu terlalu sempurna untukku yang biasa ini. Aku mencintaimu, mas," ucap Gea membuat Calvin reflek menarik Gea ke dalam pelukannya. Lalu ia mengecupi puncak kepala Gea hingga berkali-kali. Ia bahagia. Sangat bahagia. Inilah yang ia harapkan selama ini. Inilah kebahagiaan yang selama ini ia nantikan. Dan ternyata, ia baru bisa menggapainya di pernikahan keduanya. Ia bersyukur diberikan kesempatan untuk mendapatkan pasangan hidup seperti Gea. Ia bahagia. Sangat bahagia.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...