Aku Sang Pelakor

Aku Sang Pelakor
Bab. 37


__ADS_3

Monika membulatkan matanya, "k-kau ... "


"Ya, aku ... aku adalah anak kandung dari suamimu dengan istri pertamanya. Karena kau sudah membuat hidupku dan ibuku hancur, maka sekaranglah giliranmu dan putri kesayanganmu itu," desis Gea dengan sorot mata penuh kebencian dan amarah.


Brakkk ...


Sontak saja, kata-kata Gea barusan mengejutkan Anastasia dan Monika, termasuk seorang lelaki yang telah berdiri di ambang pintu sejak beberapa saat yang lalu.


Kemudian laki-laki itu, berjalan mendekat dengan mata berkaca-kaca. Sungguh ia tak menyangka, setelah bertahun-tahun lamanya ia tinggalkan, akhirnya ia bisa melihat putrinya kembali dengan situasi yang tak terduga. Ternyata, putri kecilnya dulu, kini telah dewasa. Dan yang lebih mengejutkan, putri kandungnya telah menjadi istri kedua dari menantunya.


Rasa sedih, sesal, dan haru menyeruak begitu saja. Ingin ia segera mendekap erat tubuh Putrinya, tapi belum sempat tangannya menggapai tubuh sang putri, putrinya justru lebih dahulu mundur setelah menghempaskan tangan istrinya.


"Aaakh ... sialan kau!" desis Monika saat Gea menyentak tangannya begitu saja. Beruntung Anastasia sigap menahan tubuhnya. Bila tidak, ia pasti sudah terhempas di lantai.


"Kau ... dasar pelakor jahanaam!" desis Anastasia setelah berhasil menahan tubuh ibunya.


Tak peduli dengan keberadaan Anastasia dan Monika, Mardian terus melangkah mendekati Gea sambil menatap wajahnya. Sorot mata tajam penuh kebencian dan amarah, berkobar bagai kobaran api di mata Gea. Hal itu pantas dan wajar, setelah apa yang ia lakukan di masa lalu. Bahkan mungkin, sejuta kata maaf pun takkan pernah bisa menebus semua kesalahannya itu.


"Ge-Gea," lirih Mardian dengan mata memerah penuh kesedihan dan penyesalan. Namun, Gea justru tersenyum sinis.


Plok plok plok ...


Gea bertepuk tangan sambil menyeringai.


"Wah, akhirnya aku bisa melihat formasi lengkap keluarga baru ayahku! Pasti selama ini kalian hidup bahagia kan!" puji Gea dengan memasang senyum bodoh. "Tidak seperti aku dan ibuku, yang untuk makan saja harus pontang-panting. Bahkan untuk melanjutkan sekolah pun, aku harus merelakan masa kecil dan masa remajaku dengan mencari uang," ujar Gea seraya mencebikkan bibirnya. "Tapi tak apalah, sampah memang cocoknya sama sampah. Yang penting, aku bahagia kok dengan ibuku. Lagipula, perlahan rasa sakitku akan segera terbayar dengan kehancuran keluarga kecil bapak Mardian tercinta."

__ADS_1


Kemudian Gea terbahak seperti seorang psikopat. Mardian, Anastasia, dan Monika sampai tertegun melihatnya.


"Karma tak semanis kurma. Bila saat itu merupakan masa-masa bahagia kalian, maka kini masanya kalian untuk menuai apa yang telah kalian taburkan. Kalian kumpulan manusia hina dan tidak berhati nurani. Aku pastikan, kalian akan menghabiskan hidup kalian dengan penuh penyesalan dan air mata," desis Gea dengan mata memerah.


Sekian tahun memendam amarah, kebencian, dan kekecewaan, akhirnya hari ini tiba juga. Hari dimana ia bisa meluapkan segala borok dalam hati dan jiwanya. Di saat anak perempuan lain menganggap ayah mereka merupakan cinta pertama mereka, namun tidak bagi Gea. Bagi Gea, ayahnya adalah patah hati terbesarnya. Ayahnya ... lebih memilih wanita lain dan anak bawaannya dibandingkan istri dan anak kandungnya sendiri. Membuat ibunya menderita dan selalu terpuruk dalam kesedihan hingga jatuh sakit. Membuat dirinya kehilangan kasih sayang dan masa kanak-kanak serta remajanya. Dan kini membuat dirinya terpaksa menjadi seorang pelakor. Meskipun ia tak pernah menyesali itu sebab ia pun telah jatuh cinta pada Calvin, tapi tetap saja, ada rasa yang menusuk karena harus menyandang gelar sebagai seorang pelakor. Suatu gelar yang amat dibencinya, namun terpaksa menempel demi membiayai kesembuhan ibunya pun membalaskan sakit hatinya pada keluarga baru ayahnya.


"Gea, maafin ayah, nak!" lirih Mardian dengan mata yang juga sudah memerah.


"Papa," seru Anastasia dan Monika tak terima mendengar permintaan maaf Mardian pada Gea.


"Hahahaha ... maaf? Cih, basi!" Gea berdecih. Dia pikir, dengan satu kata maaf dapat membuat semuanya kembali seperti semula.


"Maafkan ayah, nak. Ayah salah. Ayah menyesal," lanjut Mardian lagi.


Sungguh, tubuhnya telah bergetar hebat. Ia tak pernah semarah ini. Bahkan ia nyaris tak pernah marah pada siapapun. Tapi pertemuannya dengan ayahnya dan keluarga barunya, benar-benar mampu menyulut emosi yang tak pernah ia luapkan. Ia benci, ia marah, ia kesal, ia kecewa, ia sakit hati, ia patah, ia hancur, segala emosi bercampur aduk menjadi satu.


Tubuh Mardian luruh di lantai disertai isak tangis penuh penyesalan. Mardian sadar, ini salahnya. Memang Mardian tidak pernah benar-benar melupakan anak dan istrinya, tapi ia juga tak pernah mencoba mencari tahu keberadaannya dan bagaimana keadaan mereka. Ia memang jahat. Sangat jahat. Ia pantas mendapatkan caci maki dan kebencian ini.


"Papa, apa-apaan sih sampai nangis kayak anak kecil aja!" bentak Monika kesal saat melihat suaminya terisak dan tergugu meratapi penyesalan karena kebencian putri kandungnya.


"Iya, papa bodoh banget nangisin jalaang ini! Ingat pa, anak papa sekarang itu aku, bukan jalaang itu. Seharusnya papa marah sama dia karena dia udah jadi pelakor di rumah tanggaku. Gara-gara pelakor ini, Calvin menceraikanku. Bukannya malah nangis kayak anak kecil kayak gini!" pekik Anastasia pun tak terima melihat laki-laki yang menyandang status sebagai ayah sambungnya itu justru meratapi Gea yang dianggapnya penyebab kandasnya rumah tangganya dan Calvin.


"Tutup mulut kalian! Kalian tidak berhak menghina Gea karena Gea adalah putriku!" Raung Mardian dengan suara menggelegar.


"Hentikan drama kalian! Sebaiknya kalian segera pergi dari sini karena aku muak melihat keberadaan sampah macam kalian!" bentak Gea tak kalah sengit.

__ADS_1


"Kau mengatai kami sampah? Dasar jalaaang kurang ajar?"


Tak mampu membendung emosinya yang telah menumpuk-numpuk sejak beberapa hari ini, Anastasia pun segera beranjak dan mengangkat tangannya untuk menampar Gea. Tapi belum sampai tangan itu menyentuh pipi mulus Gea, sebua suara bariton menggelegar membuat tangannya menggantung di udara.


"TURUNKAN TANGAN KOTORMU ITU SEBELUM AKU MELEMPAR KALIAN SEMUA KE JALANAN!" bentak Calvin yang dengan langkah panjangnya segera menghampiri Gea dan berdiri di depannya hingga Gea kini berada di belakang Calvin.


"Calvin, kenapa kau begitu tega? Kenapa kau begitu jahat menceraikanku hanya melalui sambungan telepon? Padahal aku yang selama ini menjadi pendampingmu, tapi mengapa kau dengan begitu mudahnya kau membuang diriku seperti sampah?"


"Kau masih tanya kenapa? Karena kau memang sampah. Bertahun-tahun kau menipuku mau pikir aku masih mau mempertahankanmu? Aku tidak sebodoh itu, Cia," geram Calvin.


"Segera pergi dari rumah ini sebelum aku sendiri yang melempar kalian ke jalanan dan jangan pernah menginjakkan kaki kalian lagi di sini!"


Anastasia menggema marah mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Kali ini aku memang kalah, tapi aku pastikan, kalian akan membayar mahal perlakuan kalian ini!" desis Anastasia penuh kebencian.


Kemudian ia pun segera mengajak ibunya untuk pergi dari sana. Bahkan ia mengabaikan ayahnya yang masih belum beranjak dari tempatnya bersimpuh. Tahu keadaan sedang tidak memungkinkan untuk meminta maaf kembali, Mardian pun ikut beranjak dengan tatapan nanarnya ke arah Gea.


Setelah ketiga orang itu berlalu, tubuh Gea mendadak lemas. Ia pun ambruk dan hampir saja terjatuh di lantai bila tidak segera ditangkap Calvin.


"Gea ... sayang ... " lirih Calvin khawatir. Ia pun segera menggendong tubuh Gea dan membaringkannya di kamarnya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2